Bukan Perjodohan

Bukan Perjodohan
57. Gomawo


__ADS_3

Aris dan Anna tengah dalam perjalanan menuju panti asuhan. Mobil putih itu berhenti di sebuah toko perlengkapan alat tulis.


“Kok berenti di sini sayang?” Tanya Anna.


“Kita cari buku sama alat tulis dulu buat anak-anak.”


“Sekalian beli jajan juga buat mereka boleh Yang?” Tanya Anna dambil menunjuk toserba izinmaret yang ada di samping toko buku.


“Whatever you want baby.” Jawab Aris.


“Gomawo Oppa.” Anna memegang lengan kiri Aris dengan manja dan berjalan menuju toko buku.


Tak bisa memahami maksud dari perkataan Anna, Aris pun menghentikan langkahnya.


“Kok berhenti?” Tanya Anna sambil mendongakkan kepalanya ke atas supaya bisa melihat wajah Aris yang lebih tinggi darinya.


“Barusan lu panggil gue apa Yang? Oppa? Gue kan belum tua.” Sewot Aris.


“Ohhh itu Oppa itu panggilan sayang bahasa korea. Gue tau itu juga dari Rani yang biasa manggil pacarnya Oppa Oppa sebenernya gue juga geli dengernya hehehe.”


“Terus satu lagi ya mawo mawo itu apa?”


“Oh gomawo? Itu artinya terimakasih. Jadi tadi tuh gue bilang terimakasih sayang.”


“Oh.” Aris hanya ber oh ria menanggapi penjelasan gadisnya.


Mereka mamasuki toko buku dan memebeli beberapa buku gambar dan pensil warna. Setelah selesai melakukan pembayaran keduanya berpindah ke toko Izinmaret untuk membeli camilan.


Anna mengambil cukup banyak makanan ringan beserta minuman dingin. Aris menyerahkan sebuah kartu untuk membayar pada Anna.


“Pake ini Yang, gue tunggu di mobil yah. Sekalian beresin belanjaan alat tulis kita.”


“Ok yang.” Anna menerima kartu yang diberikan Aris dan melanjutkan belanjanya.


Tiba waktunya Anna untuk membayar smeua belanjaannya, ia menghampiri kasir. Setelah di hitung Anna baru ingat belum mengambil permen. Biasanya anak-anak sangat suka permen. Ia pun hendak kembali ke jajaran snack yang di pajang, namun belum sampai sana ia meihat benda segi empat seperti permen karet dengan warna orange dan merah. Ia pun mengambil benda itu masing-masing dua dan membawanya ke meja kasir yang sdang menghitung belanjaannya.


Petugas kasir mencoba menahan senyumnya melihat gadis seperti Anna membeli empat sekaligus benda yang kini sedang ia scan harganya.


Anna merasa ada yang janggal dengan petugas di hadapannya. “Kenapa Mas?” tanyanya.


“Ngga apa-apa Mab. Totalnya dua ratus lima puluh ribu.”

__ADS_1


Anna pun menyerahkan kartu yang diberikan oleh Aris tadi.


Setelah selesai Anna keluar dengan membawa keresek putih dengan ukuran besar. Aris melihat Anna keluar dari toko kemudian berjalan menghampirinya serta mengambil alih barang bawaan Anna.


“Makasih.”


“Hm.”


Keduanya kemudian melanjutkan perjalanannya ke panti asuhan. Sekitar satu jam berlalu kini keduanya telah sampai di panti asuhan. Anak-anak yang sedang bermain di taman langsung menghampur menyalami mereka berdua.


Aris dan Anna terlebih dahulu masuk ke panti dan menyapa ibu panti. Kemudian meminta ijin untuk menyapa dan mengajak anak-anak bermain.


“Tentu saja silahkan Nak. Ibu senang ada anak muda seperyi kalian yang memiliki kepedulian terhadap sesama.” Ucap Ibu panti.


Anna dan Aris mengajak anak-anak untuk berkumpul di pinggir taman, kemudian membagikan buku gambar serta pensil warna kepada mereka. Anak-anak sangat antusias dan senang belajar menggambar dengan mereka. Bahkan seperti biasa anak kecil yang dulu menempel pada Anna saat dia pertama kali datang ke panti masih sama seperti dulu menempel terus padanya, bahkan menjadikannya sebagai objek gambarnya.


“Kakak jangan gerak terus dong, nanti gambarnya jadi jelek.” Keluhnya saat mendapati Anna membenarkan poninya.


“Iya iya Kakak ga gerak lagi.”


Tiga puluh menit berlalu, “Udah belum Dek?” Tanya Anna.


Aris begitu gemas melihat pacarnya jadi objek gambar anak-anak. Kasihan juga dia pasti pegel. Aris menghampiri gadis kecil yang sedang menggambar Anna. Terlihat jelas gambarnya sangat jauh beda dengan objek yang dia gambar.


“Wah cantiknya. Udah selesai tuh.” Ucap Aris seolah terpukau dengan karya gadis kecil di sampingnya.


Gadis kecil itu beranjak dan menghampiri Anna kemudian memperlihatkan hasil goresannya. “Ini Kak, liat deh Kakak cantik sekali.”


Anna melihat karya gadis itu dan tersenyum melihat gambar yang sangat jauh dengan dirinya. “Terimakasih, cantik sekali.” Pujinya.


Selesai dengan kegiatan gambar-menggambar Anna memerintahkan anak-anak untuk duduk membentuk lingkaran dengan dirinya dan Aris yang berada di tengah lingkaran tersebut.


Anna kemudian membagikan cemilan dan minuman dingin yang telah ia beli tadi. Tak lupa benda kotak berwarna orange dan merah pun ia bagikan kepada anak-anak. Aris mengamati benda berbentuk persegi yang sedang Anna berikan kepada salah satu anak. “Apa itu Na?”


Anna menghentikan aktivitasnya, menarik kebali kotak persegi warna merah yang hendak ia berikan itu. “Ini permen karet. Kayaknya rasa stroberi deh soalnya warna merah.” Ucapnya polos.


“Sini gue liat.” Aris mengambil benda itu dari tangan Anna. “Astaga.”


“Kenapa Yang?” Tanya Anna mendapati wajah pacarnya yang mendadak panik.


Aris tak menimpali pertanyaan Anna, ia lanngsung mengedarkan pandangannya pada anak-anak. “Semoga belum ada yang membuka benda konyol ini.” Batin Aris sambil memasukan satu kotak persegi warna merah itu ke saku celananya.

__ADS_1


Tapi ternyata prediksinya salah, terlihat ada satu anak yang sedang meniup benda itu.


“Kakak ini balonnya kok ngga mau besar yah?” tanyanya.


Anna menoleh pada anak itu, ia heran pasalnya tadi dirinya tak membeli balon.


Aris langsung menyuruh anak-anak untuk mengumpulkan benda itu, “Sayang maafnya ini bukan balon. Sini kakak aja yang simpan.” Ucap Aris sambil mengambil benda itu satu persatu.


.


.


Aris dan Anna tengah berada di mobil untuk pulang. Aris mengeluarkan empat benda dengan dus kecil berbentuk persegi dengan warna orange dan merah. “Nih permen lu gue balikin.” Ledek Aris sambil meleparkan benda itu ke pangkuan Anna.


Anna menoleh ke samping dan memperliatkan wajah cemberutnya, “Ya maaf Yang. Tadi gue kan buru-buru soalnya pas ngambil tuh permen si kasir udah mulai ngitung belanjaan gue.” Ucap Anna.


“Huhh pantes aja tadi penjaga kasirnya senyum-senyum ngga jelas ke gue.”


“Ya makanya lain kali di baca dulu. ****** lu kira permen karet yang bener aja.” Ucap Aris sambil mengacak rambut Anna dengan gemas.


Anna telah tiba di rumahnya dan hendak turun dari mobil Aris. “Kenapa?” tanya Anna saat Aris mencegahnya keluar.


“Gue lupa tadi ada saalam buat lu dari Mama.”


“Walaikumsalam. Salam balik juga dari gue buat calon mertua.” Ucapnya sambil menahan senyum.


Aris tiba di rumahnya dan mendapati Wina sedang menerima panggilan, hingga Aris memutuskan untuk masuk ke kamarnya.


“Apa? Benarkah? Terimakasih.” Ucap Wina kemudian menutup panggilannya.


“Astaga bagaimana ini?” Ucap Wina lirih.


.


.


.


TERIMAKASIH UNTUK KALIAN YANG MASIH SETIA MENGIKUTI KISAH INI.


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMENTARNYA.

__ADS_1


__ADS_2