
Terserah lu, lu emang ngga tau terima kasih. Gue udah ngurusin lu semaleman tali ini balesan lu ke gue." Ucap Anna sambil pergi meninggalkan Aris karena air matanya sudah tak tertahan lagi. Ia tak mau menampakan kesedihannya dihadapan orang lain.
Aris memandangi punggung Anna yang semakin menjauh ada rasa bersalah dalam hatinya melihat Anna yang hampir menangis tapu keegoisannya mengalahkan segalanya. Semua tindakannya seolah selalu ingin menyakiti cewek itu namun hatinya berkata lain.
"Apa gue udah keterlaluan? Ah bodo amat tuh anak yang udah bikin masalah ini jadi tambah ribet. Lagi pula gue kan yang nyelamatin hidupnya eh malah dia pikir gue yang ngancurin hidupnya." Pikir Aris dalam hati sambil berjalan keluar kampus.
Anna berjalan seorang diri menuju asrama sambil sesekali menyeka air mata yang membasahi pipinya. Ia membuka kaca mata menyeka genangan air di pipinya kemudian memakai kaca matanya kembali.
Merasa tak enak hati jika harus kembali ke asrama dalam keadaan menangis Anna memutuskan untuk duduk dibangku taman kampus sendirian, ia tak mau teman-temannya melihat sosok dirinya yang lemah.
Irpan yang melihat cewek yang ia sukai duduk sendiri dan tampak bersedih pun memutuskan untuk menghampiri Anna.
"Sendirian aja Na." Sapanya basa-basi.
"Eh iya hehe." Jawab Anna sambil memalingkan wajahnya untuk menghapus air mata kemudian kembali melihat ke arah Irpan.
"Lu lagi ada masalah?"
" Ngga gue ngga papa kok."
"Tapi wajah lu berkata lain." Irpan berucap sambil menatap cewek berkaca mata disampingnya.
"Kalo lu ada masalah lu bisa cerita ke gue, gue dengan senang hati mau jadi pendengar yang baik." Lanjut Irpan.
" Tapi beneran gue ngga papa kok." Jawab Anna sambil tersenyum mencoba menutupi kesedihannya.
"Mana mungkin gue bisa cerita ke lu kalo yang bikin gue jadi sedih kaya gini tuh si Aris sialan temen baik lu" ucap Anna dalam hati.
"Ya udah kalo lu ngga mau cerita sama gue ngga papa yang penting lu tau kalo gue selalu siap jadi tempat lu cerita." Ujar Irpan.
"Iya makasih Pan." Timpal Anna.
"Ya udah gue duluan ya, gue mau nyari si Aris katanya tadi nyuruh gue nunggu di kamarnya tapi sampe sekarang belum balik tuh anak." Ucap Irpan lalu meninggalkan Anna yang masih terduduk.
"Sip." Jawab Anna.
Berjarak beberapa bangku dari bangku yang di duduki Anna nampak Disa dan teman-temannya sedang memandang dengan kesal ke arah Anna.
"Tuh anak cupu bener-bener ngga bisa di biarin, udah gue bilang dari awal jangan deket-deket Irpan masih aja dia deketin Irpan." Ucap Lisa kesal.
"Udah Sa nanti kita kasih pelajaran tuh anak cupu." Ujar Maya.
__ADS_1
Lisa, Maya dan Fira beranjak dari bangku yang mereka duduki dan menghampiri Anna.
Anna yang hendak meninggalkan bangku yang ia duduki pun terduduk kembali karena Fira menarik kasar Anna yang hendak berdiri hingga cewek cupu itu terduduk kembali.
"Elu!" Bentak Lisa sambil menunjuk Anna.
"Berapa kali gue harus peringatin lu supaya ngga deket-deket sama Irpan." Ucap Lisa sarkas.
"Sa gue ngga pernah deketin Irpan tapi dia yang nyamperin gue." Jawab Anna tenang.
"Pokoknya gue ngga mau tau dan ngga mau liat lagi lu bareng Irpan. Sekali lagi gue liat lu deket-deket sama Irpan gue bakal bikin lu ngga tenang kuliah disini." Ancam Lisa yang kemudian meninggalkan Anna yang masih terdiam dibangkunya.
"Hutff... Belum selesai satu masalah udah nambah lagi masalah. Ribet amat hidup gue. Sejak awal kuliah disini memang kesialan yang tak berujung." Gumam Anna.
Anna beranjak pergi dari tempat duduknya karena senja sudah datang dan taman kampus pun mulai sepi. Ia berjalan seorang diri menuju asrama.
Di jalan ia berpapasan dengan Aris, ingin rasanya dia memukul wajah menyebalkan itu satu kali saja untuk meluapkan emosi yang ia tahan tapi dirinya sudah merasa lelah dengan semua kejadian hari ini hingga ia memilih untuk berjalan lurus saja dan mengabaikan Aris seolah ia tak melihatnya.
Aris yang menyadari bahwa dirinya sedang diabaikan pun mencoba memancing amarah cewek di hadapannya, baginya menggoda Anna dan membuat cewek itu kesal ada kesenangan tersendiri dalam hatinya.
"Dasar cewek aneh." Ucap Aris. Tapi dilihatnya Anna tak menanggapi dan berlalu begitu saja.
"Kenapa tuh anak? Apa dia menganggap masalah tadi siang itu serius? Padahal si Rico kan cuma reporter gadungan akun gosip yang hanya beredar di sekitar kampus aja. Dasar aneh kaya gitu aja jadi pikiran." Gerutu Aris yang tanpa ia sadari bahwa dirinya mulai memikirkan cewek cupu yang ia benci sejak awal.
"Ternyata disini lu, gue cariin kemana-mana." Ucap Irpan sambil menepuk bahu Aris yang nampak melamun.
"Iya gue baru balik." Jawab Aris.
"Jadi ngga kita ke tempat biasa?" Tanya Irpan.
"Jadi tapi bentar gue ke kamar dulu ganti baju sama ngambil dompet gue lupa ngga bawa dompet." Jawab Aris.
"Ok. Gue tunggu disana aja ya. Inget jangan telat event ini lumayan hadiahnya gede." Irpan mengingatkan, kemudian pergi terlebih dahulu.
"Iya iya gue ngga bakalan lupa." Dengan buru-buru Aris setengah berlari menuju kamarnya karena sebenarnya kali ini dia beneran lupa kalo ada event yang harus dia hadiri.
karena sangat terburu-buru pengen cepet- cepet sampe kamar sampe Aris tidak sengaja menambrak Anna hingga cewek itu hampir terjatuh, Aris tak sadar kalo yang ia tambrak Anna.
"Sorry ya gue ngga sengaja." Ucapnya tanpa melihat orang yang ia tabrak.
"Bisa juga bilang maaf cowok sialan itu." Gumam Anna sambil berjalan kembali.
__ADS_1
Anna segera membuka pintu kamarnya, nampak hanya Dita seorang di ruangan tersebut.
Anna meletakan tas dan buku yang ia bawa ke meja belajarnya kemudian membuka kaca matanya meletakan benda itu di nakas samping tempat tidur dan merebahkan badannya pada tempat tidur.
"Hm finaly rebahan juga hari ini." Ucap Anna sambil meregangkan kedua tangannya.
"Kaya orang yang lama ngga rebahan aja lu." Sindir Dita.
"Lu ngga tau aja gue tuh rasanya lelah banget hari ini Ta." Keluh Anna.
" Emang abis ngapain? Kuliah hari ini kan juga cuma satu mata kuliah terus kamana aja dari tadi baru balik kamar??" Dita penasaran.
"Cape ngadepin tuh cowok sialan, ditambah tadi juga gue kena omel lagi sama cewek ngga jelas itu." Jelas Anna.
"Lu apa ngga bisa damai aja sama Aris Na? Lagian kan kalo kata Aris dia tuh ngga nabrak lu." Bujuk Dita.
"Gue ngga bisa, jelas-jelas dia tuh nambrak gue." Ujar Anna tetap teguh dengan pemahamannya.
"Terus kata lu barusan abis kena omel sama cewek ngga jelas, siapa tuh?" Tanya Dita.
"Lisa the genk Ta." Jawab Anna sambil bangun dari tempat tidur untuk mengambil minum.
"Why?" Tanya Dita heran, karena setaunya Anna tak memiliki masalah dengan Lisa.
Anna meminum air mineral ditangannya kemudian meletakan botol air mineral itu ke nakas.
"Gue ngga tau tuh anak selalu ngira gue ngedeketin Irpan, padahal gue ngga pernah deketin Irpan. Tadi tuh Irpan yang nyamperin gue di taman." Jelas Anna.
"Mungkin Irpan ada rasa sama lu Na." Ucap Dita. Padahal ia yakin bahwa Irpan memang ada rasa pada teman cupunya itu karena berulang kali ia berhasil melihat tatapan Irpan yang berbeda pada Anna.
"Sakit rasanya melihat orang yang kita sukai menyukai teman kita sendiri. Tapi jika memang Irpan bisa bahagia dengan Anna gue ikhlas." Batin Dita.
.
.
.
JANGAN LUPA DIKRITIK DAN SARANNYA YA READERS
LIKE JUGA JANGAN KETINGGALAN BIAR AKU SEMANGAT NULISNYA.
__ADS_1
INI TULISAN PERTAMA AKU SEDIH BANGET DEH KALO NGGA ADA LIKENYA..MAKANYA KALIAN YANG BACA WAJIB LIKE YA BIAR AKU SEMANGAT LANJUTINYA