Bukan Perjodohan

Bukan Perjodohan
53. masak bareng


__ADS_3

"Gadis itu?"


Seperti sebelumnya Wina mencoba mengingat siapa kiranya gadis itu. Wajahnya nampak tak asing baginya. Seperti terakhir kali melihat Anna saat menjenguk Aris saat sakit juga dia merasa gadis itu wajahnya begitu familiar, seperti seseorang yang ia kenal di masa lalu. Dari mulai kening, bibir, mata dan dahinya persis dengan sesorang yang sialnya sampai saat ini Wina belum mengingat siapa orang itu. Seperti saat kita bertemu dengan seseorang kita hapal wajahnya tadi kadang lupa namanya.


Setelah selesai mengerjakan tugas Aris dan teman-temannya menghabiskan waktu di gazebo yang terletak di belakang rumah itu. Sebenarnya mereka ingin menghabiskan waktu di luar dengan jalan-jalan ke mall untuk nonton atau sekedar cuci mata saja. Namun karena Aris sudah meminta tolong Mamanya untuk masak tadi pagi jadi berakhirlah mereka di rumah Aris hingga saat ini.


Mereka berenam menghambiskan waktu dengan bermain game online yang memang sedang digandrungi oleh masyarakat saat ini, bahkan salah satu channel televisi nasional juga memasukan game tersebut sebagai salah satu acaranya dengan hadiah yang lumayan besar.


Menghabiskan waktu dengan game di ponsel ternyata terasa sangat membosankan bagi Anna dan Dita yang memang baru kali ini saja memainkan permainan itu. Keduanya terus saja mati berulang kali dan menyebabkan tim mereka kalah. Berbeda dengan Rani dan Dewi yang sudah mulai mahir memainkan game tersebut.


"Udahan lah gue mati mulu. Kaga ngerti susah banget." Ucap Anna sambil meletakan ponselnya dan bersandar d bahu Aris yang masih asik dengan ponselnya.


"Sama gue juga mati mulu." Keluh Dita.


"Yang..."


"Yang ih.." gerutu Anna merasa di abaikan oleh Aris.


"Yang"


"Hm.."


"Udahan ke mainnya, bete lagian gue kaga bisa maen. Ngapain ke yang gue bisa."


"Ngga bisa yang, tanggung ini lagi seru."


"Terus gue ngapain dong? Bosen kalo cuma liatin doang mah."


"Sama gue juga bosen." Ujar Dita.


"Gimana kalo kalian ke dapur aja. Bantuin Mama masak." Ujar Aris sambil masih fokus ke ponselnya.


"Malu ah."


"Ngga apa-apa Na sekalian kenalan sama calon mertua ayo." Dita langsung menarik tangan Anna, keduannya pun pergi meninggalkan gazebo.


Anna dan Dita tiba di depan pintu dapur, keduannya berhenti tepat di depan pintu. Di dalam sana terlihat seorang wanita yang belum terlalu tua sedang memotong sayuran di bantu oleh seorang asisten rumah tangga. Mereka ingin menghampiri Wina tapi tak tahu harus bagaimana karena mereka tak akrab dengan Wina. Bertemhu saja baru dua kali dengan sekarang.


Tak lama Wina menoleh ke arah mereka.


"Kalian disini, kemarilah." Seru Wina sembari tersenyum ramah pada keduanya.


Anna dan Dita berjalan menghampiri Wina.


"Iya Tan, Tante sedang buat apa?" Tanya Anna.


"Tante mau buat capcay, makanan kesukaan Aris. Kalian tunggi di depan saja nanti kalo sudah selesai Tante panggil kita makan siang bersama."


"Boleh ngga Tan kalo kita bantuin Tante. Soalnya di belakang mereka lagi pada main game dan kita ngga bisa. Kadi mending bantuin Tante masak aja deh." Ujar Anna.

__ADS_1


"Wah Tante seneng banget kalo ada gadis yang mau bantuin. Jarang-jarang loh anak sekarang mau main di dapur." Ucap Wina.


"Iya Tan. Kita sambil belajar masak juga sama Tante. Nih terutama dia biar bisa masak makanan kesukaan Aris." Ucap Dita sambil menyenggol bahu Anna yang berdiri di sampingnya.


"Apaan sih." Ucap Anna lirih namun masih bisa di dengar oleh Wina dan Dita.


Wina beranjak dari duduknya dan berdiri di samping Anna, menatap gadis yang kini sedang menunduk itu.


" Eh jadi ini pacarnya Aris?" Wina mengelus bahu Anna hingga gadis itu mengangat kepalanya dan tersenyum malu pada Wina.


"Iya Tan. Itu calon mantu Tante. Coba di tes Tan layak ngga jadi mantu Tante hehehe." Ledek Dita.


Anna seketika menoleh ke arah Dita dan menatap temannya dengan tatapan tajam.


"Oke oke ampun Na." Ucap Dita sambil menahan tawanya.


"Udah-udah jangan ngeledek Anna terus. Tante itu ngga pernah masalah Aris mau pacaran sama siapa pun asal dia bahagia Tante juga bahagia." Ucap Wina sambil tersenyum pada Anna dan Dita.


"Makasih Tan." Ucap Anna.


"Sama-sama sayang." Wina mengelus rambut Anna penuh kasih. "Kalian jadi kan bantuin Tante?" Lanjutnya.


"Jadi Tan." Ucap Dita dan Anna berbarengan.


"Ya udah sekarang kita bagi-bagi tugas yah. Anna sama Tante nerusin motongin sayuran buat capcay. Dita sama Bibi bikin bumbu marinasi buat ayam goreng terus nanti di ungkep dulu ayamnya biar bumbunya meresap. Nanti Tante kasih tau komposisi bumbunya." Wina memberikan instruksi yang mesti mereka lakukan.


Sedangkan Anna kini duduk di samping Wina memotong sayur-mayur yang akan mereka masak. Wina dengn telalen mengajari Anna yang memang tak terbiasa di dapur.


"Begini sayang cara memotong wortelnya. Di iris tipis tanpa di belah terlebih dahulu. Kalo irisan yang kamu buat barusan itu untuk bahan bakwan." Wina mempraktekan cara memotong wortel untuk capcay.


Anna pun mengikuti cara yang baru saja dianarkan Wina.


"Makasih Tan. Anna seneng deh bisa belajar seperti ini dengan Tante."


"Sama-sama sayang."


"Eh eh kenapa kamu nangis?" Wina jadi panik karema tiba-tiba pacar anaknya itu menangis. Wkna melihat ke arah jari Anna ia takut jika jari Anna tergores pisau, tapi ternyata tidak. Wina jadi semakin binggung. Ia lantas meletakan pisau yang sedang ia gunakan dan mengambil tisu yang ada di meja itu kemudian menyeka air mata Anna.


"Jagan nangis. Kamu kenapa? Nanti Aris marah sama Tante dikira Tante bikin kamu nangis." Ucap Wina.


"Ngga apa-apa Tante. Anna ngga apa-apa. Anna nangis karena seneng banget bisa ngerasain masak sama Tante. Anna berasa lagi masak sama Ibu Anna sendiri." Ucap Anna.


"Ya ampun, Tante kira kamu kenapa. Emang ibu kamu kemana?"


"Ibu udah ngga ada Tan." Anna menjeda ucapannya dan menghapus air matanya. "Ibu udah pergi sejak Anna masih kecil." Ucapnya.


"Udah jangan nangis. Ibu kamu pastis edih kalo liat kamu nangis gini. Anggap saja Tante ini ibu kamu. Kamu bisa belajar masak kapan pun dengan Tante." Wina memeluk gadis yang masih menangis itu.


"Ya udah kita lanjutin motong sayurnya. Bentar lagi waktunya makan siang." Ucap Wina setelah melepas pelukannya.

__ADS_1


Satu jam berlalu kini di meja makan sudah tersaji hidangan yang mereka buat bersama-sama. Aris dan teman-temannya makan siang bersama Wina yang kink duduk di samping Aris. Nampaknya Wina sangat menyukai Anna. Wina bahkan menuyuh Aris yang tadinya hendak duduk disamping Anna untuk pindah ke kursi yang lain. Wina dengan sangat perhatian mengambilkan makanan untuk Anna.


"Anna doang yang diambilin, aku ngga Ma?" Ucap Aris dengan nada kesal. Padahal dihatinya ia sangat bahagia Wina bisa menerima Anna dengan baik.


"Kamu kan udah gede, bisa ambil sendiri." Ucap Wina.


"Nih sayang, makan yang banyak." Wina meletakan piring yang sudah terisi makanan pada Anna.


"Makasih Tante." Ucap Anna yang diangguki Wina.


Setelah selesai makan siang Anna,Irpan, Dita, Rani dan Dewi berpamitan untuk pulang tak lupa mengucapkan terimakasih untuk jamuan makan siang yang telah mereka nikmati.


"Tante, Anna dan teman-teman pamit pulang. Makasih untuk semuanya." Ucap Anna.


"Sama-sama sayang. Lain kali main kesini kita masak bareng lagi." Ucap Wina.


Wina dan Aris masih berdiri di teras melambaikan tangannya hingga mobil merah itu tak lagi terlihat.


"Ma gimana pacar Aris?"


"Cantik, baik dan ramah. Mama suka. Tapi.."


"Tapi apa Ma?"


"Gadis itu wajahnya ngga asing lagi buat Mama Ris. Rasanya Mama tuh kaya kenal seseorang yang wajahnya mirip banget sama Anna loh." Ujar Wina.


"Mungkin perasaaan Mama aja. Soalnya katanya kan di dunia ini kita tuh punya kembaran sembilan Ma. Jadi di dunia ini ada sembilan orang yang wajahnya mirip kita." Ucap Aris dilandasi dengan teori 'katanya' yang entah kata siapa.


"Hm iya mungkin."


Keduanya pun kembali masuk ke dalam rumah.



ini penampakan yang abis masak bareng calon mertua


.


.


.


Mohon maaf up nya sore. Soalnya akhir-akhir ini lagi ada kerjaan dadakan yang diluar skedul aku. Jadi yang biasanya up tiap tengah malam jadi ngga nentu gini. Tapi aku usahain tiap hati bakalan up walaupun ngga nentu jam berapa-berapanya. sebagai permintaan maaf part kali ini lebih panjang dari part part sebelumnya yang biasanya cuma 1.000 kata ini 1.400 kata loh. sampe pegel aku ngetiknya.


Hngan lupa di favoritkan dengan tekan ion ❤️


like


Sun jauh buat kalian semuahhh.

__ADS_1


__ADS_2