
“Na gimana permintaan gue yang kemaren? Lu mau kan jadi pacar gue?” ucap Aris sambil memegang tangan Anna.
Anna hendak menjawab iya, tapi entah kenapa rasanya gugup sekali. “Ris bentar gue ke toliet
dulu.” Anna melepaskan tangan Aris dan masuk ke toilet yang ada di kamar itu.
Aris membuang nafasnya dengan kasar, merasa Anna menggantung perasaannya. Ia kemudian memiringkan tubuhnya ke arah yang berlawanan dan memandangi dinding
putih itu.
Senyum terus tersungging dari bibir Leni, saat ini ia sedang berjalan di lorong rumah sakit
menuju kamar Aris. Pagi-pagi sekali ia menelpon Wina menanyakan keadaan Aris
dan rumah sakit tempat Aris di rawat tak lupa menanyakan pula ruang rawatnya.
Tiba di depan kamar Aris, Leni melihat ke dalam kamar. Terlihat Aris tengah berbaring
menghadap dinding seorang diri. Ia pun membuka pintu putih itu dan berjalan
mendekat ke ranjang Aris.
Aris mendengar suara pintu terbuka, ia tak memalingkan wajahnya tetap menghadap
dinding. Ia yakin itu Anna yang sudah
kembali dari toilet dan menghampirinya. “Lu mau kan jadi pacar gue?”
Mendengar pernyataan Aris, Leni terkejut dan tak menyangka Aris yang selama ini sulit
sekali di dekati tiba-tiba meminta ia menjadi pacarnya. Leni langsung menghambur dan memeluk Aris dengan erat. Ia tak berucap apa-apa. Di peluknya lelaki yang masih membelakanginya itu dengan erat.
Menerima pelukan yang ia kira dari Anna, Aris pun menyambut pelukan itu. Ia mengeratkan
dan memegang tangan gadis yang memeluknya.
Anna baru saja keluar dari toilet dan melihat lelaki yang baru saja memintanya menjadi
pacarnya malah berpelukan dengan gadis
lain. Anna langsung mematung di depan pintu toilet sambil menatap Aris yang
sedang di peluk seorang gadis yang tak Anna ketahui karena keduanya membelakanginya.
Tak tahu harus berkata apa Anna hanya terus memandangi pemandangan yang begitu
menyakitkan hatinya. Tanpa permisi air matanya mengalir hingga membasahi
pipinya. Anna menghapus air matanya. Ia meneguhkan hatinya kemudian berkata.
“Gue balik ke kamar gue dulu Ris.”
Mendengar ucapan itu Aris jadi bingung kenapa Anna yang sedang dia peluk tapi suaranya
__ADS_1
terdengar jauh dan menyedihkan. Padahal kepalanya dan Anna begitu dekat. Ia pun
membalikan tubuhnya dan menyadari bahwa yang memeluknya bukan Anna, melainkan
Leni. Aris langsung melepaskan pelukannya walaupun Leni terus saja menempel padanya.
“Makasih Ris udah mau jadiin gue pacar lu. Gue kira selama ini lu ngga suka sama gue. Gue ngga nyangka begitu gue datang lu langsung ngungkapin perasaan lu.” Ucap Leni
sambil masih memegang lengan Aris manja.
Anna tak kuat lagi jika harus tetap berada di sana. Ia langsung angkat kaki dari kamar
itu.
“Na ini ngga seperti yang lu lihat.” Aris terus berusaha melepaskan tangan Leni yang terus
menempel padanya.
“Na dengerin penjelasan gue dulu. Lu salah paham.” Tapi Anna tak mendengarkan teriakannya. Gadis itu telah pergi begitu saja. Aris hendak mengejar Anna namun Leni terus
saja menahannya.
“Lepasin gue.” Bentak Aris, namun Leni tetap saja tak bergeming, tangannya tetap
memegang lengan Aris.
“Lepas!” Aris menghempaskan tangan Leni dengan kasar. “Lu apa-apaan sih!”
“Jangan kasar gitu Ris, baru aja lu minta gue jadi pacar lu. Lu juga tadi nerima
“Gue nerima pelukan dari lu karena tadi gue kira lu Anna. Asal lu tau, gue ngga pernah suka sama lu.”
“Gue ngga nerima alasan Ris. Pokoknya sekarang lu pacar lu!”
“Dasar sinting.” Aris pun beranjak dari ranjangnya.
“Mau kemana?”
“Bukan urusan lu!” Aris keluar dari kamarnya.
Sementara itu Anna di kamarnya sedang menangis, Dita mengelus lembut punggung sahabatnya itu. Anna terus saja menangis setelah menceritakan sakit hatinya. Rani, Dewi
dan Irpan yang juga ada di kamar itu pun memberikan nasihat bahwa mungkin yang
Anna lihat tak sesuai dengan apa yang dia pikirkan.
“Na gue temenan sama Aris dari SMP dan dia ngga pernah main-main sama perempuan.
Dan gue tau dia sayang banget sama lu”
Ucap Irpan.
“Mungkin itu dulu Ris. Kalian kan pas SMA ngga bareng. Mungkin aja dia udah bukan Aris yang lu kenal lagi.” Bantah Anna.
__ADS_1
“Dia tetep seperti dulu Na, tak ada yang berubah dari dia Na. Tak semua yang lu lihat
harus lu percayai Na.” Ujar Irpan.
“Kalo gue ngga boleh percaya sama apa yang gue lihat terus gue harus percaya apa?” Ucap Anna sambil menangis mengingat
pemandangan yang menyakitkan tadi. Dita hanya bisa memeluk sahabatnya, ia pun
tak tahu harus melakukan apalagi.
Irpan tak tahu lagi harus berkata apa untuk menenangkan Anna. Ia yakin bahwa Aris begitu mencintai Anna. Tapi apa yang Anna katakan ada benarnya juga jika tak
mempercayai apa yang kita lihat, apa lagi yang harus kita percayai? Mungkin
jika kita hanya mendengar informasi dari mulut ke mulut masih bisa membantahnya
sebagai gosip belaka tapi jika kita melihatnya sendiri sungguh itu sesuatu yang
tak terbantahkan.
Aris masuk ke kamar Anna tanpa mengetuk pintu, ia melihat Anna yang sedang menangis di peluk oleh Dita. Aris berjalan mendekati Anna yang kala itu sedang duduk di
sofa dengan Irpan dan teman-temannya. “Na ini ngga seperti yang lu lihat.”
“Seperti yang gue lihat juga ngga apa-apa.” Anna mencoba berbicara dengan biasa saja
meskipun hatinya teriris.
“Kenapa kita selalu salah paham Na.” Ucap Aris.
“Salah paham apa. Ngga ada kesalahpahaman lagi diantara kita Ris. Gue udah tau lu yang
nolongin gue di Jogja. Bahkan tak hanya itu, lu juga berulang kali nyelamatin.
Dan gue sangat berterimasih buat itu semua.” Anna berusaha berbicara sebiasa
mungkin meski kini dadanya sudah hampir meledak menahan sakit.
“Na dengerin penjelasan gue. Apa yang lu lihat tadi ngga kaya yang lu pikirkan.”
“Emang lu pikir gue mikir apa?” Anna menjeda ucapannya, ia melihat Leni baru saa masuk ke
kamarnya dan berdiri di samping Aris sambil memegangi lengan Aris. Anna menyeka air mata yang hampir lolos dari matanya, ia tak ingin tampak menyedihkan di depan Aris. Anna kemudian melanjutkan kata-katanya lagi.
“Selamat buat kalian berdua, gue ikut bahagia.”
“Makasih Anna.” Ucap Leni dengan tak tahu malu. Padahal Aris sudah mengatakan padanya bahwa tadi ia hanya salah orang mengira dirinya Anna. Tapi Leni malah mengambil kesempatan dengan tak menghiraukan kata-kata Aris dan tetap menganggap Aris pacarnya.
“Na dengerin penjelasan gue dulu.” Ucap Aris.
“Ngga ada yang perlu dijelasin.” Anna beranjak dari duduknya.
“Ayo Ta, Kita pulang. Dita, Rani dan Dewi beranjak dari duduknya kemudian mengikuti Anna keluar dari kamar itu.
__ADS_1
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMENTAR.
KALO SUKA BOLEH TEKAN IKON LOVE BUAT FAVORITKAN NOVEL INI.