Bukan Perjodohan

Bukan Perjodohan
48. Sayang


__ADS_3

Anna beranjak dari duduknya dan menghampiri Aris yang kini


duduk dan menyandarkan dirinya di kepala ranjang.


“Suapin.”  Ucap Aris


saat Anna duduk di samping ranjangnya lalu mengambil bubur yang tadi di letakan


oleh Leni.


“huekkk.” Ledek Irpan “Pengen muntah tau gue dengernya Ris.”


Lanjutnya.


Anna menyuapi Aris dengan telaten, hingga bubur itu habis


tak tersisa. Lalu ia meletakan kembali mangkuknya ke nakas dan mengambil


menyerahkan segelas air putih untuk Aris minum obat.


“Makasih sayang.” Ucap Aris sambil menerima gelas itu lalu


meminum obatnya. Mendengar Aris memanggilnya sayang membuat Anna rasanya ingin


terbang. Sesenang ini rasanya di panggil sayang. Anna meletakan gelas itu


kembali setelah Aris meminum obatnya.


Anna hendak pergi mengembalikan nampan yang berisi mangkuk


dan gelas ke dapur tapi tangan Aris menghentikan gerakannya.


“Di sini aja!” Ucapnya sambil memegang tangan Anna hingga


gadis itu kembali duduk di sampingnya.


Anna tak tau harus berkata apa, apalagi saat ini ia sadar


keempat temannya sedang memperhatikannya seolah nonton film secara live aja.


Anna menoleh ke arah teman-temannya yangsedang melihatnya kemudian berbalik


kembali saat Aris memanggilnya.


“Na..”


“Hm..”


“Kok diem aja sih?” Aris mengelus lembut pipi Anna yang


langsung di tepis oleh tangan gadis itu.


“Hih kanapa sih Na. Padahal gue sakit gini kah juga


gara-gara lu.” Kesal Aris.


“Bukan gitu, malu. Liat tuh mereka liatin kita.” Jawab Anna


sambil mengarahkan padangannya pada teman-temannya.


Dita, Irpan, Rani dan Dewi langsung mengalihkan padangan


mereka saat mereka menyadari Anna memandang mereka. Hingga akhirnya mereka


memutuskan untuk meninggalkan kamar Aris dan menungu Anna di bawah.


Melihat teman-temannya sudah tak ada Aris langsung menarik


Anna kepelukannya. “Gue kangen.” Anna menerima pelukan Aris dengan senang hati.


Gadis itu bahkan membalas pelukan kekasihnya dengan mengeratkan kedua lengannya


di pinggang Aris.


“Makasih udah jengukin gue.” Ucap Aris saat pelukan mereka


terlepas.


“Hm sama-sama lu cepet sembuh yah.” Ucap Anna. “Cepet sembuh


yah sayang.” Lanjutnya sambil menundukan kepalanya. Begitu malu memanggil Aris


dengan sebutan itu. Rasanya kaku banget. Sedangkan yang di panggil hanya


terkekeh geli sambil menundukan wajahnya lebih ke bawah hingga bisa melihat

__ADS_1


ekspresi wajah Anna yang kini sedang memerah.


Aris menyentuh dagu Anna dan membuatnya mendongak hingga


bisa melihat wajahnya. “Bilang apa barusan gue ngga denger?” Ledek Aris.


Anna masih terdiam dan malah memalingkan wajahnya


menghindari tatapan Aris.


“Liat sini sayang.” Ucap Aris sambil kembali mengarahkan


kepala Anna dengan tangannya hingga wajah mereka kini berhadapan.


“Jangan panggil gitu ah.. kok gue dengernya geli yah.” Ucap Anna


sambil menahan senyumnya.


“Geli geli tapi lu suka kan.” Aris mencubit kedua pipi kekasihnya.


Sementara itu di ruang tamu Irpan dan ketiga teman Anna


sedang menonton Sinetron channel ikan terbang. Mereka terpaksa nonton acara


yang ost nya begitu mereka kenal apalagi kau bukana ku menangisss.... bahkan


mereka berempat malah main tebak-tebakan kapan ost itu akan muncul.


“Pasti abis ini istrinya tau suaminya selingkuh terus


nangis-nangis dan ku menangis... “ Ucap Dewi menirukan lagu yang benar saja


saat ini langsung muncul begitu dirinya selesai berucap. Akhirnya keempatnya


pun menertawakan kegiatan unfaedah mereka dari pada tetap di kamar Aris dan


menjadi manusia yang tak dianggap ada.


“Kadang gue aneh sama warga plus enam dua padahal cerita


kaya beginian udah ketebak banget alurnya tapi kenapa masih aja pada di tonton.”


Gerutu Irpan.


“Tau ah... gue juga aneh. Balik yuk udah sore nih.” Ajak


“Ya udah lu panggil Anna dulu sana, sekalian lu bilangin ke


Aris kita semua mau pulang.”


Dita mengacungkan dua jempolnya kemudian beranjak dari


duduknya untuk memanggil Anna sekaligus berpamitan.


Dita berdiri mematung sambil tersenyum di depan kamar Aris


saat melihat temannya begitu bahagia. “Gue seneng lu akhirnya bisa bersatu.”


Gumam Dita yang kemudian masuk ke kamar itu.


“Udahan woy. Balik ayo udah sore.” Ucap Dita.


“Ngangguin aja sih lu.” Gerutu Aris.


“Gue pamit pulang dulu yah. Lu cepet sembuh.” Pamit Anna.


Aris melepaskan tangan Anna yang sedang ia genggam beralih


memengang kepala gadis itu kemudian medaratkan ciuman di kening Anna. “Makasih,


gue udah sembuh nih.” Ucapnya begitu melepaskan Anna.


“Oh my god mata gue tercemar ini.” Ledek Dita sambil menutup


wajahnya dengan kedua tangannya.


Anna dan teman-temannya hendak masuk ke mobil Dita, tapi


mereka melihat Wina turun dari mobil yang baru berhenti itu. Akhirnya mereka


memilih untuk berpamitan duu pada Ibu Aris.


“Kalian sudah mau pulang?” Tanya Wina saat sampai di hadapan


Irpan.

__ADS_1


“Iya Tante kita pulang dulu.” Ucap Irpan yang kemudian


menyalami tangan Wina. Anna dan teman-temannya pun ikut-ikutan menyalami Wina.


Wina tersenyum ramah pada semuanya dan mengucapkan terima


kasih sudah menjenguk anaknya yang sakit. Wina berdiri di tempatnnya dan


melambaikan tangannya ketika temen-teman anaknya pergi kemudian masuk ke dalam


rumahnya.


Wina sejenak berhenti dan mengingat sesuatu. “Gadis itu ..


wajahnya tak asing bagiku. Sepertinya aku pernah melihatnya tapi dimana yah?”


Gumamnya.


Sementara itu di mobil Dita, Anna sedang menjadi bahan


ledekan teman-temannya.


“Gimana rasanya salaman sama calon mertua Na?” Tanya Dewi yang


duduk di sebelahnya.


“Apaan sih.” Ucap Anna.


“Eh Na gue panasaran kapan lu jadian sama Aris? Secara


kemaren kan waktu lu nemenin gue nunggu jemputan kayaknya lu masih belum akur


sama dia.” Tanya Rani.


“Hm itu... sebenernya seperti yang gue bilang di grup tadi


malem.” Anna kemudian menceritakan kedatangan Aris hingga akhirnya mereka bisa


akur. Tapi tentu saja Anna tidak menceritakan kejadian mereka tertangkap basah


sedang pelukan oleh Permadi.


“Ih co cweet.” Ucap Dita yang sedang mengemudikan mobilnya


sambil melirik ke arah Irpanyang duduk di sampingnya.


“Kode tuh Pan Dita pengen juga kaya Anna.” Celetuk Dewi.


“Tau tuh ngga peka peka yang di samping gue. Padahal kodenya


udah banyak banget.” Ujar Dita sambil tertawa renyah.


Anna turun dari mobil Dita dan tak lupa mengucapkan terima


kasih pada teman-temannya yang sudah mau menemaninya menjenguk Aris. Anna


langsung masuk ke dalam rumah dan menelpon Aris memberitahu bahwa dirinya sudah


tiba di rumah dengan selamat. obrolan mereka pun berlanjut begitu lama hingga


gue yang nulis cerita ini ga tau mereka tuh lagi ngomongin apa soalnya kaga


kelar-kelar.


Sementara itu di rumahnya Leni sedang merajuk pada Ayahnya. Ia


ingin Ayahnya membantunya menjadikan Aris tunangannya seperti yang biasa


dilakukan orang-orang di kalangan pebisnis yang  bisanya menjodohkan anak-anak mereka untuk memperluas usaha mereka. Mengingat


Ayahnya juga merupakan salah satu patner bisnis Ayah Aris.


.


.


.


Sampe sini dulu gue ngantuk. Kalo kalian pengen tau sekarang


ini udah jam 11 malem. Gila rajin banget kan gue jam segini ngehalu. Demi apa


coba padahal like nya dikit nih cerita. Tapi demi kalian readerkuh tercintah


yang tetep setia baca kisah ini jadi gue terusin aja meskipun viewers gue belum

__ADS_1


jutaan.


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMENTARNYA.


__ADS_2