
Berulang kali Aris berteriak tidak mungkin sambil mengacak rambutnya frustasi. Bagaimana bisa saat kebahagian baru saja ia dapatkan dengan segala kekacauan yang mereka lalui. Dari mulai salah paham soal kecelakaan hingga gadis itu sangat membencinya, gosip-gosip postingan akun Rico yang mewarnai perjalanan rumit mereka hingga salah paham saat menyatakan perasaan. Dan setelah semua mereka lalui kini masalah baru mulai muncul kembali.
“Arrgh... Kenapa semua mesti begini.” Teriaknya dengan lirih karena sudah berulang kali berteriak hingga rasanya sudah tak ada lagi stok suara yang tersisa. Semua terasa tertahan di tenggorokannya. Tak kalah dengan pita suara yang seolah sudah kehabisan nada untuk mencurahkan kegundahannya, hatinya seolah menolak kenyataan yang ada.
“Apa-apaan ini? Kekasihku adalah adikku?” Ucapnya dalam hati kemudian tertawa. “Hahaha udah kaya sinetron channel ikan terbang aja. Konyol.” Aris kembali mengacak rambutnya kemudian berjalan lunglai seperti kehabisan tenaga, seperti orang yang enggan makan meskipun lapar. Perasaan yang sangat sulit untuk didefinisikan saat ini.
Setibanya dia di kamar, Aris lantas mengambil ponselnya dan membuka kunci ponselnya. Terlihat gambar dirinya dan gadis yang dibilang Mamanya adalah adiknya sedang terseyum bahagia bersamanya. “Elu adik gue? Ini ngga mungkin!” Aris masih saja menolak kenyataan yang menurut Mamanya adalah kebenaran yang sebenar-benarnya.
Ia membuka folder galery, terlihat gambar-gambar dirinya bersama Anna. Di setiap gambar itu mereka selalu tersenyum bahagia. Diusapnya gambar diri Anna yang sedang memakai kaca mata hitam pemberiannya, dengan senyum merekah menghiasi gadis itu.
“Kita harus berakhir.” Ucapnya lirih.
Hingga pagi menjelang, Aris sama sekali tidak bisa memejamkan matanya. Lelaki itu tak tidur sama sekali untuk malam ini. Dirinya begitu lelah bahkan berulang kali menguap tapi karena pikirannya tak tenang membuatnya tak bisa memejamkan matanya.
Hingga pagi otaknya dipenuhi oleh kata-kata Mamanya yang terus terngiang dikepalanya.
“Kalian harus putus. Segera!”
“Dia itu anak ayahmu dengan selingkuhannya.”
“Dia itu adikmu!”
Saat ini Aris tengah berdiri di depan cermin di kamar mandinya setelah mencuci wajahnya. Ia pandangi pantulan gambar dirinya di cermin. Seulas senyum menyakitkan terihat di wajahnya. “Tuhan kesalahan apa yang udah gue lakuin sampe hidup gue jadi serumit ini.” Ia berbicara pada dirinya yang ada di cermin.
__ADS_1
Suara nyaring dari dering ponselnya membuat dirinya beranjak dari kamar mandi dan menghampiri ponselnya yang tergeletak di tempat tidur. Terlihat nama *sayangku* tengah memanggilnya. Aris kemudian meletakan kembali ponselnya, tak menjawab panggilan itu. Ia begitu kacau, tak tahu harus berkata apa pada kekasih yang ternyata adalah adiknya.
Tak lama notifikasi pesan masuk muncul di ponselnya, diliriknya pesan itu. Sesuai dengan dugaannya, pesan itu dari gadis yang begitu ia sayangi. Lagi-lagi Aris mengabaikannya. Entahlah hatinya kini tak karuan. Memikirkan kekasihku adalah adikku sudah membuat kepalanya pusing. Di tambah lagi kalau gadis itu adalah anak hasil selingkuhan Ayahnya, membuatnya semakin kacau. Anak dari selingkuhan? Berarti wanita itu sudah merusak kebahagiaan Mamanya, orang yang begitu ia kasihi.
Luka dihatinya mungkin tak sebesar luka yang dirasakan Wina, Mamanya. Aris kini menegarkan hatinya dan berusaha mencari cara untuk berpisah dengan gadis yang begitu ia cintai. “Sayang, Maafin gue. Kita ngga mungkin bersama. Gue cinta sama lu. Tapi itu semua salah.” Ucapnya sambil menghapus kontak dengan nama *sayangku* di ponselnya.
Pukul sepuluh pagi Aris pergi dari rumahnya untuk kembali ke kampus. Tak ada lagi wajah ceria dan senyum yang mewarnai wajah tampannya itu. Ia kembali pada dirinya yang dulu dengan ekspresi datar yang biasa-biasa saja dan terkesan acuh tak acuh.
Ia mengambil kunci mobilnya kemudian berpamitan pada Wina yang tengah membaca majalah di ruang tamu. Tak berbeda dengan dirinya, Wanita itu terlihat murung tak seperti biasanya. “Aris berangkat Ma.” Pamitnya sambil mencium tangan Mamanya.
“Iya hati-hati di jalan.”
Sepanjang perjalanan ponselnya terus saja berdering tapi ia mengabaikannya. Meski kontak yang muncul di layar ponselnya tak bernama tapi Aris masih sangat hafal itu nomer ponsel Anna. Tak hanya panggilan berulang yang ia dapatkan, puluhan pesan juga membanjiri ponselnya. Nampaknya gadisnya sangat mengkhawatirkannya. Pasalnya sangat jarang dirinya tidak menjawab atau pun membalas pesan yang Anna kirim padanya. Nyaris tidak pernah malahan.
“Gue harus gimana? Mutusin lu begitu aja ngga mungkin. Apalagi melanjutkan hubungan ini lebih ngga mungkin.”
“Apa gue juga harus jelasin kalo lu adik gue? Itu juga ngga mungkin. Itu terlalu konyol.”
Tiba-tiba terlintas ide yang mengkin bisa membuat gadisnya itu membencinya. Aris segera mengambil ponselnya dan mengaktifkannya kembali. Ia membuka aplikasi WA nya dan mencari nomor yang berulang kali menghubunginya bahkan membanjiri ponselnya dan pesan tak penting yang selalu ia abaikan. “Ketemu.” Ucap Aris.
Aris lalu menghubungi nomor itu. Tak lama, baru deringan kedua gadis di seberang sana sudah menjawab panggilannya.
Aris berbicara panjang lebar saat itu. Hingga akhirnya dia mengakhiri panggilannya. “Oke gue jemput lu sekarang.”
__ADS_1
Aris kembali meletakna ponselnya dan melanjutkan perjalanannya. “Maafin gue Na. Kita harus berakhir.” Ucapnya lirih dengan mata yang sudah memerah. Nampak jelas lelaki itu berusaha keras untuk tidak membiarkan bendungan air matanya tumpah.
****
Di rumahnya Anna begitu gelisah karena Aris berulang kali tak menjawab panggilannya, bahkan pesannya pun diabaikan. Gadis itu khawatir terjadi sesuatu yang tak diinginkan pada kekasihnya. Bahkan sudah jam sepuluh, tiga puluh menit sudah berlalu dari janji Aris yang akan menjemputnya untuk kembali ke asrama bersama. Hingga akhirnya Anna memutuskan untuk diantarkan Ayahnya.
Setibanya di kampus Anna langsung berpamitan ke Ayahnya kemudian pergi munuju kamarnya. Tak seperti biasanya kini ketiga sahabatnya sudah berada di kamar. Anna pun menceritakan panggilan dan pesan-pesan yang ia kirimkan diabaikan oleh Aris. Hingga kini keempatnya memutuskan untuk menunggu Aris di parkiran. Karena sebelumnya Dita mencoba menghubngi Irpan untuk menanyakan apakah Aris ada bersamanya? Namun hasilnya nihil, lelaki itu pun tak mengetahuinya.
Sekitar sepuluh menit Anna dan teman-temannya berdiri di parkiran, hingga terlihat mobil putih melintas di hadapan mereka kemudian terparkir dengan rapi di sana. Anna yang menyadari itu mobil Aris lantas berjalan menghampiri mobil itu.
Terlihat Aris keluar dari mobil itu dan berdiri di samping mobilnya hendak membuka pintu sebelah, namun belum sempat Anna sudah menghampirinya. “Sayang.” Ucapan Anna tertahan begitu melihat sosok yang ia kenal keluar dari mobil Aris. Gadis yang lebih tinggi darinya dengan rambut panjang yang terurai, gadis itu mengandeng tangan kiri Aris dengan begitu manja. Keduanya berjalan menghampiri Anna yang masih mematung di tempatnya.
Dita, Rani dan Dewi yang melihat hal itu langsung menghampiri Anna. Anna masih menatap penuh selidik terhadap kekasihnya yang kini digandeng Leni. Gadis yang selalu mengejar kekasihnya. Tak satupun kata terucap dari bibir mungil Anna. Adis itu terus menatap Aris seolah meminta penjelasan atas pemandangan yang ia lihat kini.
Aris menatap Anna dengan datar kemudian berkata. “Mulai sekarang kita berakhir. Kita putus!” Ucapnya kemudian meninggalakan Anna begitu saja.
.
.
.
Sedih jir... pen mewek aku nulisnya.
__ADS_1
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMENTARNYA!