
Leni sedang resah di kamarnya. Ia menunggu Wina yang katanya akan memberi kabar keadaan Aris namun nyatanya sampai sekarang wanita itu belum mengabarinya. Ia berulang
kali mengirim pesan kepada Wina namun tak terlihat tanda-tanda pesan itu dibaca.
Leni keluar dari kamarnya, mengetuk pintu kamar utama. Tak lama Ratna, keluar dari
kamarnya.
“Kenapa jam segini belum tidur?” Tanya Ratna pada putri manjanya.
Leni merengek pada Ibunya supaya menghubungi Leni dan menanyakan di mana rumah sakit tempat Aris di rawat. Namun Ratna menolaknya.
“Ini sudah malam, Ibu tidak mungkin telpon Jeng Wina jam segini. Sudah kau tidur saja
besok pagi baru Ibu telpon Jeng Wina.” Leni pun kembali ke kamarnya dengan
cemberut.
***
Pagi telah tiba, Anna terbangun dari tidurnya dan merasakan dahinya sudah tak sakit lagi.
Begitu pula dengan kepalanya yang kini tak pusing. Ia mendapati Ayahnya tertidur di kursi yang terletak di samping tempat tidurnya.
“Ayah.”
“Kamu sudah bangun sayang, bagaimana perasaanmu pagi ini?”
“Sudah lebih baik Ayah.”
“Syukurlah.”
“Ayah pulanglah dan istirahat di rumah. Anna tak apa-apa. Lagi pula sebentar lagi Dita dan lainnya pasti akan datang.” Ucap Anna.
“Baiklah Ayah pulang dulu. Kabari Ayah jika kau membutuhkan sesuatu.” Permadi pun
meninggalkan putrinya.
Permadi tak sengaja bertabrakan dengan seseorang yang berjalan dengan terburu-buru di
lorong rumah sakit.
“Maaf aku tak sengaja.” Ucapnya.
“Tak apa-apa.” Jawab Permadi sambil melihat ke arah orang yang menabraknya. “Iwan.”
“Permadi?” Ucap Ayah Aris. “Lama tak bertemu bagaimana kabarmu? Kenapa kau bisa di sini?”
Permadi dan Iwan adalah teman semasa SMA yang lama tak bertemu. Mungkin mereka bertemu terakhir kali sekitar dua puluh tahun yang lalu. Keduanya adalah teman baik
layaknya Irpan dan Aris namun karena suatu hal hubungan mereka merenggang
bahkan sampe hilang kontak, barulah saat ini mereka bertemu kembali.
“Aku baru saja menjenguk anakku. Lalu untuk apa kau di sini?” Tanya Permadi.
“Aku mau melihat anakku, dia kecelakaan kemarin. Ini kartu nama ku. Semoga lain kali
kita bisa berbicara panjang lebar.” Ucap Iwan sambil memberikan kartu namanya
kemudian melanjutkan langkahnya ke kamar Aris.
__ADS_1
Begitu menemukan kamar putranya Iwan langsung masuk ke kamar itu. Wina yang melihat kedatangan suaminya langsung menghambur ke pelukan suaminya sambil menangis. Sebagai ibu ia merasa sangat sedih melihat putranya belum juga sadarkan diri,
andai bisa dia ingin dirinya saja yang menggantikan anaknya yang sakit.
“Sudah jangan menangis. Bagaimana keadaan Aris?” Tanya Iwan sambil memperhatikan
putranya yang kini terdapat perban di tangan dan kepalanya.
“Dokter bilang keadaannya tidak parah,tapi entah kenapa dia belum juga sadarkan diri
dari kemarin.” Ujar Wina.
“Kenapa jam segini sudah berisik” Ucap Aris sambil membuka matanya. Kepala dan tangannya terasa sakit.
“Sayang kamu sudah sadar.” Wina langsung memeluk putranya dan membelainya dengan sayang.
Aris merasa risih mendapat perlakuan seperti itu dari Mamanya.
“Apa yang sebenarnya terjadi sampai kamu bisa jadi seperti ini? Apa kau mengendari mobilmu dengan ugal-ugalan?” Tanya Iwan.
“Huh (Aris menghembuskan napasnya kasar), kenapa Ayah selalu berfikir negatif tentangku.
Aku tak tau tiba-tiba datang mobil dengan cepat di depanku dengan beberapa mobil
polisi di belakangnya. Mungkin mereka buronan yang sedang dikejar polisi. Aku
sudah berusaha menghindar tapi tak berguna jaraknya terlalu dekat. Mobil itu
tetap saja menabrak mobilku.” Jelas Aris.
“Astaga bagaimana keadaan dia?” Ucap Aris.
“Dia siapa?”
“Kenapa diam saja?” Tanya Wina. “Bagian mana yang sakit?”
“Aris sudah tak apa-apa. Sebaiknya Mama dan Ayah pulang saja.” Ujar Aris.
“Tapi Mama ingin menemanimu di sini.”
“Sudahlah kita pulang saja, dia sudah dewasa tak apa-apa.” Iwan pun membawa istrinya
pulang.
Anna khawatir akan keadaan Aris, ia pun keluar dari kamarnya.
Aris melihat Anna memasuki kamarnya, ia langsung berpura-pura tidur. Anna menghampiri Aris dan duduk di kursi yang berada di
samping ranjang Aris. Anna mengambil tangan Aris dan menggenggamnya. “Kenapa lu
belum sadar juga.” Ucap Anna sambil menangis.
“Maafin gue, Bangun Ris. Gue janji bakal memenuhi apa pun permintaan lu asal lu
bangun.” Ucapnya lirih disela-sela
tangisnya.
“Beneran?”
Anna terkejut mendapati Aris menjawab ucapannya. Ia langsung melepaskan tangan Aris dan menatap wajah lelaki yang ia khawatirkan sejak semalam. “Lu udah sadar.”
__ADS_1
“Beneran lu bakal nurutin semua keinginan gue?”
Anna tak menjawab pertanyaan Aris ia sibuk memandangi Aris.
“Apa lengannya sangat sakit?” tanya Anna sambil menunjuk lengan kanan Aris yang
diperban.
“Hei jangan mengalihkan pembicaraan.” Ledeknya. Ia tahu bentul saat ini Anna pasti sangat malu.
“Lu bilang lu bakal nurutin semua yang gue mau asal gue bangun. Sekarang gue udah bangun dan gue mau lu jadi pacar gue.” Ucap Aris.
“Gu.. Gue.” Ucap Anna.
“Lu ngga bisa ingkar janji Na.”
“Gue... Gue balik ke kamar gue dulu.” Ucap Anna sambil meninggalkan kamar Aris dengan wajah yang merah padam, ia tak menyangka jika Aris mendengar semua perkataannya.
Anna duduk bersandar di ranjangnya, ia memikirkan kata-kata yang baru saja Aris ucapkan. Belum selesai dengan pemikirannya pintu ruangannya diketuk dan masuklah dua
polisi yang kemudian menghampirinya.
Kedua polisi itu membahas soal kecelakaan yang melibatkan dirinya. Mereka juga sudah
memeriksa black box mobil Aris dan memastikan isinya. Dari hasil pemeriksaan
Aris dinyatakan tidak lalai mengemudi karena memang mobil buronan yang mereka
kejar salah dengan menerobos lampu merah hingga tabrakan itu terjadi.
“Kami menemukan ada diri anda yang terekam dalam black box ini, jadi kami kesini
untuk melihat keadaan anda sekaligus memberikan salinan black box ini. Barang
kali anda membutuhkannya.”
Anna menerima flashdisk yang di berikan oleh salah satu polisi itu, tak lupa mengucapkan terimakasih pada mereka. Anna kemudian menghubungi Dita, memintanya membawa laptop jika menjenguknya. Ia ingin memastikan isi rekaman black box yang dikatakan polisi tadi. Mungkin dengan melihat rekaman balck box itu ia bisa memastikan apakah benar Aris yang menabraknya di Jogja atau Aris
benar-benar orang yang menyelamatkannya dari kecelakaan itu seperti pengakuan
Aris yang tak ia percayai. Jika benar Aris tak menabraknya maka ia harus siap-siap menanggung malu karena semua perlakuannya di awal kuliah.
Setelah memikirkannya Anna jadi teringat kata-kata Aris dulu yang mengatakan "kalo lu
tau yang sebenernya, lu utang banyak terimakasih ke gue"
Anna jadi semakin tidak sabar untuk melihat isi rekaman black box itu.
*
*
*
*
*
Author aja penasaran itu isi black box nya apaan yah?? Mungkinkah Anna benar-benar utang banyak terimakasih ke Aris?
Kalian tim mana nih? Tim Anna apa tim Aris?
__ADS_1
JANGAN LUPA
LIKE DAN KOMENTAR!!!