Bukan Perjodohan

Bukan Perjodohan
Cuplikan Jodoh dari GC 1


__ADS_3

Seperti terkena virus drakor yang menimpa putrinya, Ratna justru menjadi seorang dengan literasi tahap tinggi. Setiap hari ia membaca novel di aplikasi yang ia temukan karena tak sengaja iklannya muncul di media sosial saat ia tengah berseluncur kala itu.


Ibu satu anak itu kini punya hobi baru yakni hampir setiap waktu hp nya selalu nempel ditangan, entah sedang masak atau apapun hp nya selalu ia bawa.


Iseng-iseng gabung grup chat salah satu penulis favoritnya yang kemudian membentuk grup WA, hingga notifikasinya selalu berbunyi setiap saat. Aneh ada saja bahasan di grup emak-emak itu.


Cuitan-cuitan konyol pun bertaburan. Dari mulai kenalan nama, alamat dan sebagainya hingga mereka membahas cerita-cerita dari novel yang mereka baca, tak jarang mereka juga mencak-mencak dan marah-marah di grup chat saat novel yang mereka baca sedang sampai pada tahap pemeran utamanya dibuat menderita. Bahkan author yang membuat novel tersebut pun di bully habis-habisan. Sungguh pembaca yang sangat berani.


"Cus GC kita bakar GC nya."


"Awas kita santet online lu kalo si xxx lu buat nangis."


Tapi itu semua hanya bentuk apresiasi mereka pada karya yang sedang mereka baca. Nanti setelah pemeran utama kembali bahagia mereka akan memuji authornya.


"Lanjutkan otor soleha sejagat NT."


"Aku padamu otor soleha."


Tak hanya sampai disana, mereka bahkan dengan konyolnya menyebut teman-teman di grup itu sebagai mantu, mertua, besan dan sebagainya, udah kaya keluarga beneran aja. Padahal hanya sebatas dunia maya.


Tak jarang mereka juga melakukan video call, seolah sudah menjadi agenda wajib bagi anggota grup itu. Kadang Freyanisa Fransisca, putri Ratna satu-satunya dibuat heran karena melihat Mamanya yang sedang masak sambil video call dengan teman-teman dari grup gajenya itu.


Seolah tak mau kalah dengan anaknya sering belajar daring menggunakan zoom, Ratna meminta putrinya untuk mengajarkannya cara menggunakan zoom. Supaya bisa tatap muka lebih banyak dengan teman-temannya katanya, soalnya kalo video call pake wa dibatasi.


Puluhan novel telah Ratna baca, dari mulai perjodohan dengan aneka ragam alasan yang kebanyakan dijodohkan dengan ceo ceo, yang dia awal-awal dingin dingin kaya es balok sikapnya kemudian akhirnya jadi bucin. Adalagi perjodohan konyol, dimana anak-anak masih masa sekolah sudah dijodohkan, tak masuk akal tapi entahlah cerita-cerita itu tetap saja ia baca sampai akhir. Kadang emak-emak di grup itu sampai kepikiran ingin membuat novel sendiri dengan judul perjodohan sejak dalam kandungan.


Freya putrinya satu-satunya yang saat ini masih duduk di kelas dua belas SMK saja dibuat heran dengan hobi baru Mamanya. Mama Ratna yang tadinya hobi berbelanja dan membuat resep makanan baru kini lebih senang bermain dengan hp nya seolah menemukan dunia baru disana.


Sepulang sekolah, Freya yang masih mengenakan seragam putih abu itu masuk ke dalam rumah dan mendapati Mamanya seperti biasa sedang zoom meeting dengan teman-teman gesreknya.


Freya mendekati Mamanya dan menyalami wanita yang hampir berusia setengah abad itu namun masih terlihat muda. Berbeda dengan ibu teman-temannya yang memakai pakaian layaknya istri orang kaya Ratna malah mengenakan daster yang sudah pudar warnanya. Bukannya tak mampu membeli pakaian yang layak tapi katanya semakin rusak semakin nyaman dikenakan.


Freya melirik ke arah Laptop di hadapan Mamanya yang ternyata terpampang banyak gambar live ibu-ibu disana. Freya menyalami mamanya kemudian beranjak ke lantai dua tempat kamarnya berada.


"Emak-emak zaman sekarang ada-ada aja." Gumamnya.


Sementara itu, Ratna kembali fokus ke laptop di hadapannya. Sebenarnya itu laptop milik Freya, dengan dalih meminjam karena kalau di hp gambarnye kecil Freya pun meminjamkan laptop itu pada Mamanya, padahal itu laptop kesayangannya yang selama ini menemaninya dalam petualangan menelusuri oppa oppa tampan kesayangannya.


***Zoom meeting***


Mira : Ratna itu anakmu? Cantik banget. Mau lah kita besanan.


Ami : Aku juga mau jadi besanmu, tapi gimana yah anakku juga cewek, ada yang laki udah nikah.


Dwi : Ya kali anak kita mau di jodoh-jodohin kaya novel.


Yuni : Ya tidak apa-apa Mba kali aja ada jodohnya.


Ami : Apalagi kalau yang ceo ceo yah... Siapa tahu nanti hidupnya beneran kaya di novel wkwkwkwk.

__ADS_1


Mira : Kita jodohin aja yu lah Rat. Sama anakku, ada bujangku yang satu sikapnya dingin banget. Mirip lah kaya yang di novel-novel gimana?


Ratna : Anak mu yang mana? Bukannya bujangmu ada dua Mir?


Yuni : eh nanti kalau beneran jadi dijodohin kita diundang yah sekalian meet up.


Ami : setuju aku.


Mira : Iya ada dua. Yang gede kuliah semester enam, kalo yang kecil kayaknya seumuran sama gadismu masih kelas dua belas SMA.


Ratna : Boleh juga Mir, nanti aku bahas dulu sama Mas Frans.


Mira : siiplah.


Dan obrolan mereka pun berlanjut ngalor ngidul dengan arah bahasan yang lagi-lagi mentok di perjodohan anak. Nampaknya mereka benar-benar sudah keracunan oleh banyaknya novel perjodohan yang mereka baca hingga mengkontaminasi otak dan cara berfikir mereka.


Sekita pukul lima sore, Ratna yang sedang masak buru-buru keluar rumah begitu mendengar klakson mobil suaminya. Tanpa basi-basi seperti biasanya Ratna mengambil alih tas kerja suaminya dan berjalan di samping suaminya sambil menceritakan niatnya.


Awalnya Frans tentu saja tidak setuju dengan niat Ratna, tapi setelah segala bujuk rayu yang Ratna berikan akhirnya pria yang merupakan kepala cabang salah satu bank swasta itu menyetujui keinginan konyol istrinya. Dengan syarat mempertemukan kedua anak itu terlebih dahulu baru kemudian mengambil keputusan akankah melanjutkan atau tidak rencana konyol istrinya itu.


Saat makan malam tiba, Ratna memberitahukan niatnya putrinya.


"Nisa minggu depan kamu tidak ada acara apa-apa kan?" Tanya Ratna.


"Tidak ada Ma, Freya mau di rumah aja. Mau maraton drama yang baru end kemarin." Ucapnya sambil memakan soto buatan mamanya.


"Bagus. Minggu depan calon suami kamu mau datang. Kamu harus dandan yang cantik."


"Iya calon suami pilihan Mama dan Papa. Iya kan Pa?" Ratna menyenggol bahu Frans yang duduk di sampingnya.


"Iya Freya sayang. Minggu depan calon suamimu datang." Frans selalu memanggil putrinya Freya sedangkan Ratna memangilnya Nisa. Freya berasal dari nama salah satu hero di game yang sering dimainkan oleh Frans saat muda dulu. Tokoh wanita cantik dengan pedang di tangan kanannya. Sedangkan Nisa adalah nama yang diinginkan Ratna hingga akhirnya mereka memberi nama Freyanisa Fransisca, gadis yang saat ini sedang menatap penuh tanya perihal perjodohan dari orang tuanya.


.


.


.


Freya kembali ke kamarnya, ia tak mengiraukan perkataan yang keluar dari mulut kedua orang tuanya. “Perjodohan? Cih... di zaman sekarang masih mikirin perjodohan. Ngga musim banget.” Batinnya. Kemudian gadis dengan rambut panjang itu naik ke ranjangnya, memandangi vidio beberapa lelaki tampan yang sedang menari dengan begitu lincah dan kompak.


“Omo..Omo Oppa aku padamu.” Teriaknya gemas saat melihat biasnya yang begitu tampannya menyilangkan ibu jari dan jari telunjuknya membentuk love dan berteriak *Da saranghae*.


“Saranghae Oppa.” Teriaknya mengikuti lagu i love you yang dinyanyikan oleh treasure salah satu boyband yang sedang naik daun dengan single barunya. Bahkan lagu itu di remix menjadi sangat asik dan bikin nagih.


Penyakit menjadi fans dadakan aka fans karbitan nampaknya saat ini sedang di derita gadis yang kini berada di masa-masa terakhir sekolah menengah kejuruan itu. Julukan fans karbitan itu mendadak di sandangnya karena sebelumnya Freya hanya menyukai drama korea saja bukan boy band ataupun girl band dari negeri ginseng itu. Tapi entah ada angin apa, dirinya tiba-tiba menjadi sangat menyukai boy band yang satu itu gara-gara melihat postingan status sahabatnya di WA saat itu.


Saking gilanya Freya menyebut lagu I love you dari treasure sebagai lagu pemersatu antara kpopers dengan anti kpopers. Bahkan Miya sahabat dekatnya yang lebih dulu menjadi penggemar aneka ragam boy band negeri ginseng itu menyebut Freya sebagai Kpopers yang masuk lewat jalur karma, karena dirinya yang sebelumnya begitu anti mendengarkan lagu dengan bahasa asing yang sulit dimengerti kini malah jadi fans berat.


Entah hingga jam berapa Freya menghabiskan waktunya untuk memandangi Oppa-Oppa kesayangannya. Hingga pagi ini gadis itu begitu buru-buru karena bangun kesiangan. Dengan jurus mandi secepat kilatnya, hanya dalam waktu lima belas menit Freya sudah dapat mengukir senyumnya “Perfect.” Ucapnya sambil menatap dirinya di dalam cermin yang kini sudah cantik dengan seragam putih abu yang membungkus tubuh tingginya.

__ADS_1


Sesekali ia merapikan poninya yang baru saja ia potong beberapa hari yang lalu. Supaya mirip Kim So Hyun yang ada di drama School 2015 yang telah ia tonton saat SMP. Sudah tiga tahun berlalu tapi entah kenapa dia begitu menyukai gaya itu, bahkan style berpakaian Kim So Hyun saja ia tiru. Sungguh K-drama lovers banget.


Dengan tas punggung yang sudah ia gendong, buru-buru Freya menuruni anak tangga dan menghampiri kedua orang tuanya yang sedang sarapan. Ia menyalami kedua orang tuanya kemudian mengambil roti dan pergi sekolah.


“Jangan makan sambil jalan Nisa.” Teriak Ratna pada anaknya yang sudah nyelonong pergi dengan sepotong roti.


Tak lama Frans masuk ke mobilnya, putrinya yang sedang mengunyah roti itu telah duduk di kursi penumpang di sampingnya. Meski sudah berusia delapan belas tahun tapi Frans dan Ratna tak pernah mengizinkan putrinya untuk membawa kendaraan sendiri. Bahkan orang tua itu dengan sengaja tak membelikan putrinya kendaraan meskipun mereka mampu, keamanaan yang menjadi salah satu kekhawatiran katanya.


Setiap hari Freya berangkat sekolah dengan Papanya yang sekalian berangkat kerja dan kebetulan tujuan mereka satu arah. Kadang saat Frans ada kerjaan di luar kota maka Freya akan memesan kang ojeg yang biasa memberinya helm warna hijau couplean sama mamang ojegnya.


“Pa apa beneran gitu ucapan Mama yang semalam?” Tanya Freya.


“Ya. Seperti yang kamu ketahui Mamamu kalau sudah punya keinginan sulit di bantah.”


“Tapi Pa ini sangat konyol. Selama ini aku pacaran aja tidak boleh. Katanya harus lulus SMK dulu baru boleh pacaran nanti kalau sudah kuliah. Lah ini SMK aja belum lulus dan aku belum pernah pacaran udah main di jodohin aja.” Keluh Freya. Berharap Papanya akan berada di pihaknya dan membatalkan perjodohan yang direncaakan Mamanya.


“Sudah sementara ini turuti saja dulu kemauan Mama. Papa juga tidak akan tinggal diam jika lelaki yang di jodohkan oleh Mama kurang baik. Kita bisa batalin rencana itu kalau calon jodohmu itu tidak sesuai dengan kriteria kami.” Ucap Frans.


“Hm Iya Pa.” Setidaknya Freya bisa sedikit lega karena Papanya masih terbilang normal dibanding dengan Mamanya yang dengan mudahnya mau menjodohkan anaknya dengan teman grup chatnya yang hanya ia kenal lewat dunia maya. “Oh My God.” Gerutunya.


“Kenapa?” Tanya Frans.


“Tidak apa-apa Pa.” Freya segra turun dari mobil dan masuk ke sekolahnya.


Freya masuk ke kelasnya, XII AK 4. Kelas yang hanya tinggal beberapa bulan lagi akan ia tinggalkan. Karena kini tinggal dua bulan menuju ujian nasional. Sebelum mengetahui soal perjodohan, gadis itu sangat semangat ingin segera lulus dan memulai kuliah dengan tujuan terselebung tentunya. Ia ingin segera bisa pacaran seperti teman-temannya yang bahkan sudah pacaran sejak SMP. Sedang dirinya dengan penurutnya menuruti larangan Mamanya. Tapi kini semua seolah sirna, bagaimana nanti jika calon jodohnya itu sesuai dengan kriteria orang tuanya? Tentu saja akan tamat sudah tujuan terselubungnya, tamat sebelum memulai. “Huh.” Teriaknya pelan kemudian menyandarkan kepalanya di meja.


“Ba...” Teriak seorang lelaki sambil mengebrak meja tempat Freya menyandarkan kepalanya. Hingga gadis itu mengangkat kepalanya kemudian merapikan poninya.


“Jam segini udah suram aja tuh wajah.” Ucap Ardi. Lelaki yang sudah mengejar Freya sejak kelas X. Bahkan lelaki yang sebelumnya di jurusan teknik komputer dan jaringan itu pindah jurusan demi bisa mendekati Freya. Namun beribu sayang, gadis yang ia kejar itu tak kunjung dapat karena terlalu patuh pada Mamanya. Setiap kali Ardi mengungkapkan perasaanya selalu saja di jawab nanti nunggu lulus, gue ngga boleh pacaran kalo masih SMK. Begitulah terus berulang kali hingga akhirnya mereka terjebak friendzone.


“Ngagetin aja ih bikin kesel.” Ucap Freya.


“Kenapa wajahnya cemberut gitu?” Tanya Ardi sambil mengacak rambut Freya.


“Jangan diacak-acak Ardi ih.” Freya kembali merapikan rambutnya. “Ngga apa-apa kok. Lagi bete aja.”


“Masih pagi jangan pamer kemesraan.” Sindir Miya yang baru saja masuk kelas dan mendapati Ardi sedang mengacak rambut Freya.


“Apaan sih Miya kita kan-“


“Iya-iya gue tau lu berdua ga pacaran, karena di larang Mama kan.” Seperti biasa Miya memotong ucapan Freya yang belum selesai.


Miya mendekati bangku Freya kemudian duduk, membuka tasnya dan mengeluarkan buku dengan ukuran besar yang menjadai ciri khas anak akuntansi. “Fre gue liat PR yang jurnal penutup dong.” Ucapnya.


“Emang ada PR yah?” Tanya balik Freya.


“Astaga jangan bilang kalo lu belum kerjain PR dari Bu Tita?” Tanya Ardi yang masih ada di sana.


Freya menatap Ardi dengan wajah memelasnya.”Pinjem PR nya Ar.” Ucapnya memohon.

__ADS_1


“Bodo amat. Pinjem aja sama Oppa-Oppa yang lu pantengin tiap malam sampe chat gue kaga lu bales.” Ucap Ardi yang lagi-lagi mengacak rambut Freya kemudian meninggalkan gadis itu ke kantin untuk sarapan.


“Ardi jahat ih...” Teriak Freya.


__ADS_2