
Irpan melihat ada kejanggalan antara Leni dan Aris. Terlihat sahabatnya itu selalu berusaha melepaskan tangan Leni yang selalu memegangi lengan kirinya. Terlihat beberapa kali Aris menghempaskan tangan Leni namun gadis itu kembali bergelayut di tangan sahabatnya. Hingga akhirnya Irpan memutuskan untuk mengikuti keduanya.
Irpan bersembunyi dibalik pepohonan dan mendengarkan pembicaraan Aris dan Leni.
“Lu ngga usah nempel-nempel terus sama gue. Lu harusnya tau situasi dan kondisi,” Ucap Aris.
“Iya sorry.” Ucap Leni.
“Gue peringatin lu jangan sampe lupa kalo kita ini Cuma pura-pura.” Ucap Aris penuh dengan penekanan. Leni hanya bisa mengangguk mendengar ucapan Aris, sedih karena hanya bisa menjadi pacar pura-pura untuk lelaki yang begitu ia kagumi sejak SMP. Nyatanya sampai saat ini ia tak pernah mendapatkan perasaan Aris sekalipun hanya secuil.
Irpan begitu terkejut begitu mengetahui bahwa selama hampir satu minggu ini Aris dan Leni hanya bersandiwara. Ia jadi semakin yakin jika benar-benar ada yang tidak beres dengan sahabatnya itu. Irpan kemudian keluar dari tempat persembunyiannya dan menghampiri Aris.
“Gue mau ngomong, berdua aja sama lu.” Ucap Irpan.
“Lu bisa pergi duluan.” Ucap Aris hingga Leni pun beranjak meninggalkannya.
“Gue ngga bisa bicara di sini. Ayo cabut.” Irpan pun mengikuti Aris masuk ke mobilnya. Kemudian keduanya berhenti di depan cafe yang letaknya cukup jauh dari kampus mereka.
Setelah memesan beberapa minuman dan cemilan. Irpan menatap sahabatnya dengan serius. “Lu bisa jelasin semua ke gue sekarang. Gue uda tau lu sama Leni cuma pura-pura.”
Aris meminum capucino pesananannya kemudian meletakan kembali gelas itu di meja. “Gue ngga au harus jelasin ke lu mulai dari mana. Semua begitu rumit.”
“Lu bisa jelasin dari awal masalah lu sampe bisa putus sama Anna.”
“Asal lu tau gue ngga pernah ingin putus dari dia. Tapi mau gimana lagi dia adik gue.”
Irpan begitu terkejut mendengar kalimat yang baru saja keluar dari mulut sahabatya, ia tau pasti bahwa Aris adalah anak sewata wayang dari Wina dan Iwan. “Hahaha lu jangan bercanda!”
“Gue serius.” Aris kemudian menceritakan semuanya. Terlihat jelas kesedihan yang tergambar di wajah Aris saat ini.
__ADS_1
Irpan dapat mencerna penjelasan sahabatnya dengan baik. Sangat wajar jika saat ini Aris memilih untuk mengakhiri hubungannya dengan Anna. Namun menurutnya keputusan Aris sangat terburu-buru. Karena menurutnya untuk memeriksa seseorang adalah saudara kita atau bukan harus melalui prosedur yang benar seperti misalnya dengan melakukan tes DNA.
“Lu yakin kalo Anna itu adik lu?” Tanya Irpan.
“Ya. Soalnya seperti yang gue bilang tadi. Foto yang ditunjukin Mama itu benar-benar mirip Anna.”
“Apa Tante Wina udah melakukan tes DNA untuk memastikan Anna itu Anak ayahmu?”
“Tes DNA?” Aris baru teringat bahwa Mamanya tak pernah membahas soal tes DNA, Mamanya hanya mengatakan Anna adalah anak Ayahnya karena melihat Ayahnya tengah tersenyum bahagia sambil memegang perut Sintia kala itu. “Gue ngga tau soal itu Pan.” Jawab Aris.
“Sebaiknya lu tanya sama Om Iwan. Kalian harus berbicara bersama-sama. Lu, Tante Wina sama Om Iwan. Karena kalo sampe kalian salah dalam menyimpulkan sesuatu bisa jadi masalah besar.” Irpan memberi saran.
“Lu bener. Gue sampe lupa ngga nanyain ke bokap gara-gara terlalu pusing mikirin hubungan gue sama Anna.”
“Jadi ini alasan lu ninggalin gue?” Mendengar suara itu Aris dan Irpan sontak menengok ke arah sumber suara. Suara yang sagat Aris kenal. Aris berharap kali ini ia hanya salah dengar. Tapi nyatanya ia begitu terkejut mendapati Anna dan Dita tengah duduk di meja yang tak jauh dari mereka.
Mendapati Aris dan Irpan masuk ke cafe yang sama dengan mereka membuat Anna ingin pergi meninggalkan tempat itu. Namun Dita menahan gadis itu, hingga akhirnya Anna tetap duduk di tempatnya dan mendengar semua yang dibicarkan oleh Aris dan Irpan.
“Anna.” Ucap Aris lirih saat gadis itu beranjak dan menghampirinya.
“Kenapa lu ngga jelasin dari awal semuanya ke gue? Kenapa lu malah milih nyakitin hati gue? Gue bener-bener nyesel cinta sama lu Ris.” Anna lalu berlari keluar.
“Lu bener-bener bodoh!” Ujar Dita pada Aris kemudian berlari keluar menyusul Anna.
Sesampainya di luar Dita celingak-celinguk mencari keberadaan sahabantnya, terlihat gadis itu sedang jongok dan menagis di pinggir jalan. Dita pun menghampiri Anna.
“Jangan nangis lagi. Setidaknya lu tahu Aris masih mencintai lu dan semuanya ini.... gue ngga tahu harus ngomong apa.” Bahkan Dita sampai ikut pusing mendapati kenyataan dibalik sandiwara Aris.
“Gue harus gimana Ta?” Tanya Anna di sela-sela tangisnya.
__ADS_1
“Gue ngga bisa ngasih saran apa-apa Na. Gue juga belum bisa nerima semua ini. Ini terlalu rumit. Mungkin seperti kata saran Irpan pada Aris ada baiknya kamu juga menanyakan pada Ayah lu. Ini semua pasti ada kaitannya dengan hubungan orang tua lu sama orang tua Aris di masa lalu.”
Semenjak megetahui kebenaran dibalik sandiwara Aris selama ini hubungannya keduanya makin memburuk. Aris dengan sekuat hatinya melihat gadisnya terus berderai air mata saat melihatnya dengan Leni. Dan Anna yang kini sangat membenci Aris karena lebih memilih bersandiwara dan menyembunyikan semua. Membuatkan merasakan sakit yang sangat sangat tak bisa diungkapkan.
Mungkin sakit yang ia rasakan tak akan sebesar ini jika Aris menjelaskan duduk permasalahannya dari awal bukan malah menggandeng gadis lain dan membuatnya sakit hati. Sungguh mengecewakan.
Senin, selasa hingga kini hari jum’at menjadi saksi atas waktu-waktu sulit seminggu ini yang Anna jalani terasa begitu lama dan menyakitkan. Anna berdiri di depan asrama kampus di temani Dita, gadis itu tengah menunggu taksi online pesanannya datang. Sementara Aris berjalan begitu saja melewati Anna dan Dita. Seperti biasa Leni menempel pada mantan kekasih yang masih ia cintai itu.
“Pura-puranya udah ketauan kali masih dilanjut aja.” Sindir Dita yang tak ditanggapi Leni. Aris terlihat risih dan menghembaskan tangan Leni.
“Biarin aja ngapa Dit.” Ucap Leni.
“Gue tau kalian tuh masih saling cinta. Gue harap pas kita ketemu senin nanti kalian udah baikan.” Dita mengelus pundak sahabatnya seolah memberi kekuatan pada sahabatnya yang kini rapuh.
Anna melambaikan tangannya setelah memasuki taksi pesanannya. Hingga tak sampai lima puluh menit taksi itu sudah berhenti di halaman rumahnya.
Anna membayar ongkos taksi kemudian beranjak masuk ke rumahnya. Buru-buru ia meletakan tasnya ke kamar kemudian menghampiri ayahnya yang sedang menonton berita.
“Ayah aku ini anak siapa?” Tanyanya setelah duduk di samping ayahnya.
.
.
.
ngeneslah... termeheknya terlalu nyesekkk.... gue ngga kuat. detik² terakhir menjelang end.
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMENTARNYA
__ADS_1