Bukan Perjodohan

Bukan Perjodohan
16. Dia baik


__ADS_3

Aris kembali ke kamar dan mengambil dompet kemudian meninggalkan kamar itu, niatnya yang tadinya mau ganti pakaian terlebih dahulu terpaksa ia urungkan karena waktu yang tersisa begitu mepet ia takut terlambat ke event yang akan ia hadiri. Aris berjalan setengah berlari menuju parkiran namun sampainya ia di parkiran ia tak menemukan mobilnya.


“Loh kok mobil gue ngga ada?” Herannya.


Ia berniat menghubungi pihak kampus untuk menanyakan mobilnya ia takut jika mobilnya dicuri orang, namun belum sempat pihak keamanan kampus menerima telpon darinya ia sejenak teringat kalau tadi malam ia pulang menggunakan taksi online.


“Aisttt bisa-bisanya gue lupa semalem kan gue balik pake taksi.” Ucapnya sambil mengacak rambutnya kacau kemudian menghubungi taksi online untuk mengantarkannya ke tempat tujuan.


Dua puluh menit berlalu Aris telah tiba disebuah mall tempat event yang akan ia dan teman-temannya ikuti, dilihatnya banyak orang yang telah berkumpul disana. Ia langsung mencari Irpan yang tak lama kemudian ia temukan.


“Sorry lama gue ngga telat kan? Tadi gue lupa kalo mobil gue ngga ada di kampus jadi lama naik taksi gue.” Jelas Aris.


“Ngga kok, bentar lagi giliran kita main.” Jawab Indra.


“Sip. Tapi kali ini gue yang jadi assasin yah. Lagi enek banget gue hari ini bawaanya pengen ngbacok orang aja hehehhe..” Ujar Aris.


“Oke terserah lu aja yang penting kita mesti menang. Soalnya bulan ini kita belum ngasih donasi ke panti itu.” Ucap Irpan.


Ya Irpan, Aris, Indra dan kedua teman mereka hendak mengikuti tournamen MLBB yang di adakan oleh mall tempat mereka berpijak dengan tujuan hadiah yang mereka dapatkan jika menang akan disumbangkan ke “panti asuhan sumber asih” yang sudah biasa mereka beri donasi sejak mereka SMP.


Hanya saja karena Aris baru kembali dari luar kota ini merupakan kesempatan barunya setelah sekian lama tak bergabung dengan teman-temannya. Bahkan saat mendengar akan diadakan event tournament MLBB ia mendadak belajar cara menggunakan hero-hero pada game tersebut hingga ia mahir dalam waktu dua minggu saja dengan Irpan sebagai tutor tentunya.


“Kira-kira berapa lama lagi kita main? Gue udah ngga sabar pengen nunjukin ke kalian hasil latihan gue selama ini.” Ucap Aris sambil melihat jam tangannya.


“Mungkin 30 menitan lagi Ris, kita nunggu tim yang lagi tanding itu selesai.” Jelas Indra.


Sementara itu di asrama USX tampak Anna dan Dita sedang mengobrol santai.


“Rani sama Dewi kemana sih Ta, ko dari tadi belum balik?” Tanya Anna.


“Tadi bilangnya sih mau ke mall katanya si Dewi pengen beli baju buat acara kencan sama pacarnya malem minggu besok.” Jawab Dita.


“Owh gitu.”


Di sebuah mall terlihat dua cewek sedang melihat-lihat baju ayang ada di salah satu toko.


“Menurut gue ini bagus Wi.” Ucap Rani sambil memperlihatkan mini dress berwarna soft pink dengan potongan sabrina yang bisa mengekspos bahu cantik sahabatnya.


Dewi menghampiri Rani kemudian mengambil baju yang ada di tangan sahabatnya dan menempelkannya ke tubuhnya.


“Hm iya bagus sih tapi gue ngga pede kalo pake warna pink gini soalnya lu liat sendiri kulit gue kan sawo matang jadi berasa kelelep warna kulit gue. Gimana kalo warnanya yang ini?” Ujar Dewi sambil memilah milih gaun dengan model yang sama namun warna yang berbeda, ia pun mengambil warna orange.

__ADS_1


“Gimana kalo warna ini Wi?” ucapnya menanyakan pendapat temannya.


“Coba lu pake dulu biar gue liat Ran!” perintah Dewi


Rani pun beranjak menuju kamar ganti kemudian memcoba gaun yang telah ini pilih, tak lama ia keluar dan menanyakan pendapat temannya.


“Gimana bagus ngga?”


“Udah oke, bungkus aja.” Jawab Dewi sambil mengacungkan kedua jempolnya ke Rani.


Kedua cewek itu keluar dari toko setelah mendapatkan apa yang mereka cari. Keduanya berjalan menuruni eskalator namun saat itu perhatian mereka teralihkan saat melihat di lantai satu begitu ramai. Kedua cewek itu pun memutuskan untk melihat acara yang tengah berlangsung itu.


“Eh bukannya itu Irpan?” tanya Rani yang mendapai Irpan ada disana.


“Iya bener. Dan itu Aris juga ada disitu.” Jawab Dewi.


“Mana kok gue ngga liat sih?” tanya Rani sambil berjinjit karena tak bisa melihat dengan jelas akibat terhalagi kerumunan orang di depannya.


“Tuh paling ujung.” Terang Dewi sambil menunjuk ke arah Aris. “makanya tumbuh itu ke atas Ran jangan ke samping wkwkwk.” Ledek Dewi.


“Ih gitu amat Dew, Gini-gini diantara lu, gue, Anna sama Dita Cuma gue doang yang punya cowok itu artinya biarpun gue kurang tinggi tapi gue ini mempesona buktinya gue punya cowok.” Ujar Rani membanggakan dirinya. Memang jika dibandingkan dengan teman-temannya Rani yang paling pendek tapi tak bisa diungkiri cewek itu tampak cantik karena keterampilan make up yang terdepan dibanding dengan teman-temannya.


“Iya-iya deh Rani yang super cantik dan udah sold out, tapi ngapain ya mereka ikutan acara beginian?” ucap Dewi penasaran.


“Wih segitu sih mantap hadiahnya. Gue juga mau kali ikutan kalo menang mah.” Ujar Dewi.


“Udah yuk balik Wi, gue udah cape ini pengen tidur.” Rengek Rani.


“Ntar dulu Ran, kita tunggu sampe selesai nih acara! Gue pengen tau mereka bakalan menang apa ngga.” Tolak Dewi .


Akhirnya meraka pun menunggu acara itu hingga selesai, tak jarang mereka memberikan dukungan pada Irpan dan teman-temannya ya walaupun dukungan mereka mungkin tidak di dengar oleh Irpan soalnya mereka berada di barisan penonton paling belakang.


Sekitar satu jam berlalu acara pun selesai dan sesuai dengan harapan Irpan mereka memenangkan pertandingan itu, hadiah sebesar lima juta rupiah telah mereka terima. Irpan, Aris dan ketiga temannya terlihat meuruni panggung sambil membawa hadiah. Saat mereka berlima berjalan menuju pintu keluar Dewi dan Rani menghampirinya.


“Cie yang abis dapat hadiah bisa kali tlaktir kita?” ledek Rani.


“Yeee pengennya gratisan.” Timpal Aris.


“kok kalian disini?” tanya Irpan basa-basi.


“Iya kita abis jalan aja trus pas mau pulang liat kalian lagi tanding jadi kita ngga jadi pulang trus dukung kalian deh.” Terang Dewi.

__ADS_1


“Ya kan barang kali kalian menang kita bakal kena tlaktir secara kan kita teman.” Ucap Dewi.


“Mungkin lain kali aja ya, soalnya untuk hadiah kali ini kita ngga bakal pake uangnya.” Terang Irpan.


“Terus?” tanya Rani heran.


“Uangnya mau kita donasiin ke panti asuhan.” Jawab Aris.


“Wah ternyata lu cowok yang biasanya cuma bisa ribut dan ngga mau ngalah sama cewek punya hati dermawan yah.” Dewi kagum.


“Inget lu udah punya cowok jangan kegatelan.” Bisik Rani ke telinga Dewi.


“Iya ngga kali Ran, gue Cuma heran aja dia kan kerjanya ribut mulu sama Anna eh ternyata hatinya baik juga.” Ucap Dewi.


“Gue ngga akan ribut kalo ngga ada yang cari ribut!” ujar Aris. “Temen lu aja yang kerjanya cari ribut mulu sama gue.” Lanjut Aris.


“Udah-udah kalo dilanjutin lu juga bakal ribut sama mereka Ris!” Irpan melerai obrolan yang bisa berakhir ricuh jika dilanjutkan. Akhinya mereka semua pun terdiam.


“Oke buat kalian berdua kita duluan yah soalnya hari udah mulai sore, kita takut kemaleman nanti balik ke asramanya.” Ucap Irpan sambil berpamitan.


Setelah kepergian Irpan, Aris dan teman-temannya Dewi dan Rani memutuskan untuk langsung kembali ke asrama. Sesampainya mereka di kamar, keduanya langsung merebahkan tumbuh mereka di ranjang.


“Ah capenyaaa.” Keluh Dewi.


“cape-cape juga lu mah abis shopping.” Ujar Dita.


“Eh iya Na tadi kita ketemu Aris loh di mall.” Ujar Rani.


“Bodo Amat gue ngga peduli sama tuh anak!” jawab Anna sambil beranjak dari tempat tidurnya.


“Awas lu nanti cinta, kalo benci jangan segitunya.” Celetuk Dewi.


.


.


.


Udah segini dulu aku ngantuk.


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN.

__ADS_1


KRITIK SARAN NYA DITUNGGU JUGA YAH SUPAYA KARYAKU BISA BERKEMBANG.


__ADS_2