
Anna memandangi benda pipih di tangannya. Berulang kali ia memeriksa panggilan masuk ataupun pesan, tapi tak ada satu pun pesan maupun panggilan dari lelaki yang berkata akan menelponnya sore tadi.
Merasa bosan menunggu telpon yang tak juga berdering, Anna meletakan ponselnya di samping bantal tempat ia tidur sekarang. Tatapannya beralih ke langit-langit putih kamarnya. Sejenak ia sadari perubahan yang terjadi padanya dari mulai penampilan hingga perasaannya yang kini tak lagi membenci Aris.
"Apa gue harus mulai membuka hati untuk Aris?" Tanyanya dalam hati.
Rasanya sangat nyaman dan bahagia berada di dekat Aris tapi egonya masih tak mengizinkan. Di dalam pikirannya masih dipenuhi benci karena kegagalannya masuk universitas impiannya karena Aris. Tapi sayangnya, kini rasa benci itu mulai tertutupi oleh rasa suka dan kagum akan sosok yang selama ini ia benci.
"Gue harus gimana? Apa ini yang dinamakan benci tapi cinta?" Gumam Anna.
"Konyol sekali." Ucapnya sambil menutup wajahnya dengan bantal karena malu. Entah malu pada siapa toh dia di kamar hanya sendiri.
Tak lama terdengar ponselnya berdering, Anna melihat jam di dindingnya menunjukan angka sepuluh.
"Siapa yang nelpon malem-malem begini ngga sopan." Gerutunya sambil mecari ponsel yang terselip di bawah bantal.
Raut wajahnya langsung berubah drastis jadi ceria saat melihat nama Aris dilayar itu. Anna lantas duduk dan menerima panggilan itu.
"Halo. Malem banget telponya." Ucap Anna sambil merapikan rambutnya. Entah untuk apa merapikan rambut padahl ini hanya panggilan suara bukan panggilan vidio yang memungkinan lawan bicara melihat wajah kita.
"Cie nungguin yah?" Ucap Aris yang berada diseberang.
"Engga, lu cuma ganggu gue tidur aja." Ucap Anna sambil bangkit dari tempat tidurnya. Anna berjalan menuju balkon kamarnya, ia membuka pintu itu dan berdiri di balkon kamarnya untuk melihat bulan yang terang malam itu.
"Ya udah kalo gitu gue matiin." Ucap Aris langsung mengakhiri panggilannya karena kini ia bisa melihat dengan jelas gadis yang ia telpon sedang berdiri menatap langit malam.
"Dasar ngga sopan main matiin aja." Gumam Anna.
Ting.. satu pesan masuk.
"Jangan terlalu lama di luar, angin malam ngga baik buat kesehatan!" Aris.
Anna clingukan mengamati lingkungan sekitar rumahnya tapi ia tak menemukan Aris disana. Aneh sekali bagaimana dia tau saat ini dirinya berada di luar.
"Dasar so tau." Anna.
__ADS_1
"Masuk dan tidur, besok gue jemput jam sembilan." Aris membalas pesan.
Anna tak membalas pesan terakhir Aris, ia melangkahkan kakinya kembali ke dalam kamar. Benci tapi suka itu yang sedang dirasakannya kini. Pikirannya ingin ia menjauh dari Aris tapi hatinya berkata lain. Semakin ia memaksa untuk tetap membenci Aris malah rasa suka dan kagum seolah muncul menutupi semua kebenciaanya.
Aris yang kini sedang berdiri di balik dinding tetangga rumah Anna nampak kembali masuk ke dalam mobilnya. Ia sengaja memarkirkan mobilnya cukup jauh dari rumah Anna. Ia tak mau kedatangannya diketahui Anna.
"Sesuai perkataan sebelumnya, gue bakal perjuangin lu jadi milik gue Na." Ucapnya tegas, kemudian melihat ponselnya yang ternyata tak ada balasan dari pesan terakhir yang ia kirim.
"Selamat tidur, inget besok jam sembilan gue jemput." Aris.
Setelah mengirim pesan itu, Aris kembali melajukan mobilnya untuk pulang.
.
.
.
.
"Kalian itu seperti anak kecil, masih pagi sudah perang dingin." Ucap Wina sambil menyerahkan piring yang sudah ia isi nasi pada suaminya.
Sudah tak aneh lagi baginya melihat suami dan anaknya saling diam, karena mereka memang lebih sering ribut dari pada akur. tapi terlepas dari semua itu Wina tau keduanya saling menyayangi.
"Pagi Om, Tante." Sapa Leni yang baru saja masuk setelah asisten rumah taangga Wina membukakan pintu untuknya.
Diantara tiga orang yang sedang duduk melingkar di meja makan hanya Wina yang membalas saapan Leni.
"Pagi sayang, kamu sudah datang. Duduklah disini kita sarapan bersama." Ucap Wina sambil memundurkan kursi di samping Aris supaya Leni duduk di sana.
Wina memang cukup dekat dengan Leni karena anak itu selalu menemani ibunya arisan hingga Wina bisa sering bertemu dengan Leni. Bahkan Wina memiliki keinginan menjadikan Leni menantunya.
Menurutnya, Leni adalah sosok perempuan yang baik, sopan, anggun dan menghormati orang tua. Sayangnya selama ini Wina belum memiliki kesempatan untuk mendekatkan putra semata wayangnya dengan Leni, karena selama SMA putranya bersekolah di Jogja dengan sang Nenek.
Setelah bertemu dengan Leni di acara makan malam salah satu rekan bisnis suaminya, sejak saat itu Wina memutuskan untuk mulai mendekatkan keduanya. Apalagi setelah acara malam itu Leni sering menghubungi Wina dengan berbagai alasan supaya bisa berkunjung kerumahnya dan menemui Aris, sayangnya karena Aris tinggal di asrama ia pun tak pernah berhasil menemuinya. Hingga akhirnya ia memutuskan untuk datang ke kampus dan menemui Aris namun nyatanya lelaki itu tak memperdulikannya.
__ADS_1
Pagi ini nampaknya keberuntungan mulai berpihak padanya, Leni menelpon Wina sekedar basa basi soal acara arisan yang akan diselenggarakan di rumah ibunya. Tapi Wina berkata jika Aris ada di rumah hingga akhirnya gadis itu langsung bersiap-siap dan mengunjungi rumah Aris dengan alasan menjemput Ibu Aris untuk membatunya belanja persiapan acara arisan.
"Ris hari ini kamu tidak ada acara kan? Temani Mama dan Leni belanja untuk persiapan acara arisan di rumah Leni." Ujar Wina.
Mendengar itu Leni semakin bahagia, rasanya pagi ini seperti menang lotre dua kali. Pertama bisa sarapan bersama Aris dan bisa belanja di temani Aris.
"Maaf Ma, Aris tidak bisa menemani Mama belanja. Hari ini Aris ada acara sendiri." Ucap Aris sambil tersenyum membayangkan wajah manis Anna.
Kebahagiaan Leni langsung hilang memdengar kata-kata yang keluar dari bibir lelaki di sampingnya.
"Memangnya kamu mau kemana? Semenjak pulang dari Jogja kamu belum pernah loh nemenin Mama jalan-jalan." Keluh Wina.
"Ada deh Ma. Lain kali Aris pasti temenin Mama jalan-jalan." Jawab Aris sambil meletakan sendok makannya dan meneguk segelas air.
"Lu bisa kan belanja bareng Mama gue ngga usah gue anterin." Ucap Aris pada Leni.
"Iya." Jawab Leni lesu.
Aris meninggalkan ruang makan, tak lama ia kembali dengan pakaian serba putih dan kaca mata hitam seperti biasanya.
Ia berjalan menghampiri Mamanya dan berpamitan. Sementara Leni gadis yang kini duduk disamping Wina tak diliriknya sedikitpun.
Leni menatap Aris yang kini sedang memakai sepatunya. Kurang apa dirinya hingga sampai saat ini Aris tak pernah meliriknya. Padahal ia cantik, tinggi dengan rambut panjang dan kulit yang putih bersih.
.
.
.
.
.
LIKE DAN KOMEN JANGAN LUPA.
__ADS_1