
Tok..Tok.. sekali lagi Aris mengetuk pintu itu.
Tak lama pintu terbuka, Permadi terkejut mendapati Aris di
depan pintunya dengan pakaian yang basah. “Aris, Masuk dulu ayo.”
“Aris di sini aja Om, Aris basah nanti lantai Om kotor.”
“Anna ada di rumah Om?” tanya Aris.
“Ada sebentar Om panggilkan.” Permadi masuk kembali hendak memanggil putrinya. Semetara itu Aris duduk di kursi teras rumah Anna.
Anna mendengar Ayahnya memanggil namanya, gadis itu lantas keluar dari kamarnya. “Ada apa Yah?”
“Ada Aris di depan, dia mencari mu.”
“Anna ngga mau ketemu Aris Ayah.” Anna hendak kembali ke kamarnya. Tapi Permadi mencegahnya.
“Temui dia. Kasihan
hujan-hujan begini datang kesini dan kamu tak mau menemuinya? Bukan seperti ini
cara memperlakukan tamu. Jika kalian ada masalah selesaikan baik-baik.
Menghindar tak menyelesaikan masalah.” Permadi menasihati putrinya hingga tak
ada pilihan lain bagi Anna selain menemui Aris. Bagaimana pun yang dikatakan
Ayahnya benar.
“Tunggu sebentar.”
“Apa lagi sih Ayah? Barusan suruh nemuin Aris si depan
sekarang malah di suruh nunggu.” Keluh Anna.
Permadi kembali dari dapur dengan membawa teh panas. Ia memberikannya pada Anna. “Berikan ini untuk Aris. Dia pasti kedinginan seluruh pakainya basah.” Anna pun menerima nampan berisi teh itu dan berjalan ke luar
untuk menemui Aris.
Anna melihat Aris yang duduk di sana kemudian meletakan segelas teh hangat tanpa berkata apa pun. Anna mengamati penampilan Aris yang basah dengan kemeja biru yang lengannya telah ia gulung hingga ke siku, lelaki itu terlihat kedinginan. Anna masih terdiam dan menatap lelaki yang kini juga
menatapnya.
“Minumlah, habis itu pulang.” Ucap Anna.
Aris mengambil cangkir yang berisi teh hangat kemudian meminumnya dan meletakan cangkir itu kembali ke meja. “Makasih.”
“Lu bisa pulang sekarang.” Usir Anna.
“Gue ngga bakalan pulang sebelum lu maafin gue Na.”
__ADS_1
“Lu ngga punya salah sama gue. Kalo lu udah selesei lu boleh pulang nanti lu sakit kelamaan pake baju basah.”
“Makasih lu udah khawatirin gue.” Ucap Aris sambil tersenyum.
“Gue cuma ngga mau temen gue sakit.” Jawab Anna dingin. Padahal jauh dihatinya ia tak tega melihat orang yang ia sayangi kedinginan di hadapannya.
“Na gue mohon jangan cuekin gue kaya gini. Lu tau gue sayang
banget sama lu. Dan semua yang liat di rumah sakit itu salah paham.” Aris tak
pernah bosan mengulangi lagi penjelasannya. Sedang Anna masih saja terdiam.
“Ada yang bilang jatuh cinta itu membuat kita jadi bodoh. Belajar dua belas tahun seolah ngga berguna begitu kenal cinta. Apa lagi kalo
cintanya udah buta. Dan gue ngga mau kita kaya gitu Na. Coba lu pake pikiran
jernih lu Na.” Ujar Aris.
“Jadi sekarang lu mau bilang kalo gue ini bodoh?” Ucap Anna emosi mendengar perkataan Aris. Nampaknya gadis itu tak bisa memahami maksud dari kata-kata yang Aris ucapkan.
“Astaga.” Aris menepuk keningnya pelan.
“Bukan gitu maksud gue Na. Coba lu pikir pake otak sama pikiran lu yang jernih. Pake juga logika lu. Jangan cuma pake hati lu doang. Dan coba alihin fokus pandangan lu. Lu inget kan sebelum lu pergi ke toilet gue
udah minta lu jadi cewek gue? Gue kira pas ada suara pintu kebuka itu lu yang
keluar dari toliet. Karena lu meluk ya udah sih gue peluk balik. Karena gue
kira itu lu. Lu tau sendiri waktu itu gue lagi ngadep ke dinding. Dan lu liat
“Kalo ocehan lu udah beres lu boleh pulang sekarang.” Ucap Anna sambil beranjak dari duduknya hendak masuk kembali ke rumahnya.
“Gue ngga akan pergi dari sini sebelum lu terima permintaan maaf gue dan nerima gue jadi pacar lu!” ucap Aris sambil berjalan meninggalkan teras rumah Anna kemudian berdiri di halaman rumah itu, membiarkan tetesan hujan yang semakin deras mengguyur tubuhnya.
Anna sejenak terkejut mendengar kata-kata Aris dan melihat lelaki itu berdiri di bawah guyuran hujan. Tapi kemudian Anna mengabaikannya dan kembali masuk ke dalam rumahnya. Pikir Anna paling Aris tuh cuma so
berkorban hujan-hujanan di luar kedinginan biar pacarnya maafin dia, seperti
ftv yang biasa ia tonton.
Anna menutup kembali pintu rumahnya. “Cih... dia bilang mengenal cinta bikin gue jadi mendadak bodoh seolah sekolah dua belas tahun ngga di pake. Dia yang bodoh. Dikira gue bisa dibohongin kaya gadis-gadis di ftv yang baper gara-gara cowoknya hujan-hujanan demi dia. Eh sorry aja.” Gerutu Anna.
Anna berjalan begitu saja melewati ruang tamu menuju ke lantai dua ke kamarnya berada. Ia bahkan tak sadar jika Ayahnya memperhatikannya.
“Aris udah pulang Na?”
“Eh..” Anna sejenak menghentikan langkahnya kemudian menoleh ke Ayahnya.”Udah yah.” Jawabnya bohong kemudian melanjutkan langkahnya.
Begitu tiba di kamarnya Anna kembali merebahkan tubuhnya di
tempat tidur dan menarik selimut untuk menutup tubuhnya. Cuaca hujan yang
__ADS_1
membuat udara dingin seolah menusuk sampe ke tulang. Ia kemudian mengambil
ponselnya. Anna membuka kode ponselya hingga terlihat foto dirinya dengan Aris
yang menjadi Wallpaper ponselnya. “Cih nyebelin.” Gumamnya sambil melihat
gambar dirinya kemudian mengganti wallpapernya dengan foto Cha Eun Woo aktor
korea favoritnya.
Anna kemudian membuka grup chat Wa nya *Girls Before Flower*
ia ingin memberitahu teman-temannya bahwa Aris baru saja mengunjunginya.
Anna : Hei hujan-hujan gini lagi pada ngapain?
Dita : Tiduran
Rani : Idem
Dewi : Samaaaa
Anna : barusan ada Aris kesini.
Rani : asik ujan-ujan diapelin
Anna: Apaan diapelin, dia malah bilang gue bodoh.
Dita : Maksudnya????
Anna : Iya dia bilang, gue sekolah dua belas tahun mendadak
bodoh gara-gara cinta. Katanya gue ngga bisa mikir jernih.
Rani : Lah emang kenyataannya gitu. Coba aja lu pikir
baik-baik deh jangan Cuma ngandelin hati lu yang sakit liat Aris sama Leni. Tapi liat deh kenyataannya Aris emang ngga ada apa-apa sama Leni. Buktinya selama ini apa lu pernah liat mereka jalan? Tau ah gue cape nasihatin
lu mulu. Masuk kaga yang ada mental mulu.
Anna sejenak terdiam, ia meletakan ponselnya ke ranjang.
Kemudian menatap langit-langit dan melakukan reka ulang adegan di rumah sakit.
“Bener kata Aris gue sekolah dua belas tahun sia-sia mengenal cinta jadi bodoh
gini.” Gumam Anna setelah menyadari kesalahpahamannya.
Ting.. Ting.. bunyi notifikasi WA grupnya, Anna pun memeriksa pesan di ponselnya.
Dita : Terus Aris udah balik sekarang?
__ADS_1
Bukannya membalas pesan Dita, Anna malah buru-buru beranjak dari tempat tidurnya. Empat puluh menit berlalu apa mungkin Aris masih di sana. Karena terlalu buru-buru Anna sampai terjatuh karena kakinya tersandung selimut yang ia kenakan.
LIKE DAN KOMEN JANGAN KETINGGALAN.