Bukan Perjodohan

Bukan Perjodohan
40 Mau kan jadi pacar gue?


__ADS_3

“Sekarang udah ngga ada lagi alasan lagi buat lu ngga nerima perasaan Aris. Pergilah temui


dia!  Dia pasti menunggumu.” Anna


mengangguki ucapan Dita, dia turun dari ranjangnya dan keluar menuju kamar


sebelahnya.


Anna berdiri di depan kamar Aris, ia melihat ke dalam melalui kaca kecil yang ada di pintu


itu. Terlihat Aris sedang berbicara dengan Irpan. Dengan tak jarang senyuman


muncul dari bibir lelaki yang menjadi penyelamat hidupnya berulang kali.


Anna masuk ke dalam mendudukkan dirinya si sofa tunggu yang ada di kamar itu. Aris


tersenyum melihat kedatangan Anna. Ia sudah tak sabar untuk menangih kembali


janji gadis mungil yang kini duduk sambil melamun di sana.


“Eh Na lu kesini. Anak-anak mana kok ngga ikut kesini?” Tanya Irpan.


“Dita ada di kamar gue. Kalo Rani sama Dewi mereka ke kantin.”


“Ya udah gue mau nyusulin mereka, Dita pasti nunggu gue di kamar lu.”


“Di sini aja Pan.” Anna mencegah Irpan pergi karena pasti akan semakin canggung jika ia


hanya berdua dengan Aris. Setelah mengetahui kebenaran yang sesungguhnya benar-benar membuat Anna seperti kehilangan muka di hadapan Aris. Bahkan saat ini Anna tak berani menatap Aris, ia memilih menundukkan wajahnya.


“Gue mau ajak Dita makan, kasihan tadi pas kesini dia belum sarapan.” Ujar Irpan sambil


melangkah keluar dari kamar itu. Irpan menghampiri Dita yang sedang terbaring


di ranjang Anna.


“Ngapain lu baring  di situ? Lu kan kaga sakit.”


“Huh kaget gue kira dokter. Kesel aja sendirian disini, jadi mending rebahan dulu.”


“Ke kantin yuk, katanya tadi belum sarapan.” Ajak Irpan.


“Ayo, seneng deh sekarang lu perhatian ke gue.” Ucap Dita sambil memegang lengan Irpan.


“Ngga usah pegang-pegang, jalan aja.” Irpan melepaskan tangan Dita tapi gadis itu kembali


memegangi lengannya dengan manja.


*


*


*


Anna masih duduk termenung di sofa, tadi buru-buru ingin bertemu. Setelah di ruangan yang sama malah bingung mau ngapain.


“kenapa diem di situ terus sini!” Ucap Aris sambil melambaikan tangannya menyuruh Anna menghampirinya.


Anna beranjak dari duduknya dan menghampiri Aris. Dia duduk di kursi samping ranjang

__ADS_1


yang baru saja ditinggalkan Irpan.


“Kenapa murung?” Aris memandang Anna yang tertunduk di hadapannya kemudian memegang


dagu gadis itu supaya melihatnya.


“Gue ngga apa-apa. Lu mau buah?” Anna mencoba menghindari tatapan Aris dengan mengambil


buah apel di meja.


“Gue ngga mau buah. Gue mau lu.” Aris mencegah tangan Anna yang hendak mengambil buah. “Lu kenapa si jadi aneh gini?”


“Maafin gue.” Ucap Anna sambil menangis. “Dan terimakasih.” Lanjutnya.


“Untuk?”


“Untuk semuanya. Semua yang terjadi di Jogja dan di kampus.” Ucap Anna.


Aris kini paham kenapa sikapnya berubah menjadi lebih sering diam sejak masuk kamarnya. Sepertinya ia sudah mengetahui isi black box mobilnya. Pagi tadi saat polisi menjelaskan kecelakaan yang menimpanya dan mengatakan bahwa mereka memeriksa black box mobilnya Aris lantas meminta tolong pada kedua polisi tersebut untuk memberikan


rekaman black box kendaraannya pada Anna, supaya Anna bisa mengetahui kejadian


sebenarnya yang menimpanya di Jogja sebab berulang kali Aris mencoba menjelaskan gadis itu tetap saja tak mempercayainya.


“Maafin gue udah nuduh lu bikin gue celaka padahal lu orang yang nyelamatin gue.”


“Maafin gue juga karena ngga pernah percaya sama penjelasan lu.”


“Dan makasih karena tak membalas perlakuan buruk gue, malah selalu nolong gue. Lu bener. Gue utang banyak terimakasih ke lu.”


Aris beranjak dari tempat tidurnya dan membawa Anna kepelukannya. “Udah janan


nangis. Gue paham kok, mungkin kalo gue diposisi lu gue juga bakal ngelakuin


“Lain kali jangan hanya memandang satu masalah dari sisi negatif saja. Setidaknya kuliah disini bukan hal buruk. Perlu lu tau juga, disini bukan lu aja yang gagal masuk


universitas impian lu tapi gue juga. Buat bawa lu ke rumah sakit gue jadi ngga


hadir di seleksi.” Aris menjeda ucapannya. “Mungkin memang udah takdir kita


begini. Setidaknya disini kita bisa bersama.” Lanjutnya.


“Makasih.” Anna membalas pelukan Aris.


“Aw sakit.” Teriak


Aris saat Anna tak sengaja menyenggol tangan kiri Aris yang di perban.


“Maaf maaf gue ngga sengaja.” Ucap Anna sambil buru-buru melepas pelukannya.


“Udah lu tiduran aja, biar cepet  sembuh” Perintah


Anna.


“Yang sakit tangan gue, bukan badan gue.” Aris kembali ke ranjangnya. Menyandarkan dirinya di kepala ranjang.


“Sakit banget yah?” Tanya Anna.


“Ngga sesakit waktu lu diemin gue.”

__ADS_1


“Ya maaf.” Ucap Anna sambil cemberut.


“Jadi gimana soal permintaan gue kemaren?” Tanya Aris dengan senyum di wajahnya. Ia yakin kali ini Anna tak akan menolak dijadikan pacar, karena tak ada lagi kesalahpahaman diantara mereka. Anna belum sempat menjawab seorang dokter dan perawat datang untuk memeriksa kondisi Aris.


Dokter memeriksa kondisi Aris dengan seksama. Beliau juga tak lupa mengganti perban di


tangan dan kepala Aris. Dokter menyarankan luka di tangan kirinya tak boleh


kena air dan tak boleh banyak bergerak supaya lukanya cepat kering. Sementara itu


selang infus yang menancap di tangan Anna di lepaskan dan hari ini dirinya


sudah diperbolehkan pulang. Sedangkan Aris harus menunggu hasil CT scan


kepalanya sehingga tak diijinkan pulang hari ini. Sesuai permintaan orang tua


Aris dokter melakukan CT Scan kepala Aris karena orang tuanya takut terdapat


luka dalam.  Padahal dokter sudah


menjelaskan kondisi putranya tak apa-apa tapi Wina tetap saja panik.


Setelah doker dan perawat pergi Anna melirik nampan berisi sarapan yang belum disentuh


sedikitpun, ia mengambil nampan itu dan meletakkannya di hadapan Aris  menggunakan meja khusus yang menyatu dengan


ranjang itu.


“Lu belum sarapan kan? Lu makan dulu deh.” Anna memberikan sendok pada Aris namun di


tolak.


“lu ngga denger barusan dokter bilang apa? Tangan gue ngga boleh banyak bergerak supaya lukanya cepet kering.” Ucap Aris.


“Yang luka tuh tangan kiri lu Ris, lu makan kan pake tangan kanan.”


“Tapi gue ngga mau. Gue mau lu suapin gue.”


Anna melotot mendengar permintaan konyol Aris, tangan kiri yang dan tangan kanannya tak apa-apa kenapa makan harus disuapi. Tapi akhirnya Anna menyuapi Aris hingga


makanan itu habis tak tersisa. Tak lupa iya memberikan obat yang harus diminum.


“Udah lu tiduran lagi biar cepet sembuh.” Ujar Anna sambil mengambil dan  memindahkan nampan serta meja itu supaya Aris bisa meluruskan badannya.


“tapi lu jangan kemana-mana!”


“Iya gue ngga akan kemana-mana, gue temenin lu disini.” Anna membenarkan selimut yang Aris kenakan.


“Na gimana permintaan gue yang kemaren? Lu mau kan jadi pacar gue?” ucap Aris sambil


memengang tangan Anna.


.


.


.


LIKE !!!

__ADS_1


KOMEN!!


FAVORITKAN!!!


__ADS_2