
Anna tiba di kamarnya dengan wajah yang berseri-seri. Dia meletakan ponselnya yang sudah mati ke ranjang tempat tidur di susul juga oleh tubuhnya.
Ia menatap langit-langit kamarnya kemudian tiba-tiba tersenyum mengingat pelukan yang dia lakukan di taman tadi.
"Gila kenapa gue jadi kaya gini." Gerutunya masih sambil tersenyum dan memeluk bantal gulingnya gemas.
Seisi kamar dibuat heran dengan tingkah Anna saat ini. Dewi dan Rani tampak saling melempar tatapan seolah bertanya apa yang terjadi. Tapi tidak dengan Dita karena gadis itu tau pasti alasan temannya jadi cengengesan sendiri seperti orang gila.
"Lu sehat Na?" Rani turun dari ranjangnya menghampiri Anna sambil menempelkan tangannya di dahi Anna, memeriksa apakah temannya ini sedang demam tinggi hingga tingkahnya menjadi aneh.
"Suhunya normal kok." Rani menarik kembali tangannya.
"Lu ngga apa-apa kan Na?" Ucap Rani sambil mengguncangkan tangan Anna karena dia terus memeluk dirinya sendiri dengan kedua tangannya memejamkan matanya sambil tersenyum gemas.
"Ih nyebelin!" Ujar Rani sambil beranjak kembali ke ranjangnya.
"Udah biarin aja dia sama dunianya sendiri. Dia lagi bahagia." Ujar Dita.
"Bahagia kenapa dia?" Tanya Dewi.
"Besok aja gue ceritain. Sekarang kita tidur aja gue udah ngantuk." Ucap Dita sambil menutupi tubuhnya dengan selimut.
Dita, Rani dan Dewi sudah menuju alam mimpi mereka. Tapi tidak dengan Anna. Gadis itu malah mencari charger ponselnya dan mengisi daya ponselnya. Tak lama muncul notifikasi pesan d ponselnya.
"Udah tidur?" Aris. Senyumnya seketika merekah kembali membaca pesan yang ia terima.
"Belum." Anna membalas pesannya.
"Kenapa keinget gue terus yah?" Tanya Aris dengan membubuhi emoticon gemes di belakang pesannya.
"Kepedean lu." Balas Anna. Padahal dalam hatinya *bener banget gue emang keingetan sama lu terus*
"Tidur udah malem, besok pagi gue tunggu lu di loby. kita berangkat ke kampus bareng"
Anna belum membalas pesan itu tiba-tiba pesan baru sudah muncul.
"Tidur sekarang! Ngga usah mikirin gue terus. Besok juga ketemu."
"Oh my god, kenapa sekarang Aris jadi kaya paranormal. Biasa-biasanya ia tau apa yang lagi gue pikirin sekarang." Gumam Anna dalam hati.
Pagi pun tiba Anna bangun dengan suasana hati yang ceria, bahkan cuaca mendung dan sedikit gerimis dibilang cerah oleh gadis yang kini sedang berdiri d balkon depan kamarnya.
"Cuacanya cerah sekali hari ini, gue jadi semangat banget." Ucapnya sambil masuk ke kamar melewati teman-temannya yang masih duduk di ranjang masing-masing.
__ADS_1
Anna berlalu ke kamar mandi.
Ketiga temannya dibuat heran dengan perubahan Anna yang aneh.
"Biasa yang lagi kasmaran ya begitu." Ujar Dita sambil merapikan tempat tidurnya.
Sontak Rani dan Dewi langsung berteriak kompak.
"Kasmaran sama siapa?"
"Aris!" Dita berjalan ke balkon dan diikuti oleh Rani dan Dewi. Kemudian Dita menceritakan semua yang terjadi pada Anna tadi malam.
kedua temannya tampak terkejut bagaimana bisa Anna yang awalnya membeci Aris setengah mati kini malah bahagia karena orang yang ia benci.
Anna keluar dari kamar mandi kemudian mengenakan kemeja putih dengan lengan balon dan rok pendek berbahan jeans serta sneakers putih kesayangannya. Ia mencepol rambutnya dan tak lupa memakai kaca matanya. kini penampilannya tampak menggemaskan.
"Gue duluan." Pamitnya pada ketiga temannya.
"Na ini masih jam tujuh sedangkan jadwal kuliah kita jam delapan. Lu kepagian!" Teriak Dewi, namun nampaknya Anna tak menghiraukannya. Gadis itu tetap meninggalkan kamar dengan ceria.
Sampai di lobi Anna celingukan mencari keberadaan Aris, namun ia tak menemukannya. Kemudian Anna memutuskan untuk menunggu.
Setengah jam menunggu barulah terlihat batang hidung lelaki yang membuat cuaca mendung berasa cerah itu sedang berjalan menghampirinya.
"Udah lama?" tanyanya.
"Ngga kok, gue juga baru turun. Karena lu ngga ada jadi gue duduk disini sambil nunggu." Ucap Anna sambil berdiri.
"Udah sarapan?"
Astaga Anna barus sadar kalo dia keluar kamar bahkan belum sarapan. Padahal biasanya dia tak pernah melewatkan sarapannya. Walaupun hanya dua keping roti dengan selai coklat dan segelas susu. Tapi apa? Kali ini cinta benar-benar membuat kita bahkan lupa akan kebiasaan kita dan justru buru-buru ingin bertemu dengan orang yang kita sukai.
Anna menggelengkan kepalanya sebagai jawaban atas pertanyaan Aris.
"Baiklah kita sarapan dulu. Masih ada waktu tiga puluh menit." Aris menggandeng tangan Anna membawa gadis itu ke kantin asrama.
Setelah sarapan keduanya menuju kampus untuk mengikuti kegiatan kuliah seperti biasa.
Anna duduk di barisan depan seperti biasa dengan teman-temannya, semetara itu Aris yang belakangan ini sering duduk disamping Anna kembali ke kursinya di samping Irpan.
"Selamat yah." Ucap Irpan.
"Selamat untuk?" Tanya Aris heran.
__ADS_1
"Ini." Irpan menunjukan vidio unggahan Rico.
"Gue harap lu bisa jaga dia dengan baik. Gue ngga mau kejadian seperti tadi malam terulang lagi!" Ucap Irpan.
"Kok lu bisa tau?" Heran Aris.
"Semalem gue ada di sana. Dan soal Lisa lu ngga usah khawatir, gue udah kasih mereka pelajaran." Ujar Aris.
"Ok."
Kegiatan kuliah telah berakhir, kini Anna dan teman-temannya berada di taman kampus. Menghabiskan waktu mereka sambil mengerjakan tugas kelompok.
Dewi berulang kali memancing Anna untuk menceritakan progress hubungannya dengan Aris. Namun lagi-lagi gadis itu menolak secara tidak langsung dan mengalihkan topik pembahasan yang lain.
Aris dan Irpan datang menghampiri Anna dan teman-temannya.
"Kalian udah selesai ngerjain tugasnya?" Tanya Aris basa-basi.
"Udah. Kenapa lu mau nyontek?" Ledek Rani.
"Ya engga lah. Gini-gini otak gue ada isinya. Ya ngga Pan?" Tanya Aris.
"Hm iya." Jawab Irpan jengah karena dia tau tujuan Aris hanya untuk menanyakan Anna bisa diajak pergi atau tidak diakhir pekan.
"Na lu mudik ngga besok? Kalo kaga mudik cowok lu mau ngajak jalan." Ujar Irpan sambil menyenggol bahu Aris.
Anna gelagapan, bagaimana bisa Irpan menganggap dirinya pacar Aris.
"Gue gue..."
"Anna bakal mudik, lu bisa antar dia pulang ke rumahnya Ris." Kali ini Dita yang meneruskan jawaban Anna.
"Ok. Gue bakal anterin lu pulang. Sampe ketemu besok." Ucap Aris yang kemudian berlalu bersama Irpan.
Anna memukul bahu Dita. Ia kesal bisa-bisanya temannya ini memberikan keputusan sesuka hatinya. Apa yang harus ia katakan pada ayahnya jika tau anaknya pulang dengan lelaki.
"Ya lu tinggal minta Aris nurunin lu di deket rumah lu, ngga usah sampe rumah. Gitu amat kok repot." Ujar Rani yang lebih berpengalaman soal pacaran.
LIKE
LIKE
LIKE
__ADS_1
KOMEN JUGA JANGAN LUPA!