
Dita bersama Rani, Dewi dan Irpan tiba di kamar Anna. Ia tak lupa membawa serta benda yang dibutuhkan temannya.
“Gimana keadaan lu?” Tanya Dita sambil berjalan mendekat ke ranjang Anna.
“Udah baik gue, kalo sampe nanti siang udah ngga pusing lagi sama dokter udah boleh
pulang.” Jawab Anna. “Ta lu bawa kan pesenan gue?” lanjutnya
“Bawa.” Dita mengeluarkan laptop dari tas punggungnya dan menyerahkan pada Anna.
Annamenerima laptop itu, diletakkannya laptop itu di pangkuannya kemudian menghidupkannya.
“Emang buat apaan sih Na? Jangan bilang lu bosen disini dan pengen nonton drama korea
terbaru.” Ujar Dita saat melihat Anna mencolokkan sebuah Flashdisk.
“Enak aja, gue bukan Dewi yang ngabisin waktu mantengin ponselnya seharian buat liat drama korea.” Elak Anna sambil membuka
file-file di flashdisk yang ia terima dari polisi tadi. Terdapat banyak sekali
vidio di dalamnya.
“Apaan sih bawa-bawa gue.” Dewi mendekat dan melihat ke layar laptop yang berada di
pangkuan Anna. “Vidio apaan sih itu nama filenya tanggal semua? Jangan bilang
itu vidio iya-iya?”
“Apa? vidio iya-iya?” Rani yang sedang duduk bersama Irpan lantas menghampiri Anna, sedangkan Irpan memutuskan untuk pergi
ke kamar sebelah untuk melihat keadaan sahabatnya.
Anna hanya memutar bola matanya jengah mendengar ocehan-ocehan sahabatnya. Anna memutar salah satu vidio yang paling
atas. Di Sana terlihat kejadian tabrakan yang menimpanya kemarin. Ketiga
sahabatnya yang penasaran juga ikut melihat vidio yang sedang diputar Anna.
“Eh itutabrakan yang kemaren?” Ucap Rani sambil tetap memperhatikan vidio yang sedang
diputar.
“Iya ini isi black box mobil Aris.” Anna terus memutar setiap vidio satu-persatu.
“Kok bisa ada di lu?” Tanya Dita.
“Tadi pagi-pagi banget ada dua orang polisi kesini, mereka menjelaskan kronologi
kecelakaan dan mereka juga sudah memeriksa black box mobil Aris dan menyatakan kecelakaan kemaren itu bukan kesalahan Aris tapi karena buronan yang nerobos lampu merah dan terjadilah kejadian kemaren, kan semalem juga gue cerita masa lu pada lupa.”
“Lah terus buat apa lu pantengin tuh vidio? Kan udah jelas kalo kecelakaan kemarin bukan
salah kalian.” Dewi merutuki kebodohan
sahabatnya yang selama ini terlihat paling cerdas diantara mereka.
“Kata Pak polisi di dalamnya juga ada vidio gue, makanya gue lagi cari nih. Siapa tahu
__ADS_1
dengan melihat vidio ini gue bisa tau kebenaran dibalik kecelakaan gue waktu di
Jogja.” Ujar Anna sambil terus memutar vidio itu satu-persatu.
“Astaga setelah semua kebaikan dan perhatian yang Aris berikan ke lu selama ini, lu
masih aja mengungkit kejadian konyol lu di Jogja itu.” Dewi sedikit emosi
karena sikap sahabatnya yang terus saja masih memikirkan kesalahan orang dimasa
lalu walaupun orang itu saat ini sudah menjelaskan berulang kali kalau dia tak
mencelakai Anna.
“Tau padahal udah kelihatan banget kalian tuh saling suka. Tapi kenapa sih lu tuh so banget gitu.” Rani ikut terbawa emosi.
“Bukan gitu, gue akui gue emang suka sama dia. Tapi ngga tau kenapa gue....ya masa gue jadi pacar lelaki yang udah ngancurin masa depan gue.” Timpal Anna.
“Ngancurin masa depan lu? Apa dengan kuliah di USX bikin hidup lu hancur? Kenapa lu ngga
bisa liat segala sesuatu dari sisi positifnya Na. Setidaknya dengan kuliah di
USX kita bisa jadi teman baik. Dan soal masa depan lu yang hancur, bukankah
kuliah di universitas impian lu juga ngga menjamin masa depan lu bagus?” Ujar
Rani.
“Udah-udah kenapa kalian malah jadi ribut sih!” Ucap Dita sambil memandang ke arah Anna dan Rani secara bergantian.
“Gue ke kantin dulu.” Rani dan Dewi memilih pergi terlebih dahulu dari pada
“Udah jangan dimasukin hati kata-kata Rani, dia lagi emosi.” Dita mencoba menenangkan Anna.
Anna termenung mendengar perkataan Rani, benar juga kuliah di USX bukan berarti masa depannya akan hancur. Dan kuliah di tempat yang ia inginkan juga tak menjamin masa
depannya akan cerah.
“Na kenapa ngga langsung lu buka aja vidio sesuai sama tanggal lu kecelakaan, kalo
satu-satu lama.” Ujar Dita.
Anna pun mendengarkan saran Dita. Ia megingat-ingat tanggal berapa kejadian apes itu menimpanya. Ia meraih ponselnya dan melihat catatan di dalamnya. Ia ingat dulu
bertepatan dengan jadwal seleksi masuk universitas impiannya. Setelah menemukan
tanggalnya Anna kemudian menggeser kursornya hingga ke tanggal yang maksud
kemudian memutar vidio itu.
Dalam vidioitu terlihat dirinya yang mengenakan celana jeans hitam dan kemeja putih berjalan berlawanan dengan sebuah mobil. Anna menutup mulutnya yang menganga
dengan tangannya saat melihat ternyata dirinya tak ditabrak justru ia yang
tiba-tiba jatuh dan tak sadarkan diri di depan mobil itu dengan jarak sekitar tiga meter.
Tak lama
__ADS_1
terlihat lelaki dengan warna pakaian yang sama dengannya berdiri di hadapannya. Lelaki itu berjongkok dan mencoba membangunkannya. Kemudian lelaki
itu hendak kembali ke mobilnya hingga Anna bisa melihat siapa sosok lelaki itu.
“Aris?” satu kata yang lolos dari bibirnya yang masih di tutupi tangannya.
Lelaki itu tampak berjalan ke mobilnya hingga tak terlihat lagi gambar dirinya di sana.
Namun tak lama lelaki itu kembali dan mengangkat tubuh Anna, dan berjalan
menuju mobilnya. Anna langsung menutup laptop di pangkuannya. Pikirannya
tiba-tiba kacau dan air matanya terjun bebas membasahi pipinya.
“Bagaimana ini ternyata Aris benar-benar orang yang menyelamatkanku, bukan orang mencelakai ku.
Bagaimana ini gue benar-benar utang banyak terimakasih padanya.” Batin Anna.
Anna menoleh ke samping, menatap Dita dengan penuh kebingungan. Dita menyadari
sahabatnya kini sedang bingung dengan apa yang harus ia lakukan setelah semua
sikap buruknya pada Aris. Dita membawa Anna kepelukannya.
“Sudahlah jangan menangis.” Dita melepaskan pelukannya dan menghapus ari mata sahabatnya.
“Gue harus gimana sekarang, rasanya gue ngga punya muka kalo harus ketemu Aris setelah
semua yang gue lakuin ke dia.” Ucap Anna sambil meletakan laptop ke lemari
samping ranjangnya.
“Gue ngga tau harus ngomong apa sama lu Na. Dari awal kita semua udah berulang kali
bilang ke lu kalo Aris itu lelaki yang baik. Gue dulu ngomong kaya gitu bukan
tanpa dasar. Tapi gue bisa lihat dari keseharian Aris tak terlihat sedikit pun
kalo dia tipe orang yang tak meminta maaf jika melakukan kesalahan. Bahkan saat
lu bilang dia jahat dia ngga pernah membalas, bahkan dia berulang kali nolong
lu.”
Anna hanya bisa mematung di tempatnya tanpa mengucapkan sepatah kata pun karena memang semua yang diucapkan Dita benar adanya.
“Sekarang udah ngga ada lagi alasan lagi buat lu ngga nerima perasaan Aris. Pergilah
temui dia! Dia pasti menunggumu.”
LIKE
LIKE
KOMEN
KOMEN
__ADS_1
FAVORITKAN
TERIMAKASIH