Bukan Perjodohan

Bukan Perjodohan
58. Ini ngga mungkin!


__ADS_3

Hi... aku kembali lagi setelah dua hari ngga up. aku ngga punya celengan part buat up soalnya akhir-akhir ini sedikit sibuk. biasanya aku ngetik banyak terus aku setting buat publish sehari satu part, tapi kemaren skedul ngga ke manage dengan baik sehingga aku kecapean dan tepar.


HAPPY READING.


.


.


.


"Apa? Benarkah? Terimakasih.” Ucap Wina kemudian menutup panggilannya.


“Astaga bagaimana ini?” Ucap Wina lirih.


Wina baru saja menerima laporan dari orang kepercayaannya yang ia beri perintah untuk menyelidiki tentang Sintia, dan naasnya orang itu bilang bahwa Anna adalah benar putri dari Sintia.


Berulang kali Wina menanyakan apakah dia benar-benar putri Sintia? Namun orang diseberang sana yang sedang menghubunginya menjawab dengan mantap bahwa gadis yang kini sedang menjalin kasih dengan Aris adalah putri Sintia, wanita yang dicintai oleh suami Wina.


"Bagaimana bisa hidup serumit ini. Tuhan apa tidak cukup kau memberi ujian padaku dulu? Kenapa sekarang aku harus menjadi penghancur kebahagiaan putraku sendiri? Membiarkan mereka bersama jelas itu tidak mungkin, mereka saudara sedarah." Wina sangat yakin jika Anna adalah anak hasil hubungan gelap Iwan dengan Sintia setelah menikahi dirinya.


Bagi kebanyakan wanita mengetahui suaminya memiliki wanita lain bahkan sampai memiliki anak pasti sangat menyesakan hati. Begitu pula dengan Wina. Tapi Wina tak memikirkan egonya sendiri, ia juga memikirkan kebahagiaan putranya. Ia mengesampingkan luka dihatinya mendapati suami dan mantannya memiliki seorang putri dan yang lebih parah putranya begitu menyayangi gadis itu.


"Bagaimana aku harus menjelaskan semua ini pada Aris. Mereka harus putus." Gumam Wina sembari berjalan menuju kamar putranya.


Saat tiba di depan kamar putranya Wina mengetuk pintu itu kemudian masuk ke dalamnya. Terlihat putranya sedang tiduran yang kemudian mendudukan dirinya setelah mengetahui dirinya masuk ke kamarnya.


"Mama, Ada apa?" Tanyanya.


"Tidak ada apa-apa. Mama cuma mau denger cerita kamu gimana tadi di panti asuhan?"


Terulas senyum di wajah tampan putra semata wayangnya. "Seru Ma. Dan calon mantu Mama itu begitu konyol hahaha." Ucap Aris diakhiri dengan tawanya yang pecah karena mengingat kekonyolan Anna kala itu.


Melihat wajah putranya yang begitu ceria dan tawa yang mengiringi ceritanya membuat Wina semakin bingung untuk berkata-kata terkait Anna dan Ibunya.


"Senyum itu, tawa itu dan wajah ceria itu pasti akan menghilang jika aku mengatakan yang sebenarnya sekarang." Batin Wina.


"Syukurlah kalo kamu seneng. Mama juga ikut seneng." Ucap Wina. "Mama siapin makan malam dulu, kamu mandi. Setelah itu kita makan malam bersama." Wina lantas pergi meninggalkan kamar putranya.

__ADS_1


.


.


.


Setelah makan malam Aris kembali ke kamarnya dan menelpon Anna. Mereka mengahabiskan waktu hingga tengah malam hanya untuk sekedar berbicara ngalor ngidul.


Sementara itu Wina yang sampai kini belum bisa menjelaskan soal persaudaraan Anna dan Aris memilih untuk berdiam diri di ruang kerja Iwan, sembari meletakan kembali foto Sintia yang sebelumnya sempat ia ambil. Wina menyelipkan kembali foto itu di dalam buku tebal dan meletakannya di meja kerja Iwan. Kini Wina duduk di kursi kerja Iwan sambil memikirkan cara terbaik menyampaikan semua ini pada putranya. Ia tak ingin ada yang terluka baik itu Aris, Anna maupun dirinya.


Bahkan Wina sudah menyiapkan diri untuk menerima Anna sebagai putrinya juga. Karena bagaimana pun jika Iwan mengetahui Anna adalah putrinya dari Sintia, pria itu pasti akan mengajak Anna untuk tinggal bersamanya juga.


selain itu Anna juga gadis yang baik, tak ada alasan untuk membenci gadis itu. Meskipun gadis itu hasil hubungan gelap suaminya tapi gadis itu tak bersalah dalam hal ini. Hanya saja dirinya kurang beruntung karena terlahir dari wanita yang merusak kebahagian wanita lain.


Sungguh Wina telah menguatkan hatinya kerkali-kali untuk menghadapi kenyataan ini. Heran kenapa Wina bisa setegar ini? Ya karena dari awal ia mengetahui Iwan mencintai Sintia dan pernah melihat mereka bersama di Mall dengan keadaan Sintia yang tengah hamil. Wina hanya terkejut saat mendapati kenyataan bahwa kekasih putranya adalah gadis hasil selingkuhan suaminya.


Setegar apa pun, sekuat apa pun hatinya, Wina tetaplah seorang wanita yang rapuh. Bahkan saat ini ia tak mampu menahan air matanya. Ingin sekali rasanya berteriak dan melepaskan semua isi pikirannya saat ini.


"Aarghh...." Teriakhnya tertahan.


Aris yang sedang melewati ruang kerja Iwan hendak ke dapur untuk minum lun menghentikan langkahnya di depan ruang kerja Iwan.


"Astaga mungkihkan ada maling masuk rumah gue." Pikir Aris yang kemudian membuka pintu itu dengan pelan. Aris mengedarkan pandangannya di ruang kerja itu.


"Ya ampun Mama. Mama ngapain tengah malem gini disini. Aris kira rumah kita kemasukan maling." Cerocos Aris sambil mendekati Mamanya.


"Mama kenapa nangis?" Tanya Aris. Namun Wina tak menjawab. Wanita itu terlihat menghapus air matanya kemudian merapikan anak rambut yang menutupi wajahnya, kemudian menyelipkan rambut itu k telinganya.


"Ma, Mama kenapa?" Tanya Aris sekali lagi.


Wina mencoba merangkai kata-kata terbaiknya. "Sayang seandainya kalo kamu harus milih nih ya. Kamu pilih Mama atau Anna?" Tanya Wina.


Aris hanya tersenyum menanggapi pertanyaan Wina. "Kenapa aku harus milih Ma sedangkan aku bisa memiliki keduannya." Jawab Aris.


"Kamu dan Anna." Wina menjeda ucapannya sejenak dan membuang nafasnya kasar. "Kalian tak boleh bersama."


Aris begitu kaget mendengar kalimat itu dari bibir Mamanya. "Kalian tak boleh bersama?" Aris mengulang kata-kata Wina. "Maksud Mama apa? Bukannya Mama udah merestui hubungan Aris sama Anna? Kenapa tiba-tiba begini Ma? Please Ma, jangan ngeprank tengah malam kaya gini." Ujar Aris.

__ADS_1


"Mama tidak bercanda Aris. Kalian harus putus. Segera!"


"Tapi kenapa Ma?"


Wina lantas mengambil foto yang tadi ia selipkan ke buku . "Lihat ini!" Wina memberikan foto Sintia pada Aris.


Aris menerima foto itu dan ia bisa langsung menyadari kemiripan gadis di dalam foto itu dengan kekasihnya.


"Dia ibunya Anna." Ucap Wina.


"Terus?" Tanya Aris.


"Dia adalah kekasih Ayahmu. Dan Anna adalah anak wanita itu dan ayahmu." Ucap Wina sambil menghapus air mata yang lagi-lagi membanjiri wajahnya.


"Ini ngga mungkin Ma." Ucap Aris.


"Kalian harus putus. Anna itu adikmu." Wina beranjak pergi meninggalkan ruang kerja Iwan. Ia tak tega melihat putranya dengan wajah yang sedih itu.


"Ini ngga mungkin." Teriak Aris sambil membuang foto di tangannya ke sembarang arah.


"Ini ngga mungkin. Gimana bisa kekasihku adalah adikku. Ini sangat konyol."


"Ini ngga mungkin. Ngga!!" Teriaknya berulang kali.


.


.


.


Hayo gimana ini dong mereka kakak adik???


maafkan kemaren-kemaren aku ngga up. lagi banyak kegiatan di dunia nyata yang biki aku tepar dan langsung merem aja begitu nemu kasur, padahal biasanya aku tahan-tahan tuh ngantuk sambil ngetik.


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMENTARNYA YAH.


TERIMAKASIH BUAT KALIAN YANG UDAH NYEMANGATIN AKU TERUS.

__ADS_1


__ADS_2