Bukan Perjodohan

Bukan Perjodohan
33. Kaca mata hitam


__ADS_3

Hari itu rencana Leni berbelanja ditemani Aris kandas sudah. Kini ia terjebak dengan


Wina ibu Aris . mereka beberlanja keperluan yang harus dibeli oleh Leni untuk


persiapan arisan ibu-ibu di rumahnya.


“Nyesel gue bantuin Mama kaya gini caranya.” Gumamnya sambil terus mendorong troli belanjaan mengikuti Ibu Aris yang sudah memegang list belanjaan yang dikirim


oleh Ibu Leni beberapa saat lalu.


“Udah semua belum Tan?” Tanya Leni dengan tetap berjalan dibelakang Ibu Aris.


“Udah sayang, ayo kita ke kasir dan bayar semua belanjaan ini.” Mereka pun berjalan


menuju kasir dan mengantri untuk melakukan pembayaran.


Saat Wina sedang membayar belanjaannya, Leni melihat seseorang yang mirip Aris dengan


gadis yang ia genggam tangannya keluar dari area food court yang bersebelahan


dengan tempat Leni dan Ibu Aris berbelanja.


“Tante bukankah itu Aris?”


“Mana sayang?” Wina mengedarkan pandangannya namun tak menemukan sosok putranya disekitar mereka.


“Mungkin kamu salah orang Nak.”


“Tidak mungkin, gue yakin itu Aris. Bahkan bajunya saja sama. Tapi siapa gadis yang


bersamanya.” Pikir Leni dalam hati.


“Sudah Len, Ayo kita bawa belanjaan kita ke mobil.” Wina menyerahkan dua kantong kresek


besar pada Leni dan satu kantung kresek besar ia bawa sendiri.


Leni menerima kantung kresek belanjaan dari Wina dan membawanya mengikuti Wina. Sesekali Leni mengedarkan pandangannya mencari Aris yang ia yakini tadi ia lihat.


“Len kesinikan kantung belanjaannya biar Tante masukan ke bagasi, kamu langsung saja


masuk ke mobil.” Wina mengambil alih belanjaan yang ada di tangan Leni. Mereka


pun berlalu meninggalkan Mall.


Sementara itu Aris dan Anna sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit tempat Omnya


bekerja.


“Emang bisa ya Ris gue liat jelas ngga pakai kaca mata? Soalnya gue udah pakai kaca mata dari SMP?” Ujar Anna.


“Kita tanyain aja ke Om entar. Kasian juga gue liat lu pengen banget pakai kaca mata


kaya gue.” Ledek Aris.


Mereka tiba di rumah sakit temat Om Aris bekerja. Aris langsung menanyakan ruang kerja


Omnya pada resepsionis. Setelah mengetahui ruang kerja Omnya, Aris dan Anna


pergi ke ruang kerja itu.


Tampak masih ada beberapa beberapa pasien yang mengantri di sana. Aris dan Anna pun menunggu hingga pasien terakhir keluar dari ruang periksa. Kemudian mereka masuk ke


ruangan itu.


“Siang Om.” Sapa Aris.


“Aris?”


“Iya Om, masa lupa sama aku sih.” Ucap Aris sambil menyalami Omnya yang diikuti oleh

__ADS_1


Anna juga.


“Gimana kabar kamu? Om baru tau kamu udah kembali ke Jakarta.”


“Aris baik Om. Tapi temen Aris nih yang keadaannya ngga baik.” Ucap Aris sambil menatap Anna yang duduk di sampingnya.


“Kenapa gadis imut ini?”


“Ini Om bisa ngga dia ngga usah pakai kaca mata?” Tanya Aris.


“Biar Om periksa dulu.” Anna pun berjala mengikuti Om Aris untuk melakukan pemeriksaan.


Anna membaringkan tubuhnya di tempat yang telah disediakan kemudian Om Aris


membuka kaca mata Anna dan memeriksa mata Anna dengan seksama.


Sekitar sepuluh menit Om Aris selesai melakukan pemeriksaan, kemudian menjelaskan


hasilnya pada Anna dan keponakannya.


“Matanya minus. Masih tahap awal. Bisa sembuh kalo Anna melakukan pengobatan secara teratur dan rajin mengkonsumsi makanan yang baik untuk mata.” Jelas Om Aris.


“Apa memungkinkan Anna melepas kaca matanya Om?” Tanya Aris.


“Bisa saja, nanti Om akan rekomendasikan kontak lensa yang bagus untuk Anna.” Ucap Om Aris sambil menyerahkan kertas resep obat dan kontak lensa.


“Apakah memakai kontak lensa tidak memberikan efek buruk pada mataku Dok?” tanya Anna.


“Kontak Lensa tak berbahaya jika digunakan dengan baik dan benar.”


“Baik Dok. Terimakasih.”Ucap Anna.


“Makasih Om.” Keduanya lalu menyalami Om Aris dan berpamitan.


Aris dan Anna berjalan menuju Apotik untuk menebus obat dan kontak lensa Anna. Setelah


Karena sebelumnya ia tak pernah menggunakan benda bulat tipis itu.


Keduanya pun kembali ke ruang kerja Om Aris dan meminta tolong untuk diajari car memasang dan melepas kontak lensa itu. Setelah mendengar penjelasan  akhirnya Anna bisa memakai dan melepas kontak


lensanya.


“Gimana rasanya ngga pakai kaca mata?”Tanya Aris yang kini berjalan di samping  Anna menuju parkiran.


“Lebih nyaman.” Ujar Anna.


Tiba di parkiran, Aris membukakan pintu mobilnya dan Anna langsung mendudukkan dirinya


di samping kursi kemudi. Aris menutup pintu itu kemudian duduk di kursi kemudi.


“Lu bisa coba kaca mata yang kita beli tadi sekarang!” Ucap Aris sambil menyalakan mesin mobilnya.


Anna mengambil kaca mata hitam pemberian Aris kemudian memakainya.


“Gimana?”


“Cantik.”


“Bohong.”


“Gue ngga bohong, lu beneran cantik.”  Aris


mengeluarkan ponselnya, “Lihat sini Na!”


Anna menoleh dan cekrek cekrek Aris mengambil gambar gadis yang mulai meluluhkan hatinya.


“Apaan sih lu Ris.” Ucap Anna cemberut. Ia takut gambar yang diambil Aris tak bagus


berhubung dirinya belum persiapan.

__ADS_1


“Ya udah deket sini kita foto bareng.” Aris mendekat ke Anna dan mengambil foto mereka


berdua.


Sekitar tiga puluh menit keduanya sudah berada di rumah Anna.


“Gue pulang dulu yah.”


Anna mengangguk dan melambaikan tangannya. “ hati-hati di jalan, terimakasih untuk


hari ini.”


Setalah mobil Aris hilang dari pandangannya, Anna masuk ke dalam rumah dan duduk di sofa ruang tamunya. Dipandangnya foto-foto yang Aris ambil tadi. Terlihat senyuman


manisnya di foto itu.


Andai Aris tak mencelakainya di Jogja, Andai dia benar-benar orang yang menolongnya. Pasti


saat ini Anna tak perlu merutuki kebodohan perasaannya.


Semetara itu di kediaman Leni, terlihat Wina dan Leni sedang menurunkan belanjaan mereka


dibantu oleh asisten rumah tangga ibu Leni.


“Makasih loh Jeng udah mau bantuin saya belanja.” Ucap Ibu Leni.


“Sama-sama Jeng, saya juga seneng bisa jalan bareng Leni. Dia anak yang baik.” Puji Wina


sambil mengelus kepala Leni.


“Tante, Leni pasti bahagia banget deh kalo bisa jadi bagian dari keluarga Tente.”


“Kamu sudah Tente anggap seperti anak sendiri.”


“Tapi Tan kan beda. Aku pengennya jadi anak Tante beneran. Jadi menantu Tante ke.” Ujar


Leni sambil cemberut.


“Tente juga seneng kalo seandainya kamu jadi menantu Tante.”


“Kalo gitu Tante bisa dong bantuin aku supaya deket sama Aris.” Bujuk Leni.


“Tentu saja dengan senang hati kalau kamu menyukai putra Tante. Tapi Tante tidak bisa


memaksakan kalo Aris menolak ya.” Jawab Wina sambil memeluk anak teman arisannya


itu.


“Makasih Tan.”


Aris memang belum menyukaiku  sekarang, yang penting ibunya ada di pihakku. Setidaknya aku sudah memiliki salah satu orang yang penting bagi Aris. Dia pasti akan menuruti keinginan ibunya. Begitulah


kira-kira isi otak Leni saat ini.


.


.


.


.


Untuk readersku tersayang soal pemeriksaan mata Anna dan hasilnya itu murni halu aja,


so kalo ada salah tolong maklum aja. Jangan dianggap serius soalnya aku bukan dokter mata. Ngga pake kaca mata juga.


LIKE DAN


KOMENTARNYA WAJIB!

__ADS_1


__ADS_2