
Anna membuka matanya, mengerjapkan matanya, mengedarkan pandangannya di ruangan serba putih itu. Iya menyentuh dahinya yang terasa sedikit sakit, kepalanya juga terasa pusing. Dilihatnya tangan kirinya terdapat jarum yang menancap dengan selang
yang terhubung pada sekantung cairan bening yang tergantung pada tiang di samping tempat tidurnya.
Berada pada kondisi seperti ini membuatnya teringat akan kejadian beberapa bulan ke
belakang saat dirinya mengalami kecelakaan di Jogja. Persis seperti saat ini ia terbangun dengan Aris berada di sampingnya saat itu.
“Aris?”sejenak ia mengingat Aris dan rentetan kejadian yang menyebabkan dirinya berada
disini.
“Benar Aris.Dimana Aris saat ini? Bagaimana keadaannya?” Ucap Anna lirih, tak terasa air
matanya membasahi pipinya.
“Anda sudah sadar Nona.” Ucap seorang perawat yang masuk ke ruang rawat inap Anna.
“Bagaimana keadaan anda sekarang? Apakah ada bagian yang terasa sakit atau anda merasa
pusing?” Tanya perawat itu sambil memeriksa selang infus yang menancap di tangan Anna.
Anna tak menjawab pertanyaan yang diajukan perawat, fokusnya saat ini tentang keadaan
Aris.
“Suster bagaimana keadaan teman saya? Tadi saya di ambulan bersamanya.” Tanya Anna.
“Dia ada di ruangan sebelah, dan belum sadarkan diri.” Jawab Suster.
“Apa saya boleh melihatnya?”
“Tentu saja.”
“Terimakasih Suster.” Anna mencoba turun dari ranjangnya.
“Nona tunggu sebentar!”
Anna pun menghentikan langkahnya. “Iya Sus.”
“Bisakah anda menghubungi wali atau keluarga kalian. Karena kami dari pihak rumah sakit tidak bisa menghubungi keluarga kalian sebab ponsel kalian berdua terdapat
sandi sehingga kami tak bisa menggunakannya untuk menghubungi keluarga kalian.”
Anna kemudian memberikan kontak Ayahnya serta kontak Dita kepada perawat, karena dia
tak memiliki kontak orang tua Aris. Iya yakin Dita pasti akan memberi tahu Irpan Dan Irpan akan mengabari orang tua Aris.
Sementara itu di kediaman Wina, Leni sedang menangis mengadukan perlakuan tidak baik Aris yang meninggalkannya begitu saja. Tak lupa ia mendramatisir seolah Anna yang
membuat Aris meninggalkannya.
“Sudah jangan menangis, nanti Tante ajarin Aris cara memperlakukan perempuan dengan
baik.” Ucap Wina menenangkan Leni sambil memeluk gadis itu.
Wina melepaskan pelukannya saat mendengar ponselnya berbunyi. “Sebentar Tante angkat
telpon dulu.” Leni pun menganggukinya.
Wina mengambil ponsel yang tergeletak di meja, “Halo.”
“Tante ini Irpan. Saya mau memberitahu kalau Aris saat ini ada di rumah sakit Husada.”
“Apa? Bagaimana mungkin? Apa yang terjadi dengan Aris Pan?” Raut wajah Wina langsung
berubah panik.
__ADS_1
“Irpan tidak tahu Tante, sebaiknya Tante segera kesana. Saya juga akan kesana.” Irpan
mengakhiri panggilannya.
Leni melihat Wina panik dan menangis ia pun menghampirinya, “Tante ada apa? Kenapa Tante menangis?”
“Leni, Tante harus segera ke rumah sakit. Aris kecelakaan.” Ucap Wina sambil berjalan ke
kamarnya untuk mengambil tasnya.
“Tante, Leni ikut.” Ucap Leni saat Wina telah kembali dengan tasnya.
“Sebaiknya kamu pulang sayang, ini sudah malam nanti ibumu khawatir. Nanti Tante kabari keadaan Aris padamu.” Ucap Wina sambil berjalan keluar dari rumahnya.
Sepajang perjalanan Wina terus panik dan sesekali air mata itu kembali membasahi
pipinya. Ia sangat mengkhawatirkan keadaan putranya. Wina juga tak lupa menghubungi suaminya yang kini sedang berada di luar kota untuk meninjau kantor cabang mereka, Wina mengabari kecelakaan yang menimpa anaknya. Jalanan begitu macet karena akhir pekan sehingga ia tak bisa sampai rumah sakit dengan cepat.
*
*
*
Di rumah sakit
Anna masuk ke dalam kamar Aris, ia menghampiri Aris yang belum sadarkan diri. Di tatapnya Aris yang masih terlelap dalam tidurnya. Tangan dan kepala yang diperban pasti sangat menyakitkan. Anna tak kuasa menahan air matanya. Ia merasa semua ini
salahnya hingga Aris tak fokus mengemudi dan menyebabkan kecelakaan ini terjadi.
“Maafin gue.” Ucap Anna sambil menggenggam tangan Aris.
“Bangun Ris, gue pasti nurutin semua keinginan lu kalo lu bangun.” Ucap Anna Lirih di sela-sela tangisnya.
Bunyi sepatu yang berbenturan dengan lantai terdengar begitu jelas di loby rumah sakit
Husada. Irpan, Dita dan teman-temannya tampak berlari menuju resepsionis
perawatan temannya, mereka mengucapkan terimakasih kepada petugas kemudian
menuju ruang perawatan Anna.
Mereka tiba di kamar tempat Anna di rawat tapi tak mendapati gadis itu di sana, kemudian
mereka memutuskan untuk ke kamar Aris mungkin Anna ada di sana. Dan ternyata
benar, gadis itu tampak duduk dan menggenggam tangan Aris.
Mendengar suara pintu terbuka Anna lantas menoleh untuk melihat siapa yang datang. Terlihat Irpan dan ketiga sahabatnya ada di sana. Dita langsung berlari menghampiri Anna
dan memeluk gadis itu, menanyakan keadaannya.
Anna menangis di pelukan Dita, dia tak kuasa menahan kesedihannya apalagi melihat
Aris yang sampai kini belum sadarkan diri. Anna terus saja merutuki dirinya dan
merasa semua ini terjadi karena dirinya.
Dita berusaha menenangkan Anna. Setelah di rasa sahabatnya cukup tenang, Dita
meminta Anna untuk menceritakan kronologis dari kecelakaan yang mereka alami.
Anna menceritakan kecelakaan yang terjadi tadi sore dengan rinci sesekali air
matanya lolos membasahi pipinya.
“Sudah jangan menangis, semua akan baik-baik saja.” Ucap Irpan.
__ADS_1
“Tapi dia belum sadar.” Ucap Anna sambil menangis menatap Aris yang masih saja terlelap.
“Dia akan baik-baik saja, sebaiknya lu kembali kembali ke kamar dan istirahat. Biar gue yang jaga Aris di sini.” Ucap Irpan.
Dita, rani dan Dewi lantas memapah Anna untuk kembali ke kamarnya dan menemaninya
beristirahat.
“Tidurlah Na, kami akan menemanimu disini.” Ucap Dita sambil menyelimuti sahabatnya.
“Sayang apa yang terjadi padamu.” Ucap Permadi panik sambil mendekat ke putrinya.
“Ayah, Anna tidak apa-apa.”
“Bagaimana kecelakaan itu bisa terjadi?”
Anna pun menjelaskan kronologi kecelakaan pada ayahnya.
“Lalu bagaimana keadaan Aris sekarang?”
“Dia belum sadar Ayah.” Ucap Anna sambil menangis.
“Istirahatlah, Aris pasti baik-baik saja.”
Kini Permadi mengalihkan pandangannya kepada tiga teman putrinya. Dia mengucapkan banyak terimakasih karena sudah menjaga Anna sampai dirinya datang. Kemudian meminta Dita, Rani dan Dewi untuk pulang. Awalnya mereka semua menolak, tapi setelah
Permadi mengatakan mereka bisa bergantian menjaga Anna besok ketiganya langsung
setuju dan berpamitan pada Ayah sahabatnya itu kemudian meninggalkan kamar Anna.
Ketiganya keluar dari kamar Anna yang ternyata bersamaan dengan Irpan yang baru saja keluar dari kamar Aris.
“Bagaimana keadaan Aris sekarang? Apa dia sudah sadar?” Tanya Dewi sambil mengintip ke
kamar Aris lewat kaca yang terdapat di pintu ruangan itu. Terlihat wanita yang
belum terlalu tua duduk di samping Aris.
“Dia belum sadar, tapi Tante Wina minta gue buat pulang. Besok kita bisa balik lagi buat
jenguk mereka.” Jawab Irpan.
“Semoga besok pagi Aris sudah sadar.” Ucap Dita.
“Aamiin.” Ucap keempatnya kompak.
Mereka pun meninggalkan rumah sakit dan memutuskan untuk kembali besok.
.
.
.
.
AHHH SEDIH.
KEBAWA SEDIH
DEH AKU NULISNYA.
GIMANA INI ENAKNYA ARIS DI BIKIN MATI APA AMNESIA AJA YAH????
KALO KALIAN SUKA KARYAKU INI SILAHKAN TEKAN SIMBOL LOVE UNTUK FAVORITKAN SUPAYA KALIAN TAU
KALAU AKU UPDATE BAB TERBARU CERITA INI.
__ADS_1
JANGAN LUPA
LIKE DAN KOMENTARNYA!!!