Bukan Perjodohan

Bukan Perjodohan
52. Gadis itu?


__ADS_3

52


Iwan kembali dari kantornya. Pria paruh baya itu menyerahkan tas kerja pada istrinya yang menyambutnya pulang kala itu.


"Mas mau makan malam atau mandi dulu? Biar ku siapkan?" Tanya Wina sembari mengekori suaminya.


"Mas masih ada sedikit kerjaan, jadi mau ke ruang kerja saja. Kamu istirahat duluan saja tak perlu menungguku." Jawab Iwan lalu berjalan menuju ruang kerjanya dan menutup kembali pintu ruangan itu.


Iwan membuka kembali buku tebal yang sebelumnya pernah ia simpan. Ia mengambil selembar foto wanita cantik dari dalam sana.


"Sintia putrimu sangat cantik, dia persis seperti dirimu saat muda dulu." Gumam Iwan sambil menatap foto di tangan kanannya.


"Andai dulu kita tak berpisah, pasti saat ini kita sangat bahagia. Mengurus anak kita bersama-sama. Maaf karena meninggalkanmu demi wanita lain. Ku harap kau bahagian dengan Permadi." Iwan menghapus air mata yang tak ia sadari sudah membasahi pipinya.


"Huh kau pasti bahagia dengannya. Dia pria yang baik." Ucapnya sambil meletakan kembali foto itu kedalam buku dan menyimpannya di laci.


Seminggu berlalu, setelah itu setiap pulang kerja Iwan selalu saja menghabiskan waktunya di ruang kerja dan kembali k kamar saat Wina sudah tidur.


Wina menyadari ada yang aneh dengan sikap suaminya akhir-akhir ini yang kurang memberi perhatian padanya.


Wina jadi teringat pada masa awal pernikahannya dengan Iwan. Keduanya menikah karena perjodohan. Baik Wina maupun Iwan tak ada yang menentang perjodohan kala itu tapi tak bisa dipungkiri Wina tahu bahwa Iwan memiliki wanita yang sangat dicintainya, meskipun Iwan meninggalkan wanita itu demi perjodohannya namun tetap saja pernikahan mereka pada awalnya hanyalah sebatas nikah tanpa cinta.


Tak terasa pipinya kini telah basah, Wina mengambil tisu di meja riasnya kemudian duduk di sana. Memandangi gambar dirinya yang sedang menghapus air mata di cermin.


Itulah alasan kenapa sampai kini Wina tak pernah mencoba menjodohkan putranya, meskipun Leni yang menurutnya baik selalu meminta bantuannya supaya bisa dekat dengan Aris. Mengigat bagaimana usaha kerasnya di awal pernikahan hingga dua tahun pernikahan akhirnya dia bisa merasakan cinta dari Iwan. Ya meskipun iya tak yakin itu memang cinta atau sebatas rasa nyaman karena selalu bersama. Hingga akhirnya mereka memiliki Aris, putra satu-satunya.


Pukul setengah satu malam Iwan masuk ke kamarnya, melihat istrinya yang tengah duduk di meja rias di tengah malam ini.


"Kenapa belum tidur? Aku kan sudah bilang tak perlu menungguku."


"Hm aku sudah tidur tadi. Hanya terbangun karena haus." Wina beranjak mengambil segelas air di samping tempat tidur, meminumnya hingga tandas kemudian naik ke tempat tidur.


"Tidurlah." Iwan menyelimuti istrinya hingga ke dada.


Pagi harinya Wina bangun pagi-pagi sekali untuk menyiapkan sarapan. Setelah sarapan tersaji Wina langsung memanggil Iwan untuk sarapan. Ketika keduanya baru menyuapkan suapan pertama tiba-tiba muncul putranya yang kembali ke rumah.

__ADS_1


"Pagi Ma, Yah." Aris menghampiri kedua orang tuanya kemudian duduk di samping Wina.


"Tumben weekend kali ini pulang pagi sekali. Biasanya pulang sore atau malam." Tanya Wina sambil meletakan nasi goreng di piring putranya.


"Gimana kabar pacarmu itu?" tanya Iwan.


"Hehehe." Aris hanya tertawa menanggapi pertanyaan ayahnya.


Wina tiba-tiba jadi teringat ucapan Andi yang kala itu mengantarkan makanan untuk Aris dan mengatakan kalo putranya sudah memiliki pacar. Dia sampai lupa belum melihat pacar putranya.


"Anak mama udah punya pacar?" Tanya Wina sambil menoleh ke Aris yang duduk di sampingnya. Sedangkan Aria hanya menganguk sebagai jawaban dan terus menikmati nasi gorengnya.


"Dan ayahmu sudah tahu sedangkan Mama belum." Wina menatap Aris dengan kesal, apalagi melihat anaknya yang tetap santai memakan sarapannya. Hingga akhirnya Wina mengambil sendok itu sehingga Aris berhenti makan dan menatapnya.


"Mama juga udah pernah liat dia kok." Ucap Aris sambil mengambil kembali sendok dari tangan Wina.


"Kapan? Mama belum pernah ketemu sama pacar kamu." Tanya Wina.


"Waktu itu pas Aris sakit dia kesini kok jengukin Aris."


Aris menyimpan sendok makannya di atas piring. "Gini aja deh Ma, Mama masak buat makan siang yang banyak ntar juga dia mau kesini sama temen-temen yang lain, ada kerja kelompok." Ucap Aris.


"Baiklah. Jangan lupa kasih tau Mama nanti yang mana orangnya." Ucap Wina.


"Siap Ma." Aris pun beranjak dari kursinya kemudian pergi ke kamar.


Selesai sarapan, Wina membereskan meja makan sedangkan Iwan sedang bersiap-siap untuk ke kantor. Meskipun sekarang hari sabtu tapi pria itu tetap pergi ke perusahaannya karena di perusahaan miliknya hanya diperkenankan libur hari minggu saja. Berbeda dengan lembaga pendidikan yang libur dua hari dalam seminggu yakni sabtu dan minggu.


Wina dibantu oleh asisten rumah tangganya kini berada di dapur sedang menyiapkan hidangan untuk makan siang dan kue-kue untuk disajikan pada teman-teman putranya nanti. Ia sangat semangat menyiapkan semuanya. rasanya sudah tak sabar ingin melihat gadis yang sudah bisa membuat putranya begitu bahagia setiap hari.


Waktu menunjukan pukul sepuluh siang, Aris sedang duduk di teras rumahnya menunggu kedatangan teman-temannya. Tak lama mobil merah milik Dita terparkir di halaman rumahnya. Aris langsung menghampiri mobil itu dan membuka pintu belakang tempat kekasihnya berada.


Kini Anna, Dita, Rani, Dewi dan Irpan tengah berada di ruang tamu membahas tugas kuliah mereka.


"Bentar yah gue ke belakang dulu, kalian pada mau minum apa?" tanya Aris.

__ADS_1


"Apa aja bebas gue mah yang penting jangan air kran." jawab Dita.


"Yang lu mau minum apa?" tanya Aris pada Anna yang masih saja fokus dengan laptop di hadapannya. Walaupun kini sidah tak cupu lagi tetap saja sifatnya masih seperti dulu, perfeksionis dan selalu berharap apa yang ia kerjakan memperoleh nilai yang sempurna.


Karena tak mendapat jawaban Aris menyubit pipi gadisnya,hingga membuat gadis dengan rambut sebahu itu menoleh. "Apaan sih yang?" tanyanya sambil mengelus pipi gang baru saja mendapat cubitan dari orang tersayang.


"Mau minum apa?" tanya Aris dengan senyuman yang begitu manis.


"Apa aja gue ngikut aja." jawab Anna kemudian kembali memfokuskan pandangannya pada laptop.


"Kalian jangan mesra-mesraan di hadapan gue, please. ini jiwa jomblo gue meronta-ronta." Cibir Dewi.


"Tau ih kita di anggapnya kaga ada kalinya. apa kita dianggap patung gitu apa pajangan kali hahahaha." ujar Rani.


"Sirik aja. tunggu bentar gue ke belakang sekalian nyuruh Bi Ijah buat bikinin minuman."


Tak lama Aris malah kembali dengan Mamanya yang membawa nampan berisi minuman dan makanan ringan.


"Buat kalian nih minum dulu sama di makan kuenya. Ini Tante bikin spesial loh buat kalian." sepeti biasa Wina menyapa teman-teman putranya dengan ramah.


"Makasih Tan. kita jadi ngrepotin nih." ucap Dita.


"Tidak apa-apa. Tante senang kok kalo temen-temen Aris pada main kesini. Tante tingga ke belakang dulu yah." Wina pergi meninggalkan mereka.


Dari kejauhan Wina memandangi satu-persatu teman putranya. Dia penasaran yang mana kira-kira pacar putranya itu. Hingga pandangannya berhenti di gadis dengan poni dan rambut sebahu yang sedang fokus dengan laptop dipangkuannya. "Gadis itu?"


.


.


.


Maafkan baru up. biasanya aku nulis malem jam 10 an trus aku publish jam 00.01 tapi semalem aku ketiduran saking teparnya.


happy reading. jang lupa like dam komentarnya.

__ADS_1


__ADS_2