Bukan Perjodohan

Bukan Perjodohan
55. Selembar Foto


__ADS_3

Aris dan Anna tersenyum melihat Leni yang tiba-tiba pergi begitu tahu Aris datang bersama Anna, bahkan Wina terlihat sangat menyayangi Anna dan memperkenalkan gadis itu sebagai calon menantunya.


Aris lantas berpamitan pada Wina dan teman-temannya untuk pergi terlebih dahulu.


"Ma Aris pergi duluan sama Anna yah."


"Iya hati-hati."


"Semuanya kami duluan." Ucap Anna berpamitan. Keduanya pun keluar dari rumah mewah tempat pernikahan itu.


Di dalam mobil, senyum Anna selalu merekah. Hati ini rasanya seperti mendapat jackpot beruntun. Bisa pergi bersama Wina dan yang lebih membahagiakan dia tidak menyangka Wina menganggapnya sebagai calon mantu, pacaran dengan Aris saja masih hitungan bulan.


"Keliatan banget kalo lagi seneng." Sindir Aris.


Anna hanya menoleh ke arah Aris dan tersenyum memamerkan deretan gigi putihnya.


"Segitu senengnya calon istri." Ucap Aris lalu mencubit pipi Anna dengan tangan kirinya.


"Apa? Istri? Jauh banget pikirannya." Ujar Anna.


"Emang kaga mau jadi istri gue?"


"Bukannya ngga mau, cuma ya belum kepikiran aja sampe sana. Kita jalani aja lagian kita kan pacaran baru beberapa bulan."


"Tapi gimana yah. Gue udah hakin sih lu jodoh gue. Apa pun yang terjadi gue pasti perjuangin lu." Ucap Aris penuh dengan keyakinan. Sementara Anna hanya mengangguk saja mendengarkan penuturan Aris.


***


Leni baru saja kembali dari toilet, ia duduk di kursi yang sebelumnya ia tinggalkan. Lantas gadis itu mengedarkan pandangannya mencari Aris dan Anna. Namun dia tak bisa menemukannya.


"Aris kemana Bu?" Tanyanya pada Siska.

__ADS_1


"Udah pergi tadi pas kamu ke toilet." Jawab Siska.


Sementara itu Wina nampak asik mengobrol dengan rekan-rekan arisannya.


"Jeng senengnya mantunya manis banget." Puji Ilma.


"Iya. Selain manis anak itu juga baik dan ramah." Jawab Wina.


"Tante Leni juga ga kalah baik dan ramah. Apa sih kurangnya Leni dibanding Anna? Lagi pula kan Tante lebih dulu kenal sama Leni. Kok bisa Tante malah merestui A,is sama Anna padahal kan Tante belum kenal baik sama Anna." Keluh Leni.


Mendengar celotehan anaknya, Siska jadi merasa tak enak pada Wina. Karena kata-kata putrinya itu terdengar seolah meragukan keputusan Wina.


"Hust kamu tidak boleh berbicara seperti itu Len. Tidak baik." Ucap Siska.


"Tapi kan Bu, Leni...."


"Udah diem." Ucap Siska.


"Tidak apa-apa Jeng. Memang benar kata Leni, saya belum lama mengenal gadis itu. Bahkan lebih dulu mengenal Leni dari pada dia. Leni gadis yang baik Tante tau itu. Tapi Tante tak bisa memaksakan keinginan kamu. Tante tahu kamu suka sama anak Tante, tapi maaf Tante tidak bisa memaksa Aris. Kebahagiaan Aris adalah yang paling utama buat Tante. Kamu bisa dapatkan laki-laki yang lain yang juga baik untuk kamu." Tutur Wina.


"Jeng ini maaf loh yah kata-kata Leni barusan kurang sopan." Ucap Siska.


"Tidak apa-apa Jeng namanya juga anak-anak mereka belum cukup dewasa. Sebenarnya pacar Aris tuh kaya ngga asing buat saya. Wajahnya mirip seseorang yang saya kenal di masa lalu. Tapi sampe sekarang saya belum inget siapa orang itu." Tutur Wina.


"Hahaha sama Jeng saya juga suka gitu loh. Kadang hapal wajah aja tapi ngga hapal namanya. Mungkin kalo Jeng Wina liat foto orang itu Jeng bisa ingat siapa orang itu." Ucap Ilma.


"Iya Jeng. Coba nanti pulang dari sini saya mau buka-buka album kenangan pas saya sekolah dulu. Siapa tau pacar putra saya itu anak temen sekolah saya." Ucap Wina.


Waktu sudah menunjukan pukul satu siang, Wina dan teman-temannya pun berpamitan kepada pemilik acara.


Setibanya di rumah Wina langsung menuju kamarnya, ia mencari album kenangan saat ia sekolah dulu. Ia mengambil kembali kardus yang berisi foto-foto yang sudah ia simpan dengan rapi sejak lama. Ia membawa kardus dengan ukuran sedang itu ke ranjang gempat tidurnya.

__ADS_1


Wina membuka satu-persatu album kenangan yang berisi foto-fotonya dan teman-teman satu sekolahnya. Dari mulai album kenangan saat SMP, SMA, saat kuliah hingga kumpulan foto saat ia bekerja di perusahaan Ayahnya.


Senyum itu muncul membarengi tangannya yang membuka tiap lembar album foto. Seperti kembali ke masa lalu. Dilihatnya dirinya yang masih muda dengan celana lanjang dan kemeja yang ia kenakan sedang berdiri di depan kelasnya saat kuliah. "Ternyata waktu sangat cepat berlalu. Bahkan putraku sekarang sudah kuliah." Gumamnya.


Selesai melihat semua foto-fotonya di masa lalu Wina kembali merapikan album-album fotonya. Memasukan beberapa album tebal itu ke dalam kardus dan menyimpannya kembali.


"Semua album sudah aku buka, tapi kenapa tak ada satu pun foto yang mirip dengan Anna. Padahal aku yakin, aku benar-benar mengenal seseorang dengan wajah yang sangat mirip dengan Anna." Ucap Wina pada dirinya sendiri.


Hingga jam makan malam tiba Wina masih terus mencoba mengingat-ingat seseorang itu. Hingga ia gak sadar kini putranya sudah duduk berhadapan dengannya untuk makan malam.


"Ma lagi mikirin apa sih?"


"Ngga mikirin apa-apa. Kamu makan aja."


"Jangan-jangan Mama lagi mikirin ayah yah? Baru juga dua hari Ma." Ledek Aris. Karena untuk perjalanan bisnis kali ini yang Iwan lakukan memang akan berlangsung cukup lama. Sekitar tiga minggu karena pria itu harus mengurus masalah tenaga kerja yang kecelakaan di salah satu pabrik cabang perusahaannya.


"Iya iya udah kamu makan aja."


"Kalo lagi kangen suka sensitif." Ledek Aris kemudian kabur ke kamarnya.


Mendengar ledekan putranya, Wina tiba-tiba jadi kepikiran soal perubahan sikap Iwan yang akhir-akhir ini jadi lebih suka menghabiskan waktu di ruang kerjanya dan keluar dengan raut wajah yang murung.


Sudah sejak lama Wina ingin mencari tau penyebab perubahan sikap suaminya itu. Hingga kini ia berjalan menuju ruang kerja Iwan. Ia mengamati satu persatu benda yang ada di sana. "Tak ada yang aneh" ucapnya.


Wina hendak keluar dari ruangan itu, tapi ia teringat belum memeriksa laci meja kerja suaminya. Kemudian ia membuka laci itu yang ternyata tidak dikunci. Ia mendapati sebuah buku tebal yang biasanya di letakan di rak buku. Wina memutuskan untuk meletakan buku itu ke rak buku namun saat ia mengambil buku itu dan menutup lacinya tiba-tiba ada selembar kertas yang terjatuh dari dalam buku itu.


Wina kemudian berjongkok untuk mengambil kertas itu dengan tangan kanannya sementara tangan kirinya masih memegang buku yang tebal tadi. Wina bangkit berdiri, dan melihat gambar dibalik kertas itu yang ternyata sebuah foto wanita yang tengah tersenyum manis. Reflek ia langsung menjatuhkan buku di tangan kirinya. Wina kini ambruk dan menjatuhkan dirinya di lantai. Sekali melihat foto itu tenaganya bagai terkuras habis dan air mata langsung membasahi pipinya.


.


.

__ADS_1


.


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMENTARNYA.


__ADS_2