Bukan Perjodohan

Bukan Perjodohan
42. Diblokir


__ADS_3

Aris menatap kepergian Anna. Gadis itu melewatinya begitu saja. Aris bahkan masih mematung di tempatnya meski kini Anna tak lagi ada di kamar itu. Bagaimana bisa tadi dia begitu bahagia karena Anna sudah mengetahui


kebenaran dari kesalahpahaman mereka selama ini. Dunia berasa jungkir balik begitu


cepat.


Aris menatap penuh benci pada gadis yang kini masih memegang lengannya. “Lepasin tangan gue!” Aris menghempaskan angan gadis itu kasar.


Leni yang melihat raut wajah Aris penuh kemarahan tak lagi berani memegang lengan itu lagi. Ia menatap Aris dengan penuh ketakutan.


“Puas lu sekarang?” Bentak Aris.


“Gue kan udah jelasin ke lu, kalo tadi gue salah orang. Gue kira lu Anna. Tapi kenapa sekarang lu malah memperkeruh keadaan kaya gini. Bukannya bantuin jelasin ke Anna lu malah bikin Anna makin benci ke gue.”


“Tapi gue cinta sama lu Ris.” Ucap Leni sambil terisak menahan tangisnya.


“Tapi gue ngga cinta sama lu. Tadinya gue masih memperlakukan lu dengan baik karena lu sering pergi sama Mama gue. Tapi sekarang,


gue harap lu ngga pernah lagi muncul dihadapan gue.”


Mendengar kata-kata itu Leni langsung pergi meninggalkan kamar Anna. “Lu jahat Ris.”


Melihat sahabatnya yang masih berdiri sedari tadi, Irpan lantas menyuruhnya duduk dengan menepuk sofa di sebelahnya. “Duduk sini!” Aris pun mendudukan dirinya di samping Irpan.


Aris nampak kacau, ia mengacak rambutnya dan membuang nafasnya kasar huh.


“Lu tenang dulu. Biarin Anna nenangin dirinya dulu. Nanti kalo dia udah tenang baru lu jelasin semuanya ke Anna.” Ucap Irpan.


“Gue ngga tau harus gimana lagi. Gue pusing. Baru aja dia tahu kebenaran di balik kesalahpahamannya selama ini eh sekarang udah salah paham lagi."


***


Anna terus terisak sambil berjalan menuju pintu keluar rumah sakit, ketiga temannya hanya bisa diam dan mengikuti Anna. Karena percuma membujuk Anna saat ini tak akan membuahkan hasil karena gadis itu sedang kecewa tingkat dewa.


Permadi yang baru saja turun dari mobilnya heran melihat wajah sedih putrinya. Ia pun memandang penuh tanya ke arah tiga gadis yang merupakan sahabat anaknya, namun ketiganya hanya diam. “Baiklah ayo kita pulang.” Anna dan ketiga temannya pun masuk ke mobil Permadi.


Setibanya di rumah Anna langsung masuk ke kamarnya. Dita, Rani dan Dewi pun mengikuti Anna ke kamarnya. Anna nampak melamun sambil menatap langit-langit kamarnya. Sesekali air matanya lolos membasahi pipinya.


Dita mendekati Anna. “Udah jangan di inget-inget sebaiknyalu tidur sekarang.”

__ADS_1


“Hm.” Anna hanya berdehem menanggapi ucapan sahabatnya. Sekeras apa pun ia mencoba melupakan tapi bayangan itu selalu terlihat. Semakin ia mencoba melupakan bayangan itu malah terlihat makin nyata dan membuat hatinya semakin sakit.


“Apa ini balasan buat gue ya, selama ini gue selalu memperlakukan Aris dengan tidak baik. Jadi kayaknya dia sengaja ngedeketin gue,


bikin gue baper sama dia terus dia hancurin gue kaya gini.” Lagi-lagi aris mata


terjun bebas membasahi pipinya.


Rani dan Dewi mendekat dan memeluk sahabatnya. “Jangan mikir


yang aneh-aneh Na.” Ucap Rani sambil menghapus ar mata Anna.


“Tapi itu bisa aja kan Ran. Di dunia ini jarang ada lah orang yang udah nolong kita dan kita bukannya terimakasi malah benci ke dia. Jadi


wajar kalo dia pengen balas dendam dengan lebih menyakitkan ke kita Ran.”


“Udah-udah lu tidur aja deh. Pikiran lu udah ngelantur. Pikiran lu tuh terlalu jauh Na.” Ujar Dewi.


“Lu istirahat ya. Supaya pikiran lu ngga ngelantur. Kita mau pulang dulu ini udah sore.” Ucap Dita. Anna pu mengangguki ucapan Dita. Ketiganya lalu pergi meninggalkan kamar Anna.


Dita, Rani dan Dewi bertemu dengan Permadi di ruang tamu, ketiganya pun berpamitan untuk pulang. Namun sebelum mengijinkan mereka pulang Permadi menanyakan apa yang terjadi hingga Anna tampak begitu sedih. Permadi


sangat khawatir karena baru kali Anna terlihat sesedih itu. Bahkan sedihnya


impiannya.


Dita kemudian menceritakan kesalahpahaman Anna terhadap Aris. Permadi mendengarkan cerita Dita dengan seksama. Ia bisa menyimpulkan bahwa putrinya saat ini sedang patah hati. Hal yang wajar untuk remaja seperti anaknya.


“Terimakasih kalian selalu ada untuk Anna. Anna beruntung memiliki teman seperti kalian” Ucap Permadi .


“Sama-sama Om.” Ketiganya pun berpamitan kemudian meninggalkan rumah Anna.


Sementara itu di kediaman Aris. Lelaki itu sedang menerima ocehan Mamanya. Wina menasihati putranya habis-habisan ia kecewa karena Aris memperlakukan Leni dengan buruk. Wina hanya mendengar cerita dari sisi Leni


saja karena tadi Leni sepulang dari rumah sakit langsung mendatangi rumah Wina


dan menangis sambil menceritakan bahwa Aris memperlakukannya dengan buruk


bahkan membentaknya dengan kasar.

__ADS_1


“Aris apa Mama pernah mengajarimu untuk bertindak tidak baik?” bentak Wina.


“Mama selalu mengajarkanmu untuk memperlakukan orang lain


dengan baik, meskipun kamu tak menyukainya. Tapi apa yang kamu lakukan pada


Leni? Kamu membentaknya? Membuatnya menangis? Dia itu gadis yang baik.”


Aris mengangkat wajahnya dan memandang Mamanya. “Ma, Apa Mama akan memperlakukan orang lain dengan buruk apabila orang itu berlaku baik


pada kita? Aris hanya memperlakukan semua orang sesuai dengan apa yang mereka


lalukan pada Aris.” Setelah selesai dengan ucapannya Aris berlalu menuju


kamarnya meninggalkan Mamanya.


Wina memandang putranya yang pergi begitu saja. Ia sejenak menerung, baru kali ini putranya itu nampak begitu kacau. Ia kemudian berfikir tentang ucapan yang baru saja diucapkan anaknya. Benar juga selama ini Aris selalu memperlakukan orang lain dengan baik. Wina jadi merasa bersalah pada


anaknya. Kenapa dia tak berfikir jernih terlebih dahulu sebelum menceramahi


Aris, dirinya malah terbawa emosi dengan cerita Leni.


Wina beranjak dari duduknya dan berjalan ke kamar Aris, ia hendak masuk namun saat mencob amembuka pintu kamar itu ternyata pintunya terkunci. “Aris maafkan Mama Nak. Tak seharusnya Mama memarahimu.” Ucap Wina lalu pergi dari sana karena tak ada jawaban dari Aris.


Di dalam kamar Aris tidur terlentang sambilmeletakan tangan


kanannya di wajahnya dan enutupi matanya. Tangan kirinya yang sakit tak lagi


terasa sakit karena sakit hatinya melebihi sakit di tangannya. Ia mendengar


Mamanya mengetuk pintu dan memcoba membuka pintu kamarnya tapi ia


mengabaikannya. Yang ada di pikirannya saat ini hanya bagaimna cara bisa meyakinkan


Anna bahwa dia benar-benar salah paham terhadapnya.


Aris mengambil ponselnya, ia menghubungi Anna berulang kali tapi gadis itu tak juga menjawab panggilannya. Aris kemudian mengirim pesan pada Anna karena terlihat Anna online.


“Na angkat telpon gue” Telihat ceklis dua warna biru berati pesan sudah terbaca tapi tak ada balasan.

__ADS_1


“Na gue bisa jelasin semuanya.” Ceklis satu dan foto profil Anna tak lagi terlihat pertanda kontaknya di blokir.


JANGAN PELIT LIKE DAN KOMENTARNYA!


__ADS_2