
“Na tunggu! Ini ngga seperti yang lu pikirkan.” Teriak Aris yang sepertinya tak dihiraukan
oleh Anna. Gadis itu terus menjauh bahkan mempercepat langkahnya.
Aris meletakan kantung belanjaannya dan mengejar Anna. Sementara Leni terus saja
merutuki sikap Aris yang meninggalkannya begitu saja.
“Na Berhenti!”
“Anna.”
“Na please dengerin gue dulu!” Ucap Aris sambil memegang tangan Anna saat ia berhasil menyusul gadis itu.
“Lepasin gue!” Anna menghempaskan tangan Aris dengan kasar, tapi sayang ia tak berhasil
melepaskannya.
Aris membawa Anna kepelukannya, tapi gadis itu terus saja berontak dan berteriak minta
dilepaskan hingga mengundang perhatian umum, dan kini mereka menjadi tontonan. Dita, Dewi dan Rani hanya saling menggelengkan kepala mereka melihat tingkah sahabatnya yang kini jadi sorotan umum.
“Nih ya Dew lu yang jomblo gue kasih saran, jangan sampe lu kaya si Anna. Kalo suka mah tinggal bilang aja. Kalo kaya gini kan ribet urusannya.” Rani menasehati Dewi satu-satunya temannya yang masih jomblo.
Yang dinasehati hanya menganggukkan kepala dan mengacungkan dua jempolnya.
Sementara itu seorang gadis nampak meletakan belanjaannya dengan sembarangan melihat
orang yang ia sukai sedangan memeluk Anna.
Menyadari dirinya menjadi perhatian umum, Anna pun berhenti berteriak dan menurunkan
volume suaranya. “Lepasin gue, malu dilihatin orang banyak.” Ucap Anna lirih.
Aris pun mengedarkan pandangannya, benar saja saat ini mereka menjadi tontonan umum. Ia kemudian melepaskan pelukannya dan
menggandeng tangan Anna mengajaknya keluar dari tempat itu.
“Ris gue pulang gimana? Tante Wina kan udah nyuruh lu buat nganterin gue!” Teriak Leni.
Aris sejenak menghentikan langkahnya dan menengok ke arah Leni.
“Sorry, lu bisa kan balik sendiri.” Ucapnya lalu melanjutkan langkahnya. Anna sesekali
menoleh ke belakang melihat Leni yang pernah menemuinya di kampus dulu, gadis situ tampak marah.
Leni masih terpaku di tempatnya sedang orang-orang disekitarnya sudah mulai membubarkan
diri. Leni terus saja menatap kepergian Aris yang meninggalkannya begitu saja.
Tak terima dirinya diperlakukan seperti ini Leni pun memutuskan untuk tak kembali ke rumahnya malah kembali ke rumah Wina dengan tujuan untuk mengadu kelakuan Aris kepadanya yang tak menyenangkan.
Anna duduk di samping Aris yang tengah mengemudikan mobilnya. Sepanjang perjalanan tak ada percakapan diantara mereka.
“Lu mau gue antar kemana sekarang?” Aris menoleh pada Anna, terlihat gadis itu membuang tatapannya ke samping jalan untuk menghindarinya.
“Na.” Panggilnya lagi.
“terserah lu aja.” Jawab Anna seperlunya.
“Na gue minta maaf kalo ada salah sama lu. Tapi beneran tadi itu bukan siapa-siapa.
__ADS_1
Tadi gue cuma nganterin Mama belanja dan gadis itu ikut.” Ujar Aris.
“Terserah. Itu bukan urusan gue!”
“Tapi lu ngediemin gue Na.”
“Gue ngga ngediemin lu Ris. Terserah lu mau jalan sama siapa aja itu hak lu. Gue ngga ada hak buat ngelarang lu.” Ucap Anna sewot. Padahal jauh dilubuk hatinya ia tak rela Aris dekat dengan perempuan lain. Terlebih lagi itu Leni, Anna bisa melihat jelas kalo gadis itu menyukai lelaki yang kini berada di sampingnya.
Aris pun menoleh pada Anna sambil sesekali kembali fokus ke depan karena kini dirinya
sedang berkendara. “Na liat gue!” pinta Aris. Namun gadis itu terus mengabaikannya.
“Na liat gue!” Aris menengok ke Anna cukup lama hingga sedikit kehilangan fokusnya pada
kendaraan yang sedang ia bawa.
“Kalo gitu ayo jadikan diri lu berhak buat ngelarang gue, gue juga mau punya hak buat
ngelarang lu deket sama lelaki lain!” ucap Aris sambil menatap Anna.
Anna menolehkan wajahnya hingga tatapan mereka kini bertemu, Anna mencoba menerka
maksud dari perkataan Aris. Namun belum sempat Anna menjawab perhatiannya
dialihkan oleh bunyi sirine polisi. Hingga ia kembali melihat ke depan. Betapa
kagetnya Anna saat melihat dihadapan mereka terdapat mobil yang melaju kencang ke arah mereka dengan beberapa mobil polisi mengejar di belakangnya.
“Aris awas!” Teriak Anna.
Aris langsung melihat ke depan dan mencoba mengentikan mobilnya, tapi nampaknya
sia-sia saja karena kendaraanya dihadapannya melaju dengan kencang sehingga
Aris menahan tubuh Anna dengan lengan kirinya sehingga gadis itu tak kenapa-kenapa.
Sedangkan dirinya dengan kondisi yang tak terlihat baik-baik saja.
Anna masih sadar dengan tangan Aris yang kini terjatuh di pangkuannya. Anna sangat shock dengan kejadian itu, tak seberapa lama polisi membuka mobil mereka.
“Nona anda tidak apa-apa?”
Anna tak menjawab pertanyaan polisi tersebut, ia menoleh kesamping dilihatnya Aris
dengan darah yang mengalir dari kepalanya.
“Ris...Ris bangun!”
“Tolong teman saya!” Ucap Anna sambil menangis.
“Tolong tenangkan diri anda Nona, kami sudah menghubungi ambulan. Tunggu sebentar lagi ambulan pasti datang.
Anna tak menghiraukan ucapan polisi di sampingnya, fokusnya saat ini hanya pada Aris.
“Ris bangun jangan tinggalin gue.” Anna menggerakan punggung Aris. Ia terus menangis dengan memegang tangan Aris.
Tak lama Aris sadar, ia mengelus kepala Anna.
“Gue ngga apa-apa.” Ucapnya begitu lemah. Anna mendongakkan wajahnya. Dilihatnya Aris
yang lemah itu tetap tersenyum dan mengelus kepalanya.
__ADS_1
Melihat Aris sudah sadar tak membuat dirinya tenang, Anna terus saja menangis. Ia takut akan kehilangan orang yang mulai mengisi hatinya. Ambulan datang, Aris di di
tidurkan di blankar khusus kemudian pergi menuju rumah sakit dengan Anna yang
tentunya menemani di ambulan itu.
Sepanjang perjalananan ke rumah sakit Anna terus menangis sambil memeganggi tangan Aris.
“Ris maafin gue, kalo bukan karna gue yang ngambek kecelakaan ini pasti ngga akan terjadi.”
“Maafin gue.”
Aris tak mengeluarkan sepatah katapun, ia terus menatap Anna yang menangis.
Tangis Anna makin pecah saat Aris kehilangan kesadarannya. Ia berulang kali menyentuh pipi
Aris dan mengguncangkan tubuhnya.
“Aris bangun!”
“Maafin gue.”
“Bangun... gue pasti bakal jadiin diri gue berhak buat ngelarang lu deket sama cewek lain, ngelarang lu itu ini, ngatur lu ini itu. Tapi please bangun!” Ucap Anna di
sela-sela tangisnya.
“Bangun! Gue pasti nurutin semua yang lu mau kalo lu bangun Ris.” Ucapnya lemah hingga kini dirinya ikut tak sadarkan diri.
Petugas medis yang membawa mereka dibuat kaget karena Anna tak sadarkan diri, pasalnya
tadi saat mereka berangkat gadis itu masih sadar. Keduanya kemudian dibawa ke
unit gawat darurat.
Mereka berdua menerima pemeriksaan dokter, kini setalah di periksa dan menerima
perawatan keduanya di bawa ke ruang rawat inap. Kamar rawat inap Aris dan Anna
bersebelahan.
Anna masih belum sadarkan diri dengan selang infus yang menancap di tangan kirinya.
Terdapat perban yang menempel di dahinya, nampaknya gadis itu tekena pecahan
kaca.
Sementara keadaaan Aris di kamar sebelah nampak tertidur pulas dengan selang infus
menancap di tangan kirinya. Kain kassa putih mengelilingi kepala lelaki tampan
itu, serta tangan kanannya pun di perban.
.
.
.
.
AKU NGETIKNYA KEBAWA BAPER.
__ADS_1
KITA DO’AKAN SEMOGA ABIS INI ARIS NGGA AMNESIA YAH.
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN.