Bukan Perjodohan

Bukan Perjodohan
62. Terungkap


__ADS_3

“Ayah aku ini anak siapa?” Tanya Anna setelah duduk di samping ayahnya.


Permadi menoleh ke samping dan mengacak gemas rambut putrinya. Bisa-bisanya pertanyaan konyol itu keluar dari mulut putrinya. Sudah jelas Anna adalah putrinya.


“Tentu saja kamu anak Ayah dan Ibu sayang.” Ucap Permadi.


“Tapi yah.” Ucap Anna tertahan. Ia bingung harus bagaimana berbicara dengan ayahnya terkait dirinya yang katanya adalah anak hasil selingkuhan ibunya dengan ayah Aris. Anna takut membuka luka lama Ayahnya. Jika ia menanyakan hal ini pasti ayahnya yang akan sangat terluka karena harus mengingat pengkhianatan istrinya. “Argh sungguh membingungkan.” Batin Anna.


“Tapi apa?” Tanya Permadi.


“Ah Engga.” Ucap Anna. “Apa ayah kenal dengan Om Iwan? Anna pernah ketemu Om Iwan di perusahaannya waktu Anna kunjungan industry.” Lanjut Anna.


“Maksud kamu Iwan Ceo PT Margajaya Abadi?”


“Iya Yah.”


“Tentu saja Ayah kenal. Kita teman kuliah dulu. Bahkan Ayah dan ibu satu kampus dengan dia.” Ujar Permadi.


“Oh.” Anna hanya ber oh ria mendengar jawaban ayahnya.


“Ayah tau ada yang kamu sembunyikan. Bicara jujur sama Ayah.”


Anna pun bingung harus memulai dari mana. “Gini yah, sebenernya Aris itu anaknya Om Iwan. Anna juga pernah ketemu Om Iwan dan Om Iwan bilang salam buat Ayah sama Ibu.”


“Terus?” Tanya Permadi.


Anna pun tak punya pilihan lain. Ia menceritakan kekacauan yang dialaminya selama seminggu ini. Dari Aris yang tiba-tiba mengakhiri hubungan mereka hingga alasan di balik sandiwara Aris dengan Leni yang membuatnya begitu menderita.


Permadi memeluk putrinya dan mengelus punggung putrinya dengan lembut. Sungguh konyol putrinya harus mengalami semua ini hanya karena selembar foto dan kesimpulan tanpa bukti yang Wina ambil saat melihat Iwan dan Sintia bersama di Mall. “Sudah kamu jangan nangis lagi semua tak seperti yang kamu pikirkan.”


.


.

__ADS_1


.


Aris tiba di rumahnya. Diliriknya di halaman rumahnya sudah terparkir mobil hitam milik ayahnya, berarti pria itu sudah kembai dari perjalanan bisnisnya di luar kota. Lebih cepat dari perkiraan, waktu itu ayahnya bilang akan pergi untuk tiga minggu tapi kali ini baru dua minggu ayahnya sudah kembali.


“Syukurlah gue bisa langsung tanyain ke ayah.” Ucapnya sambil turun dari mobilnya.


Aris masuk ke dalam rumahnya dan menghampiri kedua orang tuanya yang sedang makan malam. Secara bergantian Aris menyalami kedua orangtuanya kemudian duduk di samping ayahnya.


Sebentar ia melirik ke arah Wina, terlihat Mamanya itu bersikap biasa saja, seolah tak terjadi apa pun. Padahal Aris tau malam itu Wina menangis habis-habisan di ruang kerja Iwan.


Wina memberikan piring yang sudah terisi makanan pada putranya. Aris menerima piring itu kemudian memulai makan malamnya sambil sesekali melirik ke ayahnya yang nampak begitu tenang. “Bisa-bisanya ayah selingkuh.” Gumam Aris lirih yang masih bisa di dengar oleh Wina dan Iwan.


Wina dan Iwan seketika mengentikan kegiatan makan mereka dan terdiam dengan ucapan yang baru saja keluar dari mulut putranya. Wina begitu takut Iwan akan marah dengan kata-kata Aris barusan.


“Kamu bilang apa?” Bentak Iwan.


Aris meletakan alat makannya dan menatap ayahnya dengan tajam, tak menyangka pria yang selama ini begitu ia hormati merupakan seseorang yang sudah berselingkuh dari istrinya hingga memiliki putri dari selingkuhannya.


“Ya Aris kecewa sama Ayah. Bisa-bisanya ayah selingkuh sampe punya anak. Dan parahnya, anak hasil selingkuhan ayah itu pacarku.” Ucap Aris dengan penuh emosi.


“Hentikan.” Teriak Wina. Hingga akhirnya Iwan kembali duduk. Sedangkan Aris beranjak pergi dari ruang makan. Tak lama Aris kembali dengan membawa foto Sintia yang baru saja ia ambil dari ruang kerja Iwan.


Aris meletakan foto itu di depan Iwan. Iwan memandangi foto itu. “Sintia.” Batinnya.


“Jelasin Ayah! Apa benar wanita itu adalah ibu Anna?” Tanya Aris.


“Iya dia ibu Anna. Namanya Sintia.” Jawab Iwan dengan tenang namun malah membuat emosi Aris semakin menjadi-jadi.


“Jadi benar kalo kekasihku itu adikku? Aku tidak pernah menyangka kalo ayah sebrengsek itu.” Ucap Aris sambil menggebrak meja makan untuk meluapkan emosinya.


Iwan jadi bingung bagaimana bisa putranya mengatakan dirinya brengsek hanya karena menjawab Anna adalah putri Sintia.


“Kamu jangan gila Ris.” Bentak Iwan.

__ADS_1


“Bagaimana bisa Anna iu adikmu hah? Kamu itu anakku satu-satunya!” Ucap Iwan.


Aris bagai mendapatkan udara baru setelah sekian lama sesak menghampiri hatinya mendengar ucapan Iwan. Yang Aris tau ayahnya tak pernah membohonginya.


“Ayah beneran aku ini anak ayah satu-satunya?” Tanya Aris.


“Tentu saja. Dasar bodoh bisa-bisanya kamu bilang ayahmu brengsek.”


Aris langsung memeluk Iwan, bahkan mencium kedua pipi ayahnya itu. Ia begitu senang dengan kenyataan Anna bukan adiknya dan kisah hidupnya tak sekonyol sinetron channel ikan terbang. “Makasih ayah. Kali ini aku benar-benar bangga menjadi anakmu satu-satunya.”


Wajah ceria dan senyum bahagia putranya telah kembali, tapi entah kenapa hati Wina belum tenang. Ia masih meyakini Anna adalah anak Iwan.


“Tapi Mas waktu itu. Dua puluh tahun lalu aku melihatmu dengan Sintia di sebuah Mall. Sintia juga tengah hamil dan kau terlihat begitu bahagia bahkan mengelus perut buncit Sintia.” Wina berkata di sela-sela air matanya yang mulai menetes.


“Astaga jadi kau mengira Anna itu anakku hanya karena melihat hal itu?”


“Hm iya.” Jawab Wina sambil menyeka air matanya.


“Jujur saja tak mudah bagiku untuk mencintaimu. Seperti yang kita ketahui, aku menikahimu setelah meninggalkan Sintia. Tak mudah bagiku melupakan wanita yang begitu aku cintai. Demi perjodohan kita aku meninggalkannya. Tapi sejak kau selalu memperlakukan aku dengan baik bahkan saat kau tau aku masih sering menemui Sintia membuatku hatiku sedikit demi sedikit luluh dan mulai menerima kau sebagai istriku dan belajar mencintaimu. Begitu juga dengan Sintia dia selalu menolak setiap kali aku mendekatinya dan menasehatiku supaya menerimamu, selain itu kala itu dia juga mulai membuka hati untuk Permadi, sahabatku sejak SMA. Setelah itu aku tak pernah menemuinya lagi, hingga setelah sekian lama aku bertemu dengannya di mall. Dia sedang berbelanja dengan Permadi, suaminya. Mungkin saat itu yang kau lihat hanya aku dan Sintia karena Permadi sedang meletakan belanjaan mereka ke mobil.” Tutur Iwan panjang lebar.


Wina terpaku dengan penjelasan Iwan. Ternyata selama ini dirinya telah salah paham. Bahkan melibatkan putranya juga terkena imbasnya.


“Maafkan aku.” Ucap Wina.


“Sudah tak apa-apa.” Iwan pun menghampiri Wina dan memeluk istrinya yang sedang menangis itu.


.


.


.


Yes akhirnya berakhir juga. Gimana kalian seneng ga ternyata mereka bukan saudara.

__ADS_1


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMENTARNYA.


__ADS_2