Bukan Perjodohan

Bukan Perjodohan
63. Bukan Perjodohan


__ADS_3

Aris begitu bahagia melihat kedua orang tuanya. Selain itu ia juga sangat senang dengan kenyataan yang baru saja di dengarnya. Ternyata kekasihnya bukanlah adiknya. Kini yang ia inginkan hanyalah segera menemui Anna dan menjelaskan semua pada pada gadis itu. Aris melihat jam di tangan kirinya. Baru jam tujuh malam, masih bisa jika langsung menuju ke rumah Anna saat ini.


“Ayah Mama Aris mau pamit dulu.”


“Mau kemana?” Tanya Wina.


“Aku harus ke rumah Anna Ma. Aku harus jelasin semuanya.” Jawab Aris.


“Memang apa yang kamu lakukan? Jangan bilang kalo kamu sudah mengakhiri hubungan kalian?” Tanya Wina.


“Iya aku sudah mengakhirinya, bahkan aku mengajak Leni untuk berpura-pura jadi pacarku untuk membuat Anna membenciku.” Ucap Aris.


“Astaga Aris. Bisa-bisanya kamu membuat anak teman ayah menderita.” Ucap Iwan. “Sudah sekarag sudah malam. Sebaiknya kamu istirahat saja. Besok kita sama-sama ke rumah Permadi. Ayah juga sudah lama tak bertemu dengannya.” Ucap Iwan.


Aris tak punya pilihan lain, mengunjungi Anna dengan kedua orang tuanya akan lebih mudah mendapatkan maaf dari gadis itu dari pada harus berusaha seorang diri. Aris meninggalkan kedua orang tuanya dan masuk ke kamarnya.


Di kamarnya ia langsung merebahkan dirinya di ranjang. Membuka ponselnya dan memandangi potret dirinya dan Anna yang masih tersimpan di galeri ponselnya. “Tunggu besok sayang, gue pastiin lu bener-bener jadi milik gue selamanya.”


Sementara itu di kediaman Anna. Senyum yang selama seminggu ini menghilang perlahan mulai menghiasi wajahnya kembali setelah mendengarkan penjelasan Permadi. Penjelasan yang persis seperti yang di bicarakan Iwan kepada Wina saat mereka bertemu di mall.


Tak lupa Permadi juga menceritakan bahwa dirinya, Sinta dan Iwan merupakan teman kuliah. Sedangan dia dan Iwan saling kenal dan bersahabat sejak SMA. Karena perjodohan Iwan yang merupakan kekasih Sintia meninggalkannya. Hingga akhirnya Sintia menikah dan memiliki Anna.


Setelah mendengar penuturan Ayahnya, Anna kembali ke kamarnya dengan hati yang sangat bahagia. Bagaikan hujan yang membasahi tanah setelah sekian lama kemarau hatinya begitu bahagia. Seperti bau tanah saat pertama hujan turun menyejukan jiwa.


Seperti biasa gadis itu merebahkan tubuhnya di ranjang dan menatap langit-langit kamarnya. “Ya kejelasan dirinya dan Aris bukanlah saudara sangat melegakan, tapi bagaimana hubungan gue sama Aris sekarang ngga jelas.” Batinnya.


Pagi hari pukul tujuh pagi, Anna dan Permadi sedang sarapan dikejutkan dengan suara klakson mobil. “Bentar Ayah lihat dulu, kamu lanjutin aja sarapannya.”


Permadi beranjak dari kursinya dan berjalan ke luar rumah. Dilihatnya dua buah mobil terparkir di halaman rumahnya. Mobil putih itu, ia tau itu mobil Aris tapi yang satu lagi ia tak tau. Tak lama keluar Aris dari mobilnya, di susul dua orang yang juga ia kenal keluar dari mobil yang satunya lagi. “Iwan, Wina.” Ucap Permadi lirih lalu menghampiri sahabatnya.


“Kalian?” Sapa Permadi.

__ADS_1


“Lama tidak bertemu.” Ucap Iwan yang langsung memeluk sahabatnya.


Aris pun tak mau kalah dengan Ayahnya, ia menyalami Permadi yang sudah ia yakini bakal jadi mertuanya kelak.


“Ayo masuk.” Ajak Permadi. Ketiganya pun berjalan mengikuti Permadi masuk ke rumah minimalis itu.” Sekalian sarapan bareng. Kalian pasti belum sarapan kan jam segini sudah sampai sini” ledek Permadi.


“Tau aja hehe..” Jawab Iwan.


“Iya soalnya bujang kita ini udah ngga sabar pengen ketemu putrimu.” Ucap Wina.


Permadi mengajak keluarga ke ruang makan. Anna yang tak tau tetap asik menikmati sarapannya. Roti tawar yang dioles selai coklat kesukaannya. Iwan, Wina dan Aris tersenyum melihat Anna yang sedang memakan rotinya. Apalagi melihat penampilan gadis itu yang sungguh menggemaskan.


“Ehm..” Permadi berdehem supaya putrinya sadar kalo dihadapannya kini terdapat Aris dan keluarganya.


“Siapa yang datang Yah?” Anna pun melihat ke arah ayahnya yang kini tengah berdiri tak jauh dari meja makan bersama Aris dan keluarganya.


Anna terkejut dan langsung berdiri meletakan rotinya kembali ke piring. Iya mengamati penampilan Aris yangbegitu tampan seperti biasanya. Sedangkan dirinya saat ini masih memakai piama tidur gambar kodok hijau keroppi kesayangannya dan rambut yang hanya di ikat asal tanpa di sisir terlebih dahulu.


“O..Om Tante selamat pagi ucapnya gugup.” Ucap Anna gugup.


Kini semua telah duduk di meja makan. Aris duduk di samping Anna. Di sela-sela sarapan mereka Iwan mengutarakan maksud kedatangannya yakni untuk meluruskan kesalahpahaman diantara anak mereka. Semua yang ada di meja makan hanya bisa tertawa dengan kesalahapahaman yang mengira Anna dan Aris adalah saudara.


“Maafkan aku Madi. Aku yang menyebabkan hubungan anak-anak kita menjadi kacau.” Ucap Wina.


“Tak apa-apa Wina. Lagi pula kini semua sudah jelas.” Ucap Permadi.


Anna dan Aris hanya saling pandang mendegar pembicaraan orang tua mereka. “Lanjutin makannya.” Ucap Aris sambil mengacak rambut Anna yang memang sudah acak-acakan sebelumnya.


“Gimana kalo kita jodohin aja anak-anak kita?” Usul Iwan.


“Hahaha saya sutuju itu.” Ucap Permadi.

__ADS_1


Anna dan Aris saling pandang sebelum akhirnya kata-kata itu keluar dari bibir Aris.


“Aku tidak mau.” Ucap Aris dengan keras.


Anna menoleh ke samping dan melihat kekasihya. Eh mantan kekasihnya karena kemarin mereka abis putus dan belum balikan lagi. “Apa dia bilang? Ngga mau? Dasar.” Batin Anna.


Wina, Iwan dan Permadi begitu terkejut dengan jawaban Aris yang mengatakan tidak mau, padahal semua tau seperti apa hubungan yang terjalin diantara anak-anaknya.


“Kenapa? Bukannya semalem kamu yang buru-buru mau ketemu Anna dan sekarang kenapa kamu malah tidak mau kami jodohkan? Bukankah sebelumnya kalian sudah pacaran.” Tutur Wina.


“Maksud aku, aku tuh tidak mau dijodohkan Ma, Ayah, Om. Karena ini BUKAN PERJODOHAN! Akun dan Anna bahkan sudah saling cinta sebelum tahu kalian adalah sahabat dari masa lalu.” Ucap Aris sambil tersenyum bahagia. “Iya kan yang?” Ucapnya sambil kembali mengacak rambut gadis di sampinya lagi. Anna hanya mengangguk malu dengan dengan ucapan lelaki di sampingnya.


Seminggu setelah itu Aris dan Anna melangsungkan pertunangan mereka dan memutuskan untuk menikah setelah mereka lulus kuliah nanti. Pesta pertunangan itu di gelar cukup mewah dengan menguundang rekan-rekan bisnis Iwan dan teman-teman Permadi. Tak ketinggalan teman-teman sekelas Anna dan Aris juga turut diundang di acara yang membahagiakan itu.


“Selamat semoga kalian langeng selalu sampe nikah.” Ucap Leni yang menghadiri acara itu dengan kedua orang tuanya.


“Makasih. Lu pasti bisa dapetin yang lebih dari gue.” Ucap Aris.


Kini giliran Dita, Rani, Dewi dan Irpan yang mengucapkan selamat pada sahabatanya.


“Lu cantik banget malam ini. Selamat ya gue seneng banget liat lu bahagia seperti ini.” Ucap Dita lalu memeluk Anna bergantian dengan Dewi dan Rani.


“Selamat Ris. Kali ini lu harus jaga Anna baik-baik. Jangan sampe lu buat dia nagis lagi.” Ucap Irpan.


“Pasti. Makasih untuk kalian smua yang selalu ada buat gue dan Anna.”


Cincin dengan desain sederhana namun elegan itu sudah terpasang di jari manis Anna dan juga Aris. Kini keduanya tengah menghadap kamera mengabadikan moment bahagia mereka.


***END***


Terimakasih untuk semua yang sudah membaca kisah ini. Terimakasih juga untuk kalian yang selalu memberikan semangat untukku.

__ADS_1


Baca juga karya baruku JODOH DARI GC



__ADS_2