
Hari senin telah kembali menyapa rutinitas mahasiswa pun dimulai kembali, seperti saat ini semua mahasiswa tengah mengikuti perkuliahan.
Sejak duduk dibangkunya Anna merasa aneh karena dirinya tidak bisa bergerak dengan bebas dan terbukti saat jam kuliah berakhir dan dirinya hendak berdiri untuk meninggalkan kelas malah roknya robek karena ternyata ada yang nampaknya dengan sengaja mengoleskan lem korea yang dikenal dengan perekat super itu. Teman-temannya telah pergi terlebih dahulu hanya menyisakan Dita.
“Ta” ucap Anna sambil menarik tangan Dita yang hendak pergi meninggalkan kelas. Dita menatap Anna dengan heran ia menyadari ada yang aneh denga temannya itu.
“Gue ngga bisa balik kamar Ta, rok gue robek.” Ucap Anna dengan wajah yang sudah panik karena bagaimana mungkin dia melewati kampus menuju asrama dengan rok yang robek dirinya bisa jadi bahan ledekan orang nantinya.
“Om My God.” Ucap Dita terkejut.
“Gimana ini Ta gue ngga mau keluar kelas malu.” Ucap Anna sambil melihat ke sekeliling kelasnya dan ternyata masih banyak teman-temannya disitu. Saat tatapannya bertemu dengan mata Irpan seketika senyum padanya. Lain halnya saat tatapannya bertemu dengan tatapan Aris yang kini duduk disamping Irpan cowok itu malah menjulurkan lidahnya dengan tampang mengejek.
“Udah lu tenang aja Na. Gue bakalan balik ke kamar duluan ngambil baju buat nutupin rok lu. Lu tunggu disini.” Ucap Dita menenangkan temannya yang sedang gelisah.
Dita meninggalkan Anna, ia berjalan setengah berlari menuju kamarnya.
“Huh ada-ada aja. Bisa-bisanya mahasiswa mainannya kaya gini. Padahal kalo ada masalah kan bisa diselesaikan dengan baik-baik ngga usah lah pake ngejailin kaya gini.” Batin Dita.
Sementara itu di kelas Lisa, Maya dan Fira menghampiri Anna yang sedang gelisah. Selain gelisah karena roknya yang robek lebih parah lagi kali ini gadis itu merasa perlu ke toilet untuk buang air kecil. Rasanya dia tidak akan kuat jika harus menunggu Dita tapi dia menahannya.
“Rasain! Itu balasan buat cewek cupu kaya lu yang ngga tau diri.” Ucap Lisa.
“Itu balesan buat lu yang ngga bisa diajarin pake omongan, jadi selamat menikmati.” Ucap Fira. Kemudian ketinganya pun pergi meninggalkan Anna yang hampir menangis disana.
Anna berusaha menahan air matanya agar tak jatuh.
“Kenapa? Kenapa gue harus ngalamin semua ini, salah apa gue? Gue ngga pernah ngedeketin Irpan seperti yang mereka kira.” Batin Anna.
Ia kembali melihat ke sekelilingnya yang sepertinya teman-teman sekelasnya sudah mulai meninggalkan kelas. Tak lama nampak Aris melewati Anna.
“Kenapa lu diem aja? Kelas udah buabar. Lu mau nginep disini hah?” ledek Aris yang kemudian meninggalkan Anna.
Anna menatap Aris kesal meski dengan wajah sendunya yang hampir menangis.
Anna merasa hasrat buang ari kecilnya sudah tak bisa tertahan lagi.
“Kenapa Dita lama banget sih.” Gumamnya.
Irpan menyadari ada yang aneh dengan gadis yang ia sukai saat ia melihat Anna berdiri kemudian menyadarkan dirinya ke tempok dan berjalan keluar kelas dengan tubuh yang menepel pada tembok. Dengan sigap dia menghampiri Anna.
“Lu ngga apa –apa?” tanya Irpan.
__ADS_1
Anna tak menjawab pertanyaan Irpan dia hanya diam mematung karena tak mungkin dia bilang kalo rok nya robek.
Irpan melepas kemeja bergaris yang ia pakai hingga hanya menyisakan kaos polos yang melekat ditubuhnya kini. Kemudian Ia membalutkan kemejanya pada rok Anna seolah ia tau ada yang salah dengan rok yang dipakai oleh gadis yang disukainya itu.
Anna tak berucapa apa pun ia benar-benar merasa terselamatkan oleh Irpan kali ini.
Sementara itu Aris yang sudah sampai halaman kampus tiba-tiba teringat akan Anna. Ada yang aneh dengan gadis yang kini wajahnya mulai merasuki pikirannya itu. Ia segera kembali ke kelas dengan setengah berlari untuk melihat Anna. Dia takut terjadi hal buruk pada gadis itu karena tidak biasanya dia terlihat segelisah tadi.
Langka panjangnya tiba-tiba terhenti saat ia melihat Anna dan Irpan di depan kelas mereka.
Irpan terlihat sedang membuka kemejanya kemudian menutupi rok Anna dengan kemejanya. Terlihat jelas keduanya sangat dekat.
Melihat itu ada rasa sakit dihatinya. Rasanya tak rela gadis yang selalu ia goda dekat dengan cowok lain sekalipun itu Irpan sahabatnya sendiri.
Dita yang kembali dari kamar dengan berlari membawa baju Anna pun terhenti tak jauh di belakang tempat Aris berhenti saat ini, sehingga Dita juga bisa melihat Aris berdiri disana.
Dita berusaha menguatkan hatinya meski sakit melihat Irpan orang yang ia sukai sedang berdekatan dengan temannya. Tapi sekarang bukan saatnya memikirkan hal itu. Dita memutuskan untuk menghampiri Anna. Ia melewati Aris begitu saja. Menyadari ada Dita melewatinya Aris langsung berbalik dan meninggalkanlorong kelas itu, ia takut Dita menyadari kalo dirinya memperhatikan Anna.
Nampaknya Aris masih tak tau harus berbuat apa dengan perasaannya saat ini. Ia muenyadari bahwa dirinya sudah mulai menyukai gadis cupu yang membencinya tapi disisi lain ia ngengsi jika harus menunjukan sikap pedulinya itu. Karena bagi Aris orang lain tak perlu tau apa yang ia rasa dan kebaikan-kebaikan yang ia lakukan untuk orang lain. Seperti saat ia menolong Anna di Jogja tapi gadis itu malah menganggap dirinya yang menabraknya. Aris dengan lapang dada menerima tuduhan itu, jika saja kalo bukan Anna yangselalu membesar-besarkan masalah itu mungkin Aris tak akan membuatnya jengkel.
Dita tidak menunjukan rasa sakit dihatinya saat sampai dihadapan Anna. Ia bersikap biasa saja tak ingin memperlihatkan perasaanya karena ia sadar coeok yang ia sukai menyukai teman yang kini ada di hadapannya.
“Huh maaf yah gue lama Na. Tapi gue lega lu udah ada Irpan yang bantu.” Ucap Dita dengan napas terengah karena berjalan dengan setengah berlari.
“sama-sama.” Jawab Irpan.
“Gue duluan yah.” Pamit Dita.
Dita berjalan beriringan sambil memapah Anna.
“Lu kenapa sih Na diem mulu?” tanya Dita.
“Gue pengen ke toilet. Buruan!” Ucap Anna langsung berlari ke arah toilet.
Dita menunggu Anna di toilet, tak lama Anna keluar dari toilet kemudian mencuci tangan dan membasuh wajahnya di wastafel berkaca itu.
“Gila lega banget.” Ucap Anna.
“Jadi lu kebelet sampe ngga nungguin gue baik dan nekat keluar pake rok robek lu itu?” Tanya Dita sambil melihat ke arah rok yang kini terlihat robekannya itu karena Anna belum menutupnya lagi dengan kemeja Irpan.
“Hm iya.” Jawab Anna.
__ADS_1
Keduannya pun keluar dari toilet menuju kantin.
Sesampainya di kantin Anna melihat Aris sedang duduk di salah satu kursi, namun Anna meleatinya begitu saja dan melilih duduk kursi pojokan yang jauh dari Aris.
Setelah memesan makanan keduanya duduk kembali, sesekali Anna melirik ke arah Aris.
Menyadari temannya melihat ke arah lain Dita pun menengok dan mencari kira-kira siapa yang sedang di lihat Anna hingga akhirnya dia menyadari kalo saat ini temannya itusedang melihat ke arah Aris.
“Ngga usah segitunya kali ngeliatinnya Na, ntar cinta.” Ledek Dita.
“Ngga mungkin.” Bantah Anna.
“Tapi Na tadi gue liat Aris juga ada di lorong kelas kita pas gue balik abis ngambil baju dan gue liat si Aris lagi ngliatin lu sama Irpan dari kejauhan.” Jelas Dita.
“Paling juga dia mau ngtawain penderitaan gue.” Ucap Anna.
“Tapi tatapannya tuh beda tau Na.” Ujar Dita.
“Bedanya gimana?” ucap Anna.
“Kaya tatapan orang kecewa dan sedih gitu lah.” Ucap Dita.
“Iya dia kecewa kali ada yang nolongin gue jadi dia ngga bisa ngetawain penderitaan gue.” Ujar Anna, padahal dalam hati ada rasa bahagia saat mendengar penjelasan Dita tapi ia enggan menampakan perasaanya itu.
Sejak kedatangan Anna dan Dita di kantin Aris tak menyentuh sedikitpun makanan yang telah ia pesan, ia langsung teringan Anna yang sedang dipakaikan kemeja pada roknya oleh Irpan. Kecewa rasanya kenapa ngga gue aja.
.
.
.
.
Sampe sini dulu
Jangan lupa like dan komentarnya yah
Aku tunggu kritik dan sarannya supaya tulisanku ini makin berkembang.
Suka susah kalo halu tapi kebanyakan ilustrasi tokohnya. Menurut kalian siapa yang cocok jadi Aris, Irpan dan Anna? Kalian bisa kirim gambarnya ke grup chat aku yah.
__ADS_1
TEKAN LIKE JANGAN LUPA