
Bukannya membalas pesan Dita, Anna malah buru-buru beranjak dari tempat tidurnya. Empat puluh menit berlalu apa mungkin Aris masih di sana. Karena terlalu buru-buru Anna sampai terjatuh karena kakinya tersandung selimut yang ia kenakan.
Anna berjalan menuju balkon kamarnya, ia langsung memfokuskan penglihatannya ke halaman rumahnya. Ia terkejut mendapati Aris
masih tetap berdiri di tempat yang sama saat dirinya meninggalkannya tadi.
Tatapan keduanya bertemu. Anna memandang Aris dengan haru. Tak lama gadis itu langsung meninggalkan balkon dan masuk kembali ke kamarnya.
Permadi yang masih duduk di ruang tamu sambil menonton acara berita yang kebanyakan isinya debat itu kaget karena mendengar suara orang yang
berlarian menuruni tangga. Ia langsung melihat ke arah tangga dan mendapati
Anna sedang menuruni tangga dengan sangat buru-buru. Dilihatnya putrinya
mengambil payung yang terletak di samping lemari TV. “Mau kemana ini ujan gini.”
Tanya Permadi namun tak di jawab oleh Anna. Gadis itu pergi begitu saja setelah
mengambil payung.
Anna membuka pintu rumahnya, kemudian menutup kembali pintu
itu. Ia menatap Aris yang masih saja terdiam di tempatnya. Keduanya saling
tatap tanpa berbicara. Tak lama Anna langsung berlari menghampiri Aris. Anna
berhenti di depan Aris saat jarak diantara mereka sangat dekat.
“Maafin gue.” Ucap Anna.
Aris tak berkata apapun, dia menarik Anna ke pelukannya. Aris mengelus lembut punggung gadisnya.
Anna melepaskan pelukannya “Maafin gue karena lagi-lagi salah paham.” Ucap Anna sambil mendongak ke atas untuk melihat wajah Aris. “Lu bener gue bodoh. Lu bener gue sekolah dua belas tahun tiba-tiba bodoh gara-gara cinta.” Ucapnya.
“Iya lu bodoh, nyamperin gue bawa payung tapi payungnya lu pegang doang kaga lu pake.”
Anna langsung melihat ke tangan kanannya. Bener juga dia bawa payung tapi tak di pakai.
“Cinta benar-benar membuat kita jadi bodoh.” Ucap Anna.
“Lu aja kali gue mah kaga.” Jawab Aris. Yang kemudian di ikuti wajah Anna yang berubah jadi cemberut.
“Iya-iya oke gue juga bodoh.” Ucap Aris sambil mengacak rambut Anna yang basah. Keduanya pun tertawa dengan bodohnya.
Di dalam rumah Permadi mulai khawatir karena putrinya keluar saat hujan tapi tak kunjung kembali. Tadi ia kira Anna hanya akan keluar untuk sekedar membeli bakso langganannya yang biasa ia beli. Tapi kenapa sampai saat ini tak juga kembali. Permadi lantas beranjak dari duduknya dan mematikan
televisi kemudian membuka pintu untuk mencari anaknya. Ia terkejut bukan
main melihat anaknya sedang tertawa
dengan lelaki yang ia kira sudah pulang sedari tadi.
__ADS_1
“Apa yang sedang kalian lakukan?” teriak Permadi dari teras rumahnya.
Keduanya menoleh ke sumber suara yang meneriakinya, kemudian
berjalan menuju teras menghampiri Permadi.
“Apa yang sebenarnya kalian lakukan di bawah hujan?”
“Dan Anna apa ini tadi kamu bilang Aris udah pulang?”
Keduanya hanya diam dan saling tatap saat ditodong begitu banyak pertanyaan.
“Masuklah dan ganti pakaian kalian, kalian bisa sakit.” Ucap Permadi sambil meninggalkan keduanya masuk ke dalam rumah.
Setelah Permadi tak lagi terlihat Anna memegang lengan kana Aris seolah takut lelaki itu akan meninggalkannya.
“Masuklah dan ganti baju lu, gue ngga mau lu sakit.” Titah Aris.
“Lu juga masuk ayo, ntar gue pinjemin baju Ayah. Gue juga ngga mau lu sakit.”
Setelah menganti pakaiannya Anna menuruni tangga dan menemui Aris di ruang tamu yang juga sudah menganti pakaiannya dengan baju Permadi.
“Lu kaya bapak-bapak.” Ucap Anna sambil duduk di samping Aris.
“Cih.. tapi lu suka kan?” goda Aris.
“Ge er banget lu.”
menganggukinya.
Tak lama Anna muncul kembali dengan nampan berisi dua cangkir minuman hangat. “Minumlah.”ucapnya sambil meletakan satu cangkir di hadapan Aris dan satu cangkir lagi dihadapannya, kemudian dia kembali duduk di
samping Aris.
“Makasih.” Dengan senang hati Aris meminum minumannya.
Hening. Keduanya hanya saling diam. Anna mendadak kikuk saat
mendapati Aris memegang tangannya dan menatapnya dengan begitu lekat.
“Jangan liatin gue kaya gitu.”
“Kenapa?”
“Gue malu.” Ucap Anna sambil menutup wajahnya dengan tangan
kirinya. Anna kemudian melepaskan tangannya dari genggaman Aris. Bukan karena
risih atau apa. Sebenernya dia seneng-seneng aja di genggam tangannya sama
orang yang ia suka tapi Anna masih sadar kalo ini tuh di rumahnya dan Ayahnya
__ADS_1
ada di rumah, ia tak mau kalo sampe
Ayahnya melihat tangan putrinya di pengang-pegang oleh lelaki.
“Jadi gimana?” Tanya Aris.
“Gimana apanya?” yang ditanya malah balik nanya dengan polosnya.
Greget dengan tingkah Anna, Aris lantas mencubit pipi Anna.
“ Jangan pra-pura lupa. Jadi gimana lu udah terima gue jadi pacar lu kan?”
“Hm”
“Hm apaan yang jelas?” Aris mulai tak sabar mendengar jawaban
Anna.
“Hm iya gue mau jadi pacar lu.” Jawab Anna sambil memalingkan wajahnya. Rasanya malu setengah mati mengucapkan kata-kata itu.
“Beneran?”
Anna mengangguki ucapan Aris. “Yess” Makasih. Aris langsung membawa Anna kepelukannya.
“Makasih udah mau sabar ngadepin gue dengan segala kebodohan gue.” Ucap Anna yang masih berada di pelukan Aris.
“Biar ke depannya ngga bodoh makanya gunain otak cerdas lu ini. Gue aneh kenapa kalo sama pelajaran otak lu pinter banget tapi soal perasaan kok gelap banget.” Ejek Aris sambil mengelus rambut Anna yang masih
setengah basah.
Anna melepaskan diri dari pelukan Aris kemudian menampakkan
wajah cemberutnya tak terima di sebut bodoh. Seolah paham dengan ekspresi
gadisnya Aris lantas membawa Anna kembali ke pelukannya “Oke oke gue juga
bodoh.” Ucapnya sambil mengelus punggung Anna. Keduanya seolah lupa posisi
mereka saat ini yang berada di rumah Anna dan Ayahnya ada di rumah.
Permadi yang baru saja keluar dari dapur berniat memanggil keduanya untuk makam malam malah dibuat terkejut kembali melihat Anaknya sedang berpelukan di sofa. Permadi jadi bingung sendiri harus melakukan apa. Pasalnya ia juga pernah muda dan pernah melakukan hal yang sama dengan Aris. Permadi jadi kikuk sendiri. Kemudian memutuskan untuk berdehem supaya dua insan itu sadar bahwa di rumah ini masih ada orang bukan hanya mereka saja. “Ehm.. Ehm..”
Mendengar suara deheman, Aris langsung sadar dan melihat ke arah sumber sura. Terlihat Permadi sedang berdiri di sana dan menatap ke arah mereka. Aris dan langsung melepaskan pelukan mereka.
“Ehm.. Anu .. itu Om.” Ucap Aris tidak jelas yang mendadak gugup tak tau harus bicara apa.
Anna tak kalah salah tingkahnya dengan Aris. “Ehm Ayah itu...” Ucapnya menggantung.
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMENTARNYA.
FAVORITKAN JUGA YAH.
__ADS_1
MAKASIH.