
Setelah tertangkap basah memeluk anak gadis orang, Aris
langsung berpamitan pada Permadi. Meskipun pria mengajaknya untuk makan malam
bersama tapi rasa malunya sudah tak tertahankan hingga ia memilih untuk pulang
saja.
“Gue pulang dulu, ntar gue telpon.” Pamitnya.
“Oke hati-hati ya.” Anna kemudian masuk kembali ke rumahnya setelah mobil Aris sudah tak terlihat lagi.
Sepanjang perjalanan ke rumahnya senyumnya tak hilang sedikit pun. Akhirnya dia bisa mendapatkan gadis yang dulu dibencinya.
Setibanya di rumah Aris langsung memasukan mobilnya ke garasi dan tak lupa mengucap salam saat masuk ke rumah. Bahkan kedua orang tuanya yang sedang berada di ruang keluarga di buat kaget melihat raut wajah
putranya yang begitu cerah di tengah hujan yang sedang turun. Aris berjalan ke
kedua orang tuanya dan menyalami keduanya dengan senyum yang masih terus
menghiasi wajahnya.
Iwan bahkan menempelkan telapak tangannya pada kening putranya. “Tapi dia tidak sakit Ma.” Ucapnya pada Wina. Wina hanya mendongak sebentar kemudian
menggelengkan kepalanya seolah berkata tidak tahu kemudian kembali membaca
majalah di tangannya. Aris tak menghiraukan orang tuanya yang sedang aneh dengan
tingkahnya, dia memilih langsung masuk ke kamarnya.
Sampai di kamarnya ia langsung menelpon Anna untuk memberitahu bahwa dirinya sudah tiba di rumah. Sekalian mengajak Anna untuk
menemaninya menghabiskan weekend besok. Gadis itu pun mengiyakannya dengan
senang hati.
Setelah menelpon Aris langsung merebahkan tubuhnya di ranjang untuk tidur. Badannya terasa tak enak, mungkin efek terlalu lama di
guyur hujan tadi. Ia pun memejamkan matanya berharap besok pagi tubuhnya sudah
baik-baik saja dan bisa menghabiskan waktunya bersama orang yang ia sayangi.
***
Pagi ini Anna bangun dengan senyum di wajahnya, ia sangat
bersemangat menyambut hari ini mengingat tadi malam Aris mengajaknya pergi
menghabiskan waktu bersamanya. Anna langsung berlari ke kamar mandi dan
bersiap-siap. Kini ia berdiri di depan lemari pakaiannya. Memilih baju yang
kira-kira cocok untuk ia gunakan hari ini. Setelah sekian lama memilih akhirnya
__ADS_1
ia memutuskan memakai rok jenas selutut dan kaos putih yang ia masukan kedalam
rok. Anna membiarkan rambutnya yang sebahu itu tergerai begitu saja.
Anna duduk di ruang tamu menunggu Aris menjemputnya.
Diliriknya jam jam melingkar di tangan kirinya sudah menunjuk ke angka sembilan
tapi yang di tunggu tak juga kunjung datang. Wajah cerianya sedikit demi
sedikit mulai menghilang.
Anna hendak kembali ke kamarnya untuk ganti baju dan memilih menghabiskan waktu liburnya dengan rebahan, tapi bunyi ponselnya membuatnya duduk kembali. Terlihat nama Aris yang menghubunginya. Anna langsung menggeser ikon telpon warna hijau itu.
“Halo Ris kok lu belum jemput sih ini udah siang?” tanya Anna.
“Maafin gue. Gue ngga enak badan. Jadi kita ngga jadi jalan hari ini.” Ucap Aris suaranya terdengar begitu lemah.
“Tapi lu ngga apa-apa kan?” Anna mulai khawatir.
“Ngga apa-apa, nanti juga sembuh. Maaf ya gara-gara gue kita ga jadi jalan.” Ucap Aris penuh sesal.
“Ngga apa-apa. Lain kali kan masih bisa. Lu istirahat aja biar cepat sembuh.” Anna kemudian mengakhiri panggilan itu.
Anna kembali ke kamarnya, meletakan kembali tas yang ia kenakan pada tempatnya. Mencoba mengalihkan pikirannya yang selalu saja di penuhi oleh Aris Aris dan Aris lagi. Ia mulai membaca buku pelajaran. Biasanya
dengan membaca materi pelajaran favoritnya dia bisa lupa waktu tapi setelah
kenal cinta rasanya hal itu sudah tak berlaku lagi. Pikirannya masih saja
Anna sangat ingin menemui Aris tapi bagaimana caranya lelaki
yang dicintainya itu sedang sakit dan tidak mungkin baginya untuk menjenguknya
karena rumahnya saja ia tak tau. Hinga akhirnya ia menghubungi Irpan dan
mengajaknya untuk menjenguk Aris yang sedang sakit.
Setelah menerima panggilan Anna yang mengajaknya menjenguk
Aris, dia sedikit bingung karena setahunya sampai kemarin gadis yang pernah ia
sukai itu masih salah paham dengan Aris. Tapi Irpan tetap mengiyakan ajakan
Anna, tak lupa ia juga mengajak Dita.
Setelah satu jam menunggu akhirnya Dita dan Irpan datang
menjemputnya. Tak disangka di dalam mobil itu bukan hanya ada Dita dan Irpan
ternyata Rani dan Dewi juga ikut. Sepanjang jalan keempat temannya hanya saling
lempar tatapan seolah bertanya apa yang terjadi sampai Anna ingin menjenguk
__ADS_1
Aris yang sakit padahal kemarin saja keduanya belum akur.
Mobil Dita berhenti di depan sebuah rumah mewah yang
didominasi warna putih dan orange itu. Sejenak Dita menatapi rumah itu.
Pasalnya dia juga anak orang kaya tapi rumahnya tak semewah rumah yang itu.
“Pan ini bener rumahnya Aris yang ini?” Tanya Dita yang kemudian diangguki oleh
Irpan yang duduk disampingnya.
“Gila ternyata sultan tuh anak.” Ucap Dita sambil memarkirkan mobilnya di halaman rumah Aris.
“Haha iya ngga nyangka gue punya temen sesultan ini.” Celetuk Rani.
Anna langsung termenung setelah melihat rumah Aris. “Rumah yang begitu mewah berbeda dengan rumahnya yang sederhana. Apa mungkin nanti cinta gue sama Aris bakal kaga di restui orang tua Aris karena gue bukan dari kalangan orang yang selevel dengan
mereka.” Batin Anna. Tapi kemudian gadis itu membantah pikirannya sendiri. “Huh
gini deh kayaknya gue kebanyakan nonton FTV.” Ucapnya pelan tapi masih bisa
terdengar oleh Rani dan Dewi yang sama-sama ada di kursi belakang.
“Apaan Na?” Tanya Dewi.
“Hah? Eh ngga apa-apa. Ayo turun!” Jawab Anna.
Mereka semua turun dari mobil kemudian berjalan menuju pintu rumah Aris. Irpan langsung menekan bel yang terdapat di samping pintu. Tak lama pintu terbuka dan terlihat Leni yang membuka pintunya.
“Kalian?” Ucap Leni dengan tatapan tajam menuju ke arah Anna yang kini berdiri di belakang Dita bersama dengan Dewi.
Mereka semua terkejut mendapati Leni ada di rumah Aris. Bahkan
Anna sampai tak bisa berkata-kata dan Dewi yang kala itu berdiri di samping Anna
langsung mengelus pelan pundak sahabatnya, seolah memberitahu Anna untuk tak
berpikir terlalu jauh.
“Leni lu ngapain di rumah Aris?” Tanya Irpan.
“Gue.” ucapnya tertahan dan melirik lagi ke Anna dengan
senyum mengejek yang ia sunggingkan.
.
.
.
Kira-kira ngapain yah tuh orang di rumah Aris?
__ADS_1
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMENTARNYA!
ini nulis seribu kata sampe kriting ini jari gue loh... ajak juga temen-temen kalian buat baca cerita ini. jangan sungkan-sungkan buat kritik dan sarannya aku sangat menerima kritik dan saran kalian. mau sepedas seblak level ekstra pedas juga tetep gue terima supaya tulisan ini bisa jadi lbh baik lagi.