Bukan Perjodohan

Bukan Perjodohan
46. Dia lagi???


__ADS_3

Setelah tertangkap basah memeluk anak gadis orang, Aris


langsung berpamitan pada Permadi. Meskipun pria mengajaknya untuk makan malam


bersama tapi rasa malunya sudah tak tertahankan hingga ia memilih untuk pulang


saja.


“Gue pulang dulu, ntar gue telpon.” Pamitnya.


“Oke hati-hati ya.” Anna kemudian masuk kembali ke rumahnya setelah mobil Aris sudah tak terlihat lagi.


Sepanjang perjalanan ke rumahnya senyumnya tak hilang sedikit pun. Akhirnya dia bisa mendapatkan gadis yang dulu dibencinya.


Setibanya di rumah Aris langsung memasukan mobilnya ke garasi dan tak lupa mengucap salam saat masuk ke rumah. Bahkan kedua orang tuanya yang sedang berada di ruang keluarga di buat kaget melihat raut wajah


putranya yang begitu cerah di tengah hujan yang sedang turun. Aris berjalan ke


kedua orang tuanya dan menyalami keduanya dengan senyum yang masih terus


menghiasi wajahnya.


Iwan bahkan menempelkan telapak tangannya pada kening putranya. “Tapi dia tidak sakit Ma.” Ucapnya pada Wina.  Wina hanya mendongak sebentar kemudian


menggelengkan kepalanya seolah berkata tidak tahu kemudian kembali membaca


majalah di tangannya. Aris tak menghiraukan orang tuanya yang sedang aneh dengan


tingkahnya, dia memilih langsung masuk ke kamarnya.


Sampai di kamarnya ia langsung menelpon Anna untuk memberitahu bahwa dirinya sudah tiba di rumah. Sekalian mengajak Anna untuk


menemaninya menghabiskan weekend besok. Gadis itu pun mengiyakannya dengan


senang hati.


Setelah menelpon Aris langsung merebahkan tubuhnya di ranjang untuk tidur. Badannya terasa tak enak, mungkin efek terlalu lama di


guyur hujan tadi. Ia pun memejamkan matanya berharap besok pagi tubuhnya sudah


baik-baik saja dan bisa menghabiskan waktunya bersama orang yang ia sayangi.


***


Pagi ini Anna bangun dengan senyum di wajahnya, ia sangat


bersemangat menyambut hari ini mengingat tadi malam Aris mengajaknya pergi


menghabiskan waktu bersamanya. Anna langsung berlari ke kamar mandi dan


bersiap-siap. Kini ia berdiri di depan lemari pakaiannya. Memilih baju yang


kira-kira cocok untuk ia gunakan hari ini. Setelah sekian lama memilih akhirnya

__ADS_1


ia memutuskan memakai rok jenas selutut dan kaos putih yang ia masukan kedalam


rok. Anna membiarkan rambutnya yang sebahu itu tergerai begitu saja.


Anna duduk di ruang tamu menunggu Aris menjemputnya.


Diliriknya jam jam melingkar di tangan kirinya sudah menunjuk ke angka sembilan


tapi yang di tunggu tak juga kunjung datang. Wajah cerianya sedikit demi


sedikit mulai menghilang.


Anna hendak kembali ke kamarnya untuk ganti baju dan memilih menghabiskan waktu liburnya dengan rebahan, tapi bunyi ponselnya membuatnya duduk kembali. Terlihat nama Aris yang menghubunginya. Anna langsung menggeser ikon telpon warna hijau itu.


“Halo Ris kok lu belum jemput sih ini udah siang?” tanya Anna.


“Maafin gue. Gue ngga enak badan. Jadi kita ngga jadi jalan hari ini.” Ucap Aris suaranya terdengar begitu lemah.


“Tapi lu ngga apa-apa kan?” Anna mulai khawatir.


“Ngga apa-apa, nanti juga sembuh. Maaf ya gara-gara gue kita ga jadi jalan.” Ucap Aris penuh sesal.


“Ngga apa-apa. Lain kali kan masih bisa. Lu istirahat aja biar cepat sembuh.” Anna kemudian mengakhiri panggilan itu.


Anna kembali ke kamarnya, meletakan kembali tas yang ia kenakan pada tempatnya. Mencoba mengalihkan pikirannya yang selalu saja di penuhi oleh Aris Aris dan Aris lagi. Ia mulai membaca buku pelajaran. Biasanya


dengan membaca materi pelajaran favoritnya dia bisa lupa waktu tapi setelah


kenal cinta rasanya hal itu sudah tak berlaku lagi. Pikirannya masih saja


Anna sangat ingin menemui Aris tapi bagaimana caranya lelaki


yang dicintainya itu sedang sakit dan tidak mungkin baginya untuk menjenguknya


karena rumahnya saja ia tak tau. Hinga akhirnya ia menghubungi Irpan dan


mengajaknya untuk menjenguk Aris yang sedang sakit.


Setelah menerima panggilan Anna yang mengajaknya menjenguk


Aris, dia sedikit bingung karena setahunya sampai kemarin gadis yang pernah ia


sukai itu masih salah paham dengan Aris. Tapi Irpan tetap mengiyakan ajakan


Anna, tak lupa ia juga mengajak Dita.


Setelah satu jam menunggu akhirnya Dita dan Irpan datang


menjemputnya. Tak disangka di dalam mobil itu bukan hanya ada Dita dan Irpan


ternyata Rani dan Dewi juga ikut. Sepanjang jalan keempat temannya hanya saling


lempar tatapan seolah bertanya apa yang terjadi sampai Anna ingin menjenguk

__ADS_1


Aris yang sakit padahal kemarin saja keduanya belum akur.


Mobil Dita berhenti di depan sebuah rumah mewah yang


didominasi warna putih dan orange itu. Sejenak Dita menatapi rumah itu.


Pasalnya dia juga anak orang kaya tapi rumahnya tak semewah rumah yang itu.


“Pan ini bener rumahnya Aris yang ini?” Tanya Dita yang kemudian diangguki oleh


Irpan yang duduk disampingnya.


“Gila ternyata sultan tuh anak.” Ucap Dita sambil memarkirkan mobilnya di halaman rumah Aris.


“Haha iya ngga nyangka gue punya temen sesultan ini.” Celetuk Rani.


Anna langsung termenung setelah melihat rumah Aris. “Rumah yang begitu mewah berbeda dengan rumahnya yang sederhana. Apa mungkin  nanti cinta gue sama Aris bakal kaga di restui orang tua Aris karena gue bukan dari kalangan orang yang selevel dengan


mereka.” Batin Anna. Tapi kemudian gadis itu membantah pikirannya sendiri. “Huh


gini deh kayaknya gue kebanyakan nonton FTV.” Ucapnya pelan tapi masih bisa


terdengar oleh Rani dan Dewi yang sama-sama ada di kursi belakang.


“Apaan Na?” Tanya Dewi.


“Hah? Eh ngga apa-apa. Ayo turun!” Jawab Anna.


Mereka semua turun dari mobil kemudian berjalan menuju pintu rumah Aris. Irpan langsung menekan bel yang terdapat di samping pintu. Tak lama pintu terbuka dan terlihat Leni yang membuka pintunya.


“Kalian?” Ucap Leni dengan tatapan tajam menuju ke arah Anna yang kini berdiri di belakang Dita bersama dengan Dewi.


Mereka semua terkejut mendapati Leni ada di rumah Aris. Bahkan


Anna sampai tak bisa berkata-kata dan Dewi yang kala itu berdiri di samping Anna


langsung mengelus pelan pundak sahabatnya, seolah memberitahu Anna untuk tak


berpikir terlalu jauh.


“Leni lu ngapain di rumah Aris?” Tanya Irpan.


“Gue.” ucapnya tertahan dan melirik lagi ke Anna dengan


senyum mengejek yang ia sunggingkan.


.


.


.


Kira-kira ngapain yah tuh orang di rumah Aris?

__ADS_1


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMENTARNYA!


ini nulis seribu kata sampe kriting ini jari gue loh... ajak juga temen-temen kalian buat baca cerita ini. jangan sungkan-sungkan buat kritik dan sarannya aku sangat menerima kritik dan saran kalian. mau sepedas seblak level ekstra pedas juga tetep gue terima supaya tulisan ini bisa jadi lbh baik lagi.


__ADS_2