Bukan Perjodohan

Bukan Perjodohan
43. Harus bagaimana?


__ADS_3

Seminggu berlalu setelah kecelakaan yang menimpa Aris dan Anna. Luka di tangan Aris sudah sembuh. Keduanya sudah menjalani kegiatan kuliah seperti biasa.


Anna selalu menghindar setiap kali Aris mendekatinya. Dengan berbagai alasan gadis itu selalu berhasil menjauhkan dirinya dari lelaki yang ia sukai.


Aris tak menyerah begitu saja, ia bahkan meminta bantuan pada Dita, Rani dan Dewi. Namun semuanya sia-sia gadis itu tetap saja mengacuhkannya.


Terpikir oleh Aris untuk meminta tolong pada Leni supaya menjelaskan bahwa dirinya tak ada hubungan apa-apa tapi rasanya itu tidak mungkin, karena saat di rumah sakit saja Leni malah dengan sengaja memperkeruh keadaan.


"Huft.. Ini semua bener-bener bikin kepala gue mau pecah." Teriaknya sambil mengacak rambutnya.


Ceklek... Pintu kamarnya terbuka, Aris pun menoleh ke arah pintu. Terlihat Irpan memasuki kamarnya kemudian menutup pintu itu kembali. Irpan duduk di meja belajar yang tak jauh dari ranjang Aris.


"Kusut amat wajah lu. kurang kasih sayang yah." Ledeknya.


"Iya gue kurang kasih sayang dan perlu dikasihani saat ini. Kalo lu ke sini cuma buat ngeledek gue sebaiknya lu balik ke kamar lu aja. Gue lagi ngga mood." ucap Aris acuh.


"Iya sorry gue cuma bercanda. Masih mikirin soal Anna?" Tanya Irpan.


"Hm."


"Kenapa ngga lu coba ngomong baik-baik aja sama tuh anak." Irpan memberikan saran.


"Lu kan bisa lihat sendiri Pan, gimana gue mau ngomong baru aja gue jalan ke arah dia eh dianya udah kabur duluan." Ucap Aris sambil memandangi fotonya bersama Anna kala mereka mengenakan kaca mata hitam.


"Gue udah ngga tau harus gimana lagi Pan. Tuh anak keras kepala banget. Padahal dia tahu banget gue nanya dia mau ngga jadi pacar gue sebelum dia ke toilet masa lihat Leni meluk gue jadi kalap gitu."


"Namanya juga cemburu. Kalo cemburu tuh otak kaga di pake. Berasa mendadak bodoh. Mengenal cinta terus ngalamin cemburu liat orang yang kita suka sama orang lain rasanya kaya sekolah dua belas tahun sia-sia karena mendadak bodoh, cuma pake hati ngga pake otak." Ucap Irpan sambil tertawa.


"Cih kaya ngerasain aja lu." Ujar Aris.


"Hahahaha." Keduanya pun tertawa.


"Gue udah ngerasain sakit hati sebelum lu Ris. Gimana ngga sakit gadis yang gue suka malah suka sama sahabat gue sendiri. Dan itu lu." Batin Irpan.

__ADS_1


"Gue cabut dulu ya. Moga lu cepet baikan sama Anna." Pamit Irpan.


"Mau kemana lu?"


"Mau nganterin Dita pulang."


"Nganterin Dita pulang? Kenapa tuh anak akhir-akhir ini deket banget sama Dita? Hm... Kenapa ngga gue coba aja ya nganterin Anna pulang." Gumam Aris kemudian beranjak dari tempat tidurnya mengambil ponsel dan kunci mobilnya.


Aris keluar dari kamarnya tak lupa pula ia mengunci pintunya. Dia berjalan cepat ingin segera menemui Anna dan mengajak gadis itu untuk pulang bersamanya. Belum juga sampai tempat tujuannya Aris melihat Anna dan Rani di depan loby seperti sedang menunggu seseorang. Aris pun menghampiri keduanya.


"Kalian lagi ngapain?" Tanya Aris basa basi.


"Gue lagi nunggu cowok gue jemput." Jawab Rani, sedangkan Anna hanya diam saja dan membuang pandangannya ke sembarang arah menghidari tatapan Aris yang terus saja tertuju padanya.


"Lu pulang sama siapa Na? Biar gue anterin." Tawar Aris. Namun Anna masih saja diam.


"Eh cowok gue udah datang tuh." Ucap Rani begitu melihat mobil warna putih menghampirinya."gue duluan yah." Ucapnya sambil melangkah memasuki mobil itu.


"Iya hati-hati." Anna melambaikan tangannya pada temannya yang kini sudah tak lagi terlihat.


"Ngga usah. Makasih. Gue bisa pulang sendiri." Anna berusaha berbicara dengan sebiasa mungkin.


"Sampe kapan lu mau ngehindar dari gue Na? Gue harus gimana supaya lu percaya kalo gue ngga ada hubungan apa-apa sama Leni. Gue cuma cinta sama lu."


"Ngga ada masalah diantara kita Ris. Dan lu ngga perlu buktiin apa-apa ke gue karena semua udah jelas." tutur Anna.


"Tapi itu semua ngga seperti yang lu pikir Na."


"Gue cuma percaya sama apa yang gue lihat."


"Tapi ngga semua yang lu lihat itu bisa lu percaya begitu aja Na. Lu juga harus pake logika. Masa iya gue baru aja nembak lu langsung nembak Leni? Lagi pula lu tau sendiri waktu itu gue ngga liat wajah Leni dan gue kira dia lu."


"Terserah lu. Gue mau balik." Anna meninggalkan Aris dengan masuk ke taksi yang sudah ia pesan.

__ADS_1


Anna tiba di rumahnya, sore itu hujan turun begitu deras, sesuai dengan kondisi hatinya yang sedang sedih. Anna menuruni taksi kemudian berlari menuju rumahnya menggunakan tas sebagai penutup kepalanya supaya tak basah.


Anna memasuki rumahnya yang tak dikunci, terlihat Ayahnya sedang minum kopi di ruang tamu. Anna pun menghampiri ayahnya dan mencium tangan pria yang telah membesarkannya.


"Ayah udah pulang." Tanyanya sambil duduk di samping Permadi.


"Iya hujannya deras sekali jadi jarang orang yang pesen. Sepi orderan karena hujan mereka jadi malas keluar."


Anna menganggukan kepalanya. "Anna ke kamar dulu yah."


Seperti biasanya, begitu sampai di kamar Anna langsung merebahkan tubuhnya dan menatap ke langit-langit kamarnya yang berwarna putih. Sekilas senyum terbit di wajahnya tapi tak lama diiringi air mata yang membasahi pipinya.


Ia mengambil ponselnya dari tas kemudian membuka folder galeri. Dilihatnya foto saat bersama Aris dulu. "Kenapa semua jadi begini." Ucapnya sambil menghapus air mata di pipinya. Anna terus memandangi foto dirinya dengan Aris hingga ia tertidur sore itu.


Sementara itu Aris sedang mengendarai mobilnya tak tentu arah. Ia ingin pulang tapi pikirannya terus saja pada Anna jadi entah mengapa bukan jalan ke rumahnya yang ia pilih malah melajukan mobilnya ke arah rumah Anna.


Dari kejauhan Aris memandangi rumah Anna. Dalam pikirannya berkecamuk haruskah ia mendatangi rumah gadis itu. Tapi apa yang harus ia katakan jika ayah Anna menanyakan maksud dari kedatangannya. Aris memukul stir mobilnya frustasi.


"Ah bodo amat pokoknya sekarang gue harus ketemu Anna. Dan bikin dia ngga salah paham lagi." Aris melajukan mobilnya dan berhenti di halaman rumah Anna. Ia turun dari mobilnya tanpa mengenakan payung dan menerobos hujan deras sore itu.


Bajunya basah tapi lelaki itu tak mengiraukannya, ia langsung mengetuk pintu rumah Anna.


tok.. tok.. tok...


Aris masih berdiri di depan pintu, sambil sesekali mengusap air yang membasahi wajahnya.


.


.


.


.

__ADS_1


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMENTARNYA.


__ADS_2