Bukan Perjodohan

Bukan Perjodohan
26. Dia hilang


__ADS_3

Dita kemudian duduk di kursi yang baru saja ditinggalkan Anna.


"Habis ketemu sama cewek lu ya Ris?" Tanya Dita basa basi sambil memandang gelas di hadapannya, padahal dia tau itu milik Anna.


"Engga abis ketemu temen aja. Eh Dit lu tau belum soal ini?" Irpan memperlihatkan vidio unggahan Rico.


Dita pun melihat ke ponsel Irpan.


"Oh vidio yang ini. Ini sih udah dari kemaren. Lu sih kurang update sosial medianya." Ucap Dita sambil mengembalikan ponsel Irpan.


"Jadi lu juga tau kalo Anna pacaran sama Aris?" Tanya Aris.


Dita bingung hendak menjawab apa, mau jawan mereka pacaran tapi nyatanya mereka belum pacaran tapi jika dirinya menjawab Aris dan Anna tak pacaran ia takut Irpan akan kembali berusaha mendapatkan Anna.


"Lu bisa liat sendiri kan." Jawaban yang menurut Dita paling aman, ia tak perlu berbohong tapi juga tak harus mengkhawatirkan lelaki yang ada dihadapannya akan kembali mengejar temannya.


"Gue ikut bahagia kalo emang mereka pacaran. Lagi pula Aris adalah laki-laki yang baik." Ucap Irpan walaupun di wajahnya tergambar jelas ada kekecewaan.


Ya kecewa karena yang menjadi pacar orang yang ia sukai adalah lelaki yang baik dan sialnya itu sahabatnya sendiri. Andai saja pacar Anna bukan lelaki yang baik maka ia bisa terus mengejar Anna dan memisahkannya dari pacarnya. Tapi kini itu tak mungkin. Mengikhlaskan mungkin hal yang terbaik, lagi pula ada yang mengatakan bahwa tingkat mencintai yang paling tinggi adalah saat kita mengikhlaskan orang yang kita cintai berbahagia bersama dengan orang yang dicintainya.


"Ngelamun aja Pan." Ucap Dita saat menatap Irpan terdiam dalam pemikirannya.


"Lu kenapa sih? Ada masalah? Lu bisa cerita ke gue." Ujar Dita. Padahal dia tau pasti kalo lelaki dihadapannya sedang patah hati karena di tolak.


"Gue ngga apa-apa." Jawab Irpan sambil meminum minumannya yang kini tinggal setengah gelas.


"Lu jujur deh sama gue. Bibir lu bilang ngga apa-apa tapi wajah lu berkata lain." Ucap Dita mencoba supaya lelaki dihadapannya bisa mencurahkan unek-unek yang sebenarnya sudah ia ketahui.


"Jadi gini, menurut lu gimana kalo misal lu suka sama seseorang terus lu tembak dia dan ternyata dia udah punya pacar dan lebih parahnya lagi pacarnya tuh sahabat lu sendiri." Irpan akhirnya mengeluarkan unek-uneknya.


Senang rasanya saat orang yang kita sukai sudah mulai mau berbagi dukanya, bukankah ini menandakan bahwa dia mempercayai kita untuk membantu meringankan beban pikirannya.


"Ya mau gimana lagi kalo misal ornag yang kita suka bersama dengan orang yang dia sukai dan dia bahagia, menurut gue kita harus ikhlasin dia. Mungkin memang dia bukan jodoh kita." Jawab Dita.

__ADS_1


"Berati pikiran kita sama. Mungkin gue emang harus ikhlas. Apalagi dia bersamanya." Ucap Irpan.


"Ya dan lu harus belajar membuka hati buat gadis lain." Ucap Dita.


"Bukan gue kali Dit, tadi kan gue bilang kalo misalkan. Misalkan lu tau kan arti kata misalkan." Elak Irpan.


"Iya iya deh." Ucap Dita lalu melihat ke jam yang melingkar di tangannya ternyata sudah jam setengah sembilan malam.


Terlalu asik ngobrol dengan orang yang kita sukai ternyata bisa membuat kita lupa waktu. Seperti Dita yang kini lupa tujuan utamanya mengikuti Anna karena khawatir hal buruk terjadi pada temannya malah asik ngobrol dengan Irpan.


"Udah malem Pan gue harus balik ke asrama." Ujar Dita karena saat ini ia ingat kembali pada tujuannya. Ia ingin segera kembali ke asrama dan melihat apakah temannya yang sudah kembali dari tadi sudah sampai atau belum.


"Ya udah kita bareng aja lagian gue juga mau balik ke asrama." Ucap Irpan. Ia lalu membayar tagihannya dan meninggalkan cafe bersama Dita.


Sesampainya di asrama Dita langsung menuju kamarnya dan mencari keberadaan Anna. Ia tak melihat Anna hanya Rani dan Dewi yang sedang asik dengan ponsel mereka masing-masing.


"Anna belum balik?" Tanya Dita pada kedua temannya.


Dita langsung termenung otaknya berselancar jauh. Ia merutuki tindakannya yang lupa diri malah asik ngobrol dengan Irpan.


"Astaga ****** gue gini caranya mah." Ucap Dita sambil mengacak rambutnya kemudian pergi lagi meninggalkan kamar.


"Mau kemana lagi woy? Udah malem!" Teriak Dewi yang tak di jawab oleh Dita.


Dita terus berjalan dengan tujuan yang belum ia ketahui. Dia mengambil ponselnya kemudian menghubungi Anna tapi ternyata nomornya tak aktif dan membuat Dita berfikir yang tidak-tidak. Ia pun berulang kali menguhubungi lagi tapi sial jawabnya tetap sama *nomer yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan*


"Astaga semoga lu ngga apa-apa Na." Gumam Dita.


Irpan yang sedang duduk di loby pun terkejut karena Dita yang baru saja kembali bersamanya sekarang nampak panik dan hendak keluar dari asrama.


Irpan memang belum kembali ke kamarnya sejak tadi, ia memilih duduk di loby dan menunggu Aris kembali untuk mengucapkan selamat karena memiliki pacar seperti Anna.


"Dita lu mau kemana?" Tanya Irpan sambil berjalan mendekati Dita yang kini sudah berada di pintu keluar.

__ADS_1


"Haduh gimana ini gue jawabnya." Gumam Dita.


"Gue mau cari Anna soalnya barusan gue sampe kamar dia ngga ada. Gue takut dia kenapa-kenapa." Ucap Dita sambil menangis mengingat kejadian terakhir saat Anna pergi sendiri.


Irpan tak kalah khawatir, karena yang ia tau Anna sudah kembali sejak lama.


Ia tak tega melihat Dita menangis kemudian membawa gadis utu kepelukannya.


"Udah jangan nangis. Anna pasti ngga apa-apa. Ayo kita cari bersama." Ucap Irpan sambil mengusap punggung gadis yang sedang ia peluk mencoba menenangkannya.


Irpan melepaskan pelukannya, tampak Dita masih menangis kemudian ia menghapus air mata Dita dengan kedua tangannya.


"Menangis tak menyelesaikan masalah. Ayo jalan kita mulai cari Anna." Ucap Irpan.


"Gue takut kejadian terakhir kali terjadi lagi ke Anna." Ucap Dita.


"Emangnya terakhir kali itu Anna kenapa?" Tanya Irpan yang memang tak mengetahui insiden di toilet asrama.


"Anna pernah dikunci di toilet asrama hingga dia tak sadarkan diri." Dita pun menceritakan kronologi Anna yang terkunci di toilet hingga Aris yang membawanya kembali ke asrama dengan detail tanpa satu pun yang terlewat.


"Lu udah coba telpon Anna?" Tanya Irpan.


"Udah tapi nomornya ngga aktif." Jawab Dita.


"Ya udah ayo kita cari mulai dengan menanyakan pada orang-orang di sekitar cafe seberang kampus." Ujar Irpan.


Keduanya pun berjalan beriringan mencari Anna.


Hayooo menurut kalian Anna kemana yah kok belum balik?


LIKE DAN KOMEN JANGAN LUPA.


KALIAN KOMEN NEXT AJA AKU UDAH BAHAGIA BANGET.

__ADS_1


__ADS_2