
Tak lama Anna kembali dengan dua gelas jus jambu.
“Nih minum dulu Ris.” Ucapnya sambil meletakan jus jambu dihadapan Aris.
“Makasih.” Aris langsung meneguk jus itu hingga tersisa setengahnya.
Anna juga meminum jusnya.
“Eh ada tamu.”
Mendengar suara itu Anna yang sedang minum kaget dan tersedak.
Aris langsung mendekat ke Anna dan mengelus punggungnya.
“Lu ngga apa-apa kan Na?” Aris mengambil gelas di tangan Anna dan meletakannya ke meja.
Anna menengok ke belakang terlihat Ayahnya berjalan menghampirinya.
“Loh kok Ayah ada di rumah?” Ucap Anna gugup. Ia takut kena marah Ayahnya karena pulang dengan laki-laki.
“Hari ini Ayah emang ngga kemana-mana karena mobil lagi di service,” Ucap Permadi sambil menatap Aris.
“kenalin yah temen Anna, namanya Aris.” Ucap Anna. Aris langsung berdiri dan menyalami Ayah Anna.
“Loh kayaknya Om pernah ketemu kamu deh.” Permadi mengingat laki-laki yang pernah ia
antar ke asrama dalam kondisi mabuk.
“Iya benar itu kamu, malam itu Om nganter kamu ke asrama pas kamu mabuk dan akhirnya Om minta tolong Anna untuk membawamu masuk.” Ujar Permadi.
“Maaf udah ngerepotin Om.” Ucap Aris.
Melihat Ayahnya dan Aris asik mengobrol membuat Anna merasa terabaikan hingga ia
memutuskan untuk ke kamarnya.
“Yah Anna ke kamar dulu ya.” Ucapnya sambil melangkah pergi.
“Eh Na kamu gimana sih ada temanmu kok malah ditinggal.” Ucap Permadi namun tak dihiraukan oleh Anna karena gadis itu terus berlalu meninggalkan ruang tamu.
Setelah kepergian Anna keduanya melanjutkan obrolan mereka. Hanya obrolan-obrolan ringan seperti asal sekolah dan bagaimana bisa mengenal Anna. Aris pun menceritakan awal pertemuannya dengan Anna saat di Jogja hingga pertemuan mereka kembali di Kampus.
“Jadi kamu yang menyelamatkan anak saya waktu di Jogja?” Saat tes seleksi sebuah
Universitas di Jogja Anna memang berangkat sendiri dan menolak diantar olehnya.
Permadi pun kaget saat dikabari oleh pihak rumah sakit bahwa anaknya menjadi
pasien di rumah sakit tersebut. Namun karena perjalanan dari Jakarta ke Jogja tak dekat membuat Permadi baru sampai di Jogja hari berikutnya dan ia tak menemukan sosok yang menyelamatkan anaknya.
“Om sangat berterimakasih kamu telah menolong Anna.” Ucap Permadi.
“Sama-sama Om. Tapi yang jadi masalah sampai saat ini adalah Anna malah menganggap aku yang menabraknya. Padahal sumpah demi tuhan Om aku ngga nabrak dia.” Ucap Aris
sambil mengangkat kedua jarinya seolah bersumpah.
__ADS_1
“Waktu itu Anna memang jatuh di depan mobilku. Tapi aku sama sekali tak menabraknya. Aku ingat jelas tiba-tiba dia pingsan dan jatuh di depan mobilku. Aku membawanya ke rumah sakit hingga aku juga gagal ikut seleksi masuk universitas yang ku inginkan.” Ujar Aris.
“Dan lebih menyebalkan lagi begitu dia sadar dia malah menganggap aku yang
mencelakainya. Bahkan mungkin sampai sekarang itu masih ia percayai.” Ucap
Aris sambil menundukkan kepalanya lesu.
“Maafkan Anna yah Nak.” Ucap Permadi sambil mengusap kepala Aris yang tertunduk.
Aris kemudian mendongakkan kepalanya dan tersenyum seolah menyiratkan dirinya tak
apa-apa.
“Om tau kalo Anna tidak kecelakaan karena tak ada goresan luka sedikit pun ditubuhnya. Dokter juga mengatakan kemungkinan saat itu Anna kelelahan dan kurang tidur hingga dia
pingsan. Anak itu memang selalu memaksakan dirinya.” Ujar Permadi.
“Maafkan juga jika sikap Anna kasar ataupun kekanak-kanaka karena dia kekurangan kasih
sayang seorang ibu. Ibunya sudah meninggal sejak dia berusia tujuh tahun sedangkan Om sibuk bekerja sehingga tidak bisa memberikan perhatian penuh untuknya.” Terang Permadi.
“Om hanya ingin berpesan, Om tak pernah melarang Anna berteman maupun dekat dengan siapa pun. Om hanya ingin kamu tak menyakitinya. Mengingat kamu satu-satunya lelaki yang pernah Om lihat bersama Anna.” Ucap Permadi.
“Iya Om aku pasti tidak akan menyakiti Anna.” Ucap Aris penuh ketegasan.
“Sudah sore Om, aku harus pulang.” Lanjut Aris.
“Sebentar Om panggilkan Anna dulu.”
“Gue balik ya.” Pamit Aris pada Anna setelah sebelumnya berpamitan pada Ayah Anna.
“Iya, makasih udah nganterin gue. Hati-hati dijalan.” Ucap Anna.
“Oke, ntar malem gue telpon.” Jawab Aris sambil mengelus lembut kepala Anna.
Tepat jam enam sore Aris tiba di rumahnya. Ia memasuki rumahnya tanpa salam seperti
biasanya.
“Walaikumsalam!” terdengar suara Ayahnya.
Aris yang hendak melepas sepatunya kemudian berjalan keluar.
“Oke ulang.” Teriaknya dari luar.
“Assalamualaikum Ayahanda.” Ucap Aris pada Ayahnya yang sedang membaca koran di ruang tamu.
“Dasar anak tidak sopan!” ucap Iwan sambil melempar koran yang sedang ia baca pada anak sewata wayangnya yang kini sedang
meletakan sepatu ke raknya.
“Gini salah gitu juga salah huh.” Gerutu Aris sambil menyalami Ayahnya dan menghampiri ibunya yang kini sedang menyiapkan makan
malam.
__ADS_1
“Aku pulang Ma!” Ucapnya sambil mengambil mendoan panas di meja makan.
“Bukannya salaman dulu sama Mama, kamu malah langsung nyomot gorengan Ris.” Ucap Wina sambil meletakan sup yang ia bawa.
“Ya habisnya kau udah lapar Ma.” Ucap Aris sambil menyalami Ibunya.
“Mandilah setelah itu kita makan malam bersama.” Ujar Wina.
Aris menuruti perintah Ibunya, Ia masuk ke kamarnya dan membersihkan diri.
Pukul tujuh malam Aris dan kedua orang tuanya makan malam bersama di selingi dengan obrolan-obralan ringan seputar kegiatan kuliahnya.
Setelah makan malam selesai Iwan memanggil Aris ke ruang kerjanya.
“Ada apa sih Yah sampe di panggil ke ruang kerja segala. Kan berasa mau disidang aku.” Ujar Aris sambil memandangi ruang kerja Ayahnya yang penuh dengan buku-buku.
“Lihat ini!” Iwan menyodorkan ponselnya kemudian diambil oleh Aris. Terlihat disana vidio unggahan Rico dan gosip-gosip yang Rico buat terkait dirinya dan Anna.
“Ya ampun Yah, untuk apa Ayah mengurusi hal semacam ini. “ Ucap Aris sambil meletakan ponsel Ayahnya.
“Ayah menyekolahkanmu supaya kamu belajar dengan baik Ris. Bukan malah ciuman
sembarangan seperti ini. Dan apa lagi ini? Disini tertulis kamu sudah menghancurkan hidup gadis ini. Sebenarnya apa yang kamu lakukan.” Suara Iwan meninggi namun tak membuat Aris takut karena ia sudah terbiasa cek cok dengan Ayahnya.
“Percuma aku jelaskan. Ayah pasti tak akan percaya denganku. Silahkan saja Ayah suruh orang Ayah untuk cari info yang sebenarnya toh Ayah bisa dapat berita ini dengan mudah pasti Ayah juga bisa mencari kebenaran yang sesungguhnya bukan malah mengadili aku seperi ini.” Ucap Aris sambil meninggalkan ruang kerja Ayahnya.
Aris meninggalkan rumahnya, melajukan mobilnya dengankecepatan tinggi menuju rumah Anna. Entah kenapa tiba-tiba ia ingin melihat Anna.
“Na kalo malam in ge bisa liat lu, gue pasti bener-bener bakal berjuang buat dapetin lu!”
Gumam Aris.
.
.
.
Main tebak-tebakkan
yuk!
Menurut kalian
Aris bakaln berhasil liat Anna malam itu juga ngga?
Atau dia
bakal kecelakaan gara-gara ngebut?
LIKE
LIKE DAN
KOMEN WAJIB!!!
__ADS_1