
Anna, Rani, Dewi dan Dita telah sampai di tempat tujuan mereka. Empat gadis itu kini berada di Mall yang sebelumnya pernah dikunjungi mereka saat mengubah penampilan Anna dulu. Mereka langsung berjalan ke arah toko baju dan layaknya anak muda masa
kini, mereka hampir mendatangi semua toko tanpa satu pun barang mereka beli.
Istilah yang sering pakai untuk kegiatan seperti ini adalah cuci mata. Cuma nambah pekerjaan pegawai toko yang harus membereskan pakaian yang mereka pilih-pilih berulang kali namun akhirnya tak ada yang mereka beli.
Sekarang mereka sedang mengantri untuk membeli tiket nonton salah satu film favorit
mereka. Setelah selesai nonton dan merasa lelah mereka menuju sebuah restoran
dan memesan makanan.
Sambil menunggu pesanan datang keempatnya mengobrol riang. Tak lupa mengucapkan
selamat ulang tahun untuk Rani sahabat tercinta mereka dengan semua do’a-do’a
terbaiknya.
Hari ini terasa sangat menyenangkan, menghabiskan waktu bersama sahabat. Sahabat adalah orang-orang penting yang terdapat pada urutan ke tiga dalam hidup Anna, setelah Ayahnya yang berada di nomor satu dan kekasih di nomor dua. Namun sayangnya sampai saat ini Anna belum memiliki orang yang mengisi urutan nomor dua itu, tapi setidaknya sudah ada kandidat untuk mengisi posisi itu hanya saja Anna
masih terjebak dalam perasaan benci tapi cinta. Walaupun rasa cintanya kini
sudah bisa menutup kebenciannya, tetap saja sosok Anna yang perfeksionis itu
tidak mudah melupakan kegagalan yang dialaminya.
Sementara itu disisi lain, Aris yang kini sedang menemani Wina dan Leni berbelanja juga
berada di Mall yang sama dengan Anna. Aris tak mengetahui jika Anna akan pergi
ke Mall karena Anna sebelum berangkat bersama ketiga temannya hanya bilang dia
akan pergi menghabiskan waktu bersama teman-temannya tanpa memberitahu kemana
mereka akan pergi.
Aris sudah beberapa kali mengirim pesan pada Anna tapi gadis itu tak membalasnya. Aris
memakluminya mungkin saat ini gadisnya sedang bersenang-senang dengan
teman-temannya hingga tak memeriksa ponselnya, terlihat dari pesan yang ia
kirim masih ceklis dua tanpa garis biru berarti Anna belum membacanya.
Aris mengikuti Mamanya dan Leni masuk ke sebuah super market untuk membeli bahan
makanan karena malam ini Wina mengundang Leni untuk makan malam di rumahnya.
Sesuai dengan perkataannya akan membantu mendekatkan putranya dengan Leni.
Sebenarnya Wina bukan tipe orang tua yang memaksakan kehendak pada anaknya. Dia hanya tidak tega pada Leni yang terus saja merengek padanya. Wina hanya mencoba
memenuhi perkataannya saja, soal hubungan putranya kedepannya tentu saja
diserahkan sepenuhnya pada Aris. Cukup dia yang merasakan pernikahan karena
perjodohan, ia tak ingin anak semata wayangnya mengalami hal yang sama
dengannya.
Meskipun kini dirinya dan Iwan sangat bahagia hingga mereka bisa memiliki Aris, namun
pernikahan karena perjodohan sangatlah tidak mudah. Apalagi saat kita tahu
orang yang dijodohkan dengan kita mencintai wanita lain dan terpaksa meninggalkan wanitanya untuk Wina karena perjodohan yang dilakukan orang tua mereka. Tidak mudah membuat orang yang yang terpaksa menikah dengan kita menjadi cinta pada kita. Bahkan dirinya harus berjuang habis-habisan untuk membuat Iwan bisa menerimanya dengan tulus.
__ADS_1
Hingga kini saja Wina masih memendam tanya karena meski sudah dua puluh tahun sejak mereka menikah Iwan masih sering mengurung diri dan menangis di ruang kerjanya pada
saat-saat tertentu. Sebenarnya Wina sedang mencari tahu alasan dibalik itu
semua tapi sayang sampai kini ia belum menemukan alasannya.
Aris mendorong troli dan mengikuti dua wanita d depannya yang secar bergantian
mengambil beberapa barang secara bergantian.
“Tante bisa tidak tinggalin aku sama Aris. Biar aku bisa makin deket sama Aris.” Bisik Leni pada Wina.
“Baiklah. Tante akan pulang duluan. Kalian selamat bersenang-senang.” Bisik Wina. Ia
kemudian berbalik pada putranya yang setia dengan troli di belakangnya.
“Ris Mama mau ke toilet sebentar, kamu tolong lanjutin belanjanya sama Leni ya.”
Aris pun
menganggukkan kepalanya. Aris terus mengikuti Leni dengan mendorong troli
belanjaan yang sudah setengahnya terisi penuh. Leni berulang kali mencoba
berbicara pada Aris. Mencoba melakukan pendekatan pada lelaki yang ia sukai.
Namun sayang Aris hanya menanggapi perkataan Leni seperlunya saja.
Lumayan lama Aris mengikuti Leni belanja yang juga tak kunjung selesai. Ia merasa dibohongi Mamanya. Tadi bilangnya mau ke toilet tapi tak selang lama Aris menerima
panggilan Dari Wina yang mengatakan Ia tak bisa meneruskan belanjanya dan harus
segera ke kantor suaminya, karena Iwan memintanya menemani makan siang bersama
rekan bisnisnya. Wina meminta Aris untuk membayar belanjaannya dan mengantarkan
sudah merasa sangat bosan harus menemani gadis yang terus saja ngoceh tanpa
henti itu.
“Masih ada yang mau lu beli? Ini troli udah penuh.” Keluh Aris.
Leni sebenarnya masih ingin bersama Aris lebih lama lagi tapi nampaknya lelaki itu
sudah bosan. Leni melihat ke troli yang di dorong Aris, benar saja sudah penuh
dengan barang-barang yang seharusnya tak ia beli.
“Kayaknya udah. Ayo kita bayar.”
Keduanya pun berjalan ke arah kasir untuk membayar. Aris berdiri di hadapan kasir yang
sedang menghitung belanjaan mereka. Leni berdiri di samping Aris mengeluarkan
belanjaan mereka dari troli.
Senyum yang terukir di bibir mungil Anna tiba-tiba sirna saat melihat sosok yang selama ini
mulai ia cintai sedang berdiri di depan kasir super market dengan seorang gadis. Anna bisa melihat dengan jelas kalau itu Aris karena jarak mereka tak terlalu jauh, super market tempat Aris berada bersebelahan dengan restoran tempat Anna dan teman-temannya kini berada.
“Lu kenapa Na kok tiba-tiba diem?” Tanya Dita yang duduk di sampingnya.
Tak mendapat
jawaban Dita pun menyubit lengan Anna.
__ADS_1
“Woy kenapa
lu? Kesambet?”
“Liat itu!”
Ucap Anna sambil menunjuk ke tempat super market tempat Aris dan Leni berada.
“Ada apaan sih?” Dita Pun mengikuti telunjuk Anna dan akhirnya ia paham kenapa sahabatnya
itu tiba-tiba terdiam.
“Ada apaan sih Dit?” Tanya Dewi dan Rani bersamaan.
“Tuh!” Dita dan Dewi pun menengok ke belakang dan melihat Aris dengan seorang gadis sedang
kelar dari area super market dengan beberapa kantung belanjaan di tangan mereka.
“Bau-bau kebakaran di sini.” Ledek Rani.
“Makanya hubungan kalian tuh diperjelas Na. Jangan kaya gini kan jadi repot ujungnya. Lu
mau marah kaga punya hak soalnya lu bukan pacarnya.” Jelas Dewi.
“Mau ngga marah tapi ada rasa. Gimana dong haha.” Ledek Rani.
“Sialan kalian!!.” Ucap Anna dengan nada yang sedikit naik.
“Bener kata mereka gue ngga punya hak buat marah. Apalagi melarang Aris dekat dengan gadis manapun, itu haknya. Tapi kenapa hati gue ngga ikhlas. Huft bodohnya rasa ini.”
Gumam Anna dalam hati, lalu beranjak berdiri dari duduknya.
“Eh mau kemana lu Na?” Dita beranjak berdiri mengikuti Anna yang kini sengaja berjalan
ke arah Aris.
Keduanya perpapasan, Aris dengan Leni dan Anna bersama Dita. Cukup lama mereka terdiam hanya dengan adu tatapan keduanya seolah berkomunikasi. Ada tatapan marah di
mata Anna dan tatapan bersalah di mata Aris. Tanpa bicara Anna berlalu meninggalkan Aris, sedang Dita hanya bengong
dengan tindakan konyol sahabatnya itu.
“Na tunggu! Ini ngga seperti yang lu pikirkan.” Teriak Aris yang sepertinya tak dihiraukan
oleh Anna. Gadis itu terus menjauh bahkan mempercepat langkahnya.
Aris meletakan kantung belanjaannya dan mengejar Anna. Sementara Leni terus saja
merutuki sikap Aris yang meninggalkannya begitu saja.
.
.
.
KALO KALIAN
SUKA DENGAN CERITA INI SILAHKAN TAMBAHKAN KE FAVORIT DENGAN CARA KLIK SIMBOL
HATI. KALIAN BAKAL DAPAT NOTIFIKASI KALO AKU UP BAB BARU.
TERIMAKASIH
BUAT KALIAN YANG MASIH SETIA DENGAN KISAH INI.
__ADS_1
LIKE DAN
KOMEN WAJIB!!!