
Anna masuk ke salah satu kamar kecil di toilet ia menguncinya kemudian menuntaskan hasrat buang air kecilnya. Setelah selesai ia hendak keluar tapi siapa sangka pintu yang sudah dibuka kuncinya itu tak mau terbuka. Lampu toilet tiba-tiba mati. Seketika Anna berteriak karena ia memang takut gelap.
"Siapa disana? Toloooong." Teriak Anna.
"Please jangan maen-maen gue takut gelap. Tolong." Ucapnya semakin tak jelas karena takut.
Tak ada jawaban dari luar sana meskipun dapat mendengar suara gemercik air dari wastafel tempat cuci tangan yang menandakan berati ada orang di luar sana.
Anna terdiam pasrah, dia sadar bahwa seseorang mungkin sengaja menguncinya disini meskipun ia tak tau apa salahnya hingga ia harus diperlalakukan seperti ini.
Air mata mulai membasahi pipinya, kemudian ia sadar kalo dia membawa ponsel. Dikuarkannya ponsel dari saku switer yang ia pakai kemudian mulai menghubungi teman sekamarnya.
Kontak dengan nama Dita merupakan pilihannya, ia pun menekan tombol hijau berbentuk telpon itu namun hanya deringan yang terdegar tak ada jawaban dari pemiliknya. Kemudian ia kembali mencoba menghubungi temannya yang lain dicobanya menghubungi Rani dan Dewi secara bergantian tetap saja tak ada yang menjawab panggilannya. Mungkin ketiga temannya itu masih asik dengan permainan TOD mereka hingga tak menyadari ponselnya berdering.
Anna merasa lama-kelamaan di tempat gelap ini membuatnya sulit bernafas karena berusaha melawan rasa takutnya namun ternyata gagal.
Ia pun mulai membuka daftar kontak di ponselnya dan melihatnya satu-persatu siapa tau ada yang bisa ia hubungi walaupun ia sadar kalo dia hanya menyimpan tiga kontak temannnya saja, namun kemudian ia membelalakan matanya seolah tak percaya ada nama Aris di daftar kontaknya. Seketika ia menghapus genangan air mata di pipinya ia, seridaknya masih ada harapan orang yang bisa ia hubungi.
Sebenarnya ia enggan menghubungi Aris, itu terlihat jelas dari jarinya yang seolah tertahan antara iya dan tidak untuk menekan ikon panggilan itu.
Ia pun kembali menangis dan memegangi dadanya karena nafasnya terasa sesak hingga akhirnya ia memutuskan menelpon Aris.
"Halo." Ucapnya sambil terisak saat mengetahui panggilan yang ia lakukan dijawab.
"Iya ada apa Na?" Tanya Aris.
"Tolongin gue kekunci." Ucap Anna.
"Lu dimana?" Terdengar suara cowok itu khawatir.
"Toilet asrama." Jawab Anna.
Tak ada sautan dari Aris karena saat itu teleponnya langsung dimatikan.
Setelah menerima panggilan dari Anna, Aris yang saat itu sedang berkumpul dengan teman-temannya di sebuah cafe yang dekat dekat area kampus lantas dengan buru-buru pergi tanpa berpamitan pada teman-temannya. Bahkan Irpan yang memanggilnya pun ia abaikan.
__ADS_1
"Woy Ris lu mau kemana?" Seru Irpan namun orang yang ia maksud sudah keluar dari cafe.
"Udah biarin aja Pan, mungkin dia ada keperluan mendadak." Ucap Indra.
Aris terus berlari menuju asrama, terlihat jelas sosok itu sedang sangat khawatir saat ini. Ia tak tau kenapa begitu menyakitkan mendengar gadis cupu itu menangis. Ia merasa beruntung saat HP Anna terjatuh dulu ia menyimpan kontaknya disana, dan akhirnya berguna di saat seperti ini.
Sampai di asrama Aris lantas berlari menuju toilet, ia memeriksa satu persatu toilet yang ada d asrama. Tapi tak menemukan sosok cupu yang di khawatirkannya itu.
Hingga kini ia berada di toilet yang letaknya dekat dekat dengan loby ia hendak melewatinya karena disana terpampang tulisan 'sedang dalam perbaikan' namun pada akhirnya ia memasuki toilet itu yang ternyata gelap.
Aris menggunakan senter di ponselnya kemudian ia melibat satu pintu yang di ganjal dengan sapu dan alat pel sehingga pintu itu tak bisa terbuka. Pikirannya langsung terpaku dengan pintu tersebut, ia pun mengampiri pintu itu kemudian melepas sapu dan alat pel hingga tak lama pintu itu terbuka.
Betapa kagetnya dia saat melihat sosok tang ia khawatirkan itu terbaring tak sadarkan diri.
Aris langsung berjongkok dan menghampiri Anna. Diduduknya tubuh gadis itu dalam pelukannya kemudian ia mengusap pipi yang basah karena air mata.
"Na bangun, Anna bangun." Ucap Aris sambil menepuk bahu gadis itu hingga ia terbangun.
"Tolongin gue, gue takut." Ucap Anna dengan suara yang lemah hampir tak terdengar.
"Makasih." Ucap Anna yang kemudian ia tak sadarkan diri lagi.
Aris memandang Anna yang kembali tak sadarkan diri dipelukannya.
"Mulai sekarang gue bakal jagain lu." Ucapnya sambil mengelus pipi Anna kemudian menggendong tubuh mungil gadis itu.
Aris membawa Anna menuju kamarnya di asrama putri. Setelah sampai di depan kamar Aris mengetuk pintu namun tak ada yang membukakan pintu, hingga dengan kasar Aris menendang pintu itu.
Mendengar pintu digedor keras Dita, Rani dan Dewi yang sedang tertawa terbahak-bahak dengan kekonyolan permainan TOD mereka pun menghentikan permainannya.
Dita berjalan menghampiri pintu dan membukanya. Dilihatnya Aris membopong Anna dengan kedua tanganya. Tanpa basa basi Aris masuk dan merebahkan tubuh Anna di kasur.
Dita, Rani dan Dewi hanya terdiam sambil saling tatap melihat temannya di bawa oleh cowok yang ia benci.
Aris duduk di samping rancang Anna sambil sesekali mengusap lembut pipi gadis itu.
__ADS_1
Melihat Aris yang nampak sangat perhatian pada temannya dia memberanikan diri menanyakan kenapa temannya bisa sampai tak sadarkan diri seperti itu.
"Kenapa Anna bisa jadi seperti ini?" Tanya Dita.
"Gue ngga tau, gue nemuin dia terkunci di toilet" jawab Aris dengan fokusnya yang masih memandangi Anna yang tak juga sadar.
"Makasih udah nolongin temen gue, sebaiknya lu segera balik kamar. Anna bisa ngamuk kalo pas bangun liat lu disini." Ucap Rani.
"Gue balik, tolong kalian jaga dia."
"Ngga udah di suruh juga pasti kita jagain Anna." Jawab Dita.
"Terus kemana kalian pas Anna butuh bantuan? Untung aja gue save nomor gue di hp dia kalo ngga gue ngga gau apa yang bakal terjadi sama Anna." Ucap Aris sebelum akhirnya meninggalkan kamar itu.
Setelah Aris pergi ketiganya langsung melihat hp mereka masing-masing ada penyesalan tersediri saat mereka melihat beberapa panggilan tak terjawab dari Anna.
"Maafin gue Na." Ucap Dita sambil menyelimuti temannya.
sementara itu Aris di kamarnya masih tampak khawatir memikirkan keadaan Anna.
"kenapa Anna bisa terkunci di kamar mandi, dan dari yang ia lihat nampaknya ada seseorang yang sengaja membuat pintu itu tak bisa dibuka dengan menggunakan sapu dan alat pel.'' pikirnya dalam hati.
.
.
.
Sampai sini dulu. Jangan lupa like dan komentarnya yah.
Menurut kalian siapa coba yang ngunciin Anna di toilet? Tuliskan jawaban kalian di kolom komentar.
JANGAN LUPA LIKE.
BIASAKAN LIKE SETELAH BACA SUPAYA WRITER SEMAKIN SEMANGAT NGELANJUTIN CERITANYA.
__ADS_1