Bukan Perjodohan

Bukan Perjodohan
34. Dari Aris


__ADS_3

Hari senin kembali menyapa dengan segala hiruk-pikuk yang mengawali hari itu. Hari yang kebanyakan dibenci orang-orang, hari minggu yang ditunggu selama tujuh hari terasa singkat dan sudah kembali ke hari senin. Malas adalah satu kata yang sering keluar dari bibir sebagian besar orang untuk menggambarkan


hari yang melelahkan karena harus kembali bekerja.


Tapi hal itu tidak berlaku bagi gadis yang kini tak lagi memakai kaca matanya. Bahkan pagi ini Ayahnya dibuat kaget karena melihat putrinya tak mengenakan kaca mata yang biasanya malah mengenakan kaca mata hitam layaknya orang mau pergi ke pantai untuk berwisata.


Setalah menjelaskan hasil pemeriksaan mata yang ia lakukan pada Ayahnya, lelaki itu tampak tersenyum. Bahagia melihat putri satu-satunya kini sudah dewasa dan mulai memperhatikan penampilannya. Berubah drastis dari Anna yang dulu, Anna yang tak peduli akan penampilan dan berdalih segala sesuatu yang penting fungsinya bukan indahnya.  Manusia itu yang penting isi hati dan otaknya bukan penampilannya.


Tapi kini gadis itu menyadari bahwa penampilan juga memberikan efek yang baik pada kehidupannya terbukti dia merasa bahagia karena saat ini memiliki fans dadakan di kampusnya.


Anna turun dari mobil dan berpamitan pada Ayahnya kemudian berjalan menuju asrama dengan kaca mata hitam menghiasi wajahnya. Setibanya di kamar


terlihat jelas ketiga temannya terkejut saat mendapati Anna masuk.


“Oh my god, keren banget Na.” Puji Rani.


Anna hanya tersenyum menanggapi kehebohan teman-temannya. Rani mengambil kaca mata Anna dan memakainya di wajahnya. Kemudian mengambil ponselnya dan berselfi ria.


“Bagus nih kaca mata. Dapet dari mana?” Rani melepas kaca mata itu dan mengembalikan pada Anna.


“Dari Aris.”


“What? Kok bisa?” Dita yang penasaran langsung duduk mendekat pada Anna. Begitu pula dengan Rani dan Dewi. Hingga akhirnya Anna menceritakan hari minggunya yang menyenangkan kemarin. Ketiga temannya turut senang atas kebahagiaan Anna saat ini.


Seminggu berlalu dengan penuh kebahagiaan. Hubungan Anna dan Aris makin dekat. Irpan yang semula belum bisa mengikhlaskan Anna untuk sahabatnya kini sudah berlapang dada saat melihat gadis itu selalu tersenyum saat bersama Aris.


Pagi ini Leni kembali mendatangi kediaman Wina, Ia merengek pada Wina untuk ikut  pergi yang kala itu hendak menjemput putranya di asrama. Wina sosok yang lemah lembut dan baik hati itu tak tega dan mengijinkan Leni untuk ikut, meskipun ia tau mungkin Aris tak akan menyukainya tapi ia sudah terlanjur mengatakan akan membantu gadis yang kini


duduk di sampingnya untuk dekat dengan putranya.


Mobil yang dikendarai Wina berhenti di depan asrama. Tapi keduanya belum turun karena Wina hendak mengabari putranya dulu sebab sebelumnya dia tak memberitahu kalo dirinya akan datang. Berulang kali Wina menghubungi putranya tapi telpon itu tak kunjung dijawab.


Sementara itu di asrama Aris sedang bersama dengan Anna dan teman-temannya.


“Yakin ngga perlu gue anterin Na?” Tanya Aris.


“Ngga perlu Ris, kita kan bertiga lagi pula Dita udah pesen taksi online barusan. Nih lima menit lagi sampai sini taksinya.” Ucap Anna. Kali ini Anna, Dita dan Dewi akan pergi untuk merayakan hari ulang tahun Rani. Rani


mengajak mereka belanja dan berniat mentraktir teman-temannya makan siang.


“Iya. Hati-hati yah, kalo udah sampe jangan lupa kabarin gue!”


Perintah Aris sambil mengelus rambut Anna.


“Ngga usah lebay deh Ris. Lagian kita perginya rame-rame.” Ledek Dita.

__ADS_1


“Bilang aja lu iri.”


“Cih buat apa gue iri? Lagian gue udah punya pangeran gue sendiri.” Ucap Dita sambil mengandeng lengan Irpan yang juga ada di sana. Irpan memang belum menerima Dita sebagai pacarnya meskipun Dita sudah berulang kali mengungkapkan perasaannya.


“Udahlah kalian semua lebay. Jangan pada pamer di depan gue! Bikin jiwa


jomblo gue meronta-ronta ini.  Ayo buruan


taksinya udah di depan.” Ajak Dewi.


Aris dan Irpan mengantar empat gadis itu hingga menaiki taksi pesanan mereka. Berulang kali Aris mengingatkan Anna untuk menghubunginya jika terjadi apa-apa. Setelah kedua insan yang sedang terjangkit *bucinisme* itu selesai dengan kata-kata perpisahan yang alay, taksi itu pun melaju meninggalkan Aris dan Irpan yang tersisa di sana.


Aris hendak kembali ke kamarnya, tapi ia melihat Wina mobil ibunya. Dan benar tak selang lama Wina turun dari mobilnya. Wina berjalan menghampiri Aris diikuti gadis yang ia tak asing lagi.


“Siapa?” Tanya Irpan sambil menyenggol bahu Aris.


“Emak gue!”


“Heu!” Ucapnya sambil menyenggol bahu Aris  lagi. “Gue tau itu Tante Wina, Emak lu. Maksud gue siapa yang jalan di sampingnya?.” Tanya Irpan.


“Leni, Anak rekan bisnis Ayah, Ibunya juga ikut  arisan bareng  sama emak gue.”


“Siang Tante.” Sapa Irpan sambil menyalami tangan Wina.


“Ibu baik Tan.”


“Ma, mau kesini kok tidak memberitahu Aris terlebih dulu?”


“Mama udah bolak balik nelpon kamu, tapi tidak kamu angkat.” Kesal Wina.


Aris pun mencari ponselnya, namun tidak ketemu, ia menggaruk kepalanya yang tak gatal.


“Sepertinya ponsel Aris ketinggalan di kamar Ma.” Ujar Aris.


“Oh ya Mama ada perlu apa kesini? Apa Mama butuh bantuan Aris?” Tanya Aris.


“Ya. Mama kesini sama Leni mau nagih janji kamu yang minggu lalu. Katanya mau nemenin kita jalan. Hari ini kamu tidak ada kegiatan kan?”


Aris ingin menolak keinginan Mamanya karena saat ini Leni ikut bersama Mamanya. Tapi ia terlanjur janji dan tak mungkin menolak ajakan Mamanya. Aris sangat menyayangi Mamanya.


“Baiklah, Mama tunggu disini sebentar Aris Ambil ponsel dulu.”


Aris kembali ke kamarnya bersama Irpan.


“Awas lu kalo sampe nyakitin Anna!” Ancam Irpan. Karena Irpan menyadari ada tatapan suka di gadis yang di bawa ibunya Aris. Terlihat jelas karena sedari tadi Leni terus menatap Aris meskipun gadis itu tak berbicara

__ADS_1


sedikit pun.


“Ya ngga mungkinlah, lu tau kan gue sayang banget sama Anna. Meskipun sampe sekarang dia belum bisa terima perasaan gue. Tapi gue yakin suatu saat gue pasti bisa bikin hubungan gue sama dia jadi jelas.” Ujar Aris.


“Iya percuma gue berhenti berjuang dan korban perasaan kalo lu ngga bisa bahagiain dia.”


“Maksudnya?” Tanya Aris yang tak paham dengan kata-kata yang keluar


dari mulut sahabat yang kenal sejak SMP.


“Ngga. Udah sana buruan, Tante Wina udah nungguin.”


“Iya, gue cabut duluan yah.” Pamit Aris setelah mengambil ponselnya dan meninggalkan Irpan.


Saat ini Irpan sudah mengetahui semua kebenaran hubungan Aris dan Anna.


Mulai dari gosip dan vidio unggahan Rico. Semuanya sudah dijelaskan oleh Dita


jika itu hanya kesalahpahaman semata. Kala itu, Irpan ingin kembali berjuang


kembali mendapatkan cinta Anna. Namun setelah melihat perubahan sikap Anna


terhadap Aris membuatnya mengurungkan niatnya dan mulai belajar membuka hari


untuk Dita, gadis yang kini selalu berusaha mendapatkan kasih sayangnya.


.


.


.


Terimakasih buat kalian yang selalu ngikutin kisah ini.


Kritik dan saran selalu kau terima supaya karya ini bisa berkembang.


Jangan lupa tekan like dan favoritkan yah. Aneh yang baca banyak tapi


like nya irit banget.


kalian tau ngga penyakit bucinisme? kalo kaga tau komen. ntar aku kasih tau.


Jangan pelit-pelit tekan like kan gratis ini.


INGET LIKE DAN KOMEN WAJIB HUKUMNYA!

__ADS_1


__ADS_2