Bukan Perjodohan

Bukan Perjodohan
56. Masa lalu


__ADS_3

Wina masih terduduk di lantai dengan lemas, sekali lagi wanita itu menatap selembar foto di tangan kanannya.


“Sintia.” Tangisnya kembali pecah setelah menyebut nama perempuan yang fotonya kini ia pandangi.


"Anna sangat mirip denganmu. Mungkinkah?" ucap Wina tertahan.


Yang Wina ketahui Sintia adalah sosok wanita yang cerdas, ramah dan gampang bergaul. Wanita itu adalah kekasih Iwan dulu sebelum akhirnya Iwan meninggalkan Sintia untuk menikahinya karena perjodohan yang dilakukan oleh kedua orang tua mereka.


Tak jelas apa motif dibalik perjodohan dirinya dengan Iwan. Bukan seperti novel-novel yang dijodohkan karena harta apalagi kekuasaan karena yang mereka ketahui kedua perusahaan orang tuanya dalam keadaan baik-baik saja.


Wina dan Iwan menuruti keinginan orang tua mereka hanya sebagai bakti mereka terhadap orang yang telah membesarkannya. Wina juga tak ingin merebut Iwan dari Sintia, karena bagaimana pun Wina juga wanita dia sadar bagaimana rasanya jika seseorang yang ia cintai meninggalkannya demi orang lain. Tapi dirinya juga tak punya pilihan lain sehingga tetap menuruti keinginan orang tuanya untuk menikah dengan Iwan meski ia tau Iwan tak mencintainya.


Wina bahkan tahu setelah menikahinya, Iwan masih sering menemui Sintia. Wina mencoba berlapang dada menghadapi kenyataan itu, karena bagaimana pun ia sadar melupakan seseorang yang sangat kita cintai tidak semudah membalikan telapak tangan. Ia mencoba menerima apa pun keadaannya dan melayani Iwan selayaknya istri yang baik. Wina memilih bersikap pura-pura tak tahu pada Iwan.


Dua tahun berlalu setelah pernikahan mereka, Wina tengah mengandung Aris. Wina sangat bahagia karena akhirnya Iwan bisa menerima dirinya sebagai istrinya seutuhnya.


Wina begitu bahagia menjalani hari-harinya sebagai wanita hamil. Iwan sangat perhatian padanya, nampaknya pria itu telah membuka hati seutuhnya untuknya. Iwan bahkan selalu menuruti keinginan Wina yang aneh-aneh saat itu. Wina benar-benar merasa seperti wanita paling beruntung di dunia. Ia sangat bersyukur tenyata perjuangannya selama ini tidak sia-sia.


Hingga suatu hari saat ia berbelanja dengan asisten rumah tangganya, Wina melihat Iwan sedang berjalan dengan seorang wanita yang tengah hamil pula. Iwan mengelus perut wanita itu yang tak lain adalah Sintia.


Hatinya begitu hancur melihat suami yang ia kira sudah menerima dirinya dan mencintainya ternyata masih berhubungan dengan Sintia, mantan kekasihnya. Bahkan wanita itu sekarang juga tengah mengandung. Wina jadi berpikiran jangan-jangan selama ini Iwan terlihat bahagia bukan karena bayi yang sedang ia kandung melaikan karena bayi yang sedang di kandung Sintia.


Sepulang dari tempat belanja Wina langsung menghubungi orang kepercayaannya, menginstruksikan orang itu untuk menjauhkan Sintia dari suaminya.


Iwan tiba di rumah dengan raut wajah yang bahagia seperti biasanya ia langsung mengelus perut buncit istrinya. Wina walaupun kesal ia tetap berpura-pura seolah tak terjadi apa-apa dengan hatinya yang hancur. Wanita ini selalu memendam kesedihannya sendiri dan berusaha tampak baik-baik saja di depan siapa pun.


Setelah hari itu, tahun berganti tahun, bayi yang ia kandung telah tumbuh menjadi sosok tampan kesayangannya saat ini.


Semuanya sangat membahagiakan, apalagi mengetahui putranya memiliki seorang gadis yang membuat hari-harinya di penuhi senyuman. Bahkan ia sudah mengenal gadis itu dan mengenalkannya sebagai calon mantunya.


“Bagaimana ini? Sintia? Benarkah Anna adalah putrimu?” Ucap Wina sambil memandangi foto itu.


“Jika dia adalah putrimu maka dia juga anak Mas Iwan?” Wina tak bisa membendung tangisnya yang makin pecah di ruang sunyi itu.

__ADS_1


Wina beranjak berdiri dan meletakan buku tebal itu kembali ke laci, sedangkan selembar foto Sintia masih ia pegang. Wina menghapus air mata dari pipinya dan keluar dari ruang kerja Iwan yang ternyata sudah pulul satu malam. Cukup lama wanita itu menangis di sana.


Aris yang baru saja kembali dari dapur dengan segelas air di tangannya mendapat Wina yang baru saja keluar dari ruang kerja ayahnya. Aris pun menghampiri Wina. “Mama belum tidur?”


“Belum.”


“Mama abis nangis? Kenapa wajah Mama sembab gitu?”


“Mama tidak apa-apa, sudah kamu kembali ke kamar dan tidur agi. Mama juga mau istirahat.” Wina meninggalkan Aris berjalan menuju kamarnya.


“Aneh banget ngga biasanya Mama kaya gitu.” Aris berjalan sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.


Pagi harinya karena hari ini minggu maka Aris berencana mengajak Anna untuk mengunjungi panti asuhan yang dulu pernah mereka kunjungi.


Sementara itu di kamar mewah dengan nuansa putih dan biru, Wina sedang buduk di depan meja riasnya dan melakukan panggilan telepon dengan seseorang.


“Tolong cari tau tentang orang yang fotonya telah saya kirim barusan.”


“Baik Nyonya.” Ucap orang diseberang sana.


“Tumben belum di panggil udah ke meja makan.” Tanya Wina setelah duduk di samping Aris.


“Aku mau ngajak Anna ke panti yang biasanya Ma. Udah lama juga Aris ngga kesana. Mama mau ikut? Tanya Aris.


Mendengar nama itu disebutkan pikiran Wina langsung melayang jauh. Bagaiaman jika Anna benar-benar putri Sintia. Ia harus memisahkan Aris dari Anna bagaimana pun juga mereka saudara satu ayah.


“Ma?”


“Hm iya sayang?”


“Mama kenapa sih aneh banget pagi-pagi udah ngelamun aja ngga seperti biasanya.” Tanya Aris.


“Mama ngga apa-apa sayang. Kalian berdua saja ke pantinya. Mama ada urusan, sampaikan salam Mama pada Anna dan ibunya.” Ucap Wina entah kenapa ia jadi membawa ibu Anna segala.

__ADS_1


“Iya nanti Aris sampaikan ke Anna. Tapi kalo ke ibunya ngga bisa Ma. Soalnya Ibu Anna udah meninggal.”


“Hah? Apa meninggal?” Wajah Wina berubah gugup.


Wina jadi takut apakah orang yang dulu ia suruh untuk menjauhkan Sintia dari Iwan telah membunuh Sintia?


Wina mencoba menenangkan dirinya, tapi bagaimana mungkin Anna bisa ada di dunia ini jika Sintia dibunuh oleh orang yang ia suruh.


Bagaimana pun aku tak pernah menyuruhkan untuk menghabisi Sintia, aku hanya menyuruhnya untuk menjauhkannya dari Iwan. Lagi pula belum tentu Anna dalah putri dari Sintia.


“Ya Tuhan semoga semua yang ku khawatirkan tak benar adanya. Aku tak ingin kebahagiaan putraku hancur.” Batin Wina.


“Ma?” Lagi-lagi Aris di buat heran dengan sikap Wina dari semalam hingga pagi ini, Mamanya terlihat gagal fokus berulang kali.


“Hm..” Wina menoleh ke samping dan melihat putranya tengah memperhatikannya.


“Mama kenapa sih Ma? Mama tidak seperti biasanya.”


“Mama tidak apa-apa. Sudah kamu selesaikan sarapannya. Anna pasti udah nungguin kamu.” Ucap Wina.


Aris pun menyelesaikan sarapannya kemudian kembali ke kamarnya untuk mengambil kunci mobilnya dan nerpamitan pada Wina.


“Aris berangkat dulu Ma.”


“Iya hati-hati.”


.


.


.


GIMANA DONG KALO KENYATAANNYA ANNA SAMA ARIS ITU SODARA?

__ADS_1


KITA TUNGGU AJA YAH HASIL INFORMASI DARI ORANG SURUHAN WINA.


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMENTARNYA.


__ADS_2