Bukan Perjodohan

Bukan Perjodohan
33. Like couple


__ADS_3

Anna sedang berdiri di depan lemari pakaiannya, ia binggung akan mengenakan pakaian seperti apa untuk keluar dengan Aris hari ini. Mengingat Aris saat mengantarnya pulang


kemarin menggunakan pakaian serba putih maka untuk acara hari ini ia memutuskan


untuk memakai pakaian serba putih.


Anna berdiri di depan cermin, dilihatnya pantulannya di cermin. Rambut tergerai sebahu


dengan stelan celana  jeans  dan kaos oversize serba warna putih.


“Cute juga.” Gumamnya.


Anna ingin mengenakan kaca mata hitam seperti yang biasa Aris kenakan, tapi apalah daya


matanya minus yang menyebabkan dia harus selalu memakai kaca mata yang biasa ia


pakai.


Ting.. Tingg..


terdengar suara bel rumahnya berbunyi. Anna segera turun dari kamarnya di lantai dua


untuk membukakan pintu.


Kriettt...


Pintu terbuka menampakan sosok Aris dengan stelan yang hampir sama dengannya. Jeans


dan kaos ovesize serba warna hitam.


Anna memandang Aris dengan seksama.


“Kok bisa malah jadi kaya sengaja baju couple gini.” Gerutunya.


“Kenapa?”


“Engga, dari penampilan lu kaya iblis dengan baju serba hitam dan gue layaknya malaikat


dengan warna putih.” Ujar Anna sambil memakai tas slempangnya.


“Cih...setampan ini lu bilang iblis. Yang ada kita tuh kaya orang pacaran yang pake


baju couple.” Ujar Aris.


“Ayo berangkat!” Ucap Aris sambil menarik tangan Anna.


“Kita mau kemana?”


“Udah ikut aja lu pasti suka.”


Anna pun mengikuti Aris berjalan ke mobilnya.


Sepanjang perjalanan Anna hanya diam dan menatap lelaki disampingnya yang sedang fokus


dengan kemudinya.


“Dilihat dari manapun gue tetep cakep.” Ujar Aris.


“Cih.” Anna hanya berdecih merutuki sifat narsis temannya. Ya kali ini Anna sudah


memutuskan untuk menerima Aris sebagai temannya.


Mobil yang Aris kendarai kini telah terparkir rapi di basement sebuah Mall ternama di kota


Jakarta.


“Kok kesini?” tanya Anna polos.


“Iya lah, di sini yang adem. Apa lu mau gue ngajak jalan lu ke taman yang panas gitu? Ogah


gue mah.” Ujar Aris sambil menarik tangan Anna membawa gadis itu masuk ke


area  Mall.


Aris mambawa Anna ke sebuah toko kaca mata. Lelaki itu lantas memilih kaca mata yang cocok

__ADS_1


dengan dirinya. Sesekali ia melirik ke arah Anna memastikan takut gadis itu


pergi jauh darinya.


Terlihat Anna sedang mencoba kaca mata hitam, gadis itu tersenyum menatap kaca di


depannya. Aris pun menghampirinya.


“Cantik.”


Anna langsung menoleh ke sumber suara, ia melepaskan kaca mata hitamnya kemudian


memakai kembali kaca mata miliknya.


“Kenapa dikembalikan lagi? Kalo lu suka gue bisa beliin buat lu.” Ucap Aris saat melihat  meletakan kaca mata hitam itu ke tempatnya.


“Gue suka, tapi sayang gue ngga bisa pake kaca mata itu. Lu tau sendiri mata gue minus,


kalo ngga pake kaca mata ini pandangan gue buram.” Terang Anna yang kemudian


melangkahkan kakinya ke toko asesoris sebelah.


Aris mengambil kaca mata yang ia inginkan, tak lupa ia juga membungkus kaca mata


yang Anna coba tadi kemudian pergi mencari Anna ke toko sebelah.


Setelah puas menuruti keinginan Anna untuk memebeli beberapa buku. Keduanya berhenti di food


courth untuk makan siang.


“Mau makan apa? biar gue yang pesan.” Ucap Aris.


“Apa aja gue ngikut aja.”


“Dua mie bakso beranak dan dua jus jambu.” Ucap Aris pada pelayan yang kini berada di


samping mereka.


Sambil menunggu pesanan mereka datang Anna memainkan ponselnya memeriksa apakah ada perkembangan


mengenai gosipnya yang beredar dengan Aris.


“Aneh.” Gumamnya.


“Kenapa?” Tanya Aris.


“Ini loh gue ngecek postingan Rico soal gosip kita, eh sekarang udah ngg ada loh. Udah


dihapus kayaknya.” Ucapnya sambil memperlihatkan ponselnya pada Aris.


“Kenapa lu jadi murung? Lu takut cewek-cewek bakal deketin gue ya?” ujar Aris.


“Kepedean lu.” Cicit Anna.


Tak lama pesanan mereka datang. Keduanya memakan makanan mereka.


“Na.” Ucap Aris saat keduanya sudah selesai makan.


“Apa?” Jawab Anna sambil meminum jus jambunya.


“Gue mau minta maaf buat  semua perlakuan maupun


kata-kata gue yang nyakitin lu selama ini.” Ucap Aris sambil menatap Anna.


Anna sejenak terdiam, sebenarnya kalo dipikir-pikir selama ini Aris tak pernah menganggunya


secara berlebihan. Bahkan semua masalah yang muncul termasuk soal gosip yang


diciptakan Rco semua adalah karena ulahnya sendiri yang terlalu emosi saat itu.


“Gue pengen jadi orang yang berarti buat lu, dan soal gosip maupun unggahan vidio Rico gue


yakin seseorang sudah membereskannya.” Ucap Aris.


Aris tahu berarti dengan terhapusnya semua postingan Aris terkait dirinya dengan Anna tak akan lepas

__ADS_1


dari pengaruh  ayahnya. Pasti saat ini ayahnya sudah mengetahui kebenaran yang sesungguhnya.


Ingin Anna berteriak dengan kencang bahwa dirinya juga ingin jadi orang yang berarti untuk


Aris. Ini adalah akhir pekan paling membahagiakan untuk Anna. Aris memang sudah


menjadi orang yang berarti untuknya akhir-akhir ini, terbukti dengan wajahnya


yang selalu muncul dipikiran Anna.


Namun untuk mengakui secara terang-terangan itu tidak mungkin, masih ada sebagian egonya


yang tak mengijikannya untuk melakukan itu. Rasanya belum cukup semua rasa


kagum dan sukanya pada Aris untuk menutupi kebencian atas kegagalannya. Tapi


saat ini untuk membenci seperti dulu pun ia tak mampu.


“Bodohnya rasa ini.” Batin Anna dalam hati.


“Gue juga minta maaf Ris.” Hanya itu kata-kata yang keluar dari bibir mungil Anna.


“Berati sekarang kita temenan yah.” Ucap Aris.


“Iya.” Jawab Anna.


“Yes... satu langkah maju.” Ucap Aris.


“Maksudnya?”


“Engga, nih sebagai tanda pertemanan kita gue punya hadiah buat lu.” Aris memberikan paper


bag pink yang kemudian di terima Anna.


Anna membuka melihat isi paper bag itu dan mengeluarkannya.


“Kaca mata?”


“Iya lu kan tadi bilang lu suka, jadi gue beliin.”


“Tapi kan gue ngga bisa pake kaca mata ini Ris, ngga jelas penglihatan gue jadinya.”


Keluh Anna.


“Gimana kalo abis ini kita ke tempat Om gue. Dia dokter mata. Kalli aja dari cara supaya lu


bisa lihat dengan jelas meskipun ngga pake kaca mata lu yang tebel ini.” Ucap Aris sambil membuka kaca mata Anna.


“Lu cantik kalo kaya gini.” Aris memandangi wajah Anna yang tanpa kaca mata.


“Balikin ngga, gue blur nih liatnya.” Keluh Anna.


“Iya nih gue balikin. Kasian lu ngga bisa liat wajah rupawan gue.” Ledek Aris sambil


memakaikan kaca mata Anna kembali.


“Tunggu bentar gue bayar dulu. Lu tunggu di sini aja.” Perintah Aris lalu meninggalkan


Anna menuju kasir.


Selesai membayar Aris kembali ke tempat Anna dan menggandeng gadis itu keluar dari Mall


untuk menemui Omnya yang seorang dokter mata.


“Tante bukannya itu Aris yah?”


.


.


.


.


Tunggu lanjutannya di bab selanjutnya yah.

__ADS_1


JANGAN LUPA


LIKE DAN KOMEN!!!


__ADS_2