Bukan Perjodohan

Bukan Perjodohan
23. Dia menolongku


__ADS_3

Pagi ini Anna terbangun dari tidurnya, tangannya langsung meraba ke samping tempat tidurnya mencari kaca mata. Setelah menemukan kaca matanya lantas ia menggunakannya. Dilihatnya teman-temanmya masih tidur.


Anna beranjak dari ranjang menuju kamar mandi untuk membasuh wajahnya. Dipandanginya wajah yang telah ia basuh itu pada pantulan cermin dibadapannya terlihat jelas mata yang sembab.


Sejenak ia teringat kejadian tadi malam dimana ia terkunci di toilet. Teringat pula bagaimana Aris datang dan mendekapnya ke dalam pelukannya hingga ia tak sadar apa yang terjadi setelah itu karena saat terbangun ia sudah di kamar.


Anna keluar dari kamar mandi saat mendengar suara berisik dari luar, nampaknya temannya sedang meributkan sesuatu.


"Kalian kenapa jam segini udah ribut?" Tanya Anna sambil melihat satu-persatu temannya.


"Astaga syukurlah lu masih ada disini, gue kira lu kemana." Jawab Dita.


"Emang kenapa?" Tanya Anna sambil berjalan menuju meja belajarnya. Mengambil ikat rambut kemudian mengikat rambutnya dan duduk kembali di ranjangnya.


"Kita khawatir banget Na. Dari semalem lu pingsan ngga sadar-sadar." Ucap Rani.


"Dan lain kali kalo lu mau keluar sebaiknya jangan sendirian, gue ngga mau kejadian seperti semalam terulang lagi." Ujar Dewi.


"Iya gue juga ngga sanggup deh kalo sampe lu kenapa-napa gue takut kena semprot Aris kaya semalem." Sambung Dita dengan bergidig ngeri mengingat ekspresi Aris tadi malam.


"Aris?" Tanya Anna heran. Ia tahu bahwa yang menolongnya Aris tapi ia tak menduga jika Aris sampai membawanya kembali ke kamar.


"Iya semalem dia yang bawa lu kesini. Dia keliatan khawatir banget tau Na." Ujar Rani.


"Btw gimana bisa Aris nemuin lu di toilet sih? Tanya Dewi penasaran.


"Gue yang telpon dia." Jawab Anna yang ditanggapi wajah teman-temannya yang keheranan. Bagaimana bisa Anna menelpon Aris padahal mereka biasanya selalu ribut. Dan lagi setau mereka Anna tak memiliki nomor HP Aris.


"Kok bisa?" Tanya Dita.


"Gue ngga tau pastinya gimana tuh nomor Aris ada di daftar kontak gue. Yang jelas semalem gue panik banget. Gue takut gelap. Gue hubungin kalian ngga ada yang ngangkat. Eh pas gue scroll scroll kontak ada nama Aris jadi gue telpon aja." Jelas Anna.


"Maafin kita ya Na, andai aja kita ngga main TOD semalem kita pasti bisa nolongin lu." Ucap Dita dengan wajah menyesalnya.


"Udah ngga apa-apa lagian kan sekarang gue baik-baik aja." Ujar Anna yang kemudian memeluk ketiga temannya.


Sementara itu Aris di kamarnya nampak gelisah. Lelaki itu mengkhawatirkan gadis cupunya karena semalam saat ia meninggalkannya gadis itu belum sadar. Aris ingin tahu keadaan Anna. Ia ingin mendatangi kamar Anna untuk memastikan keadaannya. Namun setelah dipikir-pikir kalo dia langsung mendatangi kamar Anna akan terlihat jelas wajah khawatirnya. Hingga akhirnya ia memutuskan untuk menghubunginya saja.


Ponsel Anna berdering, gadis itu langsung mengambil Hp yang tergeletak di nakas samping ranjangnya.


Ia tertegun melihat nama yang tertera di layar benda pipih yang ia pegang.


Dita yang penasaran melihat temannya mendapat panggilan tapi tak kunjung menjawab akhirnya mendekatinya.


"Siapa? Kenapa ngga diangkat?" Tanya Dita.

__ADS_1


Anna tak menjawab, ia memilih memperlihatkan nama panggilan masuk yang muncul di hp nya disana tertera nama Aris.


"Angkat aja. Bagaimana pun dia udah nolongin lu semalem." Ujar Dita.


Anna pun menekan tombol hijau di layar itu.


"Halo." Ucapnya canggung. Tiba-tiba ia teringat semua cacian yang telah ia keluarkan untuk lelaki yang kini menghubunginya.


"Halo Na, lu udah sadar. Gimana keadaan lu sekarang?" Tanya suara diseberang sana.


"Gue baik, makasih udah nolongin gue semalem. Kalo ngga ada lu gue ngga tau gimana nasib gue sekarang." Ucap Anna.


"Sama-sama Na." Ucap Aris kemudian mematikan panggilannya.


Setelah mengakhiri panggilannya Anna sadar ada rasa yang berbeda. Seolah bunga sedang bersemi di hatinya.


"Kenapa bisa sebahagia ini hanya karena menerima telpon darinya di pagi hari." Gumam Anna yang diiringi senyum di bibirnya.


"Abis nerima telpon mendadak gila lu Na, senyum-senyum sendiri gitu." Ledek Rani yang baru saja keluar dari kamar mandi.


"Bau-bau orang kasmaran disini." Ujar Dita yang langsung berlari ke kamar mandi karena Anna hendak melemparnya menggunakan sendal yang ia pakai. Karena hanya Dita yang tau orang yang baru saja menelpon Anna jadi dia bisa tau kalo temannya itu mulai suka dengan musuhnya.


Sedangkan Rani dan Dewi hanya menatap ke arah Anna heran karena tiba-tiba Anna yang tadi murung kini sudah ceria dan bahkan sampai mau melempar sendal ke Dita.


"Emang siapa yang telpon sih Na? Tanya Dewi kepo.


Disisi lain Aris juga tampak senyum-senyum ngga jelas setelah menutup panggilannya.


"Kenapa mendengar suaranya begitu membuatku bahagia." Gumam Aris.


"Anna andai lu tau kalo sebenernya gue yang nolongin lu waktu di Jogja. Bahkan gue juga ikut gagal masuk universitas yang gue mau karena nolongin lu. Andai lu ngga cerewet dah nuduh gue yang tidak-tidak gue mungkin udah suka sama lu. Kalo aja dari awal lu bersikap seperti sekarang mungkin kita sudah lebih dari sekedar teman" Pikir Aris dalam hati, kemudian terbayang wajah Anna semalam saat ia menolongnya gadis itu sangat manis.


"Arggh mungkin otak gue udah error pagi-pagi udah mikir hang tidak-tidak." Gerutu Aris sambil mengacak rambutnya kemudian pergi ke kamar mandi untuk bersiap-siap sebelum berangkat kuliah.


***


Anna dan ketiga temannya sedang berjalan menuju kampus. Mereka berjalan beriringan. Sesekali Dewi yang mengomentari penampilan Anna yang tak mengikuti trend itu.


"Na lu tuh cakep, coba tuh kaca mata di buka, terus rambut ngga usah di kepang gitu."Ujar Dewi.


"Iya gue setuju." Jawab Dita dan Rani bersamaan.


Bosan terus-menerus di komentari soal penampilan oleh teman-temannya sejenak Anna berhenti kemudian mengamati penampilan teman-temannya kemudian bergatian memandang dirinya sendiri.


"Ternyata gue paling jelek diantara mereka." Batin Anna.

__ADS_1


"Oke-oke dari pada kuping gue ini apnas denger kalian ngomentarin penampilan gue mulu. Gue ikut aja deh apa mau kalian." Jawab Anna.


"Sip lah. Kalo gitu akhir pekan ini kita ngga usah mudik. Kita beli baju sama make over penampilan culun lu itu." Ucap Dewi yang di angguki oleh Dita dan Rani.


Belum sempat Anna menjawab malah terdengar jawaban dari orang dibelakangnya yang tak pernah ia kira.


"Iya gue juga setuju sama kalian." Ucap Aris.


Anna, Dita, Rani dan Dewi pun segera menengok ke belakang. Dilihatnya Aris berdiri tak jauh dari mereka. Ketiganya langsung peka dan meninggalkan Anna sendiri.


"Kita duluan Na." Ucap Dita.


Aris berjalan mendekati Anna.


"Mereka bener, lu cantik kalo ngga pake kaca mata. Ya walaupun penampilan lu yang sekarang juga gue suka." Ucap Aris.


Mendengar kata-kata manis keluar dari mulut orang yang sempat ia benci membuat Anna tak bisa berkata-kata. Hanya gugup dan salah tingkah yang ia rasakan saat ini.


"Apalagi kalo lu diem kaya gini makin manis." Ledek Aris.


"Sialan kenapa dia mania beneran. Arghhh gue udah ngga bisa kontrol diri. Bisa-bisa nih anak kegeeran." Batin Aris.


Anna masih tak mengeluarkan kata-kata. Ia binggung harus berkata apa. Mau marah seperti biasanya tapi tak bisa. Entah kenapa sejak Aris menolongnya ia jadi mulai berkipir kalo mungkin memang benar bukan Aris yang menabraknya waktu di Jogja.


Tak lama datang seorang gadis dengan dress kuning selutut menghampiri mereka berdua.


"Hai Na." Sapanya.


"Iya." Jawab Anna yang tak mengenali perempuan dihadapannya.


"Hai Ris, lu disini juga."Tanyanya.


" Gue ngga ada urusan sama lu. Gue duluan Na." Ujar Aris.


"Apa lu udah ngga inget sama gue?" Tanya gadis berambut panjang itu.


Anna nampak berpikir dan mengingat-ingat namun tak juga ingat siapa sosok di depannya itu.


"Gue Leni. Kita kan pernah satu sekolah waktu SMA. " ujar Leni.


"Oh sorry gue ngga inget. Gue duluan yah udah telat." Pamit Anna sambil melambaikan tangannya dan pergi meninggalkan Leni.


"Liat aja, gue bakal deketin lu buat dapetin Aris Na." Guman Leni sambil memandangi gadis cupu yang kian menjauh.


LIKE LIKE LIKE JANGAN LUPA

__ADS_1


LIME GRATIS, SODAKOH LIKE SAMA KOMEN AJA BIAR AKU TAMBAH SEMANGAT.


__ADS_2