
Setelah cukup tenang Aris menoleh ke Anna yang berada di
sampingnya dan berkata. “Maaf yang gue takut ketinggian.”
Mendengar itu Anna ingin sekali menertawakan lelaki tampan
yang kini sedang memeluknya tapi ia tak tega. Ia malah berfikir dirinya yang
tak peka dengan Aris. Padahal dari awal tiba di wahana biang lala jelas-jelas
sikap Aris berubah tapi dengan semangatnya dia malah mengajak Aris menaiki
wahana itu.
Anna kemudian mengelus punggung lelaki yang masih memeluknya.
“Maafin gue ngga peka. Kenapa lu ga bilang kalo lu takut ketinggian. Kalo gue
tau pasti gue ngga bakal ngajak lu buat naik.”
Aris melepaskan pelukannya dan menatap gadis di hadapannya. “Mana
bisa gue nolak kemauan lu yang.”
Lagi-lagi roda merah itu muncul dan menambah gemas wajah
gadis itu.
“Segitu senengnya lu gue panggil sayang.” Ledek Aris.
Anna tak menjawab ledekan kekasihnya ia malah memukul tangan
Aris dengan pelan sebagai bentuk kekesalannya. “Nakal.” Ucapnya.
“Iya iya iya udah sekarang mau apa lagi?” Ucap Aris sambil
memegang tangan Anna yang masih saja memukulnya.
“Mau martabak sama arumanis yang warna pink itu.” Anna
menunjuk tukang arumanis dan martabak yang berjejer.
“Baiklah tuan putri bucinmu ini siap melayani anda.” Aris menggandeng Anna menuju jajaran makana
yang baru saja ia tunjuk.
Setelah mendapatkan makanan yang ia inginkan Anna dan Aris
bergegas untuk pulang sesuai dengan permintaan Permadi tadi tak boleh pulang
larut malam.
Anna duduk di samping Aris yang sedang mengemudikan
mobilnya. Gadis memakan makanan warna pink dengan rasa manis itu. Tak terasa
mereka sudah tiba di halamn rumah Anna.
“Gue ngga di bagi kapas warna pink nya Na? Padahal gue belum
__ADS_1
pernah makan itu loh.” Ucap Aris.
Anna melihat ke arah bungkus kapas pink yang sudah kosong.”Udah
abis yang.” Ucapnya dengan penuh sesal karena bisa-bisanya ia mengabiskannya
sendiri. Padahal sedari tadi Aris di sampingnya tapi tak ia tawari.
“Udah ngga apa-apa. Gue masih bisa nyicipin kok.” Ucapnya.
“Tapi kan udah---“ Anna tak bisa melanjutkan kata-katanya
karena mulutnya dibungkam dadakan oleh bibir Aris yang mencium gadis itu dan
******* sedikit bibir gadisnya.
“Manis.” Ucapnya setelah melepaskan ciumnya. Kemudian menusap
bibir Anna yang basah dengan ibu jarinya.
Anna masih terpaku.mencoba menyadari apa yang baru saja
dilakukan kekasihnya itu.
“Masuk sana udah malam.” Ujar Aris yang membuat Anna sadar
dari lamunannya kemudian beranjak keluar dari mobil Aris.
“Makasih. Hati-hati dijalan yang.” Ucap Anna sambil melambaikan
tangannya.
rumahnya. Di dalam rumah ia melihat Ayahnya yang seperti biasa sedang menonton
acara berita yang isinya debat, indonesia bedat club itu loh.
“Aris tidak mampir Na?” tanya Permadi pada putrinya.
“Iya Yah dia langsung pulang soalnya udah malem.” Anna
kemudian beranjak pergi ke kamarnya.
***
Hari senin kembali menyapa, kini mereka tengah disibukan untuk pelaporan hasil kunjungan industri.
seharian ini kelas itu mendiskusikan hasil kunjungan industri tiap kelompok dengan memberikan kesempatan kepada tiap-tiap kelompok untuk bertanya pada kelompok lain apabila ada yang belum mereka pahami atau memerlukan penjelasan lebih.
Setelah selesai dengan proses diskusi selanjutnya dosen memerintahkan mereka untuk mengumpulkan laporan masing-masing kelompok.
Anna dan Dita berjalan mengikuti bu Rita ke ruangannya dengan membawa setumpuk laporan dari anak-anak di kelasnya.
"Kalian bisa letakan laporannya di sana." Bu Rita menunjuk meja kerjanya. kemudian berjalan menuju lemari dan mengambil plakat bertuliskan nama universitas.
"Anna bisa bantu ibu, kemarin ibu lupa belum memberikan plakat ini ke CEO perusahaan tempat kalian melakukan kunjungan. Bisakah kamu ke sana dan berikan ini padanya." ucap Bu Rita sambil menyerahkan plakat pada Anna.
Anna menerima plakat tersebut. "Tentu saja Bu." ucapnya kemudian pamit meninggalkan ruangan dosennya.
Anna dan Dita pergi ke kantin untuk menyusul teman-temannya yang lebih dulu ke sana. Sesampainya di kantin Anna langsung duduk di sebelah Aris. Pemuda itu langsung menyodorkan jus jambu kesukaan kekasihnya.
__ADS_1
"Makasih." ucap Anna kemudian meminum jus jambunya.
Aris melirik ke arah plakat yang kini terletak di meja mereka. "Plakat universitas kita mau dikemanakan Na?"
Anna memegang plakat itu dan memperlihatkan ke Aris. "Gue di suruh bu Rita buat ngasih ini ke perusahaan kemaren kita melakukan kunjungan industri."
"Gimana kalo gue anterin?" tawar Aris.
"Boleh."
mereka pun menyelesaikan makan siang di kantin kemudian berpamitan pada teman-temannya untuk pergi terlebih dahulu.
Setibanya di perusahaan mereka langsung menuju ke resepsionis untuk menanyakan ruangan CEO yang akan mereka temui.
"Selamat siang Bu, bisakah saya bertemu dengan CEO perusahaan ini?"tanya Anna dengan sopan.
Pegawai perempuan itu langsung menatap gadis di hadapannya, kemudian melirik lelaki di samping gadis itu. pegawai itu langsung menundukkan kepalanya memberi hormat pada putra pemilik perusahaan.
Anna merasa ada yang tak beres melihat perlakuan resepsionis kepada dirinya dan Aris yang begitu berbeda. Mereka sangat menghormati Aris, tapi Anna tak ambil pusing yang penting dia bisa bertemu dengan pemilik perusahaan kemudian memberikan plakat itu.
Mereka tiba di depan sebuah pintu berwarna hitam dengan tulisan Direktur. Anna langsung mengetuk pintu dan tak lama terdengar suara yang mempersilahkan mereka masuk.
Iwan terkejut melihat gadis yang begitu mirip dengan seseorang di masa lalunya ditambah putranya yang juga ternyata ada di belakang gadis itu.
"Silahkan duduk." ucap Iwan.
Anna dan Aris pun duduk bersebelahan di sofa tamu dan berhadapan dengan Iwan.
"Pak kami datang kesini untuk memberikan plakat ini sebagai tanda terimakasih dan kenang-kenangan dari kampus atas kunjungan industri kemarin." Anna menyerahkan plakat tersebut yang kemudian di terima oleh Iwan kemudian meletakan plakat itu di meja.
"Terimakasih. Sampaikan terimakasihku pada pihak kampus. Kalau boleh tau siapa namamu?" tanya Iwan.
"Anna Pak."
"Maaf sebelumnya apa kau kenal Sintia?" Iwan menyebutkan nama perempuan yang begitu mirip dengan Anna.
"Iya Sintia ibuku dan Permadi Ayahku." jawab Anna.
Iwan nampak terkejut ternyata dugaannya benar. Anna adalah anak Sintia, wanita yang begitu ia cintai dulu. Sebelum dia meninggalkannya untuk menikah dengan Wina karena sebuah perjodohan.
"Bapak tidak menanyakan nama saya?" celetuk Aris.
"Untuk apa Ayah menanyakan namamu dasar." jawab Iwan sambil melempar koran yang terletak di meja pada putranya.
Anna bengong mendapati kejadian dihadapannya. ia menatap Aris dan Iwan secara bergantian.
"Dia ayahku. Yah kenalin calon mantu." Ucap Aris sambil menahan sakit karena Anna mencubit lengannya.
Anna jadi mendadak kikuk mendapati kenyataan ini.
"Tidak apa-apa, tidak perlu sungkan. Om juga teman Ayahmu. Sampaikan salam Om untuk Ayah dan Ibumu." ucap Iwan.
"Iya Om. Nanti Anna sampaikan ke Ayah. Tapi kalo ibu.... Anna sudah tak memiliki ibu." Raut wajah gadis itu mendadak berubah sendu begitu mengucapkan kata ibu.
Keduanya lantas berpamitan untuk kembali ke kampus. Sepanjang perjalanan Anna hanya diam membisu. Dia jadi sedih teringat akan ibunya yang telah lama meninggalkannya.
"Kenapa sih diem terus yang?" tanya Aris.
"Engga apa-apa kok. Lagi inget Ibu aja."
__ADS_1
"Ngga usah sedih Ibu lu pasti bahagia di sana."