
Anna masih mematung di tempatnya berdiri, meskipun kakinya terasa begitu lemah seolah kehilangan tulangnya. Rasanya ingin ambruk begitu saja. Tapi gadis itu berusaha sekuat hatinya. Mencoba tegar tak ingin terlihat lemah di hadapan teman-temannya.
Ia pandangi lelaki yang begitu dicintainya semakin pergi menjauh dengan gadis lain. Bahkan lengan yang semula digandeng oleh Leni kini telihat melingkar di bahu Leni. Anna mencoba menyeka air matanya yang mulai menetes dengan tangan kanannya. Mencoba sekuat mungkin untuk tak menampakan kesedihannya. Namun semua itu gagal, semakin ia berusaha tegar dirinya malah semakin menunjukan ketidakmampuannya mencerna dan menerima kenyataan yang baru saja terucap dari bibir lelaki yang bahkan belum dua puluh empat jam yang lalu masih menyebutnya *sayang* dan berjanji selalu melindungi dan membahagiakannya.
Anna gagal dengan semua ketergarannya, kini gadis itu ambruk dan terduduk begitu saja di parkiran, dengan kedua tangannya menutup wajah seolah tak ingin teman-temannya melihat air matanya yang terus mengalir membasahi pipinya.
Ketiga sahabatnya pun ikut duduk di parkiran dan memeluk Anna. Mereka mencoba menguatkan sahabatnya yang kini tengah menangis. Meski mereka tak tau pasti apa penyebab Anna dan Aris harus mengakhiri hubungan mereka seperi ini. Karena yang mereka ketahui saat terakhir kali mereka kembali ke rumah paa akhir pekan lalu hubungan keduanya masih bai-baik saja.
Lama mereka saling merpelukan dan mengepuk bahu Anna yang tengah menangis, tak memperdulikan mahasiswa lain yang berlalu lalang disana seolah menjadikan mereka tontonan gratis yang penuh tanya.
Keempatnya beranjak pergi dari parkiran saat waktu menunjukan pukul satu siang, jadwal mereka untuk mengikuti perkuliahan di awal pekan ini. Keempatnya memasuki kelas mereka, Anna berjalan begitu saja melewati Aris yang kini tak lagi duduk di tempatnya yang biasanya duduk di sampingnya. Lelaki itu kini duduk di samping Leni. Tak habis pikir pula kenapa Leni yang bukan mahasiswa kampus ini bisa berada di kelasnya saat ini.
“Udah jangan diliatin.” Ujar Dita saat mendapai Anna berhenti sejenak di dekat Aris.
Bahkan Irpan yang baru saja masuk dibuat terkejut mendapati Aris dan Leni bersama. Ia tau pasti sejak SMP Leni memang selalu mengejar Aris tapi lelaki itu tak pernah menganggapnya. Irpan duduk di samping Anna, tempat yang biasanya di tempati Aris. Dilihatnya gadis yang dulu sempat ia cintai, wajahnya terlihat begitu murung dengan mata yang merah dan sembab. Banyak sekali pertanyaan yang mengantri dibenank Irpan, ingin mengetahui apa yang terjadi dengan gadis yang telah ia relakan untuk sabahatnya itu. Namun tak ada waktu untuk menanyakan hal iu sekarang karena dosen yang mengampu mata kuliah hari ni telah datang.
Tak ada satu pun kata yang keluar dari bibir Anna hingga jam kuliah berakhir, padahal biasanya gadis itu paling antusias dan aktif pada sesi diskusi. Tapi gadis itu hari ni membisu. Kata-kata dari bibirnya yang biasanya meluncur bebas memberikan pertanyaan dan pendapat terhadap diskusi yang berjalan kini hanya bungkam.
Satu kelas pun dibuat heran karenanya. Pasalnya mereka semua tahu hubungan Aris dan Anna selama ini. Tapi hari ini tiba-tiba Aris mengaet Leni yang ternyata mahasiswa baru yang merupakan pindahan dari kampus sebelah. Tanpa dipungkiri Leni memang lebih terlihat cantik dan dewasa jika dibandingkan dengan Anna, gadis yang terkesan imut dan manis.
Anna masih duduk di tempatnya bersama Irpan dan ketiga sahabatnya. Leni dan Aris berjalan menghampiri mereka. “Hai Na senang bisa satu kelas lagi sama lu.” Ucap Leni dengan terus menempel pada Aris.
__ADS_1
Anna tak menanggapi ucapan Leni. Ia beralih menatap Aris kemudian berdiri. “Gue siap dengerin alasan lu.” Ucap Anna berusaha menekan egonya, tak ingin lagi terjadi kesalahpahaman seperti sebelumnya.
Aris balas menatap wajah Anna yang begitu murung. “Ngga ada yang perlu gue jelasin. Kita udah berakhir.” Ucapnya sambil berlalu pergi.
“Oke kalo mau lu begitu. Gue nyesel pernah cinta sama lu.” Teriak Anna yangkemudian kembali duduk dan menangis seperti sebelumya.
Dita langsung memeluk sahabatnya dan menenangkannya. Sementara Irpan yang sampai saat ini belum tau apa yang sebenarnya terjadi hanya saling lempar pandang pada Rani dan Dewi. Hingga akhirnya Rani dan Dewi menjelaskan kronologi yang terjadi pada Anna pagi tadi di parkiran.
Berdasarkan penuturan Rani dan Dewi, Irpan dapat menyimpulkan bahwa ada yang tidak beres dengan sahabatnya itu.
.
.
.
Berulang kali Dita, Rani dan Dewi mencoba megalihkan perhatian Anna supaya tak terpaku melihat Leni dan Aris seolah sengaja memamerkan kemesraan mereka. Seperti saat ini, Anna dan ketiga temannya hendak makan di kantin seperti biasanya. Namun Anna mengentikan langkahnya untuk memasuki kantin begitu melihat Leni yang tengah menyuapi Aris, bahkan Aris dengan senang hati menerima suapan itu meskipun dia menyadari Anna sedang melihat ke arahnya.
“Udah abaikan saja.” Ujar Dita.
“Gue balik kamar aja.” Ucap Anna kemudian meninggalkan ketiga sahabatnya.
__ADS_1
Dita, Rani dan Dewi sungguh mengkhawatirkan kondisi Anna yang akhir-akhir ini bahkan makan tak teratur dan sering tak nyenyak tidur tiap malam. Dita pun menyuruh Irpan untuk mencari tahu apa yang sebenarnya pada Aris. Karena sejak itu Aris seolah menjauh dari mereka, bahkan bertegur sapa pun tak pernah lagi.
Berulang kali Irpan mencoba menanyakan kebenaran dibalik perlakuan Aris pada Anna selama hampir seminggu ini, namun lelaki yang telah menjadi sabahatnya sejak SMP itu masih saja bungkam.
Saat keluar dari kantin, Aris membawa Leni ke parkiran untuk berbicara beberapa hal karena tak mungkin baginya berbicara di depan umum. Terlebih lagi Anna dan teman-temannya tak boleh mengetahui hal ini.
Leni masih saja menggandeng tangan Aris hingga akhirnya di parkiran Aris menghempaskan tangan Leni dengan kasar.
“Lu ngga usah nempel-nempel terus sama gue. Lu harusnya tau situasi dan kondisi,” Ucap Aris.
“Iya sorry.” Ucap Leni.
“Gue peringatin lu jangan sampe lupa kalo kita ini Cuma pura-pura.” Ucap Aris penuh dengan penekanan. Leni hanya bisa mengangguk mendengar ucapan Aris, sedih karena hanya bisa menjadi pacar pura-pura untuk lelaki yang begitu ia kagumi sejak SMP. Nyatanya sampai saat ini ia tak penah mendapatkan perasaan Aris sekalipun hanya secuil.
.
.
.
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMENTARNYA
__ADS_1