
Sepulang dari kegiatan kunjungan industri Ari mengantarkan Anna pulang ke rumahnya. Sepanjang perjalanan keduanya hanya mengobrol ringan membahas kekaguman Anna tehadap perusahaan yang baru saja mereka kunjungi.
“Perusahaannya tadi keren banget. Pengen deh kerja di sana nanti kalo udah lulus.” Ujar Anna.
“Gampang bisa diatur kan ntar gue bakal jadi ceo nya.”
“Kayaknya lu masih kebawa sama omongan Dita deh bahas CEO CEO.” Anna hanya menganggap ucapan kekasihnya itu hanya candaan semata. Padahal kan Aris beneran anaknya yang punya perusahaan.
“Udah sampe nih. Gue masuk dulu yah. Makasih udah nganterin.” Ucap Anna sambil membuka pintu mobil.
“Gue ngga disuruh mampir?”
“Ini udah jam sembilan udah malem. Pulang aja ntar kemalaman sampe rumahnya.”
“Tunggu”
“Apalagi sih?” Ucap Anna mulai kesal sedari dari mau turun ga jadi-jadi. Dia pun memalingkan wajahnya ke Aris dengan ekspresi kesal.
Tiba-tiba Aris mendekatkan wajahnya ke wajah Anna dan mengecup kilas bibir mungil Anna. “anggap aja ongkos gue udah nganterin lu.” Ucapnya setelah itu.
Anna yang terkejut dengan tindakan Aris langsung memegang bibirnya dan keluar dari mobil. “Makasih.”
“Makasih buat apa? Buat gue yang udah nganterin lu atau buat ciumannya?” goda Aris.
“Terserah.” Anna langsung kabur memasuki rumahnya.
Aris menatap kepergian Anna yang ngacir begitu saja, pasti gadis itu sangat malu. Gemas sekali melihat pacar polosnya itu. Aris kemudian melajukan mobilnya kembali untuk pulang.
Sesampainya di rumah ia meletakan sepatunya pada tempatnya kemudian berjalan ke kamarnya di lantai dua namun Iwan yang sedang duduk di ruang tamu memanggilnya hingga akhirnya dengan terpaksa ia kembali lagi menemui ayahnya, padahal udah pengen banget sampe kamar terus nelpon Anna.
“Ada apa Yah?” tanya Aris.
“Gadis yang duduk di samping kamu tadi siapa?”
“Oh itu Anna, temen sekelas Aris sekaligus-“
“Sekaligus pacar?” ucap Iwan memotong kata-kata putranya
yang belum selesai.
“Ya begitulah.” Jawab Aris sambil menggaruk rambutnya yang tak gatal karena bingung Ayahnya yang biasannya tak memperhatikan
teman-temannya tiba-tiba saja menanyakannya. “Emang kenapa Yah?” lanjutnya.
“Tidak apa-apa. Sudah sana kamu kembali ke kamar dan istirahat.” Aris pun mengangguk kemudian beranjak ke kamarnya.
Setelah Aris pergi, Iwan beranjak dari duduknya dan pergi ke
__ADS_1
ruang kerjanya. Ia membuka laci meja kerjanya dan mengambil sebuah buku tebal
dari dalam sana. Ia kemudian duduk di kursinya dan mulai membuka buku itu
secara acak hingga akhirnya menemukan foto itu. Foto seorang gadis yang sangat
mirip dengan Anna. Foto yang sejak dulu selalu tersimpan rapi tanpa sepengetahuan istrinya.
Iwan memandang foto itu dengan lekat, semakin di pandang foto itu semakin mirip saja dengan gadis yang tadi duduk di samping putranya. Memandangi foto itu tak terasa air matanya menetes dengan sendirinya.
Iwan dengan buru-buru menyimpan kembali foto itu kedalam buku saat mendengar pintu ruangannya terbuka dan terlihat Wina yang masuk dengan membawa secangkir kopi. Iwan kemudian memasukan kembali buku tebalnya
itu ke laci meja kerjanya.
Begitu masuk ruang kerja suaminya Wina merasa heran kenapa suaminya terlihat seperti menyembunyikan sesuatu. Apalagi saat dirinya masuk terlihat Iwan sangat buru-buru menyimpan bukunya dan raut wajah yang sedih itu. “Mungkinkah Mas Iwan masih....” pikir Wina dalam hati yang kemudian menepis
jauh-jauh pikiran negatifnya itu. Ia kemudian meletakan secangkir kopi yang ia
bawa ke hadapan suaminya. “Ini kopinya Mas.”
“Terimakasih.” Ucap Iwan.
***
Sesuai dengan ucapannya di telpon malam ini Aris mengajak Anna untuk jalan-jalan. Lelaki itu kini sedang meminta ijin pada Permadi untuk mengajak putrinya pergi. Setelah mengantongi ijin Aris dan Anna berpamitan .
“Kita mau kemana?” tanya Anna.
Anna tampak berfikir kemudian ia memutuskan ke tempat yang selama ini ingin ia kunjungi.”Gimana kalo ke pasar malam aja?” usul Anna.
“Boleh.” Jawab Aris sambil menoleh ke Anna dan mengacak rambut gadisnya dengan gemas kemudian kembali lagi fokus ke kendaraan yang ia bawa. Ia tak mau lagi terlibat dengan kecelakaan.
Mereka keluar dari mobil yang sudah terparkir rapi di pinggir jalan. Pasar malam yang mereka kunjungi malam ini lebih ramai dari malam-malam sebelumnya. Mungkin karena malam minggu jadi banyak pasangan alay yang pada
jalan. Ya termasuk mereka pasangan yang lagi alay-alaynya tapi ngga nyadar.
Anna mengedarkan pandangannya begitu memasuki pasar malam yang begitu ramai. Aris memegang tangan gadisnya. Merasakn tangannya di pengang Anna langsung mamalingkan wajahnya menatap Aris.
“Takut ilang.” Ucap Aris sambil mengusap kepala Anna dengan tangan kirinya. Anna hanya tersenyum menanggapi ucapan kekasihnya.
Aris membawa Anna ke antrian tiket rumah hantu. Gadis itu hanya mengikuti Aris di belakangnya.
“Kenapa ke wahana ini sih Ris?” Tanya Anna.
“lu takut? Tenang aja ada gue.” Jawab Aris.
“Bukannya gitu” Anna mengajak Aris keluar dari antiran tiket rumah hantu. “Males aja Ris ngapain kita ngeluari duit cuma buat di
__ADS_1
takut-takutin.”
Aris pun mengurungkan niatnya membawa gadisnya ke rumah hantu. Padahal di hatinya udah berharap banget Anna bakalan ketakutan dan memeluk dirinya. Eh gadis itu malah menolak dengan alasan konyolnya.
“Terus maunya ke wahana yang mana sayang?” Aris bisa melihat
jelas rona merah di pipi Anna setiap kali dia memanggilnya dengan sebutan itu. Gemas
sekali.
Anna mengedarkan padangannya, dan menemukan wahana yang
ingin ia naiki. Ia pun mengajak Aris untuk menuju wahana tersebut.
“Biang lala.” Aris menatap kurungan seperti sangkar burung disertai lampu warna-warni yang mengantung dan berputar membentuk
lingkaran.
“Iya Ris. Udah lama gue pengen naik ini. Sebenernya ini bukan yang pertama kali sih. Waktu itu juga pernah naik tapi gue tuh suka iri aja liat yang lain naik sama pacarnya gitu.” Ucap Anna dengan penuh semangat. Bahkan
saat ini gadis itu sudah berdiri di antrian loket pembelian tiket naik biang
lala.
Sementara Aris masih mematung di tempatnya berdiri tadi.
“Ayo.” Ajak Anna setelah mendapat tiket mereka. Kini keduanya sedang menunggu bagian untuk naik.
Tak lama sudah ada pelanggan yang turun dan kini giliran mereka untuk masuk ke salah satu kurungan yang dihias dengan lampu warna-warni itu.
Anna begitu semangat menaiki wahana itu. Dia sudah menunggu moment ini begitu lama. Bisa naik biang lala dengan orang yang ia cintai. Membayangkan Aris kan memeluknya dengan mesra saat kurungan mereka berhenti di atas. Seperti pasangan yang pernah Anna lihat berciuman di dalam biang lala saat kurungannya berhenti di atas sambil melihat pemandangan kota dari ketinggian pasti sangat
romantis.
Tapi kenyataannya sangat tidak sesuai dengan harapan. Aris bahkan tak berucap satu kata pun setelah menaiki kurungan itu. Bahkan ia
memejamkan matanya selama menaiki wahana tersebut. Anna hanya bisa kecewa
dengan hal itu tapi ia tak memperlihatkan rasa kecewanya.
Setelah wahana itu berhenti dan terdengar petugas menyuruh mereka untuk keluar Aris membuka matanya kemudian berjalan keluar dengan gontai. Anna memapah Aris menuju kursi salah satu stand makanan terdekat
kemudian menyodorkan air mineral yang baru saja ia beli.
“Minum dulu. Lu ngga apa-apa kan?” Anna mulai khawatir.
Aris menerima air itu kemudian meninumnya. Bahkan sisanya ia gunakan untuk membasuh wajahnya. Anna hanya tertegun sambil mengelus lembut punggung pacarnya dan melihat kelakuan pacarnya yang cuci muka pake air botolan.
__ADS_1
Setelah cukup tenang Aris menoleh ke Anna yang berada di sampingnya dan berkata. “Maaf yang gue takut ketinggian.”
LIKE DAN KOMENTARNYA JANGAN KETINGGALAN.