Bukan Perjodohan

Bukan Perjodohan
47. Tak bodoh lagi


__ADS_3

“Gue.” ucapnya tertahan dan melirik lagi ke Anna dengan senyum mengejek yang ia sunggingkan.


Dari dalam rumah terdengar suara sendal yang beradu dengan lantai. “Siapa yang datang sayang?” Tanyanya pada Leni.


“Ini Tan ada-“ Leni belum menyelesaikan ucapannya tapi Wina sudah menghampirinya.


“Siang Tante.” Sapa Irpan dan Dewi.


“Siang juga. Ayo masuk Pan ajak juga teman-teman mu.” Winamempersilahkan semuanya untuk masuk.


Mereka semua kini duduk di ruang tamu, dan memandang Leni yang nampak seperti di rumah sendiri. “Kok lu bisa ada di sini Len?” Tanya


Irpan. Belum sempat Leni menjawab Wina sudah muncul dengan lima gelas jus jeruk


dan meletakkannya di meja.


“Leni tuh kesini buat jagain Aris. Soalnya Tante mau arisan. Baik banget kan Leni ini” Jawab Wina. Melihat ekspresi wajah Irpan yang tampak bingung akhirnya Wina menjelaskan lebih detail.


“Jadi gini, Tante sama ibunya Leni itu temen arisan. Tadi pagi Tante ngabarin ke ibunya Leni kalo Tante hari ini tidak bisa ikut arisan


karena Aris sakit dan tak ada yang menjaganya di rumah. Soalnya Om kan juga


lagi kerja. Eh Tante ngga nyangka Leni malah dengan senang hati datang ke sini


buat jagain Aris supaya Tante bisa ikut arisan.” Tutur Wina.


“Owh gitu. Oh iya Tante ini kenalin temen-temen kuliah Aris.”


Aris memperkenalkan teman-temannya satu persatu yang disambut ramah oleh Wina.


“Eh karena ini sudah siang, tiga puluh menit lagi acara arisan Tante di mulai. Tante harus pergi sekarang. Kalo kalian mau jengukin


Aris dia da di kamarnya. Kalian langsung kesana saja. Kamarnya masih yang lama


kok Pan. Kamu tau kan?” Ucap Wina yang kemudian berpamitan untuk pergi.


“Jangan sungkan-sungkan anggap saja rumah sendiri.” Tutur Wina setelah kembali dari kamarnya dengan membawa tas dan kunci mobilnya.


“Iya Tante.” Jawab Irpan.


Setelah Wina pergi, Leni langsung beranjak dari duduknya menuju dapur untuk mengambil bubur dan air putih karena sudah waktunya Aris minum obat. Sementara itu Irpan sudah duluan pergi ke kamar Aris bersama Dita


sedangkan Anna masih menemani Dewi ke toilet kemudian akan langsung menyusul


mereka ke kamar Aris karena sebelumnya Irpan sudah memberi  tahu letak kamar Aris sebelum keduanya pergi ke toilet.

__ADS_1


“Bisa sakit juga lu?” Ucap Irpan begitu sampai di kamar Aris. Melihat temannya yang terkulai lemas di atas ranjang dengan selimut yang menutupi tubuhnya hingga ke dada.


“Kok lu bisa ada di sini?” Tanya Aris yang melihat sahabatnya duduk di ranjangnya. “Eh sama lu juga Ta? Lanjutnya setelah melihat


Dita juga memasuki kamarnya dan berdiri di depan ranjangnya.


“Tadi kita abis jalan eh ngelewatin rumah lu jadi sekalian mampir aja. Eh kata Tante Wina lu lagi sakit.” Jawab Irpan bohong. Sementara


Aris masih menengok ke arah kamarnya berharap Anna juga ikut bersama mereka.


“Nungguin siapa? Dia mah kaga ikut.” Ledek Irpan karena menyadari pasti Aris mengharapkan Anna juga ikut dengan mereka.


Tak selang lama terdengar pintu kembali terbuka, Aris pun mengarahkan pandangannya ke pintu tapi sialnya yang datang adalah Leni dengan membawa nampan di tangannya.


Leni masuk ke kamar Aris kemudian dengan songgongnya menyuruh Irpan pergi dari ranjang Aris karena dirinya hendak duduk disana.


“Lu pindah ke Pin, gue mau nyuapin Aris nih.”


Irpan pun beranjak dari duduknya dan pindah ke sofa yang ada di kamar itu. “duduk sini Dit.” Ajak Irpan yang tak lama di susul Dita duduk di sampingnya.


Leni meletakan nampan yang ia bawa ke nakas yang terletak di samping ranjang Aris. Ia mendudukkan dirinya di pinggir ranjang Aris dan mengambil semangkok bubur yang ia bawa. Menyendok bubur itu kemudian


mengarahkan sendok itu ke mulut Aris.


“Gue ngga mau. Gue bisa makan sendiri.” Tolak Aris sambil menjauhkan sendok itu dengan tangannya.


Bertepatan dengan itu Anna masuk ke kamar Aris. Gadis itu berekspresi biasa saja melihat kekasihnya di suapi oleh Leni. “Ris ...” Panggil Anna yang saat itu masih berdiri di dekat pintu kamarnya.


Aris langsung bangkit dari tidurnya dan mendudukkan dirinya di ranjang. Terlihat Anna dan Dewi berdiri tak jauh dari pintu kamarnya..


“Pasti lu mau bilang ini ngga seperti yang lu lihat kan?” Ucap Anna santai. Aris hanya bengong mendengar ucapan gadisnya yang bisa sama persis dengan kata-kata yang hendak ia ucapkan.


“Tenang aja sekarang gue udah ngga bodoh Ris.” Ucap Anna sambil berjalan menghampiri Dita dan Irpan dan ikut mendudukan dirinya di sana.


Rani, Dewi, Dita dan Irpan hanya saling diam dalam tanya. Heran melihat tingkah


Anna dan Aris saat ini. Karena mereka memang belum tahu jika dua teman mereka


sudah akur bahkan merubah status jadi berpacaran.


Aris hanya tersenyum menanggapi ucapan kekasihnya yang kini duduk bersama teman-temannya.


“Ayo makan Ris.” Ucap Leni yang masih saja berusaha membuat Anna yakin kalo mereka berpacaran.


“Gue bisa makan sendiri.” Tolak Aris.

__ADS_1


Anna greget melihat Leni yang masih saja dekat dengan kekasihnya. Sambil tetap membaca novel kesayangannya di ponselnya Anna menyindir Leni. “Diacuhkan mestinya peka.”


“Maksud lu apa? Hak gue dong nyuruh cowok gue makan biar dia


cepet sembuh.” Leni tak tau jika Anna sudah menyadari kesalahpahamannya, ia


terus saja mencoba memanasi Anna.


Aris tak ingin Anna salah paham lagi. “Siapa pacar siapa maksud lu? Gue kan udah bilang kalo itu hanya salah paham. Dan gue ngga pernah


nganggap lu pacar gue.” Ujar Aris.


Leni langsung beranjak dari duduknya dan meletakan bubur itu


kembali ke nampan kemudian pergi meninggalkan kamr Aris dengan membanting


pintunya begitu keras.


“Beuh serem amat.” Ucap Dita yang membuat teman-temannya


tertawa.


“Na....” Aris memanggil Anna dengan pelan.


“Hm.” Anna masih tak mengalihkan perhatiaannya dari ponselnya. Ia begitu kesal melihat Aris dengan Leni tadi.


“Lu ngga mau nyuapin gue. Ini udah waktunya gue minum obat.” Ujar Aris.


Rani, Dewi, Dita dan Irpan hanya terheran dengan interaksi antara Anna dan Aris. Mereka begitu penasaran. Hingga Irpan menatap Aris penuh


tanya.


“Gitu amat ngliatin gue Pan. Kaga salah kan kalo minta


suapin sama pacar sendiri?” Ucap Aris.


“What?” Dita begitu terkejut hingga kini gadis itu berdiri seolah tak percaya dengan apa yang ia dengar.


“Kalian itu ribut bikin kita semua ikutan pusing, giliran seneng aja main diem-diem ngga ngasih tau kita.” Ujar Rani.


.


.


.

__ADS_1


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMENTARNYA.


__ADS_2