
...~Happy Reading~...
“Hello baby Boy, what’s your name?” tanya Grace begitu lirih pada seorang bayi yang masih terpejam di atas ranjang bayi nya.
“Grace, jangan di ganggu.” Sekali lagi, Ryana berusaha memberikan peringatan pada sahabat nya.
“Suara lo berisik banget Na, gue gak ganggu Cuma pengen kenalan doang. Santuy aja,” jawab Grace begitu santai.
“Pokok nya kalau bangun, lo harus gendong dia, gak mau tahu gue!” ucap Ryana dan seketika itu juga bayi nya langsung terbangun lantaran mendengar suara ibu nya.
“Bukan karena gue!” Grace langsung menjauh sambil mengangkat kedua tangan nya ke atas, sementara itu Ryana yang begitu kesal terhadap sahabat nya, seketika langsung menendang kaki Grace sedikit kencang sebelum akhirnya mengangkat bayi nya dan menggendongnya.
“Anjirr, tenaga emak emak dahsyat juga ya,” gumam Grace terkekeh.
“Kalian itu pengganggu tahu gak, gue capek mau istirahat bentar aja kagak bisa, heran deh gue!” Ryana terus menggerutu sambil terus menatap ke arah dua sahabat nya.
__ADS_1
“Na, gue diem ya dari tadi. Kenapa di ikut ikutin sih, yang ganggu itu si Grace!” ralat Audy tak terima karena memang sejak tadi ia diam dan kalem.
“Dihh kok gue sih, padahal dia bangun karena suara emak nya sendiri,” cetus Grace menggelengkan kepala nya.
Memang benar, bayi Ryana terbangun karena mendengar suara ibu nya yang sangat sulit di kontrol. Padahal, Grace sudah berbicara serendah mungkin agar tak mengganggu tidur bayi tersebut, akan tetapi Ryana justru malah bicara tanpa rem yang membuat bayi itu langsung terbangun dan menangis.
“Eh, Na, gimana rasanya?” tanya Grace tiba tiba mendudukkan dirinya tepat di bawah Ryana yang sedang menyusui bayi nya di sisi ranjang tempat tidur nya. Sementara Audy, gadis itu memilih untuk duduk di sofa sambil bermain ponsel.
“Rasa apaan? Rasa susuu gue? Lo tanya sama dia,” jawab Ryana masih dengan suara ketus.
“Oh iya hihihih!” Ryana terkekeh saat baru tersadar, “Namanya Jeremy, umur nya hampir dua minggu, tinggi nya lima puluh lima centi dan berat nya—“
“Gue bukan kader posyandu Na, jadi gak perlu sedetail itu anjirr!” potong Grace dengan cepat membuat Ryana kembali terkekeh.
Dan akhirnya, siang itu Ryana tidak merasa kesepian lagi. Ia menghabiskan hari itu bersama dua sahabat nya, begitu pun dengan baby Jeremy yang cukup anteng lantaran memiliki teman tidka seperti beberapa hari kemarin yang selalu rewel karena kesepian.
__ADS_1
Hingga sore hari hampir menjelang Maghrib saat Raka pulang dari kantor, saat itu juga kedua sahabat Ryana berpamitan pulang karena tidak ingin mengganggu waktu hangat sahabat nya.
“Mereka lama di rumah?” tanya Raka sambil melepaskan dasi dan kancing kemeja nya.
“Lumayan, dari siang tadi. Kok tumben kamu pulang nya lama?” Ryana langsung memeluk suami nya dari belakang. Biasanya, Raka akan pulang jam empat sore atau paling lama setengah lima. Namun hari ini, laki laki itu tiba di rumah menjelang sholat Maghrib dan menurut Ryana itu sudah sangat terlambat.
Beruntung tadi Audy dan Grace datang ke rumah dan menemani nya, bahkan membantu nya mengurus baby Jeremy, andai mereka tidak ada, tentu saja Ryana akan semakin merasakan kegabutan yang hakiki.
“Maaf Sayang, tadi ada sedikit problem. Makanya aku terlambat,”
“Problem apaan?” tanya Ryana mengerutkan dahi.
“Biasa, saudara kembar kamu yang sellau membuat masalah,” jawab Raka sambil menghela napas nya berat.
Ryan membuat masalah? Rasanya sulit untuk di percaya, karena ia sangat tahu bagaimana sifat suami nya sendiri, mungkin jika itu Angkasa bisa jadi, karena laki laki itu memang sebelas dua belas dengan Raka.
__ADS_1
Tapi jika Ryan, rasanya sulit untuk Ryana mempercayai nya, karena menurut nya Ryan itu kalem dan tidak mungkin membuat masalah kecuali di pancing terlebih dulu oleh Raka.