Butterfly

Butterfly
BAB I


__ADS_3

Aku menatap langit malam yang penuh dengan taburan bintang-bintang yang menghiasi gelapnya malam. Entah berapa malam dan entah berapa bintang yang telah terlewati setiap malamnya. Tepat ditempat ini, tepat dimana aku berdiri, menanti seseorang yang ditakdirkan, seperti itulah yang terlintas dipikiranku.


 


Aku berdiri disini, diujung jalan memandangi orang-orang yang berlalu lalang melintas dari ujung yang satu ke ujung yang satunya. Entah berapa manusia yang ada disini dengan berbagai macam perbedaan dan juga kesamaan, tapi tidak ada satu pun aku temukan takdir itu, berapa lama aku harus menunggu? tidak ada yang tahu, tidak ada yang bisa aku tanyakan, yang bisa dilakukan hanya menunggu sampai takdir itu datang padaku.


Sekali lagi aku melihat jam yang ada ditanganku. “ Pukul 8 malam”. Haaaa...,aku pun menghela nafas. Orang-orang terus berlalu lalang melewatiku dan aku sudah lelah untuk menunggu. “ Sebaiknya aku pergi, tidak ada gunanya aku menunggu lagi”, pikirku. Akupun menginjakkan kakiku melewati seberang jalan, semuanya terlihat tergesa\-gesa, tapi aku masih saja jalan dengan santainya.


 


“ Heii!!!”, teriak seseorang. “ Apa kamu tidak lihat? apa mau mati!!!!”, ujarnya berteriak sehingga orang-orang tertegun melihatnya. Aku menoleh mendengar teriakannya, aku tahu pasti, orang yang dimaksudnya adalah aku, tidak ada yang lain. Aku berbalik dan mencari keberadaannya, sayup-sayup terdengar mereka berbisik setelah mendengar teriakan orang itu. “ Kenapa dia teriak-teriak? memangnya ada yang mau bunuh diri? lihat saja tidak ada apa-apa”.


 


Aku terus mencarinya kesana-kemari dan......“ Ketemu!”, gumamku.


 


Akhirnya aku menemukannya, tanpa sadar mata kami saling bertemu, tapi dengan cepat dia memalingkan wajahnya lalu berlalu pergi. Aku berlari mencarinya disetiap sudut, mataku terus mencari keberadaannya, tidak ada yang boleh terlewati satu pun tempat yang aku singgahi. Aku tidak boleh kehilangan dia karena akhirnya setelah sekian lama aku menemukan seseorang yang bisa melihatku, dialah takdirku.


 


“ Itu dia”. Aku pun memasuki sebuah toko buku saat aku melihatnya ada didalam sana. “ Hai, namaku Hana”, ujarku memperkenalkan diri, tapi dia tidak bereaksi sedikitpun seolah-olah tidak melihatku ada didekatnya. “ Kenapa kamu hanya diam?”. Dia hanya sibuk mencari-cari buku lalu membolak-balik tiap lembar buku itu tanpa menghiraukan ucapanku.


“ Aku tahu kamu bisa melihatku tadi, tidak ada yang bisa melihatku ditempat itu. Teriakanmu itu pasti untukku, kamu pikir aku akan mati kalau mobil-mobil itu melewatikukan? Lalu kamu sadar kalau kamu salah, tapi kesalahanmu membuatku senang, akhirnya setelah sekian lama aku menanti, aku menemukanmu, takdirku”.


Tidak ada reaksi, dia sama sekali tidak memperdulikan aku ataupun ucapanku. Sepertinya dia berusaha untuk tidak berurusan denganku. “ Aku benar-benar kesal!! lihat saja apa yang akan aku lakukan padamu, ini balasan untukmu”.


 


Dengan sekali sapuan tanganku, satu persatu buku yang ada disetiap rak mulai berjatuhan. Terlihat sedikit reaksi darinya, dia terkejut dengan apa yang aku lakukan. Aku terus melihatnya, menanti reaksi selanjutnya. Buku yang ada dimeja tempat dia duduk pun aku jatuhkan dan.....reaksi selanjutnya dia melihatku. “ Apa kamu sudah gila!!!!”, teriaknya kesal.


 


“ Akhirnya kamu bicara padaku”.


“ Kamu...”. Dia pun menghela nafas menahan amarahnya dan melihat sekitar. “ Kita bicara diluar”, ujarnya. Aku pun mengikutinya keluar dari toko buku meninggalkan orang-orang yang masih bingung dengan kejadian tadi.

__ADS_1


 


“ Andai saja kamu memperdulikanku, kejadian tadi tidak akan terjadi, orang-orang juga tidak akan bingung”, ocehku.


“ Jadi itu salahku, begitu maksudnya”.


“ Iya, tepat sekali”.


“ Lalu?”, tanyanya. Aku pun hanya terdiam. “ Kalau aku memperdulikanmu, tidakkah aku sudah gila”, ujarnya. “ Lagian aku sudah menulis sesuatukan, bicara padaku setelah kita keluar, kamu tidak lihat?”.


 


“ Menulis sesuatu? aku tidak tahu”.


“ Bagaimana kamu bisa tahu, kamu terus saja mengoceh”.


“ Maaf”, ujarku menggaruk kepalaku yang sama sekali tidak gatal.


“ Tidak ada gunanya minta maaf padaku”, ujarnya. “ Seandainya saja aku tahu lebih awal, aku tidak akan teriak, aku pikir aku sudah gila begitu melihat mobil mulai mendekatimu, ternyata........., aku membuat diriku dalam masalah”.


“ Tapi aku senang bertemu denganmu”.


“ Kenapa begitu? aku cuma ingin kamu membantuku, itu saja”.


“ Kenapa aku harus melakukannya?”.


“ Karena cuma kamu yang bisa melakukannya, cuma kamu yang bisa melihatku, bukankah itu alasan yang sangat kuat”.


“ Aku tidak mau”.


“ Kenapa?”.


“ Kenapa bertanya?”. Dia terlihat kesal. “ Namamu?”.


“ Hana”.


“ Hana, dengarkan aku, cari saja orang lain, aku tidak mau berurusan dengan hantu, oke!!”.

__ADS_1


“ Tidak mau!!!”.


“ Dasar hantu keras kepala!!!”.


“ Kamu pikir sudah berapa lama aku menunggu saat seperti ini, akhirnya aku menemukanmu, aku tidak ingin kehilangan kesempatan”.


“ Ini berkah untukmu, tapi bencana untukku”.


“ Begini saja, kita saling menolong, aku bisa melakukan apapun untukmu sebagai balasannya, apapun, aku janji”.


“ Apapun?”. Aku pun mengangguk. “ Hana, hantu macam apa kamu ini”, ujarnya. “ Memangnya apa yang bisa kamu lakukan?”.


“ Aku sudah bilangkan apapun”, ujarku memasang wajah sedih. “ Aku mohon”.


“ Jangan pasang ekspresi seperti itu, aku benar-benar tidak suka”.


“ Memang kenapa?”.


Dia pun menghela nafas.


 


Apapun? bagaimana dia melakukannya, dia hanya makhluk tak kasat mata, cuma aku yang bisa melihatnya,, mendengarnya, menyentuhnya. Apa dia sudah gila!!!. mau membantuku seperti apa.


Setelah berpikir sejenak dengan segala pertimbangan, diapun menyetujui permintaan Hana. “ Baiklah, aku akan membantumu, tapi dengan syarat jangan menggangguku dan jangan bicara denganku sesuka hatimu, oke!!!”.


 


“ Oke”.


“ Oke, kuharap kamu benar-benar paham maksudnya”, ujarnya. “ Namaku Revan”.


“ Aku Hana”.


“ Aku sudah tahu”.


“ Baiklah kalau begitu”.

__ADS_1


Begitulah awal pertemuanku dengan Revan, manusia yang bisa melihatku dan akan membantuku. Aku tahu ini sangat gila, seperti yang dikatakannya, tapi tidak ada pilihan lain, aku ingin tahu semuanya sebelum aku kembali ketempatku berada.


 


__ADS_2