Butterfly

Butterfly
Patah Hati


__ADS_3

“Ada apa, Lun?” tanya Rian cemas. Pria itu berusaha menenangkan Luna yang tiba-tiba saja berteriak dan menangis meraung.


Rian hendak kembali memeluk Luna, ingin menenangkan wanita itu. Namun, seseorang menarik Luna agar menjauh dari Rian. Rian mendongak dan mendapati Kevin ada di depannya. Rian mengernyit bingung dengan kedatangan Kevin yang tiba-tiba itu.


“Ayo, Lun! Kita pulang sekarang,” ajak Kevin lembut, tangannya merangkul bahu Luna yang masih menangis sesenggukan.


“Sebenernya ada apa sama Luna?” tanya Rian masih dengan dahi berkerut.


“Ayo, Lun!”


Kevin mengabaikan pertanyaan Rian dan dia menuntun Luna yang hanya pasrah mengikuti langkah pria itu. Rian yang merasa diabaikan menahan lengan Kevin, Dia harus mendapat jawaban tentang keadaan Luna. Kevin berhenti dan dengan kasar melepas cekalan tangan Rian.


“Lebih baik urus istri lo,” ucap Kevin menunjuk seseorang dengan dagunya.


Rian terdiam, dia reflek menoleh ke belakang. Ekspresi terkejut sangat kentara di wajah pria itu. Sementara Alice masih menatap nanar pada mereka, gadis itu melangkah mundur perlahan dan segera berbalik meninggalkan Rian di sana seorang diri.


“Argh! ****!” teriak Rian menjambak rambutnya sebagai bentuk luapan emosi.


Sementara itu, Kevin tersenyum samar. Pria itu membawa Luna masuk ke dalam mobilnya dan mereka segera pergi darisana. Namun, Kevin masih menyempatkan diri untuk melihat bagaimana rupa Rian di belakang sana.


Setelah agak jauh dari hotel tempat acara pesta berlangsung, Kevin menepikan mobilnya. Kini dia beralih pada wanita yang duduk meringkuk dengan wajah ketakutan. Kevin melepas seatbelt miliknya juga milik Luna, lalu pria itu membawa Luna ke dalam pelukannya.


“Tenang, Lun. Ada aku di sini, kamu aman bersamaku,” ucap Kevin mencoba menenangkan Luna yang tubuhnya masih bergetar hebat.


Bagaimana Luna dapat bersama dengan Kevin sekarang? Beberapa hari yang lalu Kevin mengeluarkan wanita itu dari rumah sakit. Tentu dengan berbagai persyaratan ketat yang harus pria itu taati. Mulai saat ini, Kevin yang akan bertanggung jawab atas hidup Luna. Walau begitu, Kevin tetap tidak melupakan tujuan awalnya. Terpaksa dirinya menggunakan Luna untuk tujuannya membalas dendam. Bukan hanya dendamnya, tetapi juga dendam Luna.

__ADS_1


“Sekarang kamu bebas, Lun. Kamu bisa melakukan apapun. Ayo kembali hidup dengan lembaran yang baru, bersamaku!” kata Kevin menatap manik mata milik Luna.


Luna tidak menjawab, di wajah cantiknya masih ada sisa-sisa air mata. Tangan Kevin terulur untuk menyeka air mata itu. Luna masih sama, dengan tatapan kosongnya. Tentu hal itu membuat hati Kevin sangat sakit seperti ditusuk oleh belati yang sangat tajam. Luna masih belum bisa melupakan seorang Rian yang telah meninggalkannya. Sementara kini, di depan mata wanita itu ada Kevin yang sangat tulus padanya. Namun, tidak sedikit pun Luna mau melirik padanya. Hanya Rian yang berada dalam pikiran Luna saat ini.


Kevin kembali melajukan mobilnya menuju apartemen miliknya dengan Luna yang ikut serta. Mulai sekarang pun wanita itu akan tinggal bersamanya. Kevin meminta agar pihak rumah sakit merahasiakan identitas Luna yang sudah keluar dari sana. Dia tidak mau jika keluarga wanita itu kembali datang dan memaksa Luna. Kevin sudah mendapat informasi mengenai orang yang menemui Luna di rumah sakit hingga menyebabkan wanita itu kembali kambuh.


“Dia adalah kakak perempuan Luna yang menginginkan tanda tangan Luna. Ternyata Luna masih mendapat hak warisan dari keluarganya. Kedua orang tuanya tidak sepenuhnya membuang Luna, mereka terpaksa berbuat demikian karena kakak-kakak Luna menyudutkan. Mereka beralasan jika keadaan Luna yang sekarang akan berpengaruh pada bisnis keluarga mereka,” jelas tangan kanan Kevin.


Kevin mengepalkan kedua tangannya menahan emosi yang dapat meluap kapan saja. Ternyata memang keluarga Luna sangat licik. Apakah mereka bukan manusia hingga dapat berbuat demikian?


“Ah, lupa. Gue juga jahat di sini,” gumam Kevin terkekeh.


Benar, sebenarnya Kevin juga tidak jauh berbeda dengan mereka. Namun, dia tidak sepenuhnya salah. Kevin tidak akan berbuat seperti ini jika saja Rian tidak membuat Luna menjadi seperti yang sekarang. Mental wanita itu sudah rusak.


Wanita itu memberanikan diri untuk menyatakan perasaannya pada Rian. Bukan sambutan baik yang Rian berikan pada Luna, pria itu malah menolak mentah-mentah dan mengejek Luna. Memang saat itu Rian juga dalam keadaan yang kurang baik karena perceraian orang tuanya. Namun, Kevin tidak dapat membenarkan tindakan Rian yang mempermalukan Luna di depan para mahasiswa. Mereka bertiga baru saja memulai kehidupan sebagai mahasiswa saat itu dan insiden itu membuat heboh seluruh kampus.


Setelahnya Luna menjadi bahan olok-olokkan para mahasiswa, hingga berakhir membuatnya menanggung rasa malu. Namun, rasa cintanya terhadap Rian mengalahkan rasa malu yang dia tanggung. Luna masih terus berusaha mendekati Rian dan berharap hubungan mereka akan kembali seperti dulu.


“Ternyata tetep nggak bisa kembali,” gumam Kevin menggoyangkan gelas berisi wine. Lalu pria itu menyesap wine di gelasnya.


Benar, hubungan mereka sudah benar-benar berakhir saat itu. Luna memilih mengundurkan diri dari kampus karena desakan dari orang tuanya dan keluarga besarnya. Ternyata masalah yang tadinya sepele dapat berakhir menjadi sebuah bencana bagi Luna. Di universitas manapun Luna pergi, dia tidak dapat beradaptasi pada lingkungannya. Wanita itu sudah terlanjur bergantung pada para sahabatnya. Kesalahan yang Kevin perbuat saat itu adalah, dia memilih menjadi pengecut yang memilih ikut menjaga jarak.


Patah hati menjadi kambing hitam kala itu. Cinta segitiga di antara mereka yang membuat semuanya berantakan. Hal-hal seperti cinta yang seharusnya tidak pernah ada di dalam persahabatan mereka menghancurkan semuanya.


Kevin mengacak rambutnya frustasi, di mejanya sudah ada beberapa botol wine kosong. Bermaksud ingin meringankan pikiran serta ingin melupakan sejenak bebannya, malah tidak ada pengaruhnya sama sekali. Kevin meraih ponselnya yang berada tidak jauh dari jangkauannya. Jarinya menari-nari di atas layar ponsel, lalu benda pipih itu dia tempelkan pada telinga kirinya. Hanya membutuhkan waktu beberapa detik saja untuknya tersambung pada seseorang di seberang sana.

__ADS_1


“Gimana? Udah ada kabar?” tanya Kevin langsung pada orang itu.


“Maaf, Bos. Saya belum mendapat informasi. Saya akan terus mencari keberadaan Sandra,” jawab seseorang dari seberang sana.


Mendengar hal itu membuat rahang Kevin mengeras, tangan kanannya menggenggam gelas dengan erat.


“Gue nggak mau denger alasan apa pun! Yang gue mau saat ini adalah secepatnya temuin keberadaan wanita j*l*ng itu! Kalau sampai tiga hari gue belum dapat kabar bagus, lo tau sendiri apa yang akan terjadi,” ujar Kevin.


BRAK!


Kevin menggebrak mejanya saat dia tidak mendengar jawaban dari sang lawan bicara. Namun, yakinlah jika orang itu sedang gemetar ketakutan.


“Ngerti lo, Hah?” bentak Kevin.


“Ba… baik, Bos,” jawab orang itu.


Panggilan diputus sepihak oleh Kevin setelah dia mendapat jawaban dari sang lawan bicara. Wajah Kevin benar- benar tidak bersahabat saat ini.


PYARR!


Gelas di tangannya menabrak dinding dan berakhir hancur berkeping-keping. Persis seperti hidupnya saat ini yang entah bagaimana akan memperbaikinya.


...🦋🦋🦋...


Hancur berkeping-keping. Ambyar 😖😖

__ADS_1


__ADS_2