
Rian menyentuh bahu Alice, membuat wanita itu sedikti terkejut. Alice menoleh pada sang suami. Dia pun mengajak Rian untuk melanjutkan langkah mereka dan berusaha melupakan kejadian yang baru saja terjadi. Namun, Alice merasa pernah mengenali postur tubuh pria yang tadi tidak sengaja menabrak bahunya itu.
“Kamu baik-baik saja?” tanya Rian.
“Iya, Mas. Alice nggak apa-apa.”
Rian mengangguk dan menuntun Alice untuk masuk ke dalam apartemennya. Pria itu meletakkan koper milik sang istri di sudut ruangan. Alice memperhatikan sekelilingnya. Apartemen Rian terlihat bersih dan rapi tidak seperti biasanya. Entah siapa yang membersihkan apartemen ini. Memang beberapa hari yang lalu Alice tidak berkunjung kemari.
“Aku mau mandi dulu. Nanti aku bantu kamu berberes,” ucap Rian.
Alice menoleh pada Rian. “Iya, Mas.”
Rian masuk ke dalam kamarnya, sementara Alice membawa kopernya untuk mendekat. Matanya masih memperhatikan sekitarnya.
Alice berjalan menuju dapur, membuka lemari yang berada di atas. Dia ingin melihat apa isi lemari itu. Dengusan keluar dari hidung Alice saat melihat isi lemari itu. Berbagai merek dan rasa mie instan tertata rapi di sana. Lalu Alice beralih pada kulkas milik Rian.
“Astaga, masih sama aja ternyata,” gumam Alice geleng-geleng kepala melihat isi kulkas hanya ada botol air mineral serta beberapa minuman beralkohol.
Alice membawa segelas air dan kembali duduk di sofa depan televisi. Dia masih merasa canggung ketika masuk ke kamar Rian. Jadi Alice berniat menunggu Rian hingga selesai di sini. Hari sudah gelap di luar sana, sejak Alice meninggalkan kos Fia tadi.
“Al, kenapa kamu nggak langsung masuk aja?” tanya Rian dari depan pintu kamar pria itu.
Alice mendongak dan hampir saja air di dalam mulutnya tersembur keluar ketika matanya melihat penampakan sang suami di sana. Pria itu belum berganti pakaian, hanya memakai handuk sebatas pinggang saja. Rian turun menghampiri Alice yang masih bengong.
“Kenapa malah bengong, hm?” tanya Rian menjentikkan jarinya tepat di depan wajah Alice.
“Ya? Oh itu, Alice mau nunggu Mas Rian tadi,” jawab Alice gelagapan.
__ADS_1
Sedangkan Rian hanya menyunggingkan senyumnya, dia pun membawa koper milik Alice dan membawanya naik. Alice berjalan mengekor mengikuti langkah Rian.
Alice dan Rian bersama-sama menata pakaian milik wanita itu. Rian bertugas merapikan pakaiannya, memberi ruang di lemari agar semua pakaian Alice dapat masuk ke sana. Kegiatan sederhana, tapi mampu membuat hati Alice menghangat. Diam-diam Alice memperhatikan wajah Rian dari samping, ekspresi pria itu terlihat sangat serius.
“Setelah ini mau makan malam di mana?” tanya Rian.
“Di rumah aja, Mas,” jawab Alice, “Eh, tapi Mas Rian nggak punya bahan masakan di sini,” lanjut Alice ketika teringat apa saja isi lemari serta kulkas milik pria itu.
“Iya, aku belum sempat belanja. Makan di luar aja, ya? Besok kita belanja.”
Alice hanya mengangguk saja. Selepas menata semua pakaiannya, ganti Alice yang mandi untuk membersihkan tubuhnya yang terasa lengket setelah beraktivitas seharian ini. Sementara Rian menunggu Alice di depan televisi. Pria itu sedang memainkan ponselnya. Ada beberapa chat masuk ke dalam benda pipih itu. Beberapa dari teman-temannya yang tidak dapat hadir di pesta pernikahannya.
Rian terdiam saat melihat sebuah chat dari Sandra. Wanita itu mengiriminya sebuah foto. Foto hasil USG dan di bawahnya terdapat keterangan tentang foto itu. Sandra mengatakan jika bayi yang sedang dikandunganya dalam keadaan baik dan sehat. Rian masih memperhatikan foto itu. Usia kandungan Sandra baru memasuki empat bulan.
Niat ingin menelpon Sandra harus Rian urungkan karena netranya menangkap Alice yang berjalan mendekatinya. Rian segera keluar dari roomchat-nya dan menyimpan ponselnya ke dalam saku celananya.
“Ayo,” jawab Alice tanpa menaruh sedikit pun rasa curiga terhadap sang suami.
Rian pun menggandeng tangan Alice dan menuntunnya keluar dari apartemen. Lagi-lagi pria itu merasa bersalah pada sang istri. Entah sampai kapan Rian akan menjadi seorang pengecut seperti ini.
“Mau makan di mana?” tanya Rian memecah keheningan di antara mereka.
“Mas Rian aja yang pilih tempatnya,” jawab Alice.
Rian mengangguk dan kembali fokus pada jalanan yang cukup ramai pada malam ini. Namun, mobil yang Rian kendarai mampu berjalan mulus di jalanan bersama dengan beberapa kendaraan lainnya. Tidak ada lagi percakapan di antara keduanya hingga sampai di sebuah resto.
Hanya membutuhkan waktu beberapa menit saja untuk mereka sampai di sebuah resto. Rian dan Alice turun dari mobil. Alice memperhatikan resto yang berada di depannya. Dia belum pernah datang kemari, juga baru tahu ada resto seperti ini. Maklum saja, dahulu Alice hanya berfokus pada pekerjaannya saja. Wanita itu benar- benar tidak memikirkan waktu untuknya bersenang- senang. Waktunya habis hanya untuk mencari uang dan menabungnya.
__ADS_1
“Al, kamu masuk dulu dan pilih meja, ya? Aku mau terima telepon dulu,” ucap Rian.
“Iya, Mas,” jawab Alice dan berjalan memasuki resto itu.
Rian melihat kepergian Alice dan dia segera pindah ke tempat yang sedikit lebih sepi. Sejak tadi ponselnya berdering, beruntung pria itu menggunakan mode silent. Rian pikir yang menelponnya adalah staf dari rumah sakit. Namun, rasanya tidak mungkin karena Rian mengambil cuti selama dua hari.
“Halo? Ada apa?” tanya Rian begitu dia menjawab panggilan dari seberang sana.
“Hmm, iya makasih. Udah, gue udah lihat foto yang lo kirim.”
Rian diam mendengarkan seseorang dari seberang sana berbicara. “Nanti gue kirim ke sana. Gue nggak bisa langsung ke sana untuk saat ini. Juga gue nggak bisa sering ke sana.”
“Ada lagi yang mau lo omongin? Istri gue udah nunggu lama,” ucap Rian, sesekali kepalanya menoleh ke arah pintu resto.
“Oke, kalo ada apa-apa lo bisa minta bantuan Bi Siti.”
Rian mengakhiri percakapan mereka dan segera masuk untuk menyusul Alice. Pria itu mengedarkan pandangannya untuk mencari keberadaan Alice. Kebetulan malam ini resto sangat ramai oleh pengunjung, hampir semua meja sudah penuh terisi. Netra Rian menangkap sosok Alice yang duduk di salah satu kursi.
Pria itu segera melangkah hendak menghampiri sang istri. Namun, langkahnya terhenti saat ternyata Alice tidak sendiri di sana. Ada seorang pria yang duduk di depan wanita itu dan sepertinya sedang bercakap-cakap dengan Alice. Rian pun kembali mengayunkan tungkainya, dia ingin tahu siapa pria itu.
“Al?” panggil Rian.
Kedua orang itu menoleh bersamaan. Kedua orang itu menampilkan ekspresi yang berbeda. Alice tersenyum manis melihat Rian sudah selesai dengan urusannya tadi, sementara pria yang duduk di depan Alice menampilkan senyum miring yang terlihat sangat mengerikan.
...🦋🦋🦋...
Koreksi bila ada typo zeyenk 😚😚😚
__ADS_1