Butterfly

Butterfly
BAB 9


__ADS_3

Revan terus melihat jam tangannya lalu melihat orang-orang yang lalu lalang, sepertinya dia sedang menunggu seseorang.


Tidak berapa lama kemudian orang yang ditunggu pun datang. Orang yang ditunggu olehnya adalah Maika, sahabat Hana. Saat pertandingan tempo hari, Revan sengaja mencari Maika dan meminta nomor teleponnya.


“ Maaf sudah menunggu lama”, ujarnya merasa bersalah. “ Soalnya tadi mendadak harus mengerjakan sesuatu”.


“ Tidak apa-apa”, ujar Revan. “ Silahkan duduk”.


“ Terima kasih”, balasnya. “ Oh ya, pertama kali bertemu denganmu aku benar-benar terkejut kamu bertanya tentang Hana, bagaimana kamu bisa mengenal Hana, soalnya Hana tidak pernah bicara tentangmu”.


“ Kami tidak sengaja bertemu saat itu kami bertemu disebuah toko buku, itu juga belum lama, mungkin karena itu Hana tidak pernah cerita apapun”.


“ Haaa....itulah Hana, selalu di toko buku, pantas saja”, ujarnya. “ Oh ya, satu lagi kalau tidak salah ingat bukankah kamu yang tiba-tiba berteriak memanggil nama Hana, saat itu aku sedang bersama dengan seseorang”.


“ Ohh itu....iya, kamu benar sekali, aku hanya reflek memanggil namanya”.


“ Sampai sebegitunya kamu mengingatnya?”. Revan pun menganggukkan kepalanya. “ Haa....andai saja kalau orang itu kamu bukan dia, pasti Hana akan sangat bahagia”.


“ Apa?”.


“ Ahh tidak”, ujarnya cepat. “ Oh ya, sebenarnya apa yang ingin kamu tanyakan padaku?”.


“ Aku tidak tahu apa ini pantas untuk ditanyakan atau tidak, tapi aku sangat penasaran tentang hal ini karena ketidaksengajaan saat pertama kali aku datang ke sekolah kalian”, ujar Revan. “ Ini tentang Jin”.


“ Jin?”. Maika sedikit terkejut. “ Kenapa?”.


“ Saat aku menyebutkan nama Hana didepan Jin, sepertinya dia sangat terkejut, apa mereka punya hubungan?”.


“ Iya, bisa dikatakan seperti itu”.


“ Mereka pacaran?”.


“ Iya”.


“ Pantas saja, apa mungkin dia tidak suka saat aku menyebut nama pacarnya waktu itu”.


“ Aku rasa tidak”.


“ Kenapa?”.


“ Aku rasa dia tidak punya perasaaan marah atau cemburu, aku rasa Jin sama sekali tidak menyukai Hana”.


“ Kenapa kamu punya kesimpulan seperti itu?”.


“ Sejak pertama kali mendengar Hana pacaran dengannya, aku benar-benar terkejut, bukan aku tidak senang Hana bahagia, tapi aku merasa Jin bukan orang yang tepat untuknya. Disisi lain aku merasa Jin sedang bermain dengan perasaan Hana, mungkin kata-kataku ini terdengar seperti aku ingin memonopoli Hana, tapi demi Allah, sebagai sahabat aku hanya ingin yang terbaik buat Hana karena aku tahu Hana seperti apa”.


“ Tapi, bukankah perlu alasan untuk melarang Hana dekat dengan Jin? kalau kamu punya alasan kuat kenapa tidak disampaikan langsung kepadanya?”.


“ Ini karena ada sangkut pautnya dengan adiknya, Rena. Aku mengatakan ini dan itu tentang Jin, tapi tidak menyebut nama Rena. Aku takut kalau ini akan merusak hubungan mereka, aku memilih untuk Hana sendiri yang melihat kenyataannya”.


“ Sebelumnya aku minta maaf, sepertinya aku terlalu jauh bertanya”.


“ Tidak, tidak masalah, aku justru senang ada orang yang perduli dengan Hana”.


“ Aku senang bertemu dengannya, ya...walaupun dia sedikit cerewet, terkadang semangatnya itu terlalu kelewatan yang membuatku terkadang kesal melihatnya, tapi aku senang bertemu dengannya”.


“ Apa Hana seperti itu denganmu?”.


“ Iya, apa Hana tidak seperti itu?”. Maika pun menggelengkan kepalanya. “ Benarkah?”.


“ Aku rasa Hana yang bersamamu adalah Hana yang sebenarnya karena aku pernah ke panti dimana Hana dulu tinggal, dia sangat ceria, penuh semangat dan senyuman....., ahh maaf sebenarnya Hana itu...”.


“ Aku sudah tahu”.


“ Benarkah”, ujar Maika. “ Aku terkadang khawatir dengan Hana yang terlalu berusaha untuk orang yang sudah baik padanya, dia takut mengecewakan keluarga yang sudah merawatnya, walaupun itu baik, tapi dia lupa bagaimana menikmati hidup, bagaimana Hana itu sebenarnya, tapi aku sangat senang kalau dia seperti itu padamu, terima kasih sudah bertemu dengan Hana”.


“ Aku tidak merasa melakukan apapun”.


“ Tetap saja, aku merasa kamu melakukan hal yang baik”.


“Benarkah".


“ Ah maaf, sebentar ya”. Sejenak percakapan mereka terhenti karena Maika mengangkat ponselnya yang berbunyi. “ Aku minta maaf Revan, aku harus pergi”.


“ Oke tidak apa-apa”.


“ Lain kali kita bicara lagi, aku akan menghubungimu, oke”.


“ Oke”.


Maika pun meninggalkan Revan dan sebenarnya juga meninggalkan Hana yang sejak tadi duduk diantara mereka berdua.


“ Sudah dengarkan”, ujar Revan.


“ Jadi, apa yang sebenarnya yang disembunyikan Maika dariku? Jin dan Rena, aku semakin tidak mengerti”.


“ Hana, bagaimana kamu bisa kenal dengan Jin? terlepas kalian satu sekolah, bagaimana kalian bisa dekat?”.


“ Semua orang mengenal Jin, ah tidak sebenarnya aku dulu tidak terlalu mengenalnya, aku mengenalnya karena Rena, lalu........semua mengalir saja, aku pikir ini semua karena Rena”.


“ Jadi bisa dikatakan kalau Rena adalah orang yang mendekatkanmu dengan Jin?”. Hana pun mengangguk. “ Kalau begitu Rena sudah kenal dengan Jin, haaa....lalu kenapa Maika bilang dia mengatakan ini dan itu padamu mengenai Jin, tapi tidak menyebut nama Rena, bukankah ini aneh”.


“ Apa mungkin Rena menyembunyikan sesuatu dariku”.


“ Aku rasa memang iya, tapi lebih tepatnya permainan apa yang sedang dimainkannya”.


“ Kenapa kamu berkata seperti itu, seolah-olah Rena orang yang jahat”.


“ Aku tidak bermaksud seperti itu”.


“ Lalu....”.


“ Haaa....sudahlah”, ujarnya. “ Aku rasa ini alasan Maika tidak mengatakan apapun padamu”.


“ Aku yakin dia tidak melakukan hal-hal yang buruk padaku”.


“ Bukan berarti yang dilakukannya juga benar”, ujar Revan yang membuat Hana terdiam. “ Sudahlah kita tidak usah bertengkar seperti ini, hal yang belum jelas jangan membuat kita berkesimpulan yang membuat kita bertengkar”.


Hana hanya menganggukkan kepalanya mendengar perkataannya itu.


**** ****


Aku masih kepikiran dengan ucapan Revan, Rena tidak mungkin melakukan hal yang buruk padaku walaupun aku bukan kakak kandungnya, Rena selalu menganggapku seperti saudarinya sendiri. Aku rasa Revan salah, haaa....tapi....selama aku mengenalnya, apapun yang dikeluarkan dari mulutnya selalu benar, walaupun itu selalu menyakitkan, tapi itulah kebenarannya.


“ Hei Hana”, ujar seseorang yang langsung duduk disamping Hana.


“ Viran”.


“ Ada apa?”.


“ Ada apa kenapa?’.


“ Mikirin apa? kelihatan serius soalnya”.

__ADS_1


“ Nggak ada”.


“ Ini pasti ada hubungannya dengan Revan”.


“ Apaan sih, kenapa harus Revan juga”.


“ Tuhkan”.


Hana pun menghela nafas. “ Revan bilang kalau Rena melakukan hal yang buruk padaku, kata-kata itu membuatku tidak senang, aku yakin kalau adikku tidak mungkin seperti itu”.


“ Kamu marah karena adikmu atau karena Revan yang mengatakannya”.


“ Apa??”.


“ Aku rasa Revan orang yang selalu blak-blakkan kalau mengatakan sesuatu dan aku rasa kamu tahu itu dengan baik, aku bukan mengatakan kalau adikmu itu jahat ataupun sebenarnya dia tidak melakukan hal yang buruk padamu tapi akhir dari semua yang dilakukannya tidak sesuai dengan harapannya”.


“ Aku tidak mengerti dengan ucapanmu”.


“ Jangan menyangkal Hana, kamu mengerti apa maksud ucapanku”.


“ Entah kenapa aku merasa kalian berdua sama saja”.


“ Entah kenapa aku merasa kalian berdua juga sama”.


“ Apa???”.


“ Bukankah itu Revan”.


“ Apa??”.


“ Itu Revan kan?”.


“ Hooo...iya”.


“ Dengan Irena lagi”, ujar Viran. “ Aku rasa Irena menyukainya”.


“Aku rasa Revan menyukainya juga”.


“ Aku rasa tidak”.


“ Revan selalu baik padanya, dia selalu tersenyum kalau ada didekat Irena”.


“ Hana, kamu cemburu?”.


“ Apa? aku? cemburu? yang benar aja”.


“ Haaa...ya...ya, kata-kataku mengenai kalian sama saja itu terbukti benar, aku semakin yakin”.


“ Kamu ini”, ujar Hana yang membuat Viran tertawa melihat reaksi Hana yang lucu.


“ Hana”.


“ Hmmm”.


“ Kamu pernah bilang kalau kamu bukan anak kandung dikeluargamu, bagaimana kamu bisa tahu itu”.


“ Karena aku diadopsi saat aku berumur 10 tahun, mereka bilang kalau mereka sering melihatku saat datang ke panti, saat melihatku mereka langsung suka dan ingin mengadopsiku padahal saat itu mereka sudah punya Rena. Alasan mereka mengadopsiku karena agar Rena punya seorang kakak yang bisa menyayanginya, menjaga, ya...layaknya seorang kakak dan juga agar aku bisa mendapatkan sebuah keluarga yang utuh”.


“ Kamu langsung mau?”.


“ Tidak juga, aku sempat menangis dipelukan nenek, aku sangat menyayangi adik-adikku, semua yang ada dipanti dan terutama nenek. Aku takut kalau aku tidak bisa melihat mereka lagi, bukan hanya karena itu aku takut tidak bisa melihat dia lagi”.


“ Dia?”.


“ Dia cucu nenek yang terkadang datang kesana”, ujarku. “ Pertama kali melihatnya, dia sangat pendiam, tidak mau bicara dengan siapapun, perlahan-lahan aku mendekatinya, aku rasa dia menganggapku orang yang aneh selalu mengajaknya bicara, tapi setidaknya lambat laun dia berubah, berjalannya waktu kamipun menjadi akrab, tapi dia harus kembali kerumah orang tuanya dan sejak saat itu aku tidak melihatnya lagi dan tidak berapa lama aku pun diadopsi oleh keluargaku sekarang ini”.


“ Tidak”, jawabku. “ Sejak keluar dari panti, aku hanya dua kali kesana, itu karena jarak yang jauh dari rumah kami. Saat kesana nenek bilang kalau dia pernah datang dan menanyakanku, tapi aku sudah tidak ada, dia kelihatan sedih kata nenek karena dia datang ingin melihatku”.


“ Kenapa kamu tidak bertanya alamatnya”.


“ Nenek bilang kalau dia tinggal di Jepang saat terakhir aku datang mengunjunginya dan aku tidak tahu apa dia masih disana atau sudah pulang”.


“ Wah kisah yang rumit”.


“ Mungkin juga dia sudah lupa padaku”.


“ Dia punya namakan?”.


“ Ezu, mereka memanggilnya seperti itu”.


“ Ezu?”. Hana pun mengangguk. “ Cuma itu yang kamu tahu”. Hana pun mengangguk lagi.


“ Dasar Hana payah”.


“ Apaan sih”.


“ Haaa....kenapa kamu bisa ingat Hana tentang hal seperti itu, tapi tentang ingatanmu mengenai kenapa kamu bisa seperti ini, kamu tidak ingat sama sekali”.


“ Aku juga tidak mengerti, semakin aku berusaha mengingatnya pada akhirnya yang aku dapatkan hanya sakit, kepalaku sangat sakit”.


“ Aku rasa itu ingatan yang tidak ingin kamu ingat karena sangat menyakitkan dan kebenaran dibalik semuanya”.


“ Kata-katamu membuatku takut, Viran”.


“ Maaf Hana”.


“ Sebenarnya semakin kesini, aku sudah merasa takut, apa aku harus tahu atau tidak”.


“ Aku juga ingin tahu”.


“ Tentang apa?”.


“ Aku pernah bilangkan, sejak pertama melihatmu, aku merasa ada yang berbeda denganmu”. Hana pun mengangguk. “ Aku ingin tahu tentang yang satu ini”.


“ Viran, kamu ini benar-benar aneh”.


“ Haaa....aku serius Hana”.


“ Aku tidak perduli”, ujar Hana tertawa dan Viran pun ikut tertawa.


Entah kenapa yang mereka ucapkan selalu sama, apa aku sedang menyangkal sesuatu yang sebenarnya adalah kebenaran. Bukankah aku pernah melihat Jin dan Rena bersama, lalu yang diucapkan oleh Maika mengenai Rena, kenapa semua tentang Rena, apa kematianku ada hubungannya dengan Rena.


“ Melamun lagi”.


“ Haaa....”.


“ Bagaimana kalau kita keluar dan sebelum Revan selesai latihan kita kembali lagi”.


“ Oke”, ujar Hana mengiyakan ajakan Viran. Mereka pun meninggalkan sekolah sejenak sebelum Revan selesai latihan. Mereka pun berkeliling melihat sekitar kota, ditengah perjalanan tanpa sengaja mereka bertemu dengan Jin dan Rena. Hana pun menghentikan langkahnya.


“ Kenapa?”.


“ Itu, Jin dan Rena”.

__ADS_1


“ Apa yang sedang mereka lakukan?”, ujar Viran. “ Kenapa mereka membeli bunga”. Viran pun mendekat kearah mereka berdua dan mendengar percakapan mereka.


“ Jin, kita tidak bisa bertemu seperti ini lagi”.


“ Kenapa? kenapa aku tidak boleh bertemu denganmu”.


“ Aku tidak ingin orang salah paham”.


“ Salah paham apa?”.


“ Kalau ada yang melihat kita mereka bisa salah paham, mereka mengenalmu pacar kak Hana”.


“ Tapi, itu bukan mauku”, ujar Jin. “ Aku menyukaimu Rena, tapi kenapa kamu membuat hubungan kita seperti ini hanya karena Hana, demi kebahagiannya kamu melepaskanku”.


“ Aku juga menyukaimu, tapi aku ingin kakakku juga bahagia”.


“ Tapi tidak dengan cara seperti ini, lambat laun semuanya berantakan, mulai dari Maika tahu sampai .....”.


“ Hentikan!!!”, teriak Rena. “ Aku harus ke rumah sakit”.


“ Aku ikut denganmu”.


“ Jin”.


“ Aku ingin melihatnya”, pinta Jin yang membuat Rena tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Viran dan Hana pun mengikuti mereka sampai ke rumah sakit. Entah siapa yang mereka jenguk dirumah sakit ini, Hana dan Viran hanya mengikuti mereka pelan agar tidak ketahuan oleh mereka. Sesampainya didepan sebuah kamar, Rena membuka pintu dan mengucapkan satu kata yang membuat Hana dan Viran terkejut. “ Kak Hana”, ujarnya masuk saat pintu belum begitu tertutup Hana dan Viran melihat sosok yang tidur ditempat tidur.


“ Hana”, ujar Viran. Viran pun menatap Hana yang terkejut melihat apa yang dilihatnya hari ini. “ Kamu masih hidup”.


“ Jadi, aku masih hidup”, ujar Hana lalu melihat Viran. “ Aku masih hidup”. Viran pun mengangguk.


“ Ini yang aku maksud, ini yang ingin aku tahu, ternyata kecurigaanku terbukti kalau sebenarnya kamu masih hidup, Hana”.


Hana hanya terdiam terpaku mengetahui semua ini.


“ Hana, kita harus keluar”. Hana pun mengangguk dan mengikuti langkah Viran. Viran terus memandangi Hana yang masih shock dengan kejadian tadi. “ Hana’, panggil Viran. Viran benar-benar khawatir dengan Hana yang tidak mengubris panggilannya. “ Ha...”. Tiba-tiba Viran terkejut mendengar suara keras dan dalam sekejab orang-orang mulai ramai berkumpul. Viran pun ikut melihat apa yang terjadi dan ternyata ada orang yang ditabrak oleh sebuah mobil. Hana yang ada disebelah Viran jatuh terduduk dan memegangi kepalanya.


“ Hana”, ujar Viran. “ Kamu kenapa?”. Hana hanya melihat Viran dan tiba-tiba ingatannya satu per satu muncul di kepalanya.


FLASHBACK ON.........


“ Hana”, panggil Maika.


“ Maika”, ujar Hana. “ Ada apa denganmu”, tanya Maika yang melihat Maika ngos-ngosan.


“ Ada yang ingin aku katakan padamu”.


“ Tentang apa?”. Maika memandang Hana lalu memalingkan wajahnya. “ Maika, ada apa?”.


“ Tidak jadi”, ujar Maika. “ Aku pergi dulu, tadi pak guru memanggilku”.


“ Oke”, ujar Hana memandangi Maika yang pergi. “ Ada apa dengannya, kenapa Maika aneh sekali”.


“ Hana”. Hana memalingkan wajanya saat seseorang memangilnya. Hana pun tersenyum saat tahu orang yang memanggilnya. “ Jin”, ujar Hana.


“ Hari ini aku tidak bisa pulang denganmu, ada urusan mendadak”.


“ Apa hari ini latihan?”.


“ Tidak, bukan tentang basket”.


“ Ohhhh”.


“ Maafkan aku, aku harus pergi”. Hana pun menganggukkan kepalanya. Setelah Jin menghilang dari pandangannya, Hana pun kembali ke kelasnya dan mengambil tasnya lalu bergegas pulang. Di tengah perjalanan tanpa sengaja Hana melihat Rena. Hana pun berlari menuju Rena berada, tapi langkah Hana pun terhenti saat melihat Jin ada ditempat itu juga. “ Apa mereka kebetulan bertemu?”, gumam Hana, tapi mereka kelihatan sangat dekat dan terlebih lagi Hana jarang sekali melihat Jin tersenyum kalau bersamanya, tapi bersama dengan Rena, Jin kelihatan sangat berbeda.


Terlebih lagi saat Hana melihat Jin menggenggam tangan Hana dan jalan berdua, membuat Hana semakin tidak mengerti dengan semua yang terjadi. Terlintas dipikirannya apa yang pernah dikatakan oleh Maika padanya mengenai Jin, tapi kenapa Rena juga ada hubungannya. Apa Maika menutupi apa yang diketahuinya karena ada hubungannya dengan Rena. Kenapa semuanya jadi semakin rumit.


Hana pun mengikuti mereka berdua walaupun dengan perasaan yang campur aduk. Entah apa yang harus dilakukannya, entah bagaimana dia harus bersikap.


Rena tidak sengaja menoleh kebelakang dan kontan terkejut saat melihat Hana tepat ada dibelakangnya. “ Kak Hana”, ujarnya lalu melepas tangan Jin.


“ Hana”, ujar Jin yang juga terkejut melihat Hana.


“ Kak Hana, Rena bisa jelaskan ini semua”. Hana hanya menggelengkan kepalanya dan memberi tanda pada Rena untuk tidak bicara lagi. “ Kak Hana”.


“ Hana dengarkan Rena”.


“ Kenapa aku harus mendengarkan kalian!!”, ujar Hana. “ Permainan apa yang sedang kalian mainkan padaku”.


“ Kak, ini bukan seperti yang kakak pikirkan”.


“ Kakak harus berpikir seperti apa Rena!!!”.


“ Hana, kalau kamu tidak ingin mendengarkan Rena, aku yang akan katakan”.


“ Jin”, ujar Rena.


“ Aku tidak pernah menyukaimu”, ujar Jin. “ Aku menyukai Rena dan itu jauh sebelum aku mengenalmu”.


“ Apa??”.


“ Aku menjadi pacarmu itu karena keinginan Rena, dia ingin melihatmu bahagia karena dia sangat menyayangimu, walaupun awalnya aku menolak, tapi akhirnya aku melakukannya karena tidak ingin membuat Rena sedih. Rena sangat perduli padamu Hana”.


“ Apa aku sangat menyedihkan untukmu, Rena”, ujar Hana. “ Aku memang bukan kakak kandungmu, tapi kenapa kamu lakukan ini padaku”.


“ Kakak salah paham, Rena sangat menyayangi kakak, Rena pikir dengan cara seperti ini bisa membuat kakak bahagia, tapi Rena tidak tahu kalau akan jadi seperti ini”, ujarnya. “ Maafkan Rena, kak”.


Hana menggelengkan kepalanya tidak tahu harus melakukan apa. “ Kakak tidak harus berkata apa lagi”.


“ Kak”. Rena menghalangi Hana yang ingin pergi. “ Rena minta maaf kak, jangan seperti ini”, pinta Rena, Hana melepaskan tangan Rena dari tangannya dan berlalu pergi. “ Kak”, seru Rena tapi Hana tidak memperdulikannya.


Hana berjalan dengan pikiran yang kosong, disatu sisi Rena adalah adiknya, disatu sisi Jin adalah pacarnya walaupun pada akhirnya Hana tahu kalau Jin tidak pernah menyukainya. “ Kenapa jadi seperti ini”, gumamnya.


Hana terus berjalan tanpa tahu arah, kakinya melangkah tanpa tujuan. Tanpa disadarinya sebuah mobil melaju kencang tepat kearahnya, tanpa bisa mengelak mobil itu menabrak tubuh Hana. Hana pun terbaring dijalan dengan darah yang mengucur.


Hana pun dibawa kerumah sakit, tidak lama kemudian keluarga Hana pun datang.


“ Dokter bagaimana dengan anak saya?’, ujar ibu Hana panik.


“ Anda ibunya?”. Ibu Hana pun mengangguk. “ Untuk saat ini pasien masih kritis”. Mendengar kata-kata itu membuat mereka lemas, tidak terkecuali Rena. Rena merasa bersalah karena membuat kakaknya seperti ini.


“ Kak, jangan tinggalkan Rena”, ujarnya menangis.


FLASHBACK OFF.........


“ Hana”, panggil Viran yang melihat Hana terus memangi kepalanya. “ Kamu tidak apa-apa?”, tanya Viran, Hana menganggukkan kepalanya.


“ Viran, tolong jangan katakan apa-apa pada Revan ”.


“ Apa? kenapa Hana”.


“ Tolong lakukan saja”.


“ Hana...”, ujar Viran. Viran pun menghela nafas. “ Baiklah, aku tidak akan mengatakan apapun.

__ADS_1


“ Terima kasih Viran”.


Viran pun menganggukkan kepalanya.


__ADS_2