Butterfly

Butterfly
Saksi Bisu


__ADS_3

Persiapan untuk pernikahan Rian dan Alice sudah selesai. Dua hari lagi keduanya akan melangsungkan pernikahan. Hari yang tentunya akan sangat membahagiakan bagi keduanya. Dari hari ke hari mendekati hari pernikahan, Alice merasa sangat gugup. Dia benar-benar telah mengambil keputusan yang sangat besar.


Gadis itu berharap semoga saja keputusannya ini sudah tepat dan akan mempercayakannya pada pria yang kini sedang duduk di sebelahnya. Rian dan Alice sedang menikmati waktu kebersamaan di sebuah café. Hari sudah gelap dan langit dipenuhi oleh bintang-bintang yang memamerkan cahaya terangnya.


“Nanti aku mau ajak kamu ke suatu tempat,” ucap Rian tersenyum misterius pada Alice.


“Kemana?” tanya Alice mengernyitkan dahinya.


“Rahasia, nanti kamu juga tau sendiri.”


Alice hanya mendengus mendengar penuturan Rian. Namun, diam-diam sebuah senyuman terbit dari bibirnya. Hatinya terasa berbunga-bunga saat dekat dengan Rian. Alice menyandarkan kepalanya pada bahu pria itu dan dibalas dengan sebuah kecupan di puncak kepalanya.


Setelah makanan dan minuman yang mereka pesan habis dan sudah puas menikmati suasana café ini, Alice dan Rian memutuskan untuk pergi dari sana. Menuju tempat yang tadi dijanjikan oleh Rian. Sampai saat ini Alice masih belum tahu kemana pria itu akan membawanya. Namun, Alice cukup mengenali jalanan yang mereka lewati.


Beberapa menit kemudian keduanya sampai di sebuah tempat yang sangat Alice kenali. Memang beberapa waktu belakang dia jarang datang ke tempat ini. Sebuah pantai dengan deburan ombak yang memecah keheningan malam ini.


“Ayo!” ajak Rian dengan menggenggam tangan Alice.


Alice mengangguk dan mengikuti langkah pria itu. Mata Alice menyusuri sekitaran pantai yang sudah sepi tak berpenghuni. Namun saat mengalihkan pandangan pada langit, Alice dibuat terpesona oleh keindahannya.


“Kamu ingat tempat ini?” tanya Rian.


Alice mengalihkan pandangannya pada pria di sebelahnya. “Ingat, Alice dulu juga sering kemari setiap akhir pekan.”


“Ini tempat pertama kali kita bertemu,” jelas Rian, dia sedikit kesal karena jawaban Alice tidak sesuai dengan perkiraannya.


Alice terdiam, lalu matanya membulat. Benar juga, pantai ini adalah tempat pertama mereka bertemu. Gadis itu mengitari seluruh penjuru sepanjang pantai. Mereka bertemu karena kesalahpahaman saat itu.


“Padahal waktu itu Alice udah bilang kalo Alice nggak berniat bunuh diri, tapi Mas Rian tetap nggak percaya,” ucap Alice dongkol.

__ADS_1


“Bagaimana mau percaya? Aku yang melihat sendiri kamu lompat dari dermaga.”


“Alice mau tolongin kucing waktu itu. Terus tau Alice lompat, Mas Rian ngapain?”


“Aku langsung lari. Aku mana bisa cuek lihat orang yang lompat dari dermaga gitu.”


“Ternyata Mas Rian memang baik,” ucap Alice tersenyum.


“Pastilah,” jawab Rian mengembangkan senyumnya.


“Lalu, apa menjadi seorang dokter juga impian Mas Rian?” tanya Alice.


Rian mengangguk. “Iya, sejak kecil aku memang ingin menjadi seorang dokter. Ingin menolong mereka yang sakit dan menyembuhkannya. Melihat senyuman para pasien yang berhasil sembuh adalah suatu kebahagianku tersendiri. Sesederhana itu, Al.”


Alice terpaku mendengar penuturan Rian. Semakin mengenal pria itu, banyak fakta baru yang Alice temukan dari hidup Rian. Dia semakin yakin dengan semua keputusannya saat ini. Alice juga memutuskan untuk berhenti kursus. Saat ini dia hanya ingin fokus pada kehidupannya yang baru. Dengan lembaran baru dan seseorang yang selalu dapat membuat jantungnya berdetak dua kali lebih cepat saat menatap matanya.


Rian menoleh saat merasa seseorang sedang mengamatinya. Benar saja, Alice sedang menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan. Rian mengernyitkan dahinya menatap gadis didepannya ini. Sebuah ide jahil terlintas di benaknya. Dengan secepat kilat, Rian mengecup sudut bibir Alice.


CUP!


Benda kenyal itu saling menempel, belum ada pergerakan. Rian sengaja melakukan hal itu, dia ingin melihat bagaimana reaksi Alice saat ini. Senyum samar terbit dari bibir Rian saat melihat Alice memejamkan matanya secara perlahan. Saat itulah Rian mulai mencecap rasa manis itu, memperdalam pagutan mereka.


Pantai ini adalah saksi bisu untuk pasangan kekasih ini. Pagutan keduanya masih belum terlepas, mereka masih ingin merasakan rasa manis itu. Tangan Rian menekan tengkuk Alice untuk memperdalam ciumannya. Sementara Alice makin terbuai oleh permainan Rian yang sangat lihai itu. Sepertinya tidak perlu alkohol untuk membuat Alice mabuk, saat ini saja dia sudah merasa mabuk kepayang. Rian mengakhiri permainannya.


Napas keduanya ngos-ngosan. Alice meraup udara sebanyak-banyaknya setelah tadi hampir kehabisan oksigen. Rian mengelap bibir Alice yang mengkilap akibat salivanya. Sebuah senyum terbit dari kedua bibir itu. Juga jangan lupakan rona merah di kedua pipi Alice.


“Aku ada satu pertanyaan untuk kamu,” ucap Rian.


“Apa?”

__ADS_1


“Apa mimpi kamu?” tanya Rian.


Alice terdiam. Mimpinya? Dahulu ada banyak hal yang ingin Alice lakukan dan tentu saja ada sebuah mimpi yang belum terwujud. Namun, kini dia harus mengubur semua mimpinya. Mimpinya sudah lama dia kubur. Alice terlalu takut untuk kembali mengejar mimpinya itu.


“Nggak ada, Mas,” jawab Alice menatap manik hitam itu.


“Nggak ada?” tanya Rian mengernyitkan dahi.


“Iya, Alice nggak punya mimpi untuk saat ini.”


Rian menghembuskan napasnya. Pria itu merasa ada yang ditutupi oleh Alice saat ini. Ingin rasanya Rian bertanya saat ini. Namun, dia urung melakukannya.


Hening di antara keduanya, mereka masih bertahan di pantai ini. Malam sudah sangat larut dan udara makin dingin dengan angin yang berhembus menerpa wajah Alice maupun Rian. Namun, Alice merasa tenang berada di sini. Deburan ombak yang menari-nari terasa sangat menenangkan.


Begitu juga dengan Rian yang menatap langit malam, bintang-bintang di langit berlomba-lomba menunjukkan cahaya paling terang mereka. Pria itu juga merasakan hal yang sama dengan Alice, teramat gugup ketika tahu hari pernikahan mereka makin dekat. Rian hanya berharap semoga setelah ini kebahagiaan yang sesungguhnya akan selalu menyertainya.


“Mau pulang sekarang?” tanya Rian.


“Sekarang jam berapa?” tanya Alice balik.


Rian melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Ternyata sudah hampir fajar. Sudah cukup lama keduanya bertahan di tempat ini, begadang bersama semalaman.


“Alice mau lihat matahari terbit dulu, Mas,” ucap Alice memeluk kedua lututnya.


"Oke, tapi setelah ini kita pulang.”


Alice hanya mengangguk, dia menyandarkan kepalanya pada bahu Rian. Sementara pria itu merangkul Alice, menepuk pelan bahu gadis itu.


Mata Alice berbinar menyaksikan matahari terbit. Siluet yang dihasilkan sangat indah, terpantul dari air laut. Menyebabkan kilauan bagaikan hamparan permata. Senyum Alice terbit menikmati pemandangan yang sangat memanjakan mata itu.

__ADS_1


...🦋🦋🦋...



__ADS_2