
Ikrar janji suci sehidup semati baru saja terucap. Alice dan Rian sudah resmi menjadi sepasang suami istri. Alice sangat cantik berbalut gaun yang menjuntai berwarna putih tulang dengan rambut sebahunya yang tergerai, membuat Rian tidak dapat melepaskan pandangannya dari sang istri yang baru saja sah beberapa jam yang lalu.
Saat ini mereka sedang menyelenggarakan pesta resepsi pernikahan. Pesta dengan konsep gardening atau pesta kebun. Bertempat di sebuah taman hotel ternama di kota ini. Sebenarnya Alice tidak menghendaki pesta mewah seperti ini, dia sadar jika dirinya hanya gadis biasa yang tidak pantas mendapat kemewahan seperti ini.
“Sekarang kamu bagian dari keluarga Mama, Al. Jangan pernah menganggap diri kamu sendiri kecil! Kita semua sama dihadapan sang Pencipta,” tutur Reni beberapa waktu yang lalu.
Mendengar penuturan Reni membuat Alice menangis haru. Dia merasa sangat bahagia karena mendapat keluarga baru. Selama ini dia hidup sebatang kara, hanya ada Fia yang sudah dia anggap sebagai saudara kandungnya. Walau keluarga Fia juga sangat baik padanya, tetap saja terkadang Alice masih membatasi diri.
Suasana pesta sangat meriah, apalagi banyak juga rekan-rekan sejawat Rian yang diundang. Sementara Alice, gadis itu hanya mengundang Fia dan Wulan. Tidak ada teman lain yang dapat Alice undang di hari yang membahagiakan ini. Sebenarnya dia juga ingin mengundang teman-temannya dulu. Namun, Alice tidak mempunyai cukup keberanian untuk mengundang mereka. Dirinya takut jika luka itu kembali menganga. Luka yang mati-matian Alice sembuhkan.
“Sayang? Kenapa kamu murung?” tanya seseorang mengagetkan Alice yang sejak tadi tanpa sadar sedang termenung.
Alice mendongak dan mendapati wajah tampan Rian yang sedang menatapnya. Hari ini Rian tidak kalah tampan dengan setelan jas berwana putih, senada dengan gaun yang Alice kenakan. Pria itu duduk di sebelah Alice, menggenggam tangan sang istri.
“Ada yang sedang kamu pikirkan?” tanya Rian menatap manik hitam itu.
Alice tersenyum dan menggelengkan kepala. Ya, Alice harus melupakan semua masa lalunya. Saat ini dia sudah memiliki kehidupan baru yang tentunya akan sangat membahagiakan.
Acara pesta masih berlangsung dan saat ini para tamu undangan sedang mendapat hiburan dari salah satu teman Rian yang menyumbangkan sebuah lagu. Tamu yang hadir kompak bertepuk tangan untuk mengiringi nyanyian merdu itu, begitu juga dengan Alice yang sedaritadi tidak melepas senyuman manis dari wajahnya. Diam-diam Rian menatap wajah sang istri, senyuman itu menular padanya.
__ADS_1
Rian tersenyum mengedarkan pandangannya menatap para tamu undangan yang hadir pada hari ini. Namun, tiba-tiba netranya menatap sesosok yang membuat senyumnya luntur. Rian terpaku di tempatnya, mendadak tubuhnya menjadi gemetar. Spontan tangannya menggenggam tangan Alice. Alice terkejut dengan sikap Rian yang tiba-tiba itu, membuatnya seketika menoleh dan menatap wajah Rian.
Alice mengernyitkan dahinya saat genggaman tangan Rian makin erat, membuat tanpa sadar Alice meringis kesakitan. Namun, sepertinya Rian tidak menyadari jika genggaman tangannya menyakiti Alice. Pria itu masih terpaku di tempatnya, matanya tidak berkedip. Alice mengikuti arah pandang pria itu.
Kernyitan di dahi Alice makin tampak saat matanya menangkap sesosok wanita yang berdiri di pintu masuk taman. Wanita yang sangat cantik dengan rambut panjang hitam legam tergerai dan wanita itu memakai dress selutut berwarna biru langit. Terlihat sangat anggun dan manis. Wanita itu juga sedang menatap Rian dalam diam.
‘Siapa?’ batin Alice penasaran.
Jujur saja, Alice juga mengakui kecantikan wanita itu. Bahkan jika dibandingkan dengan sosok itu, Alice tidak ada apa-apanya. Wanita itu terlihat berjalan mundur, hendak pergi dari sana. Melihat hal itu membuat Rian tiba-tiba berdiri dan berlari hendak mengejar wanita tadi. Akibat tingkah Rian tadi, mendadak suasana menjadi hening. Nyanyian merdu tadi seketika terhenti dan kini fokus mereka tertuju pada Rian yang berlari keluar dari taman.
“Suami lo mau ke mana, Al?” tanya Fia menghampiri Alice yang masih bingung dengan keadaan saat ini.
“Gue nggak tau,” jawab Alice, matanya masih terpaku pada pintu masuk taman.
“Selamat, Ian,” ucap wanita itu tersenyum manis, tapi matanya tidak bisa berbohong. Dari mata hitam itu, Rian dapat melihat bagaimana terlukanya wanita yang berdiri dihadapannya.
Rian mengepalkan tangannya menahan emosi yang tiba-tiba saja membuncah. Pria itu merutuk dalam hati, perasaan sesal yang seharusnya tidak dia miliki saat ini. Ya, seharusnya rasa sesal itu tidak muncul saat dimana Rian baru saja mengucapkan janji suci. Namun, melihat kedatangan sosok ini rasa terlarang itu muncul.
GREP!
__ADS_1
Rian memeluk wanita itu, mendekapnya sangat erat. Bertahun-tahun lamanya Rian mencari keberadaan sosok dalam dekapannya ini. Wanita itu membalas pelukan Rian, melepas rindu yang menderunya selama ini.
“Kenapa baru datang, Lun?” tanya Rian dalam dekapannya.
Tidak ada jawaban dari wanita yang tidak lain adalah Luna. Luna masih ingin merasakan momen seperti ini. Rasa takut yang selama ini menderanya hilang entah kemana saat bertemu dengan Rian.
Cukup lama mereka bertahan dengan posisi seperti itu. Perlahan Rian melepas pelukan mereka, lagi-lagi pria itu menatap lembut wajah cantik Luna. Namun, kernyitan muncul di dahi Rian. Tangannya terulur menyentuh pipi Luna. Wajah Luna terlihat redup, sangat berbeda dengan beberapa tahun silam. Dimana saat Rian terakhir kali bertemu dengan wanita ini.
"Kamu sakit?” tanya Rian.
Luna hanya menampilkan senyumannya, tangannya menggenggam tangan Rian yang masih bertahan di pipinya. Matanya terpejam merasakan sentuhan tangan hangat Rian. Membuka kembali memori masa lalu yang menurut Luna sangat indah.
“Ke mana saja kamu selama ini?” tanya Rian lagi.
Masih belum ada jawaban dari Luna, wanita itu masih bertahan dengan senyumannya. Matanya pun masih terpejam. Kedua orang itu tidak menyadari jika beberapa meter dari tempat mereka berada, ada dua pasang mata menatap keduanya.
Tatapan yang berbeda dari keduanya. Salah satu dari mereka yang berdiri di balik pohon menatap penuh kemenangan, sementara yang lain menatap nanar dengan ekspresi terluka. Keduanya sama-sama sudah bertahan di sana sejak lama. Mereka mendengar dengan jelas apa saja obrolan antara Rian dan Luna.
Alice mengepalkan kedua tangannya, dadanya terasa sangat sakit melihat Rian memeluk dan menyentuh wanita itu. Cemburu, mungkin itu yang kini tengah Alice rasakan. Dia hendak menghampiri Rian dan wanita itu, tapi mendadak langkah Alice terhenti saat mendengar tiba-tiba saja wanita yang berdiri di depan Rian berteriak histeris. Rian yang mendengar tiba-tiba Luna berteriak histeris mendadak terkejut sekaligus bingung.
__ADS_1
...🦋🦋🦋...
Hayo lho Rian, tercyduck bininya 🏃♀️🏃♀️🏃♀️