Butterfly

Butterfly
Ayam Goreng


__ADS_3

Ruang operasi terbuka dan Rian keluar dari sana. Operasi darurat yang memerlukan waktu hingga berjam- jam lamanya. Pria itu membuang sarung tangan karetnya dan berjalan keluar dari ruang operasi untuk menemui keluarga pasien. Sementara di dalam ruang operasi, para dokter yang lain sedang menyelesaikan proses penutupan luka dengan dijahit.


“Dok, bagaimana operasi suami saya?” tanya seorang wanita berlari mendekati Rian yang baru menampakkan tubuhnya.


“Operasi berjalan dengan lancar, walau memang membutuhkan waktu yang lama. Beruntung tidak ada terlalu banyak pendarahan di otak. Selanjutnya pasien akan dibawa ke unit perawatan intensif sampai pasien sadar dan para dokter tidak menemukan kelainan pasca operasi,” jelas Rian.


“Terima kasih, Dok.”


Rian hanya mengangguk dan pamit untuk undur diri. Sementara keluarga pasien tadi menangis bahagia, mereka sangat bersyukur operasi berjalan dengan lancar. Pasien merupakan seseorang penderita radang otak dan pagi tadi mengalami kecelakaan. Rian melihat jam di pergelangan tangannya. Jarum jam sudah menunjukkan angka dua siang. Pantas saja perutnya terasa lapar.


Pria itu melangkah menuju kantin rumah sakit yang cukup ramai oleh beberapa pengunjung. Rian masih mengenakan pakaian operasinya, tapi sudah tidak ada penutup kepala serta masker yang tadi bertengger di lehernya.


“Wuih, pengantin baru kenapa di sini?” sapa sebuah suara.


Rian mendengus mendengar sapaan itu, dia mengabaikan suara itu dan berjalan menuju salah satu meja yang kosong dengan nampan berisi makan siang di tangannya. Arka mengikuti langkah Rian dengan segelas kopi dingin di tangan pria itu.


“Lo nggak ada operasi hari ini?” tanya Rian.


“Nggak ada, gue baru selesai poli. Lo sendiri? Ngapain di sini? Bukannya lo baru masuk besok?”


“Ada operasi darurat tadi.”


Arka hanya mengangguk, dia pun meminum kopinya melalui sedotan. Sementara Rian menyantap makan siangnya dalam diam. Tenaganya benar-benar terkuras setelah melakukan operasi tadi.


“Ah ya, tadi kayaknya gue lihat Sandra di sini,” ucap Arka tiba-tiba.


Mendengar ucapan Arka, membuat sendok di tangan Rian menggantung di udara. Rian menatap Arka pernuh tanya, dalam benaknya juga muncul pertanyaan. Ada apa sampai Sandra datang jauh-jauh kemari?


“Tapi gue belum yakin sih. Siapa tau cuma mirip,” lanjut Arka mengedikkan bahunya. Hal itu membuat Rian mendengus serta menghela napas lega.

__ADS_1


Tidak ada satu pun orang yang mengetahui keberadaan Sandra untuk saat ini. Hanya Rian seorang dan pria itu sudah mewanti-wanti wanita itu untuk tidak memberitahu siapa pun. Setelah selesai makan, Rian tidak langsung pulang. Pria itu rehat terlebih dulu di ruangannya.


Dia merebahkan tubuhnya di sofa yang ada di sana. Tangannya merogoh saku celananya mencari keberadaan ponselnya. Jarinya menggulir layar ponsel untuk mencari sebuah nama. Rian menempelkan benda pipih itu di telinga kirinya, sementara matanya terpejam sembari menunggu panggilan itu terhubung.


“Halo?” sapa suara dari seberang sana.


“Tadi lo datang ke rumah sakit?” tanya Rian langsung.


“Kok kamu tau?” Ada nada terkejut dari suara di seberang sana.


“Tadi Arka nggak sengaja lihat lo. Tapi lo tenang aja, dia ngira kalo itu bukan lo. Jadi bener lo ke rumah sakit tadi?”


“I… iya, maaf aku nggak kasih tau kamu dulu. Tadi aku bertemu dengan Dokter Widi,” jelas Sandra.


Benar, Rian saat ini sedang menghubungi wanita itu. Ingin mengkonfirmasi apakah benar jika tadi Sandra kemari.


“Kenapa lo nggak ngomong sama gue?” tanya Rian memijit pelipisnya. Jika ada seseorang yang mengetahui keberadaan Sandra, dirinya pun bisa dalam bahaya.


Rian mengakhiri percakapan mereka setelah Sandra menjelaskan semuanya. Pria itu pun memutuskan untuk pulang ke rumah. Pasti Alice sudah menunggunya. Saat ini Rian hanya mempunyai waktu beberapa jam sebelum dirinya kembali disibukkan dengan pekerjaannya. Rian meninggalkan ruangannya dan berjalan menuju basement untuk mengambil mobilnya.


Sebelum pulang, Rian mampir terlebih dulu di sebuah tempat makan untuk membeli makan malam untuk mereka. Tadi pria itu sudah mengirim chat untuk Alice agar tidak perlu memasak makan malam. Kini Rian sedang menunggu pesanannya selesai di buat. Dia masih bertukar pesan dengan sang istri yang menunggunya di rumah. Senyum di bibir Rian sudah tidak bisa di tahan lagi. Sebuah senyum terbit di bibir pria itu.


...🦋🦋🦋...


Rian sampai di apartemennya dan segera masuk ke unit apartemennya. Terlihat Alice sedang menonton sebuah acara di televisi. Kepala wanita itu spontan menoleh saat mendengar seseorang masuk. Sebuah senyum terbit, Alice melangkah mendekati Rian untuk menyambut kedatangan pria itu.


“Maaf, lama. Aku mandi dulu, nanti kita makan bareng, ya?” ucap Rian.


“Iya, Mas. Nanti Alice siapkan baju,” jawab Alice.

__ADS_1


Rian pun segera masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Sementara Alice mengambil baju ganti untuk sang suami. Setelah menatanya di atas tempat tidur, Alice keluar dari kamar untuk menyiapkan makan malam bagi mereka berdua.


“Mas Rian beli apa nih?” tanya Alice sembari tangannya sibuk membuka bungkusan kertas di depannya. Ternyata Rian membeli seporsi ayam goreng lengkap dengan sambal dan lalapan.


Mendadak perut Alice keroncongan. Dia segera menatanya di piring dan membawa ke meja makan. Lalu dia menunggu hingga Rian selesai mandi. Wangi ayam goreng itu sudah menguar di seluruh ruangan. Membuat Alice bertambah lapar, tetapi dia menahan diri untuk makan terlebih dulu.


“Sabar, Al. Nunggu Mas Rian dulu,” gumam Alice. Akhirnya dia mengambil mentimun untuk mengganjal perutnya sementara waktu.


Kurang lebih hampir satu jam lamanya, Rian tidak juga muncul. Sementara Alice sudah lelah menunggu, dia menidurkan kepalanya di meja makan. Matanya masih terfokus pada sepiring ayam goreng itu. Dengusan muncul, spontan Alice berdiri dari duduknya hendak menuju ke kamar mereka. Ingin memastikan jika Rian sudah selesai mandi. Alice lupa dengan salah satu kebiasaan Rian yang memang lama jika mandi.


“Mau kemana, Al?” tanya Rian yang berjalan menuruni anak tangga.


“Mau ke kamar,” jawab Alice merengut.


“Kenapa ke kamar? Kamu ngantuk?”


“Ish, mau nyamperin Mas Rian. Lagian mandi lama banget,” ucap Alice mendengus.


“Lho? Biasanya aku mandinya juga lama.”


Alice tidak menanggapi, dia pun segera mengambil piring kosong. Mengambil nasi hangat dan diberikan pada sang suami. Lalu Alice mengambil untuk dirinya sendiri. Ayam goreng yang sedari tadi memanggil-manggil untuk segera dilahap akhirnya akan masuk ke dalam perut Alice. Wajah masam Alice tadi tergantikan setelah ayam yang sudah dingin itu masuk ke dalam mulut Alice. Sementara Rian hanya tersenyum melihat sang istri yang terlihat sangat bahagia.


...🦋🦋🦋...


Assalamualaikum, yorobun 👋👋👋


Huhuhu, maafkan Othor remahan peyek ini yang baru muncul lagi setelah tiba-tiba menghilang tanpa kabar seperti dia ehek. Bukan maksud Othor mau nge-ghosting, tapi memang nyatanya gitu yak 🤔


Intinya Othor mau minta maaf, untuk saat ini nggak bisa up rutin seperti hari-hari sebelumnya. Namun, Othor tetap mengupayakan untuk tetap up dan menyelesaikan karya ini.

__ADS_1


Jadi, stay tune terus ya 👌👌


__ADS_2