
Alice dan Reni berada di toko buah saat ini. Beliau meminta bantuan Alice untuk menemaninya berbelanja bahan es krim. Tentu dengan senang hati dia membantu mertuanya itu. Mereka membeli beberapa buah segar untuk bahan es krim, buah-buah itu terlihat sangat segar di mata Alice.
Dia sangat antusias memilih buah itu dan juga menawar harganya. Sementara Reni sedang sibuk memilih buah lain. Memang yang bertugas menawar harga adalah Alice, dia juga diberi kepercayaan untuk memilih buah mana saja yang bisa dijadikan es krim nantinya.
Cukup lama Alice dan Reni berada di toko buah ini, mereka masih sibuk memilih berbagai macam buah. Ketika Reni sedang memilih buah naga yang berada di rak ujung, beliau tidak sengaja melihat seseorang yang dikenalinya.
Cukup lama beliau mengingat siapa wanita yang sedang berdiri di depan rak buah apel. Wajahnya terlihat sangat familiar, tetapi Reni lupa pernah bertemu di mana. Tiba-tiba Reni membulatkan matanya, beliau sudah ingat sekarang.
“Luna?” panggil Reni berjalan mendekati wanita itu.
Wanita yang dipanggil Luna itu menoleh dan dari ekspresinya terlihat terkejut bisa bertemu dengan Reni di sini.
“Kamu benar Luna, ‘kan?” tanya Reni memastikan.
“Benar, Tante apa kabar?”
“Baik. Kamu apa kabar? Kemana saja? Kenapa baru kelihatan?”
“Kabar Luna juga baik, Tan,” jawab Luna tersenyum samar.
“Sekarang kamu tinggal di mana? Tante pangling lho tadi, kamu makin cantik setelah lama nggak ketemu.”
Luna tersenyum mendengar ucapan Reni. “Luna tinggal di sekitar sini.”
Sementara itu, Alice memperhatikan Reni dari tempatnya. Dahinya mengernyit melihat lawan bicara mertuanya itu. Sepertinya dia pernah bertemu dengan wanita itu di suatu tempat.
Rasa penasaran Alice mulai muncul, dia pun berjalan menghampiri dua orang itu. Reni tertawa entah apa yang sedang mereka obrolkan, sedangkan wanita itu hanya tersenyum samar saja.
“Ma,” panggil Alice menghentikan tawa Reni.
Sebenarnya dia juga merasa tidak enak mengganggu pembicaraan kedua orang itu. Apakah perbuataannya saat ini lancang?
“Eh, Alice. Sudah dapat semua bahannya? Maaf, ini tadi Mama ketemu sama temennya Rian.”
“Iya, Ma. Sudah ada di kasir, tinggal ambil saja,” jawab Alice.
__ADS_1
“Lun, kenalkan ini Alice. Istrinya Rian, pasti kamu kaget Rian sudah menikah. Dia memang nggak undang kamu waktu itu, ya?”
“Iya, Tan. Tapi Luna sempat datang sebentar waktu itu.”
Mendengar ucapan Luna, Reni mengernyitkan dahinya. Sementara Alice, dia baru ingat siapa wanita ini. Dia adalah wanita yang datang ke pesta resepsinya saat itu dan berkat wanita ini hubungannya dengan Rian menjadi sedikit renggang.
Padahal mereka baru saja menikah. Melihat hal itu, Alice memasang tameng. Dia takut jika nanti ternyata wanita itu masih belum melupakan Rian yang notabenenya adalah suaminya.
“Al, ini Luna. Teman Rian sejak mereka sekolah SMA.”
Setelah berjabat tangan, Luna tiba-tiba pamit untuk pulang. Membuat Alice bernapas lega. Sementara Reni merasa ada yang aneh dengan sikap Luna. Beliau masih kepikiran tentang Luna yang ternyata juga hadir di acara pernikahan Rian. Kini mereka sedang berada dalam perjalanan menuju kedai es krim. Belanja hari ini berakhir, semua bahan sudah dibeli dan tinggal mengolahnya saja.
“Al, kamu tau waktu itu Luna datang ke acara pernikahan kalian? Kok Mama nggak lihat waktu itu, ya?”
Alice tidak menyangka jika mertuanya akan menanyakan hal seperti itu. Mendadak merasa bimbang, apakah dia harus menceritakan kejadian saat itu atau tidak? Apakah Reni perlu tahu masalah saat itu?
“Alice kurang tau, Ma. Alice lupa mungkin, soalnya banyak tamu yang datang saat itu dan nggak semua tamu Alice kenal,” jawab Alice.
Reni terdiam dan mengangguk membenarkan perkataan menantunya. Benar kata Alice, kebanyakan tamu yang diundang adalah teman-teman Rian. Wajar jika Alice tidak mengenal mereka dan lupa wajah-wajah itu.
Mereka sudah sampai di kedai es krim. Alice bersama dengan beberapa karyawan membantu menurunkan barang yang dibeli tadi. Sementara Reni langsung masuk ke dalam ruangannya. Sebelum masuk, beliau tadi berpesan pada Alice untuk segera pulang setelah menurunkan semua barang dari mobil.
“Mbak, Ibu mau launching rasa es krim baru?” tanya Nina.
“Kata Ibu sih gitu, tapi belum tau mau pakai buah apa buat es krim barunya,” jawab Alice.
Nina hanya mengangguk-anggukkan kepalanya dan segera masuk ke dalam kedai untuk menaruh buah-buah segar itu. Alice menyusul di belakang Nina, dia juga membawa beberapa kantong berisi buah.
“Udah turun semua, ‘kan?” tanya Alice mengecek semua buah itu.
“Udah, Mbak.”
“Oke, kalau gitu gue balik sekarang.”
“Iya, Mbak. Hati-hati di jalan.”
__ADS_1
Alice mengangguk dan berjalan ke ruang Reni terlebih dulu untuk berpamitan pada beliau. Ternyata Reni langsung membuat pembukuan untuk semua bahan yang tadi dibelinya.
“Ma, mau Alice bantu?”
“Nggak papa, Al. Biar Mama yang selesaikan, kamu pulang saja. Sebentar lagi Rian pulang dari rumah sakit.”
Mendengar hal itu membuat Alice spontan melihat jam di tangannya. Benar, sebentar lagi suaminya akan pulang kerja. Dia pun segera bergegas pamit pulang. Melihat menantunya yang tergesa-gesa seperti itu membuat Reni geleng-geleng kepala. Ada sebuah senyum terbit dari bibirnya.
“Semoga rumah tangga kalian diberi kebahagiaan,” gumam Reni. Lalu beliau kembali melanjutkan aktivitasnya yang tadi sempat terhenti.
...🦋🦋🦋...
Beruntung Alice sampai di apartemen tepat waktu. Begitu sampai, dia segera memasak makanan untuk makan malam. Tepat pukul enam sore, Alice selesai memasak makan malam untuk mereka dan Rian sampai apartemen pukul tujuh malam.
Saat ini mereka baru saja selesai makan malam. Alice sedang mencuci semua alat makan serta alat memasak. Sedang fokus mencuci, tiba-tiba dari belakang ada yang memeluknya erat. Tentu hal itu membuat Alice terkejut, kepalanya menoleh ke samping.
“Mas, jangan ganggu dulu!” peringat Alice.
“Dicuci besok aja,” ucap Rian.
Alice hanya menggelengkan kepala mendengar ucapan sang suami. Namun, tiba-tiba dia teringat kejadian siang tadi.
“Mas,” panggil Alice, tangannya masih terus aktif mencuci piring dan gelas.
“Hmm?” gumam Rian, pria itu juga belum melepas pelukannya. Matanya terpejam, menikmati bau harum dari rambut sang istri.
“Tadi aku sama mama ketemu Mbak Luna.”
Mendengar ucapan Alice, membuat spontan Rian membuka matanya. Alice merasakan jika saat ini tubuh Rian sedang menegang, pria itu seperti membeku ditempatnya.
...🦋🦋🦋...
Terima kasih atas dukungan kalian 🤗🤗🤗
Silahkan koreksi bila ada typo....
__ADS_1