
Keesokkan harinya, Sandra benar-benar ke kota untuk memenuhi keinginannya itu. Sebenarnya Mbok Inem sudah melarang untuk bepergian seorang diri, tetapi keinginannya sangat besar. Akhirnya dengan berat hati, Mbok Inem melepas kepergian Sandra. Wanita itu sedang dalam perjalanan menuju kota dengan naik taksi yang sebelumnya sudah dia pesan.
Sudah sangat lama Sandra pergi ke kota setelah terakhir kali hanya ke rumah sakit untuk memeriksakan kandungannya. Sandra sengaja tidak memberitahu Rian jika dia pergi ke kota seorang diri. Dia sangat tahu bagaimana pria itu jika tahu ia pergi ke kota seorang diri, Rian pasti akan melarangnya dan marah padanya.
Selama beberapa jam lamanya Sandra duduk di dalam taksi, akhirnya dia sampai di tempat tujuannya. Sebuah rumah makan yang sudah sangat lama tidak dikunjunginya. Sandra menatap sekitar, memperhatikan suasana rumah makan ini sebelum masuk ke dalam. Tidak ada yang berubah dari rumah makan ini ketika terakhir kali dia berkunjung.
Rumah makan yang menurutnya sangat istimewa. Dulu dia sering berkunjung ke sini bersama dengan Rian. Hal itu yang menjadi salah satu kenangan manisnya bersama dengan pria itu. Sandra masuk ke dalam dan memilih salah satu meja.
Memesan beberapa makanan yang memang sangat ia inginkan. Ada salah satu makanan penutup yang beberapa hari ini sangat ingin dimakan. Sandra memesan makanan itu. Sembari menunggu pesanannya selesai, wanita itu mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru rumah makan ini.
Suasana di dalam rumah makan ini tidak terlalu ramai, hanya ada satu dua orang pembeli saja. Sandra kebetulan datang di waktu sebelum jam makan siang, sehingga rumah makan ini masih sangat sepi. Beberapa saat kemudian, pesanan Sandra sudah tersaji di atas meja. Senyum bahagia terbit dari bibir wanita itu. Dia mulai menikmati semua makanan di atas meja itu.
“Permisi,” ucap seseorang, membuat Sandra spontan mendongak. “Boleh ikut duduk di meja ini? Saya tidak biasa makan sendirian,” lanjutnya.
Dengan wajah yang masih diliputi kebingungan, Sandra hanya menganggukkan kepalanya. Dia memperhatikan wanita yang duduk di depannya. Sepertinya mereka pernah bertemu sebelumnya.
“Ehm, maaf. Apa sebelumnya kita pernah bertemu?” tanya Sandra yang diliputi rasa penasaran.
“Ya? Oh, kamu! Kita pernah bertemu beberapa saat yang lalu di taman,” jawab wanita itu dengan ekspresi terkejutnya.
Padahal pertemuan keduanya sudah cukup lama, tetapi ternyata keduanya masih sama-sama ingat satu sama lain. Benar, wanita itu adalah Luna.
Sandra dan Luna akhirnya bercengkerama sembari menikmati makanan masing-masing. Baru dua kali bertemu, tetapi mereka sudah terlihat sangat dekat. Namun, tiba-tiba Luna menanyakan perihal kehamilan Sandra. Sempat tekejut mendengar pertanyaan Luna tentang dirinya, tapi Sandra segera menguasai keadaan.
__ADS_1
“Ah iya, papanya sedang bekerja. Jadi aku pergi sendiri,” jawab Sandra tidak sepenuhnya bohong.
Memang nyatanya saat ini ayah dari anak di dalam kandungannya sedang bekerja.
Siapa lagi jika bukan Rian. Sandra benar-benar tidak sudi mengakui Kevin sebagai ayah kandung dari anak di dalam perutnya. Sementara Luna yang mendengar jawaban dari Sandra hanya mengangguk paham. Topik pembicaraan berganti begitu saja, obrolan mereka berdua mengalir begitu saja. Keduanya tidak pernah kehabisan topik obrolan.
Hal itulah yang membuat keduanya menjadi lupa waktu. Makanan mereka sudah tandas dan di atas meja kini hanya tersaji secangkir teh. Namun, mereka masih asyik mengobrol. Luna yang pertama kali tersadar jika hari sudah siang dan jam makan siang akan tiba sebentar lagi.
“San, maaf aku harus pulang sekarang,” ucap Luna.
“Sayang sekali, padahal aku masih ingin mengobrol denganmu. Apa aku boleh meminta nomor teleponmu?”
“Aku tidak punya ponsel,” jawab Luna.
Sandra mengernyit mendengar jawaban dari Luna itu. Dia menatap wajah Luna, seakan tidak percaya pada apa yang baru saja Luna katakan. Bagaimana bisa di masa sekarang ini seseorang tidak mempunyai ponsel yang menjadi alat utama dalam berkomunikasi?
“Aku yang akan mengunjungimu, jadi kamu saja yang memberitahu alamat rumahmu,” jawab Luna dengan mata berbinar.
“Begitu? Baiklah, aku akan beri alamat rumahku.”
Sandra benar-benar memberikan alamat tempat tinggalnya pada Luna. Sementara Luna terlihat sangat senang memperhatikan secarik kertas yang berisi tulisan alamat rumah teman barunya itu. Mereka berpisah di depan rumah makan. Sandra juga memutuskan untuk langsung pulang.
Perjalanan dari rumahnya menuju kota cukup menguras energinya. Apalagi sekarang ini Sandra sangat mudah merasa lelah. Namun, sebelumnya tidak lupa dia membeli oleh-oleh untuk Mbok Inem. Lalu setelahnya dia pulang ke rumah dengan menggunakan taksi.
__ADS_1
Hari ini adalah hari yang sangat membahagiakan bagi Sandra. Keinginannya dapat terpenuhi sekaligus mendapat teman baru. Memang Sandra masih belum bisa terbuka, karena mereka juga baru bertemu dua kali. Namun menurut Sandra, Luna adalah wanita yang menyenangkan. Obrolan mereka nyambung dan Luna wanita yang sangat baik.
Tidak dapat dibohongi jika wajah Sandra saat ini terlihat sangat berseri. Dia akan menantikan di mana Luna main ke rumahnya. Bahkan, Sandra sudah memikirkan hal apa saja yang akan dilakukannya bersama Luna jika wanita itu berkunjung.
Sementara di lain tempat, Luna baru saja tiba di apartemen milik Kevin. Dia bernapas lega tidak menemukan pria itu di dalam sana. sepertinya memang Kevin masih disibukkan oleh pekerjaan di kantornya. Luna segera berganti pakaian dan memutuskan untuk duduk di sofa yang ada di ruang tengah.
Menunggu kepulangan Kevin adalah pekerjaannya sekarang. Namun, ingatan peristiwa siang tadi kembali masuk ke benak Luna. Ada sebuah senyum terbit dari bibirnya. Senang mendapat teman baru yang baik juga cantik. Luna kembali membaca secarik kertas berisi alamat rumah Sandra.
“Kapan-kapan aku akan mengunjungimu,” gumam Luna.
Dia menyimpan kertas itu agar tidak hilang nantinya. Kertas ini adalah satu-satunya benda yang dapat mempertemukan mereka kembali.
Luna tertidur di sofa ketika menunggu kepulangan Kevin. Memang tanpa sepengetahuan pria itu, Luna sering keluar rumah di saat siang hari. Ada beberapa hal yang perlu Luna selesaikan. Terlebih masalah keluarganya. Di dalam tidurnya Luna bermimpi, mimpi yang sangat buruk baginya. Memori masa lalunya kembali berputar seperti sebuah film.
Rentetan kejadian itu terus muncul dalam kepala Luna. Kejadian di mana semua orang mencaci maki juga mengoloknya. Keluarga yang membuangnya, menganggap dirinya gila. Keringat dingin mengucur deras di dahi Luna. Matanya masih terpejam, seakan sangat sulit untuk membuka mata. Napasnya juga tersengal-sengal, seolah sesuatu sedang mecekik lehernya.
“Lun,” panggil seseorang.
Suara itu sayup-sayup masuk ke dalam indera pendengaran Luna. Lalu sebuah tepukan pelan dia rasakan di pipinya. Luna membuka matanya terkejut, memperhatikan sekitarnya. Netranya terhenti pada sosok pria yang sangat baik padanya.
“Kamu mimpi buruk?” tanya Kevin dengan ekspresi cemas.
Air mata Luna lolos begitu saja tanpa dapat dibendung lagi. Melihat hal itu, Kevin segera membawa Luna ke dalam dekapannya. Sementara Luna masih mematung, mendadak pikirannya kosong.
__ADS_1
...🦋🦋🦋...
Terima kasih untuk kamu yang masih stay di sini 😘😘😘